
Happy reading 🍃
"Aku menunggu penjelasan darimu, Luna." Ucap Rendra sambil tersenyum ke arah Aluna.
Sebenarnya Rendra sudah mengetahui semua informasi terkait pernikahan Aluna dengan suaminya dari seorang informan terpercaya. Sejak ia bertemu gadis itu di Tanah Lot tanpa menunda waktu, pria itu langsung menghubungi seseorang dan meminta bantuannya untuk menyelidiki kebenaran pernikahan dari gadis yang dicintainya. Beberapa kali menemui jalan buntu akibat pemblokiran informasi yang dilakukan Bryan guna menyembunyikan identitas istrinya namun berkat kegigihan dan koneksi luas pada akhirnya Rendra mengetahui bahwa pernikahan itu terjadi atas dasar permintaan dari mendiang papa Aluna bukan atas permintaan gadis itu.
"Ehem!" Aluna berdehem. Tenggorokannya terasa kurang nyaman karena pria disampingnya membahas masalah pribadi.
"Aku ingin dengar langsung darimu."
Rendra sangat berharap gadis yang sedang duduk disampingnya menceritakan semua masalah yang menimpa dirinya selama ia tidak berada di Indonesia.
"Kak!"
"Pelan-pelan saja." Ucap Rendra lembut.
Aluna merubah posisi duduknya dan menceritakan asal mula ia menikah dengan Bryan.
"Sejak kecil ternyata aku sudah dijodohkan dengan anak sahabat papa. Awalnya aku ingin menolak tapi saat itu keadaan papa sedang kritis, ia terbaring di rumah sakit dan memintaku segera melangsungkan pernikahan karena tak ingin menyakiti hatinya akhirnya aku mau menikah dengan pria itu. Kami menikah dibawah tangan dulu sebelum akhirnya mendaftarkan secara negara. Keesokan harinya tepat satu hari setelah ijab, papa meninggal dunia akibat penyakit jantung yang di deritanya."
Aluna berhenti sejenak, ia menarik napas panjang dan dalam untuk mengumpulkan
tenaga karena setiap kali membahas masa lalu gadis itu pasti mudah menangis, teringat akan luka lama yang pernah Bryan torehkan di hatinya.
"Lalu...." Tanya Rendra.
"Cukup sampai disitu saja penjelasanku selebihnya biar menjadi rahasia dan kakak tidak usah tahu."
"He'em!"
"Apa kamu mencintainya?"
"Iya! Jika aku tidak mencintainya bagaimana mungkin bayi ini hadir di dalam rahimku." Ucap Aluna sambil mengusap perutnya.
"Bisa saja kamu termakan bujuk rayu dari mulut manis pria bodoh itu!"
"Kak Rendra!" Aluna meninggikan suaranya, ia tak terima jika suaminya dihina orang lain.
"Maaf, aku terlalu emosi jika ingat kejadian tadi!" Rendra menggertakan gigi menahan amarah.
"Aku sungguh-sungguh mencintainya."
"Dengan kejadian tadi apakah kamu masih tetap mencintainya?" Tanya Rendra penuh selidik.
Aluna tidak menjawab, ia sendiri bingung dengan perasaannya. Apakah ia masih mencintai pria itu setelah melihat suaminya berpelukan dengan wanita lain.
"Aluna, kamu tahu dari dulu sampai sekarang perasaanku kepadamu masih sama dan tidak akan pernah berubah."
"Jika dia tidak mencintaimu, maka aku bersedia menjadi suami dan papa yang baik bagi anak kembarmu."
__ADS_1
Aluna bisa merasakan keseriusan dari ucapan Rendra. Ia tahu betul bagaimana karakter pria itu. Rendra adalah sosok pria ulet dan teguh dengan pendirian jadi tak heran di usianya yang masih muda ia sudah menjadi dokter dengan segudang penghargaan di bidang kesehatan.
"Aku akan menganggap mereka seperti anak-anakku sendiri. Kita berdua akan membesarkan mereka bersama-sama." Tangan Rendra menyibakkan rambut Aluna ke belakang telinga.
Aluna merasa canggung dengan perlakuan istimewa Rendra.
"Kak, aku tidak bisa menjanjikan apa-apa untukmu."
"Kamu tenang saja, aku akan menunggu sampai kapanpun."
"Mana ponselmu!"
Aluna mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan menyerahkannya ke Rendra.
Rendra memasukan nomor ponselnya.
"Ini nomor ponselku, jika butuh sesuatu jangan sungkan menghubungiku."
