Menikah Demi Papa

Menikah Demi Papa
Api Cemburu


__ADS_3

Disaat Bryan tengah merasakan kebahagiaan karena bisa menghabiskan waktu bersama kedua putranya, seorang pria berusia hampir 26 tahun merasa cemas karena posisinya akan tersingkirkan sebagai calon ayah sambung dari kedua anak kecil lucu dan menggemaskan seperti Aryan dan Arya. Ia tidak mau penantian dan perjuangannya selama empat tahun ini berakhir sia-sia. Diam-diam Rendra mengawasi setiap gerak gerik calon istrinya dengan bantuan seseorang untuk memata-matai Aluna. Hampir satu jam sekali ia menghubungi calon istrinya hanya sekedar menanyakan dimana, sedang apa dan bersama siapa. Rasanya ia belum ikhlas melepaskan wanita pujaannya kembali ke dalam pelukan mantan suaminya.


Siang itu, Rendra sengaja datang dari Singapura ke Jakarta untuk menemui Aluna dan kedua calon anak tirinya. Setelah sampai Indonesia, pria itu menuju apartemen yang sudah ia pesan untuk ditinggali oleh calon istrinya selama berada di tanah air untuk mengawasi semua persiapan pernikahan. Ia sudah tidak tahan menahan bara api cemburu sehingga memutuskan kembali ke Indonesia agar lebih mudah mengawasi Aluna dan si kembar.


Ting Tong


Terdengar suara bel pintu apartemen tempat Aluna tinggal.


"Ya, tunggu sebentar." Ucap Aluna.


Wanita itu baru saja selesai mandi, ia masih mengenakan jubah mandi dengan rambut dibungkus handuk. Bi Sumi sedang pergi ke supermarket membeli keperluan rumah tangga sementara si kembar sedang tidur siang.


Ceklek


Seorang pria jangkung menyembulkan kepala dari balik pintu.


"Kak Rendra!" Pekik Aluna.


"Aku mengganggumu?"


"Tidak, silahkan masuk."


"Kenapa tidak memberi kabar, tahu gitu aku dan anak-anak jemput kakak."


Rendra duduk di sofa, diruang tamu.


"Kakak tunggu sebentar, aku ganti pakaian dulu."


"Hu'um."


Rendra mengalihkan pandangan ke sekeliling, mata sipitnya menangkap sebuah frame foto berwarna biru langit. Dalam foto tersebut si kembar tertawa lepas dalam gendongan kedua orang tuanya. Pria itu mengepalkan tangan dan api cemburu mulai berkobar lagi dalam hatinya.


"Kakak, mau minum apa? Kopi atau mau teh?" Suara merdu Aluna menggema diseluruh ruangan.

__ADS_1


"Hubunganmu dengan Bryan semakin dekat!" Ucap Rendra sinis.


"Hah!"


"Kapan foto itu diambil?" Rendra menunjuk sebuah frame foto yang diletakan diatas rak buku berpelitur putih tulang.


"Satu bulan lalu, saat aku mengunjungi Mas Bryan dikantor. Ia mengajak aku dan anak-anak ke mall. Kita bermain di tempat hiburan keluarga dan Aryan meminta agar kami foto bersama karena dia belum memiliki foto bersama papinya." Aluna menjelaskan dengan detail. Ia tidak menyembunyikan apapun dari calon suaminya. Wanita itu tahu bahwa saat ini Rendra sedang cemburu.


Aluna masih sibuk di dapur membuatkan kopi kesukaan calon suaminya.


"Diminum dulu agar api cemburu dalam hati kakak sirna." Goda Aluna.


"Sudah tahu aku cemburu, kamu masih saja menemui Bryan."


"Kak, aku hanya ingin agar anak-anakku dekat dengan papinya. Itu saja!"


"Semakin kalian dekat maka akan tumbuh kembali benih cinta dihatimu, Luna. Aku takut kamu kembali kepadanya." Ucap Rendra frustasi. Ia menyisir rambutnya dengan jari secara kasar.


"Belum, baru sampai aku langsung menemuimu."


"Ish, bagaimana sih kak. Seharusnya kakak menemui orang tua dulu baru aku. Nanti mama cemburu loh karena dinomor duakan oleh kakak." Aluna cemberut.


"Ya-ya, setelah ini aku langsung pulang menemui orang tuaku."


