
"Permisi Pak Billy." Sapa Vivi sekertaris Reyvan.
"Iya ada apa Vi?" tanya Billy,
"Perwakilan dari pihak Aldio Company sudah datang, Pak Alex sedang menunggu didepan, dipersilahkan masuk atau bagaimana ya Pak?"
"Suruh masuk kesini aja Vi, sambil menunggu Pak Aldio datang, tolong sekalian panggil Pak Reyvan diruangan pak Rivano."
"Baik Pak Billy." Vivi meninggalkan ruangan.
"Bill gue nyusul Naya aja kali ya?" Tanya Sasha.
"Ya jangan Sha, Rey kan maunya ditemenin lo."
"Gue gak enak Bill."
"Santai aja, lo pindah aja ke meja kerja Reyvan, biasanya Rey terima tamu disofa ini."
"Okey."
Sasha membereskan laptop dan tasnya lalu pindah ke meja kerja Reyvan.
Tak lama Alex masuk diantar oleh Vivi dan disambut oleh Billy.
"Selamat siang Pak Alex." Billy mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Alex.
"Selamat siang Pak Billy, maaf saya datang terlalu cepat." ucapnya sambil membalas jabat tangan Billy.
"Mari duduk Pak." Ajak Billy yang mengalihkannya untuk duduk di sofa.
Sejenak mata Alex melihat Sasha yang asik menatap layar laptopnya dan mendengarkan musik melalu earphonenya.
Billy keluar untuk memghampiri Vivi agar menyiapkan berkas yang dibutuhkan, Alex berkesempatan untuk mengambil foto Sasha secara diam-diam dan mengirimkannya pada seseorang.
"Pak, dikantor Rivano Group ada Nona Sasha, adik anda."
Disebrang sana Darren yang sedang dalam perjalanan membuka pesan masuk dari Alex dan tersenyum saat membacanya.
"Baik, saya sudah dalam perjalanan, Trims infonya."
"Bisa percepat sedikit Pak."Titah Darren terhadap supir pribadinya. Ia seakan tidak sabar menantikan pertemuan dengan adiknya yang sudah enam tahun tidak bertemu.
Darren tiba di kantor Rivano Group setelah sepuluh menit dalam perjalanan, dia langsung menuju lantai dimana tempat ruangan Reyvan berada.
"Pak Aldio" Panggil Reyvan yang baru saja melihat Darren keluar dari lift.
"Pak Reyvan" jawabnya sambil berjabat tangan dengan Reyvan.
"Masih ada waktu sentengah jam lagi, kita mau langsung atau ngopi dulu diruangan saya?"
"Sepertinya saya butuh kopi dulu nih Pak." Jawabnya sambil bercanda.
"Baiklah pak Aldio, mari keruangan saya dulu."
Sebelum masuk, Reyvan meminta Vivi untuk membuat kopi untuk tamunya.
Reyvan membawa masuk Darren kedalam ruangan, mata Darren langsung tertuju pada seorang gadis yang slalu dia rindukan.
"Maaf pak Aldio, itu istri saya, sedang mengerjakan tugas kuliahnya." Ucap Reyvan.
"Iya pak Reyvan tidak apa-apa."
__ADS_1
Sasha yang masih asik mengerjakan tugasnya dan mendengarkan musik melalui earphonenya tidak menyadari kedatangan Darren.
Vivi masuk membawakan empat cangkir kopi untuk Reyvan, Billy, Darren dan Alex. Setelah selesai menatanya Vivi berdiri.
"Vi tolong pesankan Ice coffee gula aren ya." Titah Reyvan.
"Baik Pak Rey." Jawab Vivi.
"Buat siapa Rey?" Tanya Billy.
"Sasha."
Billy hanya mengangguk, sementara Darren tersenyum saat melihat Reyvan yang perhatian dengan Sasha.
Reyvan melihat kearah Sasha yang terlihat mulai gelisah.
"Maaf pak Aldio, pak Alex, saya tinggal sebentar."
Reyvan berdiri dan menghampiri Sasha.
"Kenapa sayang?" Tanya Reyvan sambil memegang pundaknya.
Sasha mendongak melihat Reyvan dan membuka earphone nya.
"Kamu kenapa, kelihatan gelisah."
"Laptop aku ngehank mas, data yang tadi belum sempat aku simpan, mana udah lumayan banyak." rengeknya dengan nada sedih.
"Coba sini aku lihat." Reyvan mengambil alih laptopnya Sasha.
"Flashdisk kamu ada virusnya sayang, sebentar ya."
"Data aku gak akan ilang kan Mas?" tanyanya dengan cemas.
"Nih udah, coba cek yang tadi kamu kerjain." Kata Reyvan.
