Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Selangkah Lebih Dekat


__ADS_3

|| Kantor RA art and design ||


Keesokan harinya saat jam makan siang, Aluna membawa serta kedua jagoannya untuk pergi ke kantor menemui Bryan. Wanita itu berjanji kepada Aryan akan mengunjungi papinya agar anak tersebut patuh dan tidak menangis lagi. Terbukti cara itu ampuh untuk membuatnya menuruti semua perkataan sang mami.


Sepanjang perjalanan, si sulung tak henti-hentinya mengoceh. Ia terus bertanya kepada Aluna tentang banyak hal hingga wanita itu kewalahan menjawab semua pertanyaan dari Aryan. Saat bocah kecil itu mengetahui Bryan mempunyai hobi menggambar dan melukis seperti dirinya, ia begitu bahagia dan berteriak kegirangan. Arya hanya menatap bingung ke arah Aryan, ia malah sibuk bermain robot-robotan yang dibelikan oleh Rendra sebagai kado ulang tahun ke 3. Arya sejak kecil sudah dekat dengan Rendra jadi tak heran jika ia begitu akrab dengan calon papa sambungnya namun bocah tersebut mudah didekati asalkan kita mengetahui titik kelamahannya terletak pada robot-robotan dan minuman boba. Arya sangat suka kedua macam itu, bisa dipastikan kalian akan menjadi temannya hanya dalam hitungan detik.


"Nah sayang, kita sudah sampai di kantor papi."


Aluna membantu kedua putranya turun dari taxi online yang ia pesan lewat salah satu aplikasi terkenal di Indonesia.


"Kalian tidak boleh lepas dari tangan mami, paham?"


"Baik mami." Sahut keduanya hampir bersamaan.


Aluna berjalan menuju meja resepsionis, disana sudah ada satu orang karyawan wanita berdiri dengan anggun.


"Halo selamat siang, apakah saya bisa bertemu dengan Tuan Bryan?" Ucap Aluna lembut.


Saat Aluna melangkahkan kakinya ke perusahaan RA art and design untuk pertama kalinya setelah empat tahun meninggalkan Indonesia, semua karyawan perusahaan dibuat kagum akan pesona dan kecantikan wanita dihadapannya. Aura kecantikan wanita itu semakin bersinar saat memasuki usia seperempat abad. Gaya potongan rambut high messy bun dan menambahkan poni depan memberikan kesan wajah lebih segar serta awet muda.


"Apakah anda sudah buat janji?" Tanya salah satu resepsionis dibalik meja kerja.


"Belum tapi kemarin saya sudah memberitahu akan membawa kedua anaknya mengunjungi kantor papi mereka." Aluna memberikan senyuman.


"Anda jangan bercanda nyonya, Tuan Bryan orang penting. Jika ingin bertemu maka harus membuat janji." Jawabnya sewot.


"Oh begitu. Jika seorang ibu mempertemukan anak dengan ayahnya harus membuat janji juga?" Aluna tampak kesal karena ia dipersulit menemui mantan suaminya.


"Hush, kamu apa-apaan sih!" Bentak teman wanita itu, ia baru saja kembali dari toilet.


Wanita itu begitu terkejut saat melihat mantan nyonya bos berdiri di depan meja resepsionis beserta kedua jagoan yang wajahnya sangat mirip dengan atasannya.


"Astaga, nyonya bos!" Pekiknya.


"Halo, Ajeng!" Sapa Aluna.


"Anda kembali?"


"Memang ada urusan di Indonesia, jadi saya kembali. Oh ya, apakah bisa bertemu dengan Mas Bryan?"


"Tentu saja nyonya. Dan ini...."


Pandangan Ajeng beralih ke arah dua jagoan kecil yang lucu dan menggemaskan.


"Aryan dan Arya."


"Tuan Bryan pasti bahagia karena anda datang kemari. Langsung masuk saja nyonya, tuan ada diruangan."


"Terima kasih."


Kemudian Aluna dan si kembar menaiki lift khusus tamu. Lift tersebut membawa mereka ke lantai lima, tempat dimana Bryan menghabiskan waktu berjam-jam dengan semua berkas, dokumen dan alat gambarnya diwaktu senggang.


"Kamu tuh bagaimana sih, itu kan nyonya bos." Bentak Ajeng.


"Ya aku hanya menjalankan tugas saja kok."

