
Previously....
"Kamu tidak akan berani menghabisiku dan kedua anak-anakku, 'kan?" Tanya Aluna lirih.
"El, di dalam tubuh kedua bayi ini mengalir darah dari pria yang begitu kau cintai. Apa kau tega melenyapkan mereka berdua? Darah daging Mas Bryan." Aluna mencoba meluluhkan hati Eliza agar wanita itu melepaskannya walaupun ia tahu kemungkinan untuk bisa lepas dari jeratan kejahatan wanita iblis itu hanya 1%. Selama ia masih bernapas maka cara apa pun akan dilakukan termasuk memohon kepada wanita yang tega sudah menghancurkan rumah tangganya.
"Aku tidak peduli. Yang ku inginkan saat ini adalah melenyapkan kalian selamanya." Eliza tertawa.
"Dasar wanita gila!"
"Wanita sinting!" Teriak Aluna.
Plak!
Plak!
Eliza menampar kedua pipi Aluna. Kini bukan hanya bibir gadis itu saja yang berdarah melainkan hidung mancungnya pun mengeluarkan darah.
"Aku tidak akan melenyapkanmu sekarang, tunggu sampai malam hari setelah pesta kejutan Bryan berakhir maka bersiaplah untuk menyusul kedua orang tuamu." Eliza meninggalkan Aluna. Wanita itu berjalan ke arah para penjahat yang sedang menyaksikan adegan penyiksaan di hadapan mereka.
"Jaga dia baik-baik, jangan biarkan mati dulu sebelum aku membu*nuhnya." Ucap Eliza kepada kelima penjahat itu.
"Baik boss!" Ucap mereka bersamaan.
***
Di kantor RA art and design, Bryan baru saja menyelesaikan rapat bersama dewan direksi membahas proyek terbaru yang rencananya akan dikerjakan bulan depan. Ia melewati ruang kerja Rudy, pria itu tanpa sengaja melihat Rossa dan Rendra berada dalam ruangan tersebut. Pria itu menguping pembicaraan mereka dari celah pintu ruang yang tidak tertutup rapat.
"Tuan, bagaimana ini apakah sudah ada berita terbaru mengenai Aluna?" Tanya Rossa. Ia menggigit kuku jemarinya untuk menghilangkan kecemasan pada dirinya.
"Anak buahku sampai saat ini belum menemukan titik terang." Ucap Rudy frustasi.
Rendra masih sibuk berkomunikasi dengan temannya yang berprofesi sebagai polisi.
Merasa ada yang tak beres, Bryan menghampiri mereka dan berita tentang penculikan Aluna membuat dirinya kaget dengan informasi tersebut.
"Apa? Jadi Aluna diculik?" Tanya Bryan.
Rudy, Rossa dan Rendra syok karena berita penculikan Aluna sampai terdengar di telinga suami gadis itu.
"Jawab aku, Rudy!" Bentak Bryan.
"Benar tuan."
__ADS_1
"Bagaimana bisa?" Bryan meradang.
Ia mencengkram kerah baju milik Rendra. Muka pria itu merah seperti kobaran api yang bisa membakar siapa saja yang ada didekatnya, rahangnya mengeras dan napasnya memburu.
"Kamu! Bagaimana kamu menjaga istriku hah?" Tanya Bryan kasar. Ia siap mendaratkan sebuah pukulan ke wajah pria itu.
"Tuan, hentikan!" Rudy menahan tangan atasannya.
Rendra hanya diam saja, ia menyadari kesalahannya.
"Maaf!" Hanya kalimat itu yang terucap dari bibirnya.
"Apakah polisi sudah mencarinya?" Tanya Bryan.
"Sudah dan saat ini pengawal tuan Bagas juga ikut mencari keberadaan nyonya."
"Dari informasi yang saya dapat, dalang dari penculikan ini adalah Nona Eliza."
Mata Bryan langsung terbelalak, ia tidak bisa mempercayai bahwa Eliza merupakan dalang atas penculikan istrinya. Jika sampai informasi itu benar maka ia tidak segan-segan menghabisi wanita yang saat ini tengah dekat dengannya. Tangannya mengepal dengan kuat. Ia menendang kursi di depannya.
"Argh!" Bryan berteriak seperti orang kesurupan.
"Aluna!"
"Anak-anakku, Rud."
"Bagaimana nasib anak-anakku." Satu butir cairan bening meluncur begitu saja.
