
Happy reading 🍂
Saat matahari sudah berada di atas cakrawala, Bryan tersadar dari tidur dan melirik ke arah istrinya. Ia melihat kedamaian terpancar dari wajah cantik nan rupawan gadis disampingnya.
"Kamu begitu cantik sayang, ingin rasanya aku melakukan penyatuan lagi denganmu."
Diam-diam Bryan menyingkap selimut dan tangannya mulai bergerilya mencari sumber kenikmatan yang membuatnya mabuk kepayang.
Dia menciumi bibir ranum istrinya, memaksa Aluna membuka mulut dan setelah terbuka ia mulai bermain disana membuat sang empunya mengeluarkan suara nakal akibat permainan Bryan.
Mata Aluna masih terpejam akibat kelelahan namun ia tidak menolak apa yang Bryan lakukan. Aluna hanya menuruti komando dan berusaha mengimbangi karena sejujurnya ia pun menginginkannya lagi.
Dengan secepat kilat Bryan langsung melakukan penyatuan namun kali ini hanya dengan sekali hentakan saja ia sudah berhasil membobol pertahanan Aluna.
Dia memulai permainan itu dengan posisi berhadapan dengan Aluna sehingga bisa dengan leluasa memandangi wajah cantik istrinya. Aluna tak kuasa dibuatnya, secara perlahan membuka mata dan menyaksikan tubuh Bryan kini berada diatasnya.
"Mas, pelan sedikit." Keluh Aluna, merasakan bagian inti tubuhnya terasa sakit.
"Apa masih sakit, sayang?"
"Masih."
"Baiklah, aku akan melakukannya dengan pelan."
Akhirnya mereka melakukan kegiatan panas yang menjadi salah satu aktivitas favorite Bryan.
***
Keesokan hari
Aluna terbangun saat sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden jendela kamar resort. Ia membuka matanya dengan pelan, menggeliat sebelum beranjak dari tempat tidur agar tubuh lebih segar setelah seharian berbaring di kasur.
__ADS_1
Tubuhnya terasa sakit dan pegal-pegal akibat kelakuan Bryan kemarin. Ia melihat sekeliling, mencari keberadaan si "tersangka utama" yang sudah membuat tubuhnya lemah tak berdaya.
Ia melihat kesamping, ke arah kasur yang ditempati Bryan dan ingatannya kembali pada kejadian kemarin. Kemarin Bryan benar-benar tidak membiarkan tubuhnya beristirahat walau sejenak. Ia seperti orang yang berpuasa bertahun-tahun, kelaparan dan sekalinya berbuka puasa seperti orang rakus memakan semua makanan yang ada dihadapannya.
"Pria itu, sungguh seperti monster tak membiarkan ku bergerak menjauh sedikit pun." Aluna mengeluh sambil memijat pundak.
"Siapa yang kamu maksud seperti monser heh?" Tanya Bryan saat memasuki kamar.
"Mas, kamu..." Aluna langsung menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya. Ia sangat malu dengan apa yang mereka lakukan kemarin.
"Hei, kamu kenapa sayang?" Bryan langsung berlari menghampiri Aluna.
"Tidak apa-apa. Kamu jangan mendekat mas." Teriak Aluna dari dalam selimut.
Bryan berusaha membuka selimut namun Aluna menarik paksa selimut itu untuk berada di posisi semula.
"Kamu akan kehabisan napas jika terus menerus bersembunyi dibalik selimut. Apa kamu tidak kasihan kepada calon baby kita disana, dia pasti kesulitan bernapas." Aluna secara refleks membuka selimut dan memperlihatkan wajah merah akibat malu.
Kehadiran bayi dalam rumah tangga seperti sebuah oase, bisa menjadi penyegar bagi pasangan suami-istri. Meskipun membesarkan seorang bayi tidak mudah seperti membalikan telapak tangan namun bukan menjadi alasan untuk menyerah membesarkannya. Ada rasa bangga ketika melihat buah cinta kita tumbuh besar dalam asuhan kasih sayang orang tua. Dan itu yang dirasakan Aluna saat ini, ia sudah tidak ragu lagi jika suatu hari Tuhan menitipkan seorang malaikat kecil di rahimnya.
