Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Blind Date


__ADS_3

"Tidak mom, Aluna hanya milik Bryan seorang."


"Ry, mommy mohon nak untuk kali ini saja kamu bersedia menemui gadis itu. Jika tidak cocok, kamu boleh menolaknya tapi tolong jangan kecewakan mommy."


"Baik mom, hanya untuk kali ini saja Ry akan menuruti kemauan mommy."


Ayunda tersenyum lebar.


"Semoga dengan ini Bryan mau melupakan Aluna dan bersedia menikah dengan gadis pilihanku." Ucap Ayunda dalam hati.


Malam harinya, Bryan sudah berpakaian rapi. Ia melajukan mobilnya menuju sebuah restoran tempat dimana pria itu akan melakukan kencan buta atau blind date bersama seorang gadis, putri dari teman arisan Ayunda. Ayunda berencana menjodohkan Bryan dengan putri temannya karena ia tidak mau putranya terus menerus hidup sendiri. Wanita itu ingin agar Bryan memiliki kehidupan baru bersama istrinya, ia tidak mau putranya terus menerus menanti sesuatu yang tidak pasti.


Kini Bryan sudah tiba di restoran, ia langsung mencari meja kosong dan menunggu seseorang yang akan ditemuinya malam ini.


"Halo, apakah anda Tuan Bryan?" Tanya seorang gadis.


Gadis itu memiliki tinggi badan 170cm, memiliki warna kulit kuning langsat, struktur tulang wajah samar dengan hidung tidak terlalu mancung dan bagian mata cenderung bulat besar dengan lipatan kelopak mata yang membuat wajah tampak lebih tegas.


"Ya benar!" Ucap Bryan dingin


"Silahkan duduk."


Gadis itu duduk perlahan dikursi berhadapan dengan Bryan.


"Perkenalkan, tuan nama saya Dinda."


Gadis itu mengulurkan tangannya ke depan Bryan.


"Bryan Smith."


Bryan menjabat tangan gadis itu.


Dinda tersenyum lembut. Gadis itu memiliki paras ayu dan manis khas wajah wanita Indonesia pada umumnya. Kedua orang tuanya asli Indonesia, berasal dari Yogyakarta namun sejak kecil sudah tinggal dan menetap di Jakarta.


"Maaf sudah membuat anda menunggu lama."


"Tidak masalah, saya baru sampai juga." Lagi-lagi Bryan bersikap dingin dan cuek.


"Pria ini begitu tampan dan penuh wibawa, tidak salah aku menerima usulan perjodohan ini." Ucap Dinda dalam hati.


Seorang pelayan membawakan buku menu ke arah meja Bryan.


"Silahkan tuan."


Kemudian Bryan dan Dinda memilih menu yang akan mereka santap.


"Saya ingin prime wagyu tenderloin steak dan ice lemon tea." Ucap Bryan.


"Tolong samakan saja dengan pilihan menu tuan ini." Ucap Dinda seraya menunjuk ke arah Bryan.


Bryan hanya acuh dan mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Baik nona dan tuan. Mohon ditunggu."


Pelayan tersebut pergi ke arah belakang, menyerahkan menu pesanan.

__ADS_1


"Bagaimana kabar om dan tante?"


"Baik." Jawab Bryan singkat.


Bryan mengeluarkan ponselnya dan mengecek beberapa email masuk.


"Pria ini dingin dan sangat sulit ditaklukan. Aku harus berusaha meluluhkan hatinya."


"Tuan, apakah anda bekerja dibidang seni?"


"Hu'um!"


"Dulu anda kuliah dimana?"


"London!"


"Wah, saya punya teman asal dari London."


"Ehm!"


"Astaga, apakah ia tidak memiliki jawaban lain selain "ya, ehm dan tidak." Ucap Dinda dalam hati.


"Tapi aku tidak boleh menyerah. Ayo Dinda semangat, kamu pasti bisa meluluhkan hatinya."


"Saya dengar jika anda pernah menikah dan memiliki dua orang putra kembar, apakah benar?"


Bryan menghentikan sejenak kegiatannya. Ia menatap ke arah Dinda.


"Benar, kenapa? Kamu keberatan berkencan dengan seorang duda beranak dua?"


"B-bukan begitu tuan."


"Maafkan saya tuan. Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan anda."


"Asal kamu tahu nona, saya tidak berniat mencari wanita lain untuk menggantikan posisi mantan istri saya disini." Bryan menyentuh letak hatinya berada.


"Permisi."


Seorang pelayan membawakan makanan yang mereka pesan sebelumnya.


"Selamat menikmati."


"Sudah lupakan, sebaiknya kita nikmati makanan ini dan setelah itu pulang."


Dinda menuruti perintah Bryan.


Ditempat yang sama, Aluna dan Aryan baru saja turun. Rendra dan Arya menyusul karena si bungsu meminta Rendra membelikan balon karakter Ironman yang dijual oleh seorang bapak tua. Arya kasihan melihat penjual itu karena dagangannya masih sisa banyak dan bocah kecil itu tergerak hatinya meminta calon papanya membelikan satu untuk dibawa pulang. Rendra dengan senang hati menuruti permintaan Arya.


Aluna dan Aryan sudah berada di dalam restoran. Si sulung Aryan melihat papinya duduk berdua dengan seorang gadis cantik langsung menghentikan langkahnya.


"Loh, Aryan kenapa berhenti?" Tanya Aluna.


"Papi!"


Bocah kecil itu menunjuk ke arah Bryan yang sedang menikmati steak kesukaannya.

__ADS_1


"Mas Bryan!" Ucap Aluna lirih.


Entah mengapa hati wanita itu tiba-tiba saja sakit, ia merasakan perasaan yang sama saat Bryan memeluk tubuh Eliza dulu.


"Apa mungkin gadis itu adalah pacarnya? Berarti sebentar lagi mereka akan menikah dan itu artinya di dalam hati Mas Bryan sudah tidak ada lagi namaku?"


"Tidak, mengapa aku berpikiran begitu. Biarkan saja dia menjalin kasih dengan gadis lain, aku bukan lagi istrinya tapi kenapa hatiku sakit."


Aluna berperang dengan pikirannya sendiri. Ada rasa cemburu dihati saat melihat mantan suaminya bersama gadis lain.


"Kenapa kalian masih berdiri disini?" Ucap Rendra. Pria itu melingkarkan tangan dipinggang Aluna.


"Kami menunggumu, kak." Ucap Aluna berbohong.


"Ayo masuk."


Rendra mengajak si kembar dan Aluna masuk ke dalam, mereka mengikuti seorang pelayan. Kini mereka sudah duduk disebuah kursi tepat berada disamping meja Bryan melakukan kencan buta bersama Dinda.


"Aluna!"


Mata Bryan melirik ke arah Aluna berada.


Aluna pura-pura tidak mendengar, ia malah asyik berbicara bersama si kecil Arya.


"Aryan!" Panggil Bryan.


Bocah kecil itu hanya diam saja, bibirnya cemberut dan pura-pura tidak mengenali Bryan.


Merasa tidak ada yang merespon, pria itu bangkit dari kursi dan menghampiri meja Aluna.


"Kalian disini juga?"


Aluna baru menoleh ke sumber suara.


"Benar sekali, tidak menyangka akan bertemu anda disini." Ucap Rendra.


Dinda menghampiri Bryan.


"Halo Dokter Rendra!" Sapa Dinda.


"Kamu disini juga?"


"Benar dokter. Senang bertemu dengan anda lagi." Dinda mengulurkan tangan dan mereka berjabat tangan.


"Oh iya Luna, kenalkan. Ini Dokter Dinda, dulu kami teman sekelas sewaktu masih kuliah di Singapura dulu.


"Aluna."


"Dinda."


"Sudah lama sekali ya Dokter Dinda tidak bertemu."


"Iya, terakhir kali saat saya menyatakan cinta dan ditolak oleh anda." Dinda tertawa mengenang masa lalunya.


Satu hari menjelang wisuda, ternyata Dinda mengutarakan isi hatinya kepada Rendra namun ditolak karena pria itu masih mencintai Aluna, merasa cintanya ditolak membuat gadis itu memutuskan kembali ke Indonesia dan mulai melupakan Rendra namun siapa sangka kini mereka dipertemukan kembali dalam sebuah momen ketidak sengajaan.

__ADS_1


Bryan dan Aluna hanya memandangi mereka berdua dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Apakah mungkin gadis ini masih mencintai Kak Rendra, tapi kenapa dia berkencan dengan Mas Bryan?" Tanya Aluna dalam hati.


__ADS_2