
"Makan dimana kita Bill?" Tanya Reyvan saat mereka sudah tiba di daerah Puncak.
"Dihotel tempat Sasha menginap aja, mampir dulu deh di pom bensin. Ada kedai Kopi disana." Jawab Billy.
Mereka memarkirkan mobilnya diarea pom bensin dan duduk di depan kedai kopi sambil meminum ice cofee.
"Kalo minum ice coffee, gue inget Sasha. Dia suka banget sama ice coffee." Ucap Reyvan sambil meminum minumannya.
"Jangan gengsi lagi deh Rey, udahlah nanti ketemu langsung bilang kalau lo gak bisa jauh apalagi pisah sama Sasha."
"Iya Bill, gue juga gak mau begini terus, gue yakin kalau Sasha masih cinta sama gue, cuma dia gak percaya aja sama gue."
Lama mereka berbicara, ponsel Billy berdering. Orang suruhannya menelpon dan mengatakan bahwa ada gerak gerik mencurigakan dari dokter Febri.
"Rey kita harus cepet ketempat Sasha." Ucap Billy sambil berdiri.
"Ada apa Bill?" tanya Reyvan dengan heran.
"Orang suruhan gue laporan, ada gerak gerik mencurigakan dari dokter Febri, dia seperti mencampur minuman dengan sesuatu, walapun belum tau apa akan diberikan untuk Sasha atau bukan. Mereka masih terus memantau."
Reyvan dan Billy bergegas menuju mobilnya untuk segera tiba dihotel tempat Sasha menginap.
"Bos, minuman itu diberikan untuk Ibu Sasha,.tapi belum diminum" Ucap orang suruhan Billy.
"Fokus untuk melindungi Sasha!!" Titah Billy kemudian meninggikan kecepatan mobilnya, namun sial karna jalanan puncak yang sempit dan cukup padat membuat Billy tidak bisa menaikan kecepatannya.
Dua puluh menit kemudian Reyvan dan Billy sudah tiba dihotel. Mereka langsung menanyakan ke resepsionis tetang acara seminar yang sedang berlangsung namun ternyata sudah selesai lebih cepat. Lalu Billy menanyakan kamar Sasha dan meminta kartu akses cadangan, beruntung dengan kekuasaan dari Rivano grup yang mempunyai saham dihotel ini, membuat sang manajer hotel memberikan kuasa kepada Reyvan dan Billy.
Brakk..
"Kosong Rey." Ucap Billy saat membuka pintu kamar dengan kasar.
"Kamar dokter Febri Bill." Ucap Reyvan, dan langsung mereka menyusul.
Bugh.. Bugh.. Bughh..
Terdengar suara orang berantem dan ternyata orang suruhan Billy sedang menghajar dokter Febri.
Reyvan melihat dan menghampiri Sasha yang sedang tertidur dengan pakaian yang mulai tidak beraturan, tiga kancing kemeja yang Sasha gunakan sudah terlepas, sepertinya Febri memberikan obat tidur diminuman Sasha dan mencoba menyetubuhi Sasha, namun niat jahat Febri terhenti saat dua orang suruhan Billy mengetuk pintu kamar berpura-pura sebagai pegawai hotel.
"Cukup!!" Ucap Billy saat melihat Febri sudah tidak berdaya.
Billy mendekat pada Febri dan menarik kerah bajunya, "Apa yang lo lakuin pada Sasha?" Tanya Billy.
__ADS_1
"Belum gue apa-apain, Natasha hanya tertidur." Jawab Febri.
Billy meminta rekaman CCTV dari hotel saat Febri membawa Sasha kedalam kamar, Orang suruhan Billy pun memberikan bukti berupa rekaman saat Febri membubuhkan serbuk obat tidur keminuman Sasha.
"Bawa dia kekantor polisi, saya akan menyusulnya nanti." Titah Billy pada orang suruhannya dan manajer hotel sebagai saksi.
"Sasha gimana Rey?" tanya Billy.
"Gue pindahin dulu kekamarnya Bill, sepertinya obat tidurnya dosis tinggi." Jawab Rey.
"Lo urus Sasha, gue kekantor polisi dulu buat bikin laporan."
Reyvan menggendong Sasha menuju kamarnya dan menidurkannya di tempat tidur.
"Maafkan aku Sha, aku belum bisa maksimal menjaga kamu." Ucap Reyvan sambil mengusap lembut pipi Sasha.
Lewat tengah malam, Sasha mulai sadar, "Akhh" Pekiknya sambil memegang kepalanya dengan satu tangan.