"Sayang, kamu kenapa?" Bryan menggoyangkan pundak Aluna karena sedari tadi ia melamun sambil tersenyum.
"Ehm, aku tidak apa-apa. Kamu jangan mencemaskanku." Aluna menyentuh tangan Bryan yang menempel di pundaknya.
"Apa kamu tersinggung karena aku membahas soal anak? Jika kamu belum siap, tidak apa-apa. Aku akan membelikan pil kontrasepsi di apotek agar bisa kau minum." Bryan sudah bersiap meninggalkan kamar namun tangannya ditahan Aluna.
"Tidak perlu, aku sudah siap jika harus mengandung anakmu mas."
Seperti mendapat hujan di musim kemarau panjang, Bryan segera memeluk Aluna erat-erat. Dia sungguh beruntung memiliki Aluna disampingnya. Seorang gadis yang mampu mencairkan gunung es di dalam hatinya. Seorang gadis yang pernah Bryan sakiti namun kini ia malah memberikan segudang kebahagiaan untuk Bryan.
"Terima kasih sayang. Aku sungguh beruntung menikahimu." Bryan mendaratkan sebuah ciuman di rambut indah istrinya. Aroma segar shampo berasal dari rambut Aluna mendistraksi penciuman Bryan, menggelitik indra penghidu dan membuat ia candu untuk terus menciuminya.
__ADS_1
"Aku ingin wajah anak kita mirip denganku." Ucap Bryan sambil duduk disamping Aluna.
"Kenapa begitu? Kan aku ibunya jadi harus mirip denganku." Aluna tidak terima jika anaknya kelak memiliki wajah mirip Bryan.
"Agar semua orang tahu, bahwa bayi itu adalah anak dari Tuan Bryan Smith."
"Ya, anak dari Bryan Smith si kutub utara yang super jutek."
Aluna tertawa setelah mengucapkan kalimat ejekan untuk suaminya. Bryan tidak tinggal diam, ia segera menggelitik pinggang istrinya dan berguling diatas kasur. Kini mereka berdua tertawa bersama.
"Memangnya kamu benar tidak ingin anak kita memiliki wajah seperti ku?" Tanya Bryan saat mereka sudah berbaring bersama diatas ranjang.
"Tidak juga sih, hanya saja sepertinya tidak adil jika wajah anak kita mirip denganmu. Aku yang mengandung dan melahirkan. Membawa perut besar kemana-mana tapi kenapa wajahnya mirip denganmu." Ucap Aluna dengan jujur.
"Ehm, begitu rupanya." Ada segurat kekecewaan di wajah Bryan.
"Tapi aku akan menerima apapun yang Tuhan berikan baik itu wajahnya mirip denganmu atau mirip denganku. Aku akan tetap mencintai, menyayangi dan membesarkannya sepenuh hati."
"Aku berjanji akan merawatnya dengan penuh cinta." Aluna menyenderkan kepala ke dada bidang suaminya.
"Dan aku pun berjanji akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk kamu dan anak kita." Bryan mencium tangan Aluna dan kini beralih ke kening, rambut dan leher jenjang istrinya.
Bryan menyentuh ujung dagu istrinya, untuk sesaat mereka terdiam saling menatap dengan detak jantung berdegup tak beraturan. Ini bukan pertama kalinya mereka saling menatap secara intens namun tetap meninggalkan kesan mendalam bagi keduanya.
Bryan melihat bibir ranum menggoda milik istrinya dan ia ingin merasai kembali rasa manis dari bibir itu, bagi Bryan bibir dan seluruh tubuh Aluna sudah menjadi candu baginya.
"Sayang, apakah aku boleh melakukannya lagi?" Kabut ga*rah kini menghampiri pria itu, meminta ia untuk segera melampiaskan hasraatnya.
"Boleh. Lakukan sesuka hatimu, mas." Aluna mengangguk memberikan isyarat kepada Bryan untuk melakukannya lagi dan lagi.
to be continued
__ADS_1
#Jangan lupa like, vote, komentar dan jadikan novel ini ke dalam list favorite kalian agar tidak ketinggalan cerita selanjutnya. Terima kasih. Love kalian semua. 😊