
Sementara itu di kamar VIP Rumah Sakit Melati, Alexander sedang memandangi foto pernikahannya dengan mendiang istrinya Tiwi. Kedua matanya mengeluarkan bening air mata. Dia menciumi foto itu dengan penuh cinta. Kedua matanya terpejam beberapa saat kemudian dia mengerjapkan mata dan disaat bersamaan dia seperti melihat siluet putih seorang wanita yang selama ini dia rindukan.
"Sayang, apakah itu kamu? Aku sungguh sangat merindukanmu. Kamu lihat kan, tadi aku sudah melaksanakan tugas terakhirku menikahkan putri kita. Buah hati kita, Aluna."
"Dan kehadiranmu disini, apakah kau ingin menjemputku?"
Siluet itu tersenyum, mengangguk dan mengulurkan tangan kearah Alexander seolah memberikan isyarat bahwa dia memang sengaja datang untuk menjemput Alexander.
Alexander tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia meraih tangan dan menggenggamnya dengan erat. Kemudian perlahan-lahan Alexander memejamkan mata, deru napas semakin lama semakin dangkal dan sekujur tubuh membeku.
Kini Alexander sudah kembali kepada Sang Pencipta. Meninggalkan dunia fana ini untuk selamanya. Meninggalkan kekayaan, meninggalkan anak tercinta hanya amal yang dibawa ke liang kubur.
...****************...
Jarak tempuh selama tiga puluh menit terasa begitu lama bagi Aluna. Dia sesekali menatap jalanan, merem*s kedua tangan, memelintir kebaya putih sederhana yang masih dia pakai. Pikirannya benar-benar kalut saat ini.
Bryan bisa merasakan kegelisahan gadis itu, hanya saja dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa mendegus kesal karena tidak tahu harus berbuat apa.
Akhirnya mobil mewah itu memasuki pekarangan rumah megah bergaya eropa modern dengan ciri khas terdapat kedua pilar menjulang tinggi disamping kanan-kiri. Rumah itu memilik tiga lantai dengan langit-langit rumah yang cukup tinggi terdapat balkon disetiap kamar. Lampu kristal gantung menambah kesan mewah bagi siapa saja yang melihat.
"Indah sekali." Gumam Aluna.
Supir pribadi Bryan yang merangkap menjadi asisten turun terlebih dahulu, membukakan pintu untuk Bryan kemudian berpindah ke sisi lain.
"Silahkan nona, kita sudah sampai." Ucapnya seraya membukakan pintu.
"Terima kasih Tuan Rudy."
Bryan yang sudah turun segera mengajak Aluna masuk tapi dia menghentikan langkahnya ketika hampir mencapai pintu.
"Ayo Aluna, masuk." Ucap Ayunda dari belakang.
__ADS_1
Ternyata mobil yang Ayunda dan Reymond tumpangi tertinggal dibelakang, mobil mereka terjebak macet sehingga lebih lambat mencapai rumah.
"Tidak apa-apa, sekarang rumah ini menjadi rumahmu juga Aluna. Tidak perlu sungkan." Reymond menimpali.
Hufh, Aluna menghela napas panjang untuk membuang rasa gugup di dalam hati. Ini bukan pertama kalinya dia menginjakkan kaki dirumah mewah karena sahabatnya Rossa memiliki rumah mewah yang tak kalah dari rumah keluarga Smith namun untuk status baru sebagai Ny. Bryan Smith sungguh sangat memberikan tekanan tersendiri baginya.
Ayunda membukakan pintu, setelah dia menekan bel beberapa kali. Beberapa orang pelayan berjejer membentuk barisan menyambut kedatangan Nyonya dan Tuan Smith.
"Selamat datang tuan dan nyonya." Ucap para pelayan sambil membungkukan badan.
"Oh iya mulai saat ini, wanita disampingku adalah nyonya muda keluarga ini. Jadi kalian harus melayani menantuku dengan baik. Tidak boleh ada yang berbuat semena-mena kepadanya. Paham kalian?" Ucap Ayunda sambil mengelus pundak Aluna.
Semua pelayan mengangguk tanda mengerti dengan yang diucapkan oleh nyonya besar rumah itu.
"Paham nyonya."
"Ya sudah, Bryan ajak istrimu ke kamar. Dia pasti capek seharian dirumah sakit."
