
Satu bulan sudah Fazel kembali pulang, Ia juga sudah mulai bekerja diperusahaan Rivano Group.
Rachel juga semakin dekat dan manja pada Fazel. Sikapnya kembali seperti dulu saat mereka masih Remaja. Namun Rachel masih tetap berhubungan dengan Arlan walaupun tanpa status yang jelas.
Malam itu Rachel pulang larut sekali, dirinya habis menemani Arlan diacara ulang tahun salah satu temannya.
Arlan mengantar Rachel hingga teras rumahnya sambil menunggu Bi Wati asisten rumah tangga membuka pintu rumah itu.
Ceklek,
Pintu terbuka, bukan Bi Wati yang membukakan pintu melainkan Fazel.
"Malam Kak." Sapa Arlan.
Fazel dengan wajah dinginnya menatap Rachel.
"Udah jam berapa ini? ga baik anak gadis pulang tengah malam gini." Ucap Fazel dingin pada Rachel.
"Maaf Kak." Jawab Rachel.
"Dan kamu ya, harus tau diri kalau bawa anak gadis orang, dikeluarga Rivano tidak ada anak gadis pulang lewat dari jam sembilan malam." Ucap Fazel tegas pada Arlan.
"Rachel, masuk!!" Perintah Fazel dengan tegas pada Rachel.
Rachel masuk tanpa berpamitan pada Arlan.
"Kak, Maaf ini salah saya, jangan marahin Rachel." Pinta Arlan.
Fazel tersenyum kecut. "Pulanglah." Ucap Fazel kemudian masuk dan menutup pintu meninggalkan Arlan yang masih berdiri diluar.
Arlan segera masuk kedalam mobilnya dan memukul setirnya, "Sial, semenjak Kakaknya Rachel pulang semakin susah gue deketin Rachel. Rachel juga nurut banget sama Kakaknya. Jangan sampai pengorbanan gue selama empat tahun deketin Rachel berujung sia-sia." Umpat Arlan.
Rachel masih menunggu Fazel dibawah tangga untuk naik bersama Fazel keatas kamar mereka yang bersebelahan itu. Namun terlihat kekecewaan didiri Fazel, ia berjalan melewati Rachel.
"Kak.." Panggil Rachel pelan.
Fazel menghentikan langkahnya sejenak, "Tidurlah Hel, ini sudah malam." Ucap Fazel dingin dan melanjutkan menaiki anak tangga.
Rachel menghela nafasnya lalu menyusul Fazel. "Kak maaf."
Fazel tidak menjawab dan terus berjalan.
"Kak.." Panggil Rachel lagi.
Fazel membalikan tubuhnya menghadap Rachel tepat didepan pintu kamarnya.
"Pernah kamu berfikir sedihnya Mommy dan Daddy jika terjadi sesuatu terhadapmu Hel? Arlan itu orang lain, dia bukan kekasih kamu yang bisa dimintai pertanggung jawabannya jika terjadi sesuatu terhadap kamu."
"Kak, maaf." Lirih Rachel.
Fazel mengusap pangkal hidungnya, "Kamu sudah dewasa Hel, sudah harus bisa membedakan mana yang baik dan salah. Kakak tidak mungkin selamanya ada disisi kamu untuk menjagamu, Jika nanti Kakak menikah dan meninggalkan rumah ini, siapa yang akan menjagamu."
"Kak!!" Seru Rachel.
"Kita tidak mungkin terus bersama Hel, berhenti membuat kakak khawatir terus." Fazel masuk kedalam kamarnya dan menutup pintunya.
Sementara Rachel terus menatap pintu kamar Fazel yang tertutup.
Fazel membuka pintu balkon dikamarnya dan menghirup udara malam. "Cinta itu tidak harus terbalas, Rachel hanya menganggapku Kakaknya. Bagaimana bisa aku terus mengejar hatinya jika dia saja tidak bisa melepas Arlan." Gumam Fazel.
***
Minggu pagi dikediaman Reyvan.
Fazel asik ngobrol bersama Reyvan sambil meminum kopi di pinggir kolam renang membahas bisnisnya.
__ADS_1
Sesekali mereka tertawa, Sasha tersenyum melihat pemandangan Anak dan Ayahnya itu.
"Den Fazel maaf, ada tamu." Ucap Bi Wati.
Fazel mengernyitkan dahinya, pasalnya ia tak sedang menunggu tamu.
"Siapa Bi?" Tanya Fazel.
"Duh siapa ya namanya, susah untuk disebutin. Temenmya perempuan Den, bawa koper besar. Rambutnya agak pirang, Cantik sekali." Ucap Bi Wati.
"Dad, Fazel coba lihat dulu ya." Pamit Fazel yang diangguki oleh Reyvan.
"Temen kamu Zel?" Tanya Sasa yang sedang duduk dimeja makan bersama Rachel.
"Gak tau Mom." Jawab Fazel.
"Biar Momny temenin kamu lihat siapa yang cari kamu." Ucap Sasha.
"Aku ikut juga Mom." Sahut Rachel yang ikut mengekori Fazel juga Sasha.
Fazel sedikit terkejut saat melihat tamu yang datang mencarinya adalah Zidney.
"Zidney.." Panggil Fazel.