__ADS_1


"Iya, tapi sikapmu tidak sopan. Kamu tidak lihat, itu Nyonya Aluna membawa kedua putra Tuan Bryan yang notabene mereka akan mewarisi perusahaan ini. Jika dilaporkan dan kamu dipecat, bagaimana?" Ajeng geram karena temannya bersikap ceroboh.


"Aku kan baru disini jadi hanya mengikuti aturan saja." Ucapnya acuh.


"Cih, dasar. Sudah salah masih saja membela diri. Dasar anak manja, masuk perusahaan lewat jalur dalam ya begini hasilnya. Kuliah tinggi dan berasal dari universitas terkenal tapi attitude nol besar!" Ucap Ajeng dalam hati.


Ting!


Pintu lift terbuka.


🎶 Ca-ca-ca....


🎶 Alyan mau ketemu papi.


Aryan bernyanyi dengan lirik dan syair yang dibuatnya sendiri.


Aluna mengernyitkan alis.


"Mengapa putraku ini berubah semenjak bertemu Mas Bryan?" Tanya Aluna dalam hati.


Tok


Tok


Tok


Terdengar suara ketukan pintu.


"Masuk!" Ucap Bryan.


Mata dan konsentrasinya hanya berpusat pada tumpukan berkas diatas meja. Ini hari pertama ia bekerja seorang diri tanpa dibantu Ruddy karena asistennya mengajukan cuti selama satu minggu untuk menikmati waktu bulan madu bersama istri tercinta.


"Dol!"


Bryan terperanjat dari kursi.


Pria itu begitu terkejut melihat putranya memberikan sedikit surprise ditengah kesibukannya bekerja.


"Oh, anak papi."


Bryan langsung memeluk tubuh mungil Aryan.


"Kamu sudah pandai membuat orang terkejut ya." Bryan mencubit hidung mancung anak itu.


Pria itu merasa sedang bercermin setiap kali menatap wajah Aryan. Wajah kedua putranya sangat mirip dengannya saat masih kecil.


Bryan menggendong Aryan dan mendudukannya di atas sofa.


"Wajahmu kenapa?"


"Mami habis diomelin aunty dicana, om." Arya menyahuti pertanyaan papinya.


"Jelaskan padaku, apa yang terjadi?"


"Saat aku bertanya pada resepsionis, salah satu dari mereka bersikap tidak sopan padaku."

__ADS_1


"Ajeng?"


"Bukan, semua karyawanmu di bagian resepsionis aku kenal semua kecuali dia."


"Mayang!"


"Besok aku pecat dia!"


"Aku sudah punya firasat bahwa dia tidak akan bisa bekerja dengan baik disini."


"Jangan gegabah mengambil keputusan, beri dia surat peringatan jika masih sama maka kamu boleh memecatnya."


"Baik, aku akan patuh."


"Arya, ini papi. Lekas beri salam."


"Papi?"


"Hu'um, papa kandung Arya." Aluna mencubit pipi anak keduanya.


"Alya punya dua papa." Bocah kecil itu mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Aluna!"


Bryan menatap Aluna dingin, tatapan mata tajam, menusuk dan mengintrogasi.


"Mas, sejak kecil mereka sudah akrab dengan Kak Rendra karena tidak mau si kembar kehilangan figur papa jadi Kak Rendra meminta Aryan dan Arya memanggilnya papa."


"Sial, kenapa pria itu lebih unggul dariku!" Ucapnya kesal.


"Papi, cini!" Aryan membisikan sesuatu.


"Papi bica belmain dengan adek acalkan membelikan lobotan dan minuman boba."


"Benar, nak?"


Aryan hanya mengangguk.


Aluna hanya senyum-senyum sendiri melihat tingkah polos dan menggemaskan anak serta mantan suaminya.


"Arya!"


"Sana sayang, salim ke papi." Perintah Aluna.


Arya mendekat dan mencium tangan Bryan.


"Arya mau pergi ke mall? Papi mau belikan robot-robotan yang besar dan minuman boba untukmu, mau?"


Arya memasang puppy eyes.


"Mau!"


"Yey! Yey! Alya mau punya lobotan balu."


Arya berjoged-joged.

__ADS_1


"Papi juga akan membelikan buku gambar dan pensil warna untuk kakak."


Aryan bahagia dan bergabung dengan adiknya. Mereka menari, berjoged dan tertawa riang sementara Bryan dan Aluna hanya menyaksikan kebahagiaan yang terpancar dari wajah kedua putranya.


__ADS_2