Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Resepsi Pernikahan PART II


__ADS_3

Mobil mewah yang disiapkan untuk mengantarkan rombongan pengantin berikut pengantin sudah siap membawa mereka. Rudy membukakan pintu untuk kedua mempelai, Ayunda, Reymond dan Shera masuk ke dalam mobil tepat dibelakang mobil pengantin. Sementara Nenek Rina, Tante Melissa, Om Bagas dan si kembar berada dimobil tepat dibelakang mobil Ayunda dan sebelum mobil pengawal.


Tak perlu memakan waktu lama, kini iring-iringan mobil pengantin sudah memasuki perataran Hotel Xxxx tempat diselenggarakan resepsi pernikahan.


Rudy membukakan pintu untuk raja dan ratu sehari, mereka sudah disambut beberapa panitia berikut Joe pemilik EO yang bertanggung jawab atas kelancaran acara nanti.


Joe membawa Aluna dan Bryan ke ruangan khusus sembari menunggu acara dimulai. Tepat pukul 10.00 pintu ballroom hotel dibuka, diatas panggung kita bisa melihat kedua mempelai sedang duduk berdampingan.


Panggung pernikahan yang diusung kedua mempelai adalah dekorasi elegan dan modern dengan backdrop berupa tirai berwarna biru langit beserta lampu gantung yang memancarkan cahaya kekuningan mampu memberikan kesan menawan disetiap sudut ruangan.


Hiasan bunga yang ditata dengan dominasi bunga berwarna biru dan putih serta dedaunan memberikan perpaduan yang elok. Tidak lupa dilengkapi sofa berwarna putih sebagai kursi pengantin penambahan karpet bulu berwarna putih gading sebagai alas memberi kesan manis dan hangat.


Ruangan ballroom kini disulap menjadi sebuah taman buatan, disetiap sudut terdapat bunga mawar merah menjadi dekorasi pelaminan. Mawar yang indah dianggap sebagai simbol cinta, sukarela dan keindahan.


Tamu undangan sudah memasuki ruangan ballroom, mereka berbondong-bondong menyalami kedua mempelai yang sedang duduk diatas pelaminan. Mereka berdua sangat serasi.


"Selamat menempuh hidup baru Pak Bryan." Seorang pria paruhbaya menyalami Bryan.


"Terima kasih Pak Ilham."


Satu per satu tamu undangan menyalami kedua mempelai, mulai dari relasi bisnis, kolega, pegawai dan saudara jauh berdatangan untuk memberikan do'a restu ke kedua mempelai. Dari sekian banyak tamu undangan, hadir pula saudara jauh dari pihak Tiwi mendiang mama Aluna.


Budhe Tika dan Pakde Imam merupakan paman dan bibi Aluna. Mereka tinggal di Yogyakarta, sengaja datang ke Jakarta memenuhi undangan Alexander. Sebetulnya bukan hanya sekedar memenuhi undangan tapi mereka ingin menyelidiki pria mana yang bernasib sial sudah mau menjadi besan Alexander, pria miskin dan benalu dalam keluarga.


Ketika mendengar kabar bahwa Aluna akan segera menikah, mereka sengaja mengosongkan agenda hanya untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya tidak begitu penting.


"Baguslah, ternyata kamu menikahi pria kaya. Pakde kira kamu menikahi pria miskin seperti papa mu si Alexander itu!" Ucap Pakde Imam sinis.


"Kapan-kapan kalau budhe butuh uang, kamu segera transfer ya. Kan suamimu orang kaya!" Bisik Budhe Tika sambil menyalami Aluna.


"Ingat, dulu keluargaku banyak berjasa dalam hidupmu Aluna. Jangan jadi kacang lupa kulit." Ucap Sisca saudara sepupu Aluna sambil berlalu meninggalkan pelaminan.

__ADS_1


jleb


"Sakit sekali rasanya hatiku mendengar perkataan mereka, ku kira mereka tulus memberikan do'a restu ternyata ada maksud tersendiri." Ucap Aluna dalam hati.


Raut wajah Aluna berubah menjadi murung, Bryan menyadari perubahan raut wajah segera berbisik "jangan pasang wajah seperti itu, nanti orang kira kamu terpaksa menikah denganku dan menjadi gosip di media masa. Aku tidak ingin reputasi keluarga hancur gara-gara gosip murahan."


Aluna tersenyum kecut.


"Bisa-bisanya dia memberikan beban baru dalam pikiranku." Aluna menatap sinis.


