Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Seandainya.....


__ADS_3

Happy reading 🍂


Sementara itu, di tempat yang berbeda namun masih di Bali nampak seorang pemuda sedang termenung dengan kedua tangan menopang dagu. Ia sedang duduk di balkon kamar hotel, menghisap rokok secara perlahan dan menghembuskannya ke udara.


"Aluna."


"Aluna."


"Aluna."


Pria itu memanggil nama Aluna berkali kali. Pikirannya berkelana kemana-mana.


"Istriku."


"Istriku."


"Istriku."


"Argh!"


Rendra berteriak dan menendang pintu kamar dengan sangat keras.


"Sial!"


"Kenapa kamu menikah dengan pria lain?"


Bertahun-tahun lamanya ia meninggalkan negara Indonesia untuk menuntut ilmu di negara asing berharap gadis yang di cintainya masih menunggunya dengan setia namun setelah ia kembali malah mendapati gadis idamannya menikah dengan pria lain. Hancur sudah impian dan cita-cita yang ia mimpikan, bisa berumah tangga dan menghabiskan sisa hidup bersama Aluna. Kini tidak ada harapan baginya untuk bisa bersanding dengan gadis pujaan hatinya.


Rendra segera beranjak meninggalkan balkon dan mengambil ponselnya diatas nakas dekat lampu tidur. Ia menelpon seseorang untuk mencari informasi tentang keluarga Smith.


📲 Halo, aku butuh bantuanmu. Tolong segera carikan informasi tentang keluarga Smith secepatnya.


📲 Lebih lengkap lebih baik.


📲 Berapapun imbalan yang kau minta, akan ku beri!


Rendra mematikan ponsel dan meletakannya kembali ke tempat semula. Ia berjalan menuju lemari es di dalam lemari terdapat beberapa rentetan botol minuman dingin dan botol minuman keras. Ia memilih satu buah botol red wine dan menuangkannya ke dalam gelas. Meneguknya dalam satu kali tenggak.


"Aah, dengan cara ini setidaknya aku bisa melupakan masalah Aluna."


Ia menuangkan kembali cairan berwarna merah itu ke dalam gelas burgundy, gelas dengan bentuk yang lebar.


"Aluna."


"Seharusnya kamu menjadi milikku."


"Andai saja waktu itu aku tidak melanjutkan kuliah di Singapura, mungkin saat ini kita sudah menikah."


"Hidup berbahagia, saling mencintai dan menyayangi."


Rendra mulai meracau akibat minuman beralkohol yang dikonsumsinya. Sebetulnya ia bukan tipe lelaki yang sering minum minuman beralkohol namun saat ini karena sedang patah hari memaksanya untuk meneguk minuman itu.


"Dulu seharusnya kamu menerimaku, Aluna." Rendra mulai berteriak.


Emosinya meluap, ia menggerakan gelas yang dipegangnya ke kanan dan kiri.


"Aluna."

__ADS_1


Ceklek


Pintu kamar hotel tempat Rendra menginap terbuka, dari luar nampak seorang pria berjalan menghampiri Rendra yang sedang duduk di sofa depan televisi. Pria itu adalah Okky sahabat Rendra. Mereka sama-sama melanjutkan study di Singapura dan kembali ke Indonesia.


"Ren, Rendra. Apa yang terjadi denganmu?"


"Kenapa bisa begini?"


Okky melihat ada sebotol red wine diatas meja.


"Sejak kapan kamu mabuk-mabukan?"


"Damn!" Maki Okky. Dia percuma saja menanyakan berjuta-juta pertanyaan pada Rendra ujung-ujungnya tidak akan mendapat jawaban karena lawan bicaranya saat ini dalam keadaan mabuk.


"Aluna."


Okky sudah bisa menebak, alasan Rendra mabuk karena ia sakit hati melihat gadis pujaannya menikah dengan orang lain.


"Sudah, sudah. Ayo, aku bimbing kamu tidur di kasur."


"Eehm." Rendra menggelengkan kepala.


"Aku ingin Aluna."


"Aluna sudah menikah Ren, lebih baik kau melupakan dia."


"Tidak!" Rendra berteriak.


Teriakan Rendra memekikan gendang telinga Okky.


"Sialan kamu Ren!"


"Sudah, ayo."


Okky memapah tubuh Rendra menuju ranjang, membantunya berbaring dan menyelimuti sahabatnya dengan selimut.


