
Selesai mandi, Fazel bergegas turun kebawah. Ia meninggalkan Rachel yang masih tertidur ditempat tidur.
"Enggghhh." Rachel menggeliat meregangkan otot-otot tubuhnya.
Perlahan matanya mengerjap, Rachel mengambil posisi duduk dan mengucek salah satu matanya.
Matanya tertuju pada sebuah gelang ditangannya, Rachel mengernyitkan dahinya, Ia bingung dengan gelang yang kini ia pakai.
"Gelang siapa? koq ada ditangan gue?" Tanya Rachel pada dirinya sendiri.
Rachel memutar-mutar pergelangan tangannya dan memperhatikan dengan detail gelangnya.
"FR?" Tanyanya dalam hati.
Rachel melihat jam dan tak memikirkan kembali gelangnya, ia langsung bergegas pindah kekamarnya untuk bersiap berangkat kekampus.
"Pagi Kak." Sapa Rachel.
Fazel tersenyum, "Sarapan Hel."
"Ini udah mau jam sepuluh Kak, bukan sarapan lagi." Jawabnya.
Fazel tertawa, tidur kamu nyenyak banget, kalo ada gempa gak akan kerasa ya Hel."
Rachel juga tertawa, "Kalo ada gempa palingan Kak Fazel gendong aku keluar."
"Bener banget itu." Ucap Fazel yang sambil meminum kopi nya.
"Aku berangkat dulu ya Kak." Pamit Rachel.
"Kakak antar Hel, kakak bosen dirumah gak ada kerjaan." Jawab Fazel sambil berdiri dari duduknya.
Rachel tersenyum dan mengangguk. "Gak cape Kak?" Ledek Rachel.
"Buat Rachel, Kakak gak pernah cape." Jawabnya.
Diperjalanan, Rachel terus bercerita kegiatannya slama SMA hingga kuliah, Fazel hanya tersenyum mendengarkan cerita Rachel. Rachel tetaplah Rachel, Ia gadis yang ceria yang slalu membuat mood Fazel menjadi baik.
Fazel juga merasa senang saat melihat Rachel tetap memakai gelang yang Fazel pakaikan ditangan Rachel.
"Selesai jam berapa Hel?" Tanya Fazel.
"Hmm paling satu jam Kak, Kakak pulang aja." ucap Rachel.
"Kakak tunggu disini ya. Nanti Rachel kesini lagi."
"Gak bosen Kak?" Tanya Rachel.
"Cuma satu jam Hel, bahkan kakak bisa nunggu Rachel selama delapan tahun." Jawab Fazel dengan pandangan kedepan.
"Kakak.." Panggil Rachel.
Fazel menengok kearah Rachel. "Kakak tunggu disini ya. Semangat bimbingannya." Ucap Fazel sambil mengepalkan tangannya seraya memberi semangat ke Rachel.
Rachel pun melakukan hal yang sama, mengepalkan tangannya juga dan dia tersadar akan gelangnya.
__ADS_1
"Gelang ini dari Kakak?" Tanya Rachel.
Fazel mengangguk. "Jangan hilang ya, cuma ada satu didunia ini, ini Kakak pesan khusus dari pengrajin perhiasan disalah satu kota kecil di Amerika saat Kakak study banding disana."
"FR?" Tanya Rachel.
"Fazel dan Rachel." Ucap Fazel.
Rachel tersenyum, kemudian dia mencium pipi Fazel. "Makasih Kak, Aku suka." ucapnya kemudian Rachel turun dari mobil.
***
Fazel masih setia menunggu Rachel di parkiran, setelah satu jam lewat akhirnya Rachel keluar juga.
"Gimana?" Tanya Fazel.
"Lanjut ke Bab selanjutnya Kak, gak ada revisi lagi." Ucap Rachel dengan senang.
Fazel mengusap puncak kepala Rachel, "Pinter."
"Rachell." panggil seseorang yang ternyata adalah Arlan.
Rachel dan Fazel menoleh kearah Arlan.
"Udah selesai?" Tanya Arlan.
"Udah, dan gak ada revisi Lan, lanjut ke Bab selanjutnya." Jawab Rachel.
Arlan tersenyum. "Dijemput Kak Fazel? tadinya aku mau anterin kamu slama mobil kamu masih dibengkel."
"Iya Lan, aku diantar Kak Fazel, next ya." jawab Rachel.
Rachel hanya tersenyum menanggapinya.
"Duluan." Ucap Fazel pada Arlan.
"Iya Kak. Hati-hati." Jawab Arlan.
Arlan menatap mobil Fazel yang membawa Rachel pergi dengan tatapan sinis. "Ah si*l, semakin susah aja deketin Rachel. Apa lagi sekarang ada Kakaknya, kelihatan banget Kakaknya susah ditaklukin." Umpat Arlan.
