Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Baby Twins


__ADS_3

Happy reading 🍃


Rumah Sakit Xxxx


Ini kedua kalinya kaki Aluna menapaki bangunan tinggi gedung rumah sakit, dengan langkah gontai gadis itu memberanikan diri memasuki pintu lobi rumah sakit.


"Selamat pagi." Sapa security rumah sakit.


"Selamat pagi pak." Jawab Aluna ramah.


"Saya mau ke poli kandungan."


"Sudah pernah berobat sebelumnya?"


"Sudah!"


"Langsung ke bagian administrasi." Security itu menunjuk ke arah meja administrasi di dekat tangga.


"Baik, terima kasih."


Tidak lama kemudian, Aluna dan Rossa sudah berada di lantai dua mengantri di depan poli kandungan. Seperti biasa, sebelum melakukan konsultasi dengan dokter setiap pasien yang datang berobat akan melakukan serangkaian pemeriksaan kesehatan seperti pengukuran suhu badan, tensi darah, berat badan, pernapasan dan pemeriksaan nadi.


Selama tiga puluh menit, Aluna dengan resah menunggu namanya dipanggil. Ia bolak balik membuka layar ponsel, sesekali mengecek pesan masuk yang berasal dari aplikasi pesan singkat berwarna hijau muda.


"Saat seperti ini aku benar-benar membutuhkan kehadiran Mas Bryan, kalau aku telpon dan memintanya kesini maka semua pekerjaannya akan terbengkalai." Ucap Aluna dalam hati.


Untuk mengusir rasa cemas, gadis itu membuka ponselnya dan menonton streaming drama cina terbaru yang saat ini sedang booming disalah satu aplikasi layanan video, dibintangi aktris dan aktor tampan asal negeri tirai bambu.


"Nyonya Aluna Alexander." Salah satu perawat berseragam merah jambu memanggil dari depan pintu poli kandungan.


"Iya, saya." Aluna beranjak dan masuk ke ruang periksa.


Disana sudah duduk wanita paruh baya dengan setelan jas putih sedang membaca laporan rekam medis milik Aluna.


"Selamat siang dokter." Aluna menyapa dokter Dianka dengan senyum dipaksakan.


"Selamat siang, nyonya Bryan." Balas dokter Dianka ramah.


Gadis itu perlahan-lahan duduk di hadapan dokter Dianka.


Dokter Dianka menaikan satu alisnya, saat memeriksa rekam medis milik pasien dihadapannya.


"Satu bulan lebih ya dari jadwal check up yang seharusnya." Ucap dokter Dianka mencairkan suasana.


"Benar dokter."

__ADS_1


"Bagaimana, apa yang dirasa saat ini?"


"Sahabat saya sudah telat satu bulan lebih dokter." Ucap Rossa penuh semangat.


Dokter Dianka hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya Aluna.


"Eh, maaf dokter. Saya terlalu antusias mendengar kabar bahwa Aluna sudah telat satu bulan."


"Tidak apa-apa."


"Keluhannya apa saja, nyonya?" Tanya dokter Dianka.


Wanita paruh baya itu sibuk mencatat informasi yang di dapat ke dalam catatan rekam medis.


"Akhir-akhir ini merasakan mual, pusing dan saya baru ingat bulan ini belum ada tanda-tanda akan datang bulan. Biasanya satu minggu sebelum siklus, bagian payud*ra akan terasa sakit dan emosi meluap-luap.


"Sudah di tes pakai test pack?"


"Belum!"


"Untuk lebih jelasnya, kita tes dulu menggunakan test pack."


"Suster, tolong bawakan satu buah alat test pack kesini." Dokter Dianka meminta seorang perawat yang berjaga membawakan satu buah alat tes kehamilan untuk Aluna.


"Toiletnya ada disebelah sini."


"Sana, aku akan menunggumu disini."


Gadis itu melirik ke bungkusan biru muda yang tergelatak di atas meja. Dengan rasa cemas dan gugup, ia meraih test pack dan berjalan ke toilet yang berada di dalam ruangan.


Gadis itu mengamati perubahan warna pada indikator lempengan di tangannya.


