
|| Kediaman Keluarga Smith ||
Sepulang berkencan, Bryan langsung pulang ke rumah. Ia tidak ingin terlalu lama menghabiskan waktu bersama Diana. Apalagi menyaksikan kedekatan antara mantan istrinya dengan kedua putranya membuat moodnya berantakan. Berkali-kali pria itu menghembuskan napas secara kasar akibat terbakar api cemburu. Harapan untuk bersatu kembali dengan mantan istri dan si kembar rasanya sulit tuk digapai.
"Apa mungkin dihati Aluna sudah tidak ada namaku?"
"Tidak! Pokoknya aku harus merebut kembali Aluna dari pelukan Rendra."
"Selama janur kuning belum melengkung maka harapan itu masih ada."
Bryan semakin menginjak pedal gas menembus jalanan sepi ibu kota, ia tidak menghiraukan suara hatinya yang seolah berkata meminta dirinya untuk berhenti mengejar cinta Aluna kembali.
Ditengah tetesan air hujan yang turun dari langit, Bryan berlari kecil menuju pintu utama. Ia menekan bel agar para pelayan membukakan pintu untuknya. Sepersekian detik kemudian, Bu Risa kepala pelayan sudah berdiri tegak menyambut kedatangan Bryan seraya memberikan handuk kecil untuk pria itu.
"Selamat malam tuan muda." Sapa Bu Risa.
Wanita itu membungkuk hormat setelah memberikan handuk untuk tuan mudanya.
"Ya selamat malam. Apa mommy dan daddy sudah tidur?"
Saat Bryan tiba dirumah, jam dinding menunjukan pukul sebelas malam. Itu artinya ia menghabiskan waktu tiga jam bersama Diana, seorang wanita muda yang rencananya akan dijodohkan oleh kedua orang tuanya.
"Belum tuan, nyonya masih menemani tuan besar diruang baca."
"Tolong siapkan teh hangat untukku. Ingat, harus sama persis rasanya seperti buatan Aluna!" Bryan mengangkat jari telunjuknya ke atas.
"Baik tuan."
Bryan berjalan ke arah ruang baca. Posisi ruang baca berada dilantai dua, berada persis diantara kamar utama dan ruang kerja milik Tuan Reymond. Tuan Reymond sengaja memisahkan antara ruang kerja dengan ruang baca karena tidak mau konsentrasinya terpisah saat sedang asyik membaca buku favoritnya.
"Mommy, daddy."
"Eh, kamu sudah pulang Ry. Bagaimana kencanmu?" Tanya Ayunda antusias.
"Akibat rencana mommy, Aryan ngambek dan tidak mau berbicara kepadaku!" Bryan mendelik ke arah Ayunda.
"Loh kok bisa!"
"Kamu bertemu Aluna dan si kembar di restoran yang sama?" Tanya Reymond. Ia membenarkan posisi kacamata bacanya yang melorot.
"Benar, aku bertemu Aluna dan kedua anakku disana!" Ucap Bryan frustasi.
"Dan kalian tahu, Aryan bahkan tidak mau berbicara padahal sudah ku bujuk."
"Aduh, mommy tidak tahu jika Aluna akan makan malam juga disana." Ucap Ayunda panik.
__ADS_1
"Aku hanya jadi penonton menyaksikan keharmonisan Rendra bersama mantan istri dan kedua putraku."
"Ry, maafkan mommy nak. Sungguh mommy tidak berniat menjauhkanmu dengan Aryan dan Arya." Ayunda merasa bersalah karena membuat putranya bersedih.
"Ry! Akhir pekan ajak Aluna dan kedua cucuku ke puncak. Kita menginap disana bersama-sama. Ajak Rendra dan juga Diana." Perintah Reymond.
"Apa? Daddy jangan gila deh. Aku sedang pusing mencari cara membujuk Aryan agar tidak ngambek lagi tapi kenapa daddy malah memintaku mengajak Diana pergi bersama!"
Bryan menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke atas sofa.
"Usaimu sudah memasuki kepala tiga tapi penyakit bodohmu masih saja belum hilang." Reymond tersenyum sinis.
"Sungguh menyebalkan memiliki daddy seperti Tuan Reymond."
