
Happy reading 🍂
Ayunda
📲 "Halo Dianka, besok kamu praktek tidak?"
Dianka
📲 "Praktek Ay, ada apa?"
Ayunda
📲 "Besok akan ada anak dan menantuku, kamu tolong layani mereka ya."
Dianka
📲 "Dengan senang hati."
📲 "Besok pagi pukul sepuluh di Rumah Sakit Xxxx."
Ayunda
📲 "Oke, terima kasih Di."
Ayunda mematikan sambungan telpon.
"Besok pagi pukul sepuluh di Rumah Sakit Xxxx, kalian temui dokter Dianka. Mommy sudah buatkan janji untuk kalian. Datang lebih awal agar tidak mengantri."
"Oke, besok kita berangkat pukul tujuh pagi. Agar dapat antrian nomor pertama."
"Hah!"
Lagi-lagi seisi rumah dibuat terkejut dengan ucapan Bryan.
"Ngebet banget kak. Sudah tidak sabar ya jadi papa?" Goda Shera.
"Diam!"
"Itu terlalu pagi mas, bagaimana kalau pukul sembilan saja? Jadi pagi hari kita bisa sarapan dulu bareng mommy, daddy dan Shera. Aku kangen makan bareng dengan mereka." Aluna memasang wajah imut dihadapan suaminya, ia yakin dengan begini akan membuat suaminya luluh.
"Oke, pukul setengah sembilan kita jalan. Tidak ada tawar menawar lagi."
Aluna menghela napas panjang.
"Baik mas."
Saat mereka tengah asyik mengobrol, muncul seorang pelayan wanita berseragam hitam putih menghampiri Bryan.
"Mohon maaf tuan, koper nona Aluna mau diletakan dikamar mana?"
"Kamarku saja. Mulai malam ini kami akan tidur satu ranjang lagi dan besok aku minta kalian segera membereskan kamar Aluna dan meletakan barang-barangnya di kamarku."
"Baik tuan."
Pelayan itu segera undur diri dan membawa koper coklat milik Aluna ke kamar Bryan.
"Ya sudah mom, dad, aku ke kamar dulu. Aku tidak ingin Aluna kecapekan."
"Good night mom, dad."
"Good night Ry."
"Aluna ke kamar dulu ya mom, dad."
__ADS_1
"Iya sayang, istirahat yang nyenyak ya."
"Ry, jangan ajak begadang Aluna. Beri dia waktu istirahat."
"He'em."
Setelah Aluna dan Bryan pergi ke kamar, Ayunda dan suaminya melanjutkan percakapan mereka diruang tamu.
"Sudah mom, jangan terlalu sering menggoda Aluna. Kasihan dia, harus menahan malu karena mommy goda terus."
"Idih si daddy, biarkan saja sih. Mommy suka melihat wajah menantu kesayanganku tersipu malu."
"Wajah nya itu sangat imut. Ingin rasanya mommy mencubit pipinya tapi pasti akan dimarahi Bryan."
"Mommy berpikiran seperti itu juga?" Shera langsung ikut nimbrung.
"Apa kita mempunyai pemikiran yang sama?"
"Ha-ha-ha." Ayunda dan Shera tertawa bersamaan.
"Ck-ck-ck. Like mother like daughter!" Cicit Reymond.
"Ya sudah, mari kita istirahat. Besok daddy ada rapat penting dan kamu juga harus sekolah."
Akhirnya mereka bertiga pergi meninggalkan ruang tamu menuju kamar masing-masing.
***
Suasana pagi ini nampak begitu cerah, langit terlihat biru seperti birunya air laut. Embun pagi mengalir di pucuk dedaunan hijau, cahaya matahari perlahan-lahan masuk melalui celah-celah jendela kamar namun tidak menyilaukan mata sedikitpun. Sesekali terdengar kokok ayam bersahutan, kicauan burung yang hinggap di dahan pohon memberikan semangat baru bagi insan dibumi.
Dilantai tiga rumah mewah bergaya eropa modern, kita bisa menyaksikan dua insan manusia sedang menikmati kebersamaan mereka diatas ranjang, saling berpelukan memberikan kehangatan untuk pasangan. Mereka masih sibuk menyulam mimpi dalam tidur lelapnya.
Sementara dilantai satu dan lantai dua, sudah terdengar hiruk pikuk penghuni rumah memulai aktivitas mereka. Para pelayan sudah disibukan dengan pekerjaan rumah tangga, mulai dari menyiapkan makanan, memasak, menyapu, mengepel, mencuci dan masih banyak lagi pekerjaan rumah tangga yang bisa dikerjakan.