Bryan mengajak Aluna ke kamar, mereka menaiki lift menuju lantai tiga. Kamar Bryan terletak di lantai tiga, menghadap taman belakang. Bryan sengaja meminta mommy dan daddy nya agar dia bisa memandangi pepohonan hijau yang ditanam di halaman belakang.
"Ayo masuk."
Bryan membuka pintu kamar berwarna putih, terlihat jelas kamar itu begitu luas dan sangat indah. Warna biru-putih mendominasi ruangan. Ranjang berukuran king size, dua nakas terdapat disamping kanan-kiri, sebuah televisi QLED smart berukuran 82 inci terpajang di dinding.
"Jangan diam saja ayo masuk!"
Bryan kesal sedari tadi dia meminta Aluna masuk tapi dia malah mematung. Seolah terhipnotis dengan suara Bryan, perlahan-lahan Aluna melangkahkan kakinya maju memasuki kamar.
"Mulai malam ini, kamu tidur disini bersamaku tapi tenang saja kamu akan tidur disana." Bryan menunjuk sofa biru yang terletak di ujung kamar.
"Loh kok saya tidur disitu mas kenapa bukan mas saja?" Tanya Aluna polos.
__ADS_1
"Enak saja, kamu itu tamu jadi ya harus tahu diri!" Bentak Bryan.
Aluna kaget bukan main mendengar Bryan membentaknya. Seketika Aluna tersadar bahwa dia sepertinya tidak boleh terlalu berharap kepada Bryan.
"Iya mas, aku tahu diri. Terima kasih sudah memberikan tempat nyaman bagi tamumu ini!" Ucap Aluna tak kalah kesal.
"Apakah aku boleh menggunakan kamar mandi? Tubuhku rasanya lengket sekali dan make up ini sungguh membuatku tidak nyaman."
"Kamar mandi ada disebelah sana, nanti aku mintakan pelayan untuk menyiapkan handuk dan pakaian untuk mu. Aku akan ke ruang kerja dulu, masih banyak pekerjaan yang harus ku urus malam ini."
Bryan pergi meninggalkan Aluna sendiri dikamar, dia berjalan menuju ruang kerja namun sebelumnya dia menemui kepala pelayan untuk menyiapkan keperluan Aluna.
"Bu Risa, tolong siapkan handuk dan pakaian untuk Aluna." Pinta Bryan kepada kepala pelayan.
"Baik tuan."
Bryan meneruskan langkahnya tidak ada sedikit pun keinginan dia untuk menyentuh Aluna malam ini, padahal mereka baru saja menikah. Pernikahan sederhana yang penuh dengan keterpaksaan. Perlahan-lahan Bryan membuka laci meja kerja, dia mengeluarkan sebuah foto. Foto seorang gadis yang sangat dicintai Bryan.
"El, kamu dimana sayang? Apakah kamu merindukanku? Seharusnya kamu tidak meninggalkanku. Seharusnya kamu yang menjadi Ny. Bryan Smith saat ini bukan Aluna!" Bryan mengusap foto itu dengan sangat hati-hati seolah dia sedang memegang sebuah porselen antik berharga milyaran.
Sementara Aluna sudah tidak mau memikirkan sikap Bryan barusan. Dia lebih memilih berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Melepaskan satu per satu pakaian yang menempel ditubuh, kemudian mengguyur tubuhnya dengan air hangat.
Dia benar-benar lelah hari ini. Semua pikiran dan emosinya terkuras habis. Tidak disangka semua kejadian berlalu dengan cepat.
"Hm, mandi air hangat sungguh membuat tubuhku rileks. Besok aku akan meminta mas Bryan mengantarkanku ke rumah sakit lebih awal. Aku sudah sangat merindukan papa."
Tiga puluh menit Aluna melakukan ritual malam dikamar mandi. Setelah berpakaian dia berjalan ke arah sofa, membaringkan tubuhnya disana. Mengecek kotak masuk dan chat grup kelas.
Aluna segera memutar musik pengantar tidur yang biasa diputar, mencari posisi tidur yang nyaman. Dia memejamkan mata, perlahan-lahan hanyut dalam dunia mimpi.
"Semoga operasi papa besok berjalan lancar dan papa bisa sehat kembali."
__ADS_1
Kalimat terakhir yang terucap sebelum dia berlabuh ke alam mimpi.