"Maafkan aku Ren, tidak memberitahumu lebih awal. Aku tahu jika kau mendengarnya langsung maka akan berpengaruh terhadap kuliah mu dan orang tuamu pasti marah melihat masa depanmu hancur hanya karena seorang gadis."


Okky pergi meninggalkan Rendra yang tengah terbaring diatas ranjang. Pria itu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


Saat ini Aluna dan Bryan melanjutkan kegiatannya diatas ranjang. Gadis itu sedang berada diatas tubuh Bryan, ia sedang berusaha melakukan penyatuan ke dalam milik suaminya.


"Ayo sayang, sedikit lagi." Ujar Bryan yang kini tengah berbaring diatas kasur.


"Sudah ku coba tapi tidak muat." Aluna menyerah karena sudah hampir tiga menit berada di atas tubuh suaminya namun inti tubuh milik suaminya tak kunjung membobol gawang Aluna.


"Kamu coba lagi, sayang." Bryan berusaha membantu menggerakan pinggang istrinya.


"Tidak bisa mas. Lolipopmu terlalu besar." Ucap Aluna dengan malu.


"Kalau begitu biar aku saja yang memimpin permainan."


Akhirnya Aluna turun dari perut Bryan dan kini posisi pria itu membelakangi istrinya.


Dengan sekali dorongan, Bryan berhasil melakukan penyatuan ke milik istrinya.

__ADS_1


"Aw!"


Aluna menjerit, baru pertama kali ia melakukannya bersama Bryan dengan posisi ini rasanya seluruh inti tubuh milik suaminya mengisi penuh ruang kosong di rahim gadis itu.


"Anggap saja ini hukuman untukmu karena menggodaku." Ucap Bryan.


Bryan memulai kegiatannya, suara desa*han Aluna bercampur dengan suara erangan pria itu menciptakan alunan melodi indah dan memberikan semangat bagi keduanya.


Pria itu mendorong miliknya berkali-kali dengan cepat seperti orang kesurupan, ia meracau menyebut nama Aluna. Mere*mas dua daging kenyal milik istrinya dengan ganas. Menggigit dan memberikan tanda kepemilikan di punggung mulus istrinya.


"Ingat Aluna, kau hanya milik ku seorang."


Bryan semakin memperdalam gerakannya sehingga membuat Aluna menjerit.


"Aah!"


"Iya mas, aku hanya milikmu."


"Panggil namaku, sayang." Bryan memerintah istrinya tanpa menghentikan kegiatannya.


"Mas Bryan."


"Panggil lagi, sayang."


"Mas Bryan."


"Lebih kencang sayang."


"Mas Bryan."


"Ah!"


Setelah mendapatkan gempuran kasar dari suaminya, akhirnya Aluna mendapatkan pelepasan.


Aluna dibuat tak berdaya oleh kelakukan suaminya. Bryan menggerakan pinggulnya dengan gerakan cepat, menepuk bagian belakang dengan kasar.


"Tubuhmu membuatku ketagihan sayang." Bryan meracau tak jelas.


Plak!


Plak!


Plak!


Bryan menepuk bagian belakang istrinya dengan keras membuat area sekitar memerah.


Hampir satu jam mereka memadu kasih namun belum ada tanda-tanda Bryan akan melakukan pelepasan sementara Aluna sudah lemas akibat kelakuan nakal suaminya. Entah berapa kali gadis itu mengalami pelepasan dan kini ia hanya bisa pasrah menerima perlakuan suaminya. Niat hati memberikan pelayanan untuk Bryan, namun siapa sangka malah Aluna sendiri yang mendapatkan pelayanan memuaskan dari suaminya.


"Mas, aku sudah tak kuat lagi." Ucap Aluna saat merasakan seluruh tubuhnya sudah tak bertenaga lagi.


"Sebentar lagi sayang, aku akan menuntaskannya sekarang."


Beberapa detik kemudian, Bryan melakukan pelepasan di dalam rahim istrinya tercinta.


"Ah!"


Bryan ambruk disamping istrinya. Peluh membanjiri tubuh keduanya, akibat permainan panas mereka keadaan kamar yang awalnya semula rapi kini seperti kapal pecah. Kaos, celana, gaun malam dan pakaian lain berserakan dimana-mana meninggalkan jejak sisa percintaan mereka.

__ADS_1


to be continued....


#Jangan lupa likenya ya kakak semua dan tambahkan novel ini ke dalam list favorit agar tidak ketinggalan cerita selanjutnya. Kritik dan saran yang membangun, author tunggu. Terima kasih. Love kalian semua. 😊


__ADS_2