
Malam Hari
|| Apartemen Bryan ||
Bryan berdiri di depan cermin, memperlihatkan pantulan dirinya di depan sana. Ia mengenakan kemeja casual polos berwarna army dipadu celana jeans panjang berwarna hitam dengan tata rambut gaya clasic ala Jungkook personil BTS dengan potongan caesar cut memberikan kesan tampan saat pertama kali melihatnya.
Tepat pukul tujuh malam waktu setempat, Rudy sudah menunggu di dalam mobil. Awalnya pria itu tidak berniat hadir dalam pesta ulang tahun yang diadakan oleh Eliza namun ia berubah pikiran, mengingat tujuan menyelamatkan Aluna lebih penting jadi ia mengesampingkan egonya demi nyonya muda dan calon penerus keluarga Smith.
Bryan sudah duduk tenang dikursi belakang, sementara Rudy tinggal menunggu perintah atasannya.
"Rud, apakah rencana kita malam ini akan berhasil?" Tanya Bryan. Rupanya pria itu tak membuka suara sedari tadi karena tengah dilanda kekhawatiran akan rencana penyelamatan istrinya. Ia takut semua rencana yang sudah disusun rapi akan gagal.
"Kita berdo'a saja tuan, semoga penyergapan malam ini berhasil. Anda harus yakin!"
"Asalkan mengikuti instruksi dari polisi maka tingkat keberhasilan mencapai 100%."
"Oh iya tuan, ini."
Rudy menyodorkan sebuah map coklat, di dalamnya terdapat lima lembar foto Eliza dan satu buah alat perekam. Bryan memandangi lembaran foto tersebut. Dalam foto itu ada Eliza sedang berbicara dengan seorang wanita yang diketahui bernama Maura.
"Ini apa?" Bryan menaikan satu alis.
"Kado ulang tahun anda, tuan."
"Anda bisa mendengarkan percakapan seorang wanita dari alat perekam itu."
Bryan menekan tombol "on" dengan sejuta rasa penasaran. Sesaat kemudian, ia mengepalkan tangan. Pria itu geram mengetahui tujuan Eliza kembali ke Indonesia hanya untuk membalas dendam kepada keluarga Smith dan menghancurkan rumah tangganya.
"Kamu jahat, El!" Ucap Bryan lirih.
"Saya sengaja menyelidikinya secara diam-diam karena merasa curiga dengan kembalinya Eliza ditengah-tengah rumah tangga anda dan nyonya muda."
"Anda tahu tuan, saat reuni akbar lalu sebetulnya nyonya muda ada dibelakang kalian. Dia tengah mengawasi anda sedang berpelukan bersama Eliza. Hatinya begitu hancur mendapati suaminya memeluk wanita lain dan nyaris membuatnya pingsan, untung saja tuan Rendra dengan sigap menahan tubuh nyonya sehingga tidak terjatuh ke lantai."
__ADS_1
"Dari informasi yang saya dapat, saat itu sebenarnya nyonya sudah mengandung."
"Apa katamu?!" Bryan membelalakan mata sempurna.
"Jadi istriku...."
"Nona Rossa juga memberitahu saya bahwasanya setelah mereka sampai dirumah Bunda Imelda, nyonya muda merasakan bagian perutnya terasa sakit akibat terlalu banyak pikiran."
"Aku berdosa sekali kepada istriku, Rud. Disaat hamil, malah memberikan penderitaan kepadanya. Aku sibuk mengerjakan proyek yang berasal dari wanita iblis itu, berhari-hari meninggalkan istriku sendirian dirumah dan bodohnya lagi ketika Aluna muntah dipagi hari, aku tidak curiga bahwa ia tengah mengandung."
"Pantas saja istriku selama satu bulan lebih tidak mengalami siklus menstruasi seperti wanita lain ternyata...." Bryan tak kuasa menahan air matanya. Ia menyesali semua perbuatannya selama ini.
"Sudah-lah tuan yang terpenting adalah kita menyelamatkan nyonya muda beserta anak-anak anda."
Seperti mendapatkan angin segar, pria itu mengusap butiran air mata dengan jemarinya.
"Benar katamu, Rud. Kita harus segera menyelamatkan istri dan anak-anakku."
