MENIKAH DENGAN KAKAK SAHABATKU

MENIKAH DENGAN KAKAK SAHABATKU
KAMU BUKAN KAKAKKU.


__ADS_3

"Kak, kapan sih ulet bulu pulang ke Amrik?" Tanya Rachel saat mereka sudah tiba diruangan Fazel.


"Memang kenapa Hel? Zidney baik lho." Jawab Fazel.


"Tapi aku gak suka dia deket-deket sama Kakak." Kata Rachel yang mendudukan dirinya dikursi kebesaran Fazel.


Fazel tersenyum, "Kenapa gak sukanya?"


"Perhatian Kak Fazel gak ke aku lagi kalau lagi sama dia. Aku gak suka!!" Jawab Rachel jujur.


Fazel berjongkok didepan Rachel dan menggenggam kedua tangan Rachel, mereka saling menatap.


Deg...


Jantung Rachel berdegup kencang, mungkin bisa terdengar oleh Fazel.


"Jantung pleease stop, gue gugup." Batin Rachel.


"Hel.. suatu saat Kakak akan menikah, dan pasti perhatian Kakak akan terbagi untuk istri dan anak-anak Kakak nanti. Kamu harus lebih mandiri dan dewasa lagi." Ucap Fazel dengan lembut.


"Kakak akan menikah dengan Zidney?" Lirih Rachel.


"Bukan dengan Zidney Hel, tapi dengan siapapun Kakak menikah, Kakak harap kamu bisa menerima siapapun orangnya yang akan mendampingi Kakak nanti."


Tess..


Air mata Rachel menetes begitu saja, dengan sigap Fazel menghapus air mata Rachel dengan jarinya.


"Hel.." Panggil Fazel pelan.


"Kenapa Kakak tidak menikah denganku?" Tanya Rachel penuh harap.


Fazel mengusap pipi Rachel. "Kita Kakak adik Hel, tidak ada Kakak yang menikahi adiknya sendiri." Jawab Fazel hati-hati.


"Bolehkah aku mengatakan sesuatu yang mungkin akan menyakiti hati Kakak?"


"Apa Hel?"


"Kamu bukan Kakakku, kita tidak ada hubungan darah, kamu bukan anak Daddy dan Mommy." Rachel semakin menangis dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, merasa terpaksa dan mungkin menyesal mengatakan hal menyakitkan untuk Fazel.


Fazel berdiri kemudian memeluk Kepala Rachel yang masih duduk dikursi kebesarannya.


"Maafkan aku Kak, tapi aku tidak ingin Kakak menjadi Kakakku, aku mencintamu Kak." Tangis Rachel semakin pecah dipelukan Fazel.


Fazel pun menitikan air mata yang tidak terlihat oleh Rachel.


"Kakak harus bagaimana Hel?" Lirih Fazel.


Tanpa mereka sadari dibalik pintu yang tidak tertutup rapat, Billy mendengar semuanya.


Setelah Rachel agak tenang, Fazel kembali meneruskan sisa pekerjaannya. "Hel istirahatlah dikamar." Ucap Fazel yang menunjuk satu ruangan didalam ruangan Fazel, tempat khusus untuk beristirahat didalam ruangan itu.

__ADS_1


"Aku mau keruangan Daddy ya Kak." Jawab Rachel.


Fazel berdiri dan menarik tangan Rachel lalu memeluknya. "Maafkan Kakak Hel, beri Kakak waktu. Kakak hanya tidak mau mengecewakan Mommy, Daddy dan pada akhirnya kehilangan kamu." Ucap Fazel sambil mengusap lembut kepala Rachel.


Perlahan Rachel melepaskan pelukan Fazel dan menatap wajah Fazel yang slalu ia cintai itu kemudian tersenyum.


Rachel keluar dari ruangan Fazel kemudian Fazel berdiri menatap gedung-gedung tinggi dari jendela besar diruangannya.


"Zel.." Panggil Billy yang baru saja masuk keruangan Fazel.


Fazel membalikan tubuhnya. "Iya Uncle Bill." Jawab Fazel.


"P Group setuju dengan rancangan yang kamu