"Ry!" Reymond meninggikan satu oktaf suaranya.
"Baik dad, aku akan meminta Aluna membawa kedua putraku ke puncak akhir pekan ini."
Bryan beranjak dari sofa dan berjalan keluar. Ia kembali ke kamar, mengganti pakaian casualnya dengan piyama yang pernah Aluna belikan khusus untuknya. Sesaat ia memandangi piyama tersebut dan sudut bibirnya terangkat keatas.
"Aku akan terus berjuang mendapatkanmu kembali, sayang!"
***
Akhir pekan ini, Tuan Reymond mengundang mantan menantu dan kedua cucunya berlibur di puncak. Ia juga mengajak Rendra dan Diana untuk menikmati kesejukan dan keindahan alam sekitar. Reymond sudah memesan satu buah villa dipuncak khusus untuk keluarganya. Ada enam kamar tidur dalam satu buah villa. Reymond satu kamar bersama Ayunda, Aluna bersama si kembar, Rendra akan tidur satu kamar bareng Bryan, Shera dengan Diana dan dua kamar lagi diperuntukkan khusus untuk para pelayan dan supir. Kini iring-iringan mobil sudah tiba dipekarangan villa. Reymond langsung membagi kunci kamar agar bisa meletakan barang bawaan dikamar masing-masing.
"Mami, lihat dicana ada swimming pool. Alya mau belenang dicana."
"Iya sayang, nanti kita berenang disana bareng kakak ya."
"Ye! Ye!" Teriak Arya kegirangan.
"Aryan!" Bryan memanggil putra sulungnya.
Aryan menghindari Bryan, bocah kecil itu bersembunyi dibelakang tubuh Aluna.
"Aluna, aku...."
"Lebih baik kamu tidak usah dulu mendekati Aryan. Anakmu masih ngambek!" Ucap Aluna sinis.
"Kamu bantu aku untuk membujuk Aryan dong." Rengek Bryan.
Astaga, kenapa Mas Bryan harus memasang wajah menggemaskan begini sih. Dulu sering sekali ia memasang wajah seperti ini ketika aku menolak keinginannya untuk melayaninya diatas ranjang. Bodoh! Apa yang sedang ku pikirkan, kenapa aku jadi mesum begini. (Aluna)
"Hentikan mas! Baik, akan aku bantu membujuknya."
__ADS_1
Aluna berjongkok dan mencoba membujuk Aryan.
"Sayang, apa Aryan masih marah sama papi?"
Aryan mengangguk.
"Alyan tidak cuka papi dekat dengan tante itu." Bisik Aryan seraya menunjuk ke arah Diana yang sedang membantu Ayunda menyiapkan makan malam di dapur.
"Oh! Tapi Aryan tahu kan tidak boleh marah pada papi lebih dari tiga hari, dosa loh hukumnya. Aryan tidak mau kan masuk neraka karena membenci papi!"
"Iya mami, Alyan tidak mau membenci papi. Alyan cayang papi." Ucapnya lirih.
"Kalau begitu, lekas peluk papi dan berbaikan."
Aryan langsung berlari dan memeluk Bryan.
"Sorry papi!"
"Iya sayang, maafin papi juga ya nak."
Bryan mengusap rambut Aryan.
Rendra hanya memperhatikan dari kejauhan.
"Aduh, keponakan aunty kenapa masih bau asem sih. Ayo mandi dulu!" Ucap Shera.
"Aku mandiin mereka berdua boleh kak?"
"Boleh dong, kamu kan aunty mereka masa tidak boleh."
"Lets go! Aunty akan membantu mami memandikan kalian berdua."
Shera menggandeng tangan Arya.
"Papi, Alyan mandi dulu."
Aryan melepaskan tubuh mungilnya dari pelukan Bryan.
"Iya nak, mandi yang bersih ya. Nanti main lagi dengan papi."
"Bye papi." Aryan melambaikan tangan, Aluna mengikuti putra sulungnya dari belakang.
"Terima kasih karena sudah membujuk Aryan agar tidak marah lagi."
"Sama-sama." Aluna tersenyum lembut dan berjalan menaiki anak tangga, meninggalkan Bryan seorang diri diruang tamu.
__ADS_1