Rendra meletakan ponsel Aluna diatas nakas dekat ranjang.
"Kamu istirahat yang cukup. Jangan banyak pikiran dan selalu ingat untuk tersenyum."
"Ya sudah, aku pulang dulu."
Rendra beranjak dari ranjang sambil menenteng kotak medis berwarna putih di tangan kanannya.
"Sama-sama." Rendra memberikan senyuman manis untuk gadis pujaannya.
***
Kembali ke ballroom Hotel Xxxx, tempat diselenggarakan acara reuni akbar SMA Pelita Harapan. Suasana ballroom semakin malam semakin ramai, apalagi ditambah dengan berbagai hiburan menarik semakin memeriahkan acara.
"Ry, terima kasih kamu sudah mau memaafkanku."
"Iya El, lain kali kalau ada masalah cerita kepadaku."
"Hu'um."
Eliza tersenyum ke arah Bryan.
"Akhirnya rencanaku berjalan dengan mulus. Tinggal menyingkirkan gadis kecil itu kemudian meminta Bryan menikahiku maka tujuan balas dendam kedua orang tuaku tercapai." Ucap Eliza dalam hati.
Wanita itu tidak akan pernah tenang bila melihat keluarga Reymond Smith bahagia. Eliza akan mencari cara untuk menghancurkan kebahagiaan itu dengan berbagai cara akan ditempuh termasuk melenyapkan nyawa seseorang asalkan ia bisa membalas dendam atas kematian bapaknya tercinta. Eliza sudah berjanji di dalam hatinya akan membuat Reymond merasakan penderitaan yang pernah ia dan keluarganya alami dulu.
"Tinggal beberapa langkah, maka kamu akan hancur!" Sebuah senyum smirk terukir di wajah cantik Eliza.
"Loh Rud, kenapa kamu disini dan itu...."
"Dan itu bukan 'kah pengawal istriku?" Tanya Bryan.
__ADS_1
"Benar sekali, mereka pengawal i-s-t-r-i anda." Rudy memperjelas kata istri di hadapan Bryan dan Eliza.
"Sepertinya anda baru saja menemukan mainan baru."
"Semoga saja tidak terbakar oleh percikan api yang dibuat anda sendiri!" Ucap Rudy acuh.
Pria itu pergi meninggalkan hotel, ia sudah tidak memiliki selera untuk masuk kembali ke ballroom.
"Hei, apa maksudmu Rud?" Tanya Bryan setengah berteriak.
Rudy hanya mengangkat tangan sambil melambaikannya tanpa menoleh kebelakang.
"Selamat menikmati awal kehancuran pernikahan anda, tuan." Ucapnya lirih.
"Kalian kenapa berdiri disini, mana istriku?" Tanya Bryan dengan sedikit membentak.
Pria itu kesal karena tidak melihat istrinya berada di dekat kedua pengawal.
"Nyonya muda...."
Belum sempat kedua pengawal itu berbicara, Eliza sudah memotong.
"Istrimu pasti baik-baik saja. Sudah, ayo kita masuk lagi. Acaranya masih berlangsung."
Eliza menarik tangan Bryan menjauhi kedua pengawal.
"Tapi El...."
"Ayolah, Ry! Apa kamu tidak kasihan kepadaku hah?" Eliza merajuk.
Dengan merajuk Bryan biasanya akan luluh dan menuruti semua keinginanku. Dia paling tidak suka jika melihat orang yang disayanginya bersedih. (Eliza)
"Baiklah, ayo kita masuk!"
Eliza menggenggam jemari Bryan, keduanya berjalan bersisiran memasuki ballroom hotel dan menikmati acara reuni akbar tanpa memperdulikan perasaan Aluna.
"Aku yakin, kedatangan Eliza kali ini ada tujuan tersendiri." Rudy duduk dibalik kemudi, ia belum melajukan kendaraannya.
"Harus secepatnya menyelidiki masalah ini. Aku tidak ingin rumah tangga tuan dan nyonya muda berakhir tragis di pengadilan agama."
Dengan perasaan kacau, Rudy melajukan mobil. Pria itu mulai curiga kepada Eliza. Semua kejadian terjadi secara kebetulan dan ia yakin ada unsur kesengajaan di dalamnya.
"Anda harus bertahan nyonya demi kedua buah hati yang ada dalam kandungan."
to be continued....
Hola-hola, masih setia kan baca novelku? 😁
#Jangan lupa jempolnya ya kak dan masukan novel ini ke dalam list favorit kalian agar tidak ketinggalan cerita selanjutnya.
__ADS_1