Suara alarm ponsel Aluna terdengar nyaring memberikan tanda agar penghuni kamar segera menyingkirkan selimut.
Tangan gadis itu meraba-raba atas nakas untuk mematikan bunyi alarm.
cetlek
Ia menatap layar ponsel dan perlahan-lahan kelopak matanya bergerak, membuka mata secara perlahan.
"Ehm, sudah jam enam."
"Aku harus segera bangun dan membantu para pelayan menyiapkan minuman untuk mas Bryan."
Aluna menyingkirkan selimut namun sebelum beranjak ia sempatkan diri menatap wajah suami tercinta. Sosok pria tampan, dingin dan jutek yang dulu pernah ia temui pertama kali di mall kini tertidur pulas disampingnya. Gadis itu tak menyangka bahwa awal bertemu dengan Bryan akan berakhir di pelaminan walaupun cinta belum tumbuh diantara keduanya namun lambat laun benih cinta itu tumbuh dengan sendirinya tanpa mereka sadari.
Tangan Aluna bergerak tanpa ia sadari kini wajahnya sudah berada didepan pria itu. Ia menyusuri kening, hidung dan bibir pria itu. Ia menghentikan tangannya tetap dibagian bibir suaminya.
"Bibir ini begitu menggoda." Gumam Aluna.
"Sudah selesai memandang wajah tampanku, sayang?" Ucapan Bryan sontak membuat Aluna kaget.
"Oh astaga."
"Sejak kapan kamu bangun?"
"Sejak kamu menyentuh kening, hidung dan bibirku. Oh atau sejak kamu bergumam mengatakan bahwa bibirku begitu menggoda."
Kini Bryan semakin memangkas jarak diantara mereka membuat Aluna gugup dan menjauhi pria itu namun dengan cepat pria itu menahan tubuh Aluna agar tidak meninggalkannya.
"Ka-kamu salah dengar mungkin. Aku, aku...."
__ADS_1
"Sudahlah, kamu tidak perlu bersilat lidah. Kamu ingin aku cium, kan?"
"Ih, kamu mesum mas." Aluna berteriak.
Bryan mendorong tubuh istrinya dan mengungkung gadis itu dibawah. Mata keduanya saling memandang dan Aluna bisa melihat cinta mendalam pada diri suaminya.
"A-apa yang akan kamu lakukan mas?"
"Menurutmu?"
"A-aku tidak tahu."
"Apa kamu gugup?"
"Sedikit."
"Apa kamu menyukai bibirku?"
"Iya." Jawab Aluna dengan suara parau.
"Kalau aku menciumu bagaimana?"
"Hu'um." Aluna menganggukan kepala.
"Kalau aku melakukan sesuatu lebih dari mencium, bagaimana?"
"Hu'um." Aluna menganggukan kepala lagi.
"Kalau aku...."
Belum sempat Bryan melanjutkan kalimat, Aluna segera menutup mulut suaminya dengan jari.
"Sst... Lakukan apapun sesuai dengan keinginanmu, mas."
"Kalau aku ingin....." Bryan mendekati telinga istrinya.
"Ingin."
"Ingin."
"Ingin."
"Kau membuatkan teh hangat untuk ku, bagaimana?"
"Hah!"
Aluna segera mendorong tubuh suaminya dan beringsut kesamping.
"Kenapa wajahmu memerah?"
"Tidak apa-apa. Sudah aku mau ke kamar mandi dulu setelah itu baru ku buatkan teh."
Aluna segera berlari kecil ke kamar mandi. Ia terlihat bodoh karena mengira suaminya akan melakukan suatu hal yang biasa mereka lakukan selama di Bali.
"Aluna, kau bodoh sekali. Kenapa bisa berpikir dia akan melakukan itu." Aluna menepuk-nepuk wajahnya di depan cermin.
"Argh, malunya aku!"
Sementara dikamar, Bryan sedang duduk ditepian ranjang dan menelpon Rudy.
📲 "Rudy, hari ini tolong kamu buat janji dengan perusahaan Mega Art untuk mendiskusikan kelanjutan kontrak kerjasama dengan mereka."
📲 "Minta perwakilan mereka hadir dalam rapat besok. Kalau bisa jangan sekretaris centil itu lagi yang datang. Aku bisa muntah melihat tingkah genitnya."
__ADS_1
Bryan mengakhiri panggilan telpon dan menyalakan televisi sambil menunggu Aluna mandi.