***
"Deket banget ya sama Arlan." Tanya Fazel sambil mengemudikan mobilnya.
"Ya untuk saat ini, dia yang paling dekat dengan Aku Kak, udah lama juga sih, udah mau empat tahun kita deket." jawab Rachel.
"Kenapa gak dijadiin pacar?" Tanya Fazel dengan sedikit kesal yang masih bisa dikendalikan.
"Belum ada rasa, atau mungkin gak ada rasa." Jawab Rachel sambil memandang kejalanan.
"Pernah punya pacar?" Tanya Fazel mendalam.
Rachel menggelengkan kepalanya, "Yang deket banyak, tapi gak pacaran."
"Kalau Kakak?" Tanya Rachel.
__ADS_1
"Yang deket ada, tapi ya gak pacaran juga." Jawab Fazel.
"Pernah deket sama cewek Kak?" Tanya Rachel dengan tidak percaya.
"Pernah, dia sepupunya Kak Leo, Kak Leo itu pacarnya Kak Ara. Jadi kalo Kak Ara pergi sama Kak Leo, slalu ajak Kakak dan dia."
Rachel tersenyum kecut, Ia tidak menyangka sang Kakak yang irit bicara bisa dekat dengan wanita.
"Hel mau makan dulu atau mau antar Kakak ke showroom mobil?" Tanya Fazel.
"Kakak mau beli mobil?" Tanya Rachel balik.
"Daddy yang suruh, Kakak mau beli mobil yang Rachel pilih."
"Benarkah? kalau gitu kita cari mobil dulu Kak." Ucap Rachel.
Di Showroom mobil, Rachel memilihkan mobil sport keluaran terbaru untuk Fazel.
"Mobil Sport Hel? tadinya kakak mau mobil besar."
"Sport aja Kak, lebih keren. Dan warna putih ya Kak. Aku suka banget sama warna putih."
Fazel tersenyum, "Udah gak suka pink ya Hel, ya udah okey Kakak ikutin pilihan Rachel." Jawabnya.
Setelah selesai mengurus pembayaran, Fazel membawa Rachel untuk makan siang disebuah Cafe, "Hel, kakak ajak temen Kakak kesini gapapa ya?" Tanya Fazel.
"Temen? siapa Kak?" Tanya Rachel.
"Kenzo. Masih ingat gak? temen Kakak di SMA."
"Oh Kak Kenzo.. Iya kak, Rachel ingat walapun gak terlalu ingat."
"Bagus kalo gitu, gak boleh terlalu ingat sama cowok lain selain Daddy, Kakak juga Zio ya."
"Haisshh masa gak boleh ada cowok lain." Ucap Rachel.
Fazel pun tertawa.
Dicafe Fazel ngobrol bersama Kenzo soal pekerjaannya nanti, membuat Rachel sedikit merasa bosan, dibawah meja, Fazel menggenggam tangan Rachel seolah memberitahu bahwa Fazel slalu bersama Rachel, hal itu membuat Rachel tersenyum dan sedikit menyandarkan kepalanya dibahu Fazel.
"Lo sama Rachel kaya bukan kakak ade, tapi kaya orang pacaran." Bisik Kenzo.
Tentu saja Rachel tidak mendengarnya karna dirinya tengah menonton drama korea di ponselnya dan memakai earphone.
Fazel hanya tersenyum menanggapi omongan Kenzo.
Kenzo adalah sahabat Fazel slama di SMA bersama Rasya. Rencananya Fazel meminta Kenzo untuk jadi asisten pribadinya. Bukan tanpa alasan, Kenzo adalah anak Yatim yang tidak mempunyai Ayah sejak dari SMA, ia bersekolah dengan mengandalkan bea siswa karna kepintarannya, Kenzo pun sering membantu Fazel saat kesulitan belajar. Saat ini Fazel sangat percaya pada kemampuan Kenzo. Dan yang membuat Fazel memilih Kenzo adalah, karna kasih sayangnya terhadap ibunya, dia slalu berusaha menghidupi ibunya walapun dirinya kesulitan, kuliah yang mengandalkan beasiswa dan kerja dengan part time, membuat Kenzo tumbuh jadi orang kuat yang penuh tanggung jawab.
Kenzo menyambut baik tawaran Fazel. Karna kini Kenzo bekerja hanya sebagai sales disebuah showroom mobil bekas, padahal pendidikan terakhirnya adalah S1 dengan IPk hampir nyaris sempurna. Susahnya kerja diperusahaan besar karna tidak mempunyai koneksi membuat Kenzo mau bekerja sebagai apa saja, selama ia masih bisa menghidupi sang ibu.
.
.
.
__ADS_1
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....