Kini tubuh jangkung pria itu terkulai dilantai, kakinya seolah tak mampu menopang badannya yang kekar dan berotot.
Rossa begitu prihatin melihat keadaan suami sahabatnya. Gadis itu memang membenci Bryan karena sudah menduakan sahabatnya namun saat ia melihat keadaan pria itu timbul rasa prihatin di dalam hatinya.
"Aluna, lihatlah. Ini pertama kalinya aku melihat suamimu yang dingin bagaikan es menangis dihadapan kami. Seorang pewaris tunggal perusaahan terkenal kini tengah menangisimu dan bayi kembarmu." Ucap Rossa lirih.
Drt...drt...drt...
Ponsel Bryan bergetar. Di layar ponsel tertera nama Eliza, wanita yang dicurigai sebagai dalang penculikan Aluna.
"Rud, Eliza menelponku." Ucap Bryan lirih.
"Angkat saja tuan, kemudian aktifkan loudspeakernya." Perintah Rendra.
Pria itu berpikir sejenak sepertinya ini merupakan kesempatan baik untuk mengetahui keberadaan Aluna.
__ADS_1
Bryan
📲 Halo! Ucap Bryan dengan suara parau.
Eliza
📲 Ry, nanti malam datang ya ke cafenya Gugun. Aku ingin memberikan sebuah kejutan untukmu.
Bryan melirik ke arah Rudy dan Rendra. Ia meminta persetujuan dari keduanya.
Bryan
📲 Baik, pukul tujuh malam aku sudah sampai lokasi.
Eliza
📲 Oke, see you!
Satu jam kemudian, teman Rendra yang berprofesi sebagai polisi mendatangi perusahaan RA art and design. Ia beserta bawahannya memasuki gedung perusahaan lewat pintu darurat karena tidak ingin berita penculikan Aluna tersebar dikalangan para karyawan apalagi sampai bocor ke media masa maka mereka memilih jalan ini demi keselamatan gadis itu.
Mereka sedang berdiskusi menyusun rencana untuk menyelamatkan Aluna dari sekapan wanita iblis seperti Eliza.
"Tuan, baru saja anak buah kita mengatakan bahwa Nona Eliza berencana membu*nuh nyonya malam ini setelah pesta ulang tahun anda selesai." Ucap Rudy.
"Eliza, brengs*k kau!" Teriak Bryan.
"Tuan, kendalikan emosi anda." Rudy mencoba menenangkan atasannya.
"Begini saja, nanti malam anda bertemu dengan wanita itu di sebuah cafe yang sudah ditentukan. Kami akan mengintai dari kejauhan, setelah wanita itu tiba di lokasi maka kita akan lansung menyergapnya. Jangan sampai melakukan tindakan apapun sebelum ada aba-aba." Ucap pak polisi.
"Baik!" Ucap mereka bersamaan.
"Rudy, minta anak buah kita untuk tidak melakukan pergerakan sama sekali. Aku tidak ingin istri dan anak-anakku celaka."
"Baik tuan."
Bryan meminta sekretarisnya untuk membatalkan semua rapat dan pertemuan dengan klien karena saat ini pikirannya sedang kacau. Ia tidak bisa berpikir dengan jernih. Dalam pikirannya hanya ada nama istri dan kedua anaknya yang berada dalam kandungan. Bryan menyesal karena sudah memberikan celah kepada masa lalunya untuk masuk dalam kehidupan rumah tangga yang baru saja ia bina bersama sang istri. Ia pun menyesal karena sudah termakan bujuk rayu Eliza. Ingin rasanya Bryan memutar waktu dan kembali ke masa lalu dimana ia dan Aluna masih bersama, menghabiskan waktu bersama dan melewati malam indah berdua.
"Sayang, maafkan aku sudah menelantarkanmu dan kedua anak-anak kita."
"Aku janji setelah semua ini berakhir, kita akan memulainya kembali dari awal. Hidup bahagia dengan kedua anak-anak yang lucu dan menggemaskan." Bryan berjanji pada dirinya sendiri akan mengakhiri hubungannya dengan Eliza jika istrinya selamat dari penculikan.
"Kamu harus bertahan sayang, demi aku dan buah hati kita." Ia mengeluarkan sebuah foto dari dalam dompet. Disana kita diperlihatkan sebuah foto gadis cantik menggunakan baju pengantin berwarna putih tulang. Foto itu diambil saat keduanya mengadakan resepsi pernikahan di sebuah hotel mewah di Jakarta.
__ADS_1