Selama tiga menit, Aluna berdiri di dalam toilet memperhatikan perubahan pada strip test pack. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan saat satu garis samar bersisiran dengan satu garis merah cerah yang sangat menusuk mata. Saat satu garis merah itu semakin jelas tubuh Aluna lemas dan tidak mampu menopang tubuhnya, ia berpegangan ke pinggiran dinding kamar mandi.


"Dua garis merah, itu artinya aku hamil?"


Tangan Aluna gemetaran. Ia menggenggam erat test pack ditangannya.


Secara tidak sadar, ia mengangkat tangan dan mengusap perutnya.


"Kini aku tidak sendirian, disini ada satu nyawa yang tertidur dengan tenang dalam rahimku."


Dengan perasaan campur aduk, Aluna keluar dari toilet dan menyerahkan lempengan tipis setinggi sepuluh centimeter ke dokter Dianka.


"Jika dilihat dari pemeriksaan alat tes kehamilan, nyonya Bryan memang saat ini sedang hamil muda."

__ADS_1


"Kita coba USG dulu ya, sekalian tengokin si dedek bayi."


Aluna seperti terhipnotis dan menuruti perintah dokter Dianka. Kini ia terbaring di atas bed khusus, disampingnya terdapat sebuah monitor yang berfungsi untuk memantau pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan janin.


Saat seorang wanita sedang melakukan USG, perut pasien akan diolesi gel dan kemudian dokter akan menggerakan transducer diatas perut. Alat transducer inilah yang akan mengirimkan gelombang suara frekuensi tinggi ke rahim, kemudian gelombang suara ini akan mengirimkan sinyal kembali ke mesin yang akan mengubahnya menjadi gambar dan bisa dilihat dari layar monitor.


"Anda bisa melihatnya di layar monitor nyonya. Janin anda saat ini masih sangat mungil ukurannya seperti biji wijen. Jika dilihat sepertinya usia kandungan anda sudah memasuki usia lima minggu."


"Dan saya memprediksi sepertinya saat anda pertama kali check up kesini sebetulnya sudah dalam keadaan hamil hanya saja masih belum terdeteksi oleh alat USG."


Dokter Dianka nampak serius memperhatikan layar monitor di depannya.


"Anda bukan hanya memiliki satu biji wijen melainkan dua biji wijen sekaligus." Ucap dokter Dianka membuat Aluna terkejut.


Sungguh demi apapun, saat ini aku merasa sangat bahagia. Di dalam rahimku tumbuh dua janin hasil buah cintaku dengan Mas Bryan. Harapan dan penantian kami selama ini membuahkan hasil, kini aku dinyatakan positif hamil. Terima kasih Tuhan, atas kebahagiaan yang Kau berikan kepada keluarga kecilku. (Aluna)


Aluna meneteskan air mata tanda bahagia.


Rossa sebagai sahabat ikut merasakan kebahagiaan yang sedang menyelimuti Aluna. Berkali-kali gadis itu mengucapkan syukur karena sebentar lagi ia akan memiliki keponakan kembar.


"Sudah puas kan nengokin si dedeknya, kalau gitu mari ikut saya ke ruang konsultasi lagi."


Aluna turun dengan hati-hati dan duduk kembali di kursi.


"Kehamilan trimester pertama, kandungan masih lemah jadi jangan terlalu capek, hindari stress dan emosi berlebih."


"Banyak konsumsi makanan sehat apalagi terdapat dua janin dalam rahim anda."


"Dan satu lagi, minta Bryan jangan terlalu sering nenggokin anaknya. Kasihan, masih malu-malu mereka."


Rossa cekikian mendengar ucapan dokter Dianka.


"Bryan hebat juga ya, sekali tendang mencetak dua goal." Rossa berbisik di telinga sahabatnya.


Aluna hanya mendelik.


"Dokter, apakah saya boleh minta sesuatu?"


"Boleh, minta apa nyonya Bryan?"


"Saya minta...."


Hayo, minta apa coba? 🤭


Aluna sudah hamidun nih, kira-kira bagaimana reaksi Bryan dan kedua mertua Aluna saat mengetahui gadis itu hamil? Penasaran kan? Makanya pantengin terus novelku, kakak. Jangan lupa like nya juga ya dan masukan novel ini ke dalam list favorit kalian agar tidak ketinggalan cerita selanjutnya. Muach! 😊

__ADS_1


__ADS_2