Zidney menoleh. "Hai Fazel." Lalu Zidney berhambur memeluk Fazel.
Rachel yang melihat Zidney langsung berwajah tak suka apa lagi saat Zidney memeluk Fazel.
"Ehemm.." Suara Sasha berdehem membuat Zidney melepaskan pelukannya pada Fazel.
"Ini bukan Amrik, jangan biasain main asal peluk." Ucap Fazel pada Zidney sambil menyentil keningnya.
"I'm sorry Zel, aku terlalu rindu." Jawab Zidney sambil mengusap keningnya dan tersenyum.
Fazel memperkenalkan Zidney pada Sasha.
"Mom.. Ini Zidney teman Fazel juga teman Kak Ara di Amrik."
"Dan Zid, ini Mommyku tersayang, dan disebelah Mommy, dia Rachel adikku."
"Zidney."
"Mommy nya Fazel."
"Zidney."
"Rachel." Jawab Rachel dengan datar.
"Duduklah." Ajak Sasha.
"Maaf ya Auntie pagi-pagi sudah bertamu." Ucap Zidney dengan sopan.
"Tidak apa-apa, apa dari Amrik kamu langsung kesini?" Tanya Sasha.
"Tidak Auntie, semalam aku transit dulu di singapura, baru tadi pagi kesini. Aku belum dapat hotel karna sudah lama tidak berkunjung ke Indo, jadi mampir dulu kesini bertemu Fazel untuk minta diantar kehotel."
"Berapa lama rencananya disini? Kirain aku masih minggu depan sama Kak Leo." Ucap Fazel.
"Kak Leo tiga hari lagi baru kesini, kemungkinan minggu depan aku balik lagi ke Amrik bareng Kak Leo."
"Kamu sudah sarapan?" Tanya Fazel.
"Tadi aku sempat makan roti di bandara Zel."
"Ya sudah, habis makan siang nanti aku antar cari hotel ya." Ucap Fazel.
__ADS_1
Zidney mengangguk.
"Makan siang disini Aja Zel. Jarang-jarang kamu bawa temanmu kesini selain Kenzo kan." Ajak Sasha.
"Isshhh Mommy apa-apaan sih ngajak-ngajak cewek itu makan siang." Umpat Rachel dalam hatinya.
Sasha dan Rachel meninggalkan Fazel bersama Zidney diruang tamu, terdengar suara tertawa mereka saat membahas kebersamaan mereka saat di Amrik dulu. Rachel sungguh tidak percaya bahwa kakaknya yang sangat irit bicara itu bisa tertawa lepas bersama Zidney.
"Aku saja jadi sekertarismu Zel." Ucap Zidney saat membahas pekerjaan Fazel.
"Yakin mau? disini digajinya rupiah, bukan pake dolar lho nona Zidney." jawab Fazel.
"Yang penting bisa deket sama bos nya, dibayar pake senyum dan makan siang setiap hari juga gapapa." Jawab Zidney meledek.
"Hem.. Maunya itu sih." Jawab Fazel lalu mereka kembali tertawa.
Sasha memperhatikan Rachel yang sedari tadi terus memperhatikan Fazel bersama Zidney.
"Hel, ajak Kak Fazel dan temannya untuk makan siang bersama, Mommy mau panggil Zio dan Nabil dikamar."
"Mommy aja deh yang panggil Kak Fazel. Biar aku yang panggil Zio dan Nabil."
"Rachel kenapa? koq kayak gak seneng lihat temennya kak Fazel datang."
"Eng.. Engga Mom.. Aku biasa aja. Ya udah aku panggil Kak Fazel deh."
Rachel berjalan menuju ruang tamu.
"Kak.." Panggil Rachel.
Fazel menoleh kearah Rachel. "Iya kenapa Hel?"
"Dipanggil Mommy, makan siang bersama, ajak sekalian teman Kakak." Ucap Rachel tanpa mau menyebut nama Zidney.
"Iya." Jawab Fazel singkat.
"Yuk Zid, cobain masakan Indo." Ajak Fazel.
Zidney tersenyum kemudian ikut berdiri dan berjalan berdampingan bersama Fazel.
Rachel mengepalkan telapak tangannya. "Ishh ulet bulu, gatel banget." Umpatnya dalam hati.
Mereka duduk bersama dikursi meja makan. Rachel terlihat cemberut dan hanya makan sedikit.
"Kak Rachel koq makannya sedikit?" Tanya Zio.
"Kak Rachel mungkin lagi diet Zi." Sahut Nabil.
Sementara Rachel tidak menjawab, hanya memakan dengan tidak ada selera.
Fazel yang melihatnya sangat mengerti, Rachel tidak menyukai kehadiran Zidney, sejak dulu Rachel slalu tidak menyukai wanita-wanita yang dekat dengan Fazel.
Selesai makan siang bersama, Fazel ijin kepada Reyvan dan Sasha untuk mengantar Zidney. Rachel dengan tidak sukanya langsung naik kekamarnya dilantai dua.
"Kak Fazel gak suka aku dekat sama Arlan, tapi dia sendiri deket-deket sama ulet bulu." Umpat Rachel sambil melempar bantal-bantal kelantai.
.
.
.
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....
__ADS_1