
Happy reading 🍃
Waktu berputar dengan cepat, tak terasa kini Aluna sudah memasuki semester baru dalam dunia perkuliahan. Sisa satu setengah tahun lagi gadis itu wisuda dan menyandang gelar S.Kep.
Setelah menghadapi ujian tengah semester lima dan menghabiskan masa liburan kurang lebih dua minggu, kini gadis itu telah disibukan kembali dengan aktivitasnya sebagai mahasiswa.
Ia baru saja turun dari mobil dan seperti biasa, dua orang pengawal berbaju hitam dengan postur tubuh jangkung dan potongan rambut butch cut ala TNI mengekori dari belakang.
Pertama kali Aluna menginjakan kembali kakinya di kampus kesayangan, banyak mahasiswa bertanya-tanya siapa dua orang yang mengikuti gadis itu dari belakang. Yang mereka tahu bahwa Aluna terlahir dari keluarga biasa bahkan ia berada di kampus ini berkat beasiswa karena mendiang Alexander hanya seorang pegawai biasa dan tidak memiliki banyak biaya untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang sekolah lebih tinggi sehingga menimbulkan berbagai spekulasi buruk tentang gadis itu.
Beredar isu miring yang mengatakan bahwa Aluna adalah seorang wanita simpanan pengusaha kaya, rela menjual diri untuk mendapatkan kemewahan dan status sosial sebagai wanita berkelas dari kalangan atas. Mengingat saat ini gadis itu hidup sebatang kara mana mungkin ia mampu membiayai kebutuhan sehari-hari tanpa bantuan siapapun.
Minggu pertama kuliah, gadis itu menutup mata dan telinga rapat-rapat tidak mau terlalu memusingkan kabar burung yang beredar di lingkungan kampus namun lama kelamaan membuat ia merasa tidak nyaman berada di kampus. Akhir-akhir ini Aluna menjadi lebih emosional, tidak bisa mengontrol emosi dengan baik menyebabkan gadis itu sering menangis di toilet ditemani sahabatnya, Rossa.
Mau tak mau sebagai sahabat, Rossa memberanikan diri menghubungi Bryan dan mengatakan kejadian yang sebenarnya kepada pria itu. Bryan kaget bukan main, mengetahui istrinya menjadi bahan gunjingan satu fakultas.
Tidak ingin gosip itu berlarut-larut akhirnya Bryan mengundang awak media menghadiri konferensi pers, memperkenalkan Aluna untuk pertama kalinya di hadapan khalayak umum. Masyarakat memang mengetahui bahwa Bryan sudah menikah dengan Aluna namun mereka tidak mengetahui wajah gadis yang bersanding dengan pewaris tunggal RA Art and Design karena saat resepsi semua tamu undangan dilarang mengabadikan momen itu dengan sebuah kamera.
Bryan tahu dengan cara seperti ini mempermudah musuhnya mengetahui titik kelemahan pria itu namun ia tidak perduli asalkan Aluna merasa nyaman dan kembali fokus kuliah apapun akan ia lakukan termasuk memperketat penjagaan demi keselamatan istri tercinta.
"Selamat pagi Aluna." Sapa Rossa yang baru saja memasuki ruang kelas.
Pagi itu mereka akan mengikuti perkuliahan Pak Sujarwo dosen mata kuliah keperawatan anak.
"Selamat pagi juga, Rossa." Rossa duduk dikursi samping Aluna.
Rossa melirik sekilas kearah Aluna. Alangkah terkejutnya gadis itu melihat wajah sahabatnya pucat pasi bagai seorang mayat.
"Aluna, kamu kenapa?"
"Aku tidak tahu Ocha. Tiba-tiba saja kepalaku pusing dan sejak tadi pagi aku muntah-muntah. Rasanya seluruh tubuhku tidak nyaman." Aluna mengusap perutnya merasakan seperti ada sesuatu yang mau keluar dari perutnya.
"Kamu salah makan mungkin."
"Tidak kok, aku tidak makan yang macam-macam."
"Semua makanan sebelum masuk perutku selalu dicicipin pelayan."
"Hm, begitu ya."
"Tunggu sebentar!" Rossa menggebrak meja dan membuat Aluna yang duduk disampingnya mengelus dada karena kaget.
"Ya Tuhan, jantungku."
"He-he, maaf!"
__ADS_1
Rossa menatap lekat wajah sahabatnya, kini raut wajahnya berubah menjadi serius.