"Cepat nyalakan mesin mobilnya. Kita ke cafe Gugun kemudian jalankan misi penyergapan!" Kini Bryan bersemangat lagi setelah mendengar kata-kata sahabatnya.
"Pertunjukan segera dimulai." Satu sudut bibir Rudy terangkat keatas.
***
|| Cafe Gugun ||
Setengah jam kemudian, Bryan dan Rudy sudah berada disebuah cafe milik Gugun. Cafe itu terdiri dari satu lantai, mengusung konsep klasik natural didominasi oleh bahan alam. Mulai dari penataan tanaman segar dalam ruangan, hingga pemilihan perabotan berbahan dasar kayu. Pertama kali memasuki cafe tersebut, kita bisa melihat dinding didalamnya dihiasi oleh beraneka ragam poster dan foto terbuat dari kayu, pajangan barang antik diletakan di tengah ruangan.
Pemilik cafe sengaja memilih lampu gantung dari berbagai bentuk seperti kerucut, sangkar burung, diamond, bola dan terompet. Pemilihan jendela besar sengaja dipilih untuk memaksimalkan pencahayaan alami yang masuk ke dalam ruangan sehingga cafe ini terlihat lebih hangat dan luas berkat pancaran sinar matahari saat pagi atau siang hari. Penataan furnitur kayu di sekeliling ruangan membawa mood positif bagi pengunjung karena bisa menikmati secangkir kopi atau hanya sekedar kumpul bareng teman sembari melihat pemandangan dari luar ruangan.
Bryan turun dari mobil, ia melihat keadaan cafe begitu sepi dengan kondisi lampu tidak menyala. Dengan hati-hati pria itu melangkahkan kaki memasuki ruangan dan tiba-tiba seorang wanita muncul dari arah berlawanan membawa sebuah kue ulang tahun berbentuk hati, terdapat lilin angka bertuliskan 26.
"Happy birthday, Ry." Ucap wanita itu lembut.
__ADS_1
"Make a wish dulu, sebelum meniupnya." Pinta Eliza.
Bryan menuruti perintah Eliza. Ia memejamkan mata dan menangkupkan kedua tangan.
"Tuhan, tolong jaga dan lindungi selalu istri beserta kedua anakku. Berikan aku kesempatan untuk bisa bersama mereka kembali." Ucapnya dalam hati.
Fuih!
Lilin di depannya langsung padam dan berganti dengan nyala lampu dalam cafe tersebut.
Di dalam cafe sudah ada Gugun dan Rudy berserta beberapa karyawan perusahaan yang terlibat dalam pembangunan proyek museum milik Eliza. Secara bergantian mereka memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada Bryan. Pria itu terharu dengan pesta kejutan yang dibuat oleh Eliza namun tak bisa memungkiri bahwa ia juga kecewa karena pelaku dari penculikan istrinya adalah wanita itu. Ulang tahunya kali ini tidak dirayakan bersama keluarga dan juga istrinya. Dada pria itu sakit jika mengingat semua sumber masalah berasal dari dirinya.
"Maafkan aku, dad karena tidak percaya kata-katamu."
"Ry, ayo potong kue. Kok malah melamun." Ucap Eliza.
Bryan memotong kue ulang tahunya dan meletakannya diatas piring kue terbuat dari kertas berwarna gold.
"Potongan pertama akan kamu berikan kepada siapa?" Ucap Eliza manja.
"Ingin aku berikan kepada istriku namun ia diculik olehmu, El." Ucap pria itu dalam hati.
Rudy memandang sinis ke arah wanita itu.
"Dasar wanita iblis, lihat saja apakah kau masih akan bersikap manja seperti ini setelah tertangkap nanti!"
"Cih, dasar wanita tidak tahu malu masih saja mendekati suami orang. Aku tak menyangka akan berteman dengan wanita sepertimu, El." Ucap Gugun dalam hati.
"Dasar pelakor bermuka tebal, merampas milik orang lain malah bangga." Ucap salah satu bawahan Bryan.
Sementara itu Eliza malah tersenyum seperti orang bodoh. Ia tidak mengetahui bahwa semua tamu yang diundang mencaci dirinya dalam hati.
to be continued....
__ADS_1
Hayo, kalian merasa kasihan gak sih sama Eliza karena semua orang yang hadir malah mencaci maki dirinya di dalam hati. Kalau author sih gak ya. ðŸ¤