Sasha mengambil alih laptopnya kembali. "Iya mas masih ada semua, makasih ya hubby." Ucapnya dengan nada manja.
"Ya udah aku tinggal lagi ya, pak Aldio udah disini."
"Oh ya, koq aku gak sadar udah banyak orang mas?"
"Ya kamu asik dengerin musik sambil lihat layar laptop. kesana dulu yuk, biar aku kenalin."
Sasha mengangguk, kemudian berdiri. Reyvan meraih tangan Sasha dan menuntunnya untuk menghampiri tamunya.
Sekilas pandangan Sasha bertemu dengan pandangan Darren. Darren tersenyum, dan Sasha melepaskan tangan Reyvan lalu langkahnya terhenti.
Reyvan membalikan tubuhnya dan menatap Sasha. "Ada apa sayang?" tanyanya.
Pandangan Sasha terus menatap mata Darren, satu tetes air mata lolos begitu saja dipipinya.
"Sayang kenapa?" tanya Reyvan dengan cemas.
Darren yang tak kuasa melihat adiknya yang mulai menangis langsung mendekati Sasha.
"Are you okay?" Tanya Darren yang sudah berada didepan Sasha.
Sasha memegang pipi Darren, membuat Reyvan dan Billy sedikit bingung, bahkan Reyvan seperti mulai cemburu.
"Jahat" Kata pertama yang keluar dari bibir Sasha.
__ADS_1
Darren tersenyum dan membawa Sasha kedalam pelukannya. Didalam pelukan Darren, Sasha menangis sejadi-jadinya.
"Maafin Kakak Sha" Satu kalimat keluar dari bibir Darren, sementara Sasha terus menangis.
Naya masuk keruangan Reyvan dan terkejut melihat Sasha yang menangis dipeluk seseorang, lalu mendekat disisi Reyvan yang hanya mematung dan tak mengetahui apa-apa.
"Kak Darren" Gumam Naya yang terdengar oleh Reyvan.
"Darren Nay?" tanya Reyvan meyakinkan.
"Kalo gak salah ini Kak Darren, mirip banget kak, Waktu SMP gue sering ketemu Kak Darren."
Billy pun mendekati Reyvan dan Naya. Sementara Naya mulai mendekat pada Sasha.
Sasha menatap Naya, "Kak Darren Nay, ini Kak Darren." Ucapnya sambil menangis.
"Iya Sha, ini Kak Darren."
"Naya?" Tanya Darren meyakinkan.
Naya hanya mengangguk dan tersenyum sambil memeluk Sasha.
Setelah Sasha agak tenang, mereka semua duduk disofa, Naya dengan setia mendampingi Sasha. Sementara Reyvan dan Billy masih terlihat bingung.
"Maaf Pak Reyvan" Ucap Darren.
"Pak Aldio, bisa anda menjelaskan pada saya?"
"Ini adik saya pak, Natasha Aluna Ferdian adalah adik kandung saya, dan saya adalah Darren Aldio Ferdian."
Darren menghela nafas. "Saya tidak menyangka bisa bertemu Sasha disini."
Darren memegang tangan Sasha. "Kenapa nangis, masih cengeng aja"
"Kak Darren menyebalkan, dan sekarang jadi jahat." Ucapnya dengan tatapan mata sinis.
"Mau kakak pergi dan menghilang lagi?" tanyanya dengan nada iseng.
Seketika Sasha lamgsung memeluk Darren dan Darren membalas pelukannya. "Maafkan Kakak ya Sha, Maaf." lirih Darren.
"Gak boleh pergi lagi Kak, aku sendirian, Mami juga pergi, Papi selingkuh, dan Rumah kita diambil alih oleh selingkuhan Papi." Ucap Sasha didalam pelukan Darren.
Darren melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Sasha. "Kakak gak akan biarin kamu sendirian lagi, Kakak janji akan cari Mami, Kakak janji akan ambil hak rumah kita lagi."
Sasha menggelengkan kepalanya.
"Aku udah gak mau rumah itu Kak, aku udah terusir dari sana, Papi menghapus banyak kenangan kita disana dengan membawa masuk perempuan itu kerumah. Aku cuma mau Kak Darren dan Mami."
Darren tersenyum, "Kakak janji akan temukan Mami ya Sha, jangan sedih lagi." Tangan Darren menghapus jejak airmata Sasha dipipinya.
Darren melihat kearah Reyvan.
"Pak Rey, kita tinggal tandatangan saja kan?"
"Kenapa kak Darren panggil mas Rey dengan sebutan Bapak? dia itu adik iparmu kak!!" Ucap Sasha yang berhasil membuat semua orang didalam ruangan itu tergelak.
.
.
.
__ADS_1
.
...Bantu Vote, Tinggalkan Like dan Komentar ya Agar Author Semakin Bersemangat Up Ceritanya"...