Reyvan yang tertidur di sofa dalam kamar pun terbangun dan segera menghampiri Sasha.
"Kamu gapapa Sha?" Tanya Reyvan dengan nada cemas.
"Mas... kamu kenapa bisa disini?" Tanya Sasha dengan nada menahan sakit dikepalanya.
"Kepala aku kenapa sakit sekali?" Tanya Sasha pada dirinya sendiri yang terdengar oleh Reyvan.
Sasha bersandar pada bantal yang disusun tinggi oleh Reyvan.
"Kamu baik-baik aja sha?" Tanya Reyvan sambil memijit pelan dahi Sasha.
"Udah agak mendingan Mas. Kamu kenapa bisa disini Mas?" Sasha masih terus bertanya.
"Dokter Febri, berusaha menjebak kamu Sha, dia memberikan kamu obat tidur dosis tinggi diminuman kamu sampai kamu tidak tersadar, dan dia berusaha untuk memperk*sa kamu." Ucap Reyvan menjelaskan.
"Gak mungkin mas." Sasha merasa tidak percaya.
Reyvan mengeluarkan poselnya dan menunjukan video yang tadi sempat dikirim oleh Billy sebagai bukti untuk menjebloskan dokter Febri ke penjara.
Sasha melihatnya dan merasa marah dengan apa yang dilihatnya.
"Naya khawatir kamu dinas sama dokter Febri, dia minta Billy kirim orang untuk mengawasi dan menjagamu. Pas aku tiba disini, orang suruhan Billy sedang meghajar dokter Febri dan kamu masih belum sadarkan diri dikamar dokter Febri. Pakaian kamu hampir terbuka Sha." Reyvan sedikit menjelaskan kronologi tadi.
Sasha tertunduk, perlahan matanya mengeluarkan buliran air mata. "Gimana aku bisa jaga Rachel kalau aku sendiri gak bisa jaga diri sendiri." Lirihnya.
__ADS_1
Reyvan dengan segera memeluk Sasha dalam dekapannya. "Aku yang gak bisa jaga kamu Sha, maafkan aku." Ucap nya sambil mengusap rambut panjang Sasha.
"Mas.. Maafkan aku." Ucap Sasha sambil terisak.
Reyvan mengendurkan pelukannya kemudian kedua tangannya menangkup wajah Sasha.
"Aku yang Salah Sha, kamu sudah banyak menderita karna aku, maafkan aku Sha, sungguh aku gak mau kehilangan kamu lagi."
Sasha tersenyum dalam tangisnya, kemudian mengangguk dan memeluk Reyvan.
"Mau baikan?" Tanya Reyvan sesaat setelah Sasha memeluknya.
Didalam pelukan Reyvan, Sasha mengangguk. "Aku mau terus jalani rumah tangga ini sama kamu mas."
Reyvan semakin mengeratkan pelukannya, "I love u Mommynya Rachel."
"Love u too Daddy nya Fazel."
"Lima tahun aku nunggu kamu Sha, aku kira kamu sudah tidak mencintaiku lagi." Ucap Reyvan yang kini bersandar pada tumpukan bantal dan Sasha berada dalam dekapannya.
"Mana mungkin Mas, kamu cinta pertama aku, terlebih lagi kamu Daddynya Rachel, Rachel itu bukti cinta kita Mas, aku membesarkannya dengan penuh kasih sayang, setiap melihat mata Rachel, aku slalu teringat kamu dan slalu ingin pulang. Tapi keinginanku tertahan karna aku harus menyelesaikan pendidikan aku disana."
"Rachel dan Fazel adalah anak-anak kita Sha, aku sungguh tidak menyangka kamu juga menerima Fazel tanpa aku minta. Aku sempat takut kamu akan menolak Fazel."
"Kita harus jadi orang tua yang baik untuk Fazel dan Rachel Mas." Ucap Sasha.
"Juga untuk adik-adiknya mereka nanti ya Sayang?" Tanya Reyvan dengan nada menggoda.
"Iya nanti Mas." Jawab Sasha dengan singkat.
"Sekarang aja Sha, aku rindu kamu Sha." Bisiknya tepat ditelinga Sasha.
"Mas!! lima tahun pisah, mesum kamu gak hilang-hilang." Pekik Sasha.
Reyvan tertawa, "Gak hilang Sha, apalagi nempel begini sama kamu, bikin aku turn on. Yuk Sayang, kasih adik buat Fazel dan Rachel."
.
.
.
.
__ADS_1
...Bantu Vote, Tinggalkan Like dan Komentar ya Agar Author Semakin Bersemangat Up Ceritanya"...