Detik berikutnya, Aluna melihat seorang gadis seumuran dengan nya sedang duduk di meja. Gadis itu seperti anak hilang, ditengah kerumunan tamu undangan.


Aluna menyadari kehadirannya segera meminta izin untuk menghampiri gadis itu yang tak lain adalah Rossa Dinata, sahabat baik Aluna.


"Mas, itu ada Rossa. Aku kesana dulu ya." Bisik Aluna.


"Jangan lama-lama, nanti keburu ada tamu yang mau bersalaman dengan kita." Bryan memperingati Aluna agar segera kembali jika selesai dengan urusannya.


Aluna menuruni panggung dan berjalan dengan hati-hati, dia takut salah langkah dan menyebabkan gaun pengantin yang begitu mahal menjadi rusak akibat kecerobohannya.


"Rossa, kenapa kamu tidak menyalamiku diatas panggung." Aluna kesal karena Rossa tidak segera naik. Dia bertolak pinggang memasang wajah cemberut.


"Dih, kamu sudah menjadi Nyonya Smith masih saja bertingkah kekanak kanakan." Rossa tidak kalah kesal.


"Aku menunggu giliran naik kesana tapi selalu penuh ya sudah lebih baik tunggu disini sambil menikmati hidangan lezat yang tersedia."


Tawa Rossa pecah menatap wajah kesal Aluna. Dia segera memeluk dan mengusap punggung dengan lembut.


"Dasar bodoh, sudah jangan pasang ekspresi begitu. Aku sungguh muak melihatnya."


"Aku pikir kamu tidak akan datang."

__ADS_1


"Kamu gila! Mana mungkin aku tidak datang, kamu itu sahabatku."


"Selamat menempuh hidup baru sahabatku tersayang. Semoga pernikahanmu langgeng sampai maut memisahkan dan semoga segera diberikan keturunan yang lucu dan menggemaskan." Rossa mencubit pipi Aluna karena gemas.


"Aw, sakit Rossa!" Aluna memegang pipinya terasa sakit akibat dicubit.


"Kamu apa-apaan sih, momongan apa? Aku....aku...."


"Hush, sudah sana sepertinya Bryan sedang memperhatikan kita."


Aluna segera meninggalkan Rossa dan segera kembali ke pelaminan, menyalami tamu undangan.


Banyak hidangan lezat yang disediakan pihak katering untuk menjamu tamu undangan yang hadir, makanan yang selalu ada di resepsi pernikahan di Indonesia seperti nasi rames atau prasmanan menjadi target utama para tamu. Terdiri dari nasi putih atau nasi goreng, mie goreng, ayam olahan, daging, ikan, sup dan kerupuk. Ada sate, bakso, zuppa soup yang selalu menjadi primadona dihampir setiap pesta pernikahan, kambing guling, siomay dan dessert.


"Ibu, kenapa si Aluna itu malah menikah dengan pria kaya sih. Kenapa tidak menikah dengan orang miskin saja. Kalau begini kita tidak bisa mengolok-oloknya dong!" Sisca kesal karena nasib Aluna sangat beruntung menikahi pria kaya seperti Bryan.


"Ibu juga tidak tahu kalau dia menikahi pria kaya. Gagal sudah rencana kita mempermalukan Aluna." Ucap Budhe Tika tak kalah kesal.


"Aku menyesal ikut menghadiri resepsi pernikahan, tahu begini lebih baik dirumah saja hang out dengan teman-teman." Ucap Sisca.


"Kita memang tidak bisa mengolok-olok Aluna tapi bisa memanfaatkan harta suaminya. Aku yakin, harta pria itu tidak akan habis sampai tujuh turunan." Ucap Pakde Imam dengan menunjuk ke arah Bryan diatas pelaminan.


"Bagaimana caranya ayah?" Tanya Sisca penasaran.


"Itu rahasia nanti juga kamu akan tahu."


"Aku iri sekali, kenapa Aluna bisa menikahi pria kaya dan tampan seperti dia. Aku ingin juga, ayah-ibu." Sisca merengek seperti anak kecil.


"Itu mudah, bisa diatur." Ucap Pakde Imam. Senyum smirk terkembang diwajah Pakde Imam.


#Jangan lupa vote, like dan tambahkan novel ini ke dalam list favorite kalian. Dukung selalu ya agar author semakin rajin meng upload kisah selanjutnya. Terima kasih. Love kalian semua. 😊

__ADS_1


__ADS_2