"Aluna, itu.... ehm...." Rossa nampak menimang-nimang kalimat apa yang hendak ia sampaikan ke sahabatnya.
"Apa?"
"Cepat katakan, jangan buat aku penasaran."
"Ehm, itu...."
"Iya, apa?"
"Itu...."
"Cepat katakan!"
Rossa menghela napas dalam.
"Terakhir kali kamu siklus kapan?"
Deg!
Jantung Aluna berasa berhenti sejenak.
Iya, gadis itu sudah satu bulan lebih tidak mengalami siklus menstruasi. Terakhir kali mendapatkan siklus menstruasi sebelum ia pergi ke Bali melakukan perjalanan bulan madu. Pertama kalinya ia berhubungan badan dengan suaminya tepat pada hari ketiga setelah siklus haid selesai dan itu merupakan waktu terbaik berhubungan.
"Aluna!" Rossa menggoyangkan tubuh sahabatnya.
"S-sa-tu bulan yang lalu." Jawab Aluna lirih namun Rossa bisa mendengar suara Aluna karena saat itu keadaan kelas masih sepi hanya terdapat sepuluh mahasiswa saja yang baru datang.
"Jangan-jangan...."
Rossa segera memeluk tubuh Aluna. Sebagai sahabat, ia sangat bahagia mendengar kabar bahwa Aluna sudah telat satu bulan.
"Mungkin kah, aku hamil?"
"Aku akan mengantarmu ke dokter. Coba kamu cek apakah hari ini dokter yang menanganimu praktek atau tidak. Jika iya, kita berangkat sekarang."
"Terus bagaimana kelasnya Pak Sujarwo?" Aluna dilema karena ini pertama kalinya ia bolos kuliah.
"Kita izin saja sehari. Lagipula, ada alasan kuat kita izin."
"Sudah, cepat di cek."
Aluna membuka jadwal praktek rumah sakit tempat dokter Dianka bertugas.
__ADS_1
"Ada Cha, pagi ini pukul sepuluh sampai dua belas."
"Ya sudah, ayo berangkat."
Rossa bangkit dari kursinya dan menghampiri tiga orang mahasiswa yang sedang duduk dibelakang kursi Aluna.
"Girls, tolong izinin ke Pak Sujarwo ya. Aku mau ajak Aluna ke rumah sakit dulu."
Tiga orang gadis itu melirik ke arah Aluna yang sedang berdiri tidak jauh dari kursi mereka.
"Iya." Jawab mereka singkat.
"Oke, thank you."
Aluna dan Rossa berjalan keluar kelas.
"Kalian berdua, ikut denganku."
"Aku akan mengajak nyonya kalian ke rumah sakit dan salah satu dari kalian harus menyetir mobilku."
"Baik nona."
Kini mereka berempat berjalan menuju prakiran kampus khusus mahasiswa fakultas keperawatan.
Dua orang pengawal duduk di depan, satu berada dibalik kemudi dan satu lagi duduk di sampingnya sementara Aluna dan Rossa duduk dibelakang.
Aluna meremas kedua jarinya. Gugup, cemas dan takut memenuhi pikiran gadis itu.
Bagaimana jika aku benar-benar hamil, apakah Mas Bryan akan bahagia mendengar kabar ini? Seharusnya ia bahagia 'kan? Bukankah selama ini ia begitu antusias setiap kali kami membahas soal anak. Bahkan hampir tiap malam kami bercinta karena Mas Bryan sudah tidak sabar ingin segera memiliki keturunan. Namun entah mengapa aku seperti mendapat firasat bahwa kali ini suamiku tidak akan senang dengan kabar kehamilanku. Semoga saja ini hanya firasatku saja. (Aluna).
"Ehm, ehm. Kita ke Rumah Sakit Xxxx tempat dulu aku mengikuti program hamil."
"Baik nyonya."
"Apa perlu saya menghubungi Tuan Bryan?"
"Tidak perlu."
"Baik nyonya."
Kemudian mobil yang ditumpangi Aluna meninggalkan parkiran kampus dan berjalan di jalanan ibu kota.
Hayo tebak, kira-kira Aluna betulan hamil atau dia hanya mengalami ketidak aturan jadwal menstruasi saja?
Penasaran? Kuy lah di pantengin terus novel aku, kakak. Jangan lupa like nya juga ya dan masukan novel ini ke dalam list favorit kalian Terima kasih. 😊
__ADS_1