Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Mulai Terbongkar


__ADS_3

|| Di dalam mobil ||


"Ocha, tolong antarkan aku ke perusahaan Mas Bryan!"


"Hah!"


Rossa melongo.


"Kalau kamu tidak bisa mengantarkanku, turunkan saja didepan biar kesana naik taxi saja."


"Bukan begitu tapi kamu terlalu gegabah bertindak. Bisa saja wanita licik itu menghasut dan mempengaruhi pikiran suamimu."


"Eh salah, mantan suami."


"Eh atau masih suami ya. Aku bingung menyebutnya suami atau mantan suami."


"Jangan bercanda!" Ucap Aluna ketus.


"Cih, makin kesini emosimu semakin tidak stabil. Aku curiga jangan-jangan salah satu anakmu kelak memiliki sifat jutek mirip papanya."


Rossa merinding membayangkan kelak ia akan memiliki keponakan, dimana sifat dan karakternya mirip Bryan.


"Biarkan saja, toh Mas Bryan papa dari kedua bayiku jadi tidak masalah jika memiliki sifat seperti papanya."


"Ish-ish, makin pedas perkataanmu Luna!"


"Jadi kamu mau mengantarkanku tidak?"


"Bawel!"


"Iya, akan aku antarkan."


Rossa memutar arah menuju perusahaan RA art and design.


"Pokoknya aku harus menyelamatkan daddy dan Mas Bryan. Tidak perduli bagaimana reaksi pria itu terhadapku. Aku tidak ingin keluarga Smith hancur gara-gara wanita licik itu." Aluna meremas telapak tangan.


***


Sementara itu, Eliza cemas karena rencana liciknya sudah diketahui oleh istri dari pacarnya. Keringat dingin membasahi tubuh, pelipis dan telapak tangan.


"Bagaimana ini Maura?" Eliza tidak melanjutkan menyantap makanan di atas meja. Ia sibuk memikirkan cara agar Bryan tidak mengetahui rencana licik yang sudah ia susun.


"Kamu tenang saja, Bryan pasti tidak akan percaya dengan omong kosong yang diucapkan gadis itu!" Maura mencoba menenangkan Eliza.


"Kalau Bryan percaya, bagaimana?"


"Bryan pasti akan lebih mempercayaimu daripada gadis kecil itu. Kamu pacarnya sementara dia hanya mantan istri."


"Tapi tetap saja aku takut semuanya terbongkar."


"El, percaya padaku. Bryan tidak akan mempercayai ucapan gadis itu. Percaya padaku!" Maura mengusap pundak wanita yang duduk disampingnya.


Tiga puluh menit kemudian, Aluna sudah berada di perusahaan tempat suaminya mencari nafkah dengan langkah panjang ia berjalan memasuki pintu masuk perusahaan.


"Hati-hati! Kamu itu sedang hamil pelan sedikit."


Rossa merasa ngeri melihat sahabatnya yang sedang hamil berjalan tergesa-gesa dengan keadaan perut buncit, walau usia kandungan baru memasuki minggu ke sepuluh tapi keadaan perut gadis itu lebih buncit daripada wanita diluaran sana yang sedang hamil. Maklum saja, Aluna tengah mengandung bayi kembar sehingga keadaan perutnya terlihat lebih besar daripada biasanya. Wajah tirusnya pun kini tergantikan dengan wajah chubby karena nafsu makan bertambah selama masa kehamilan.


Saat Aluna sudah sampai di meja resepsionis, gadis itu baru merasakan kelelahan akibat berjalan jauh. Napasnya tersengal-sengal dan seluruh tubuhnya terasa lemas.


Tiga orang mbak resepsionis yang berjaga terkejut dengan kedatangan nyonya muda Bryan apalagi kondisi gadis itu sangat mengkhawatirkan.

__ADS_1


"Nyonya, apakah anda baik-baik saja?" Tanya salah satu resepsionis. Ia wanita pertama yang menyadari kedatangan istri sah pemilik perusahaan.


"Kamu tidak usah khawatir, aku baik-baik saja." Ucap Aluna.


Ia sedang mengisi kembali paru-parunya dengan udara. Menarik napas dalam-dalam agar tidak kehabisan oksigen.


"Itu mbak...."


Aluna memotong pembicaraan Rossa dengan ketiga resepsionis.


"Kamu diam saja, biar aku yang ngomong."


Rossa melotot.


"Ya ampun, mamud kalau lagi hamil menakutkan." Ucap Rossa lirih.


"Mas Bryan ada diruangan?" Ucap Aluna setelah semua paru-parunya dipenuhi oleh oksigen.


"Ada nyonya, tuan hari ini tidak ada agenda rapat atau agenda apapun."


"Nyonya bisa langsung menemuinya diruangan."


"Baik!"


"Kalau ada yang mencari suamiku, larang dia untuk menemuinya. Aku sedang ingin berbicara empat mata dengan Mas Bryan."


"Baik nyonya."


Sebelum meninggalkan meja resepsionis, Aluna berpesan kepada Rossa.


"Kamu tunggu saja disini, jika ada wanita licik itu kamu hadang dia atau usir saja kalau perlu. Aku masih punya hak disini karena masih istri sah Mas Bryan."


"Sudah sana temui suamimu."


Lama kelamaan Rossa kesal dengan perubahan suasana hati sahabatnya. Gadis itu menjadi lebih emosi dan sensitif. Berkali-kali ia menghembuskan napas kasar agar tidak marah kepada sahabatnya.


Aluna tidak memperdulikan wajah cemberut sahabatnya, yang ia pikirkan saat ini adalah menyelamatkan keluarga Smith dari kejahatan Eliza.


Setelah Aluna masuk ke dalam lift, Rossa mencari keberadaan asisten Rudy karena ada hal penting yang ingin ia sampaikan.


"Mbak, asisten Rudy ada tidak?" Tanya Rossa.


"Ada keperluan apa nona, anda mencarinya?"


"Apa anda kekasih gelap tuan Rudy?"


"Sembarangan si mbak nya kalau ngomong."


"Saya ada perlu dengan beliau. Sudah katakan, dimana dia?" Rossa memaksa agar mbak resepsionis memberitahu keberadaan Rudy.


"Tuan Rudy ada diruangannya."


"Tolong sampaikan, saya Rossa sahabat Aluna ingin meminta izin menemuinya."


"Baik nona. Mohon tunggu sebentar."


Kemudian mbak resepsionis menghubungi Ruddy via sambungan telpon.


***


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


"Masuk!" Ucap Bryan dengan suara parau.


Alangkah terkejutnya pria itu saat melihat istrinya berjalan dengan susah payah menghampirinya.


"Aluna, sayang!"


Bryan segera berlari kearah istrinya. Ia menuntun istri kecilnya duduk di sofa.


"Apa yang membuatmu datang kesini. Apakah ada hal penting yang ingin dibicarakan?" Bryan menyelipkan rambut istrinya ke daun telinga.


"Eliza jahat mas. Aku tidak mau kamu berhubungan lagi dengan wanita itu." Aluna langsung menyampaikan tujuannya datang ke kantor Bryan.


"Ehm, jadi ini yang membawamu datang kesini. Ku pikir kamu merindukanku!" Bryan nampak kecewa karena kedatangan Aluna kesini hanya ingin menyampaikan berita itu.


"Aku serius, mas!" Ucap Aluna kesal.


"Apa kamu punya bukti?"


"Aku tidak bisa menjauh darinya begitu saja, sayang. Harus ada bukti kuat untuk bisa berpisah dari Eliza."


Bryan membalas setiap ucapan istrinya dengan lemah lembut karena pria itu tahu bahwa wanita hamil umumnya akan mudah tersinggung karena pengaruh hormon kehamilan menyebabkannya menjadi lebih sensitif.


"Aku dengar dengan telingaku sendiri."


"Apa kamu tidak mempercayaiku?"


"Bukan tidak mempercayai hanya saja...."


"Kamu sudah dibutakan oleh cinta pertamamu, mas. Menyesal aku datang kesini, seharusnya tadi langsung pulang saja ke rumah. Bisa menikmati rujak buah buatan Bik Sumi dan es campur buatan Kak Rendra!"


Bryan emosi mendengar istrinya menyebutkan nama pria lain saat ia sedang bersama dirinya.


"Jadi pria itu sering membuatkanmu es campur?" Tanya Bryan ketus.


"Aih, kenapa malah ganti topik pembicaraan!"


"Aku tidak suka kamu menyebut nama pria lain dihadapanku karena aku...."


"Cemburu, kan?"


"Kamu cemburu jika ada pria lain mendekatiku tapi malah menjalin kasih dengan cinta pertamamu. Cih, sungguh menjijikan!" Ucap Aluna sewot.


"Kamu berubah sayang!"


"Jangan panggil sayang karena aku bukan istrimu lagi!"


"Apakah dihatimu sudah tidak ada lagi cinta untukku?"


"Bukan waktunya membahas persoalan cinta."


"Lantas...."


to be continued....


Yuhu, 2 episode lagi nih kakak... Khusus untuk kalian semua loh. 😊


Jangan lupa likenya ya. 🤗

__ADS_1


__ADS_2