"Luna, besok malam aku ingin mengajak kalian makan diluar. Apakah kamu ada acara?"


"Tidak, besok aku free. Kebetulan semua pekerjaanku sudah selesai."


"Oh ya, buku keempatmu apa sudah dicetak?"


"Rencananya minggu depan sudah dicetak kak."


"Kak, bagaimana dengan usaha kita disana? Aku merasa tidak tenang meninggalkan usaha jasa homecare dan melimpahkan tanggung jawab kepada kakak dan Kak Okky."

__ADS_1


"Kamu tenang saja, semuanya sudah ditangani Okky."


"Usaha jasa dibidang homecare adalah bisnis kita bertiga, jika kamu sibuk maka aku atau Okky akan menanganinya jadi tidak usah terlalu dipikirkan." Ucap Rendra seraya mencicipi kopi dan cemilan buatan calon istrinya.


Kehidupan Aluna pada tahun pertama berada di Singapura tidaklah mudah, ia harus bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhannya. Kondisi tengah berbadan dua membuat wanita itu kesulitan bekerja sehingga saat usia kandungan menginjak 24 minggu ia memutuskan berhenti bekerja dari sebuah restoran dan beralih profesi sebagai penulis lepas untuk menulis sebuah artikel seputar bidang kesehatan. Dua tahun Aluna bergelut di bidang tersebut hingga suatu hari salah satu penerbit melirik tulisannya hingga menawarkan kontrak kerjasama dengannya, mereka menjanjikan akan menerbitkan semua karyanya dalam bentuk buku nonfiksi jika wanita itu bersedia bekerja sama membuat sebuah tulisan berdasarkan data, fakta, riset dan analisis.


Memang sejak kecil Aluna hobi menulis apalagi ia memiliki background pendidikan dibidang kesehatan membuatnya tertarik menulis sebuah artikel tentang kesehatan sehingga ia langsung menerima tawaran kerjasama dengan penerbit buku. Wanita itu akan menulis saat kedua anaknya tertidur pulas dan semua tugas kuliah selesai dikerjakan. Hanya mengandalkan hasil penjualan rumah dan asuransi jiwa mendiang papanya tidaklah cukup untuk menghidupi semua kebutuhannya, belum lagi untuk menggaji upah Bi Sumi membuatnya berpikir seratus kali mencari tambahan agar semua kebutuhannya tercukupi.


Berkat kerja keras dan usahanya, kini ia bisa menerbitkan empat buku selama dua tahun bergabung dengan penerbit buku. Setelah menyelesaikan gelar diploma, Aluna melihat peluang besar menanti didepannya. Ia berpikir jika dirinya membuka usaha dibidang jasa pasti akan sangat menguntungkan dengan bekal pengetahuan, ilmu dan nekad Aluna menawarkan kerjasama kepada Rendra dan Okky untuk bersama-sama membuka usaha dibidang homecare. Jika ia sendiri yang terjun maka akan sangat kesulitan terkait izin usaha dan lain-lain. Rendra dan Okky tertarik bekerjasama dengan Aluna sehingga mereka bertiga bahu membahu membangun bisnis bersama. Terbukti usahanya membuahkan hasil, banyak WNI dan WNA menyewa jasa mereka untuk merawat anggota keluarga yang sakit dan lambat laut usahanya maju pesat hingga sekarang.


***


|| Kediaman Keluarga Smith ||


"Ry, besok malam kamu temui anak teman mommy di Restoran Xxxx pukul tujuh."


"Untuk apa mom?"


"Agar kamu bisa hidup berumah tangga lagi nak. Memangnya kamu mau selamanya hidup menduda?"


"Aku tidak mau menikah lagi jika tidak bersama Aluna!"


"Ry, sadar nak! Aluna sudah memiliki kehidupannya sendiri dan sebentar lagi dia akan menikah dengan pria lain."


"Tidak, selamanya dia akan menjadi milikku, mom."


"Aluna hanya akan menjadi istri Bryan selamanya."


"Nak, lupakan semua masa lalumu bersama Aluna. Fokuslah menatap masa depan, mommy tidak mau kamu terus menerus menunggu hingga batas waktu yang kita senditi tidak tahu kapan berakhir."


"Aluna akan menjadi milik orang lain jadi tolong ikhlaskan dia bahagia bersama pria lain." Ayunda menyentuh pundak putranya.


to be continued....

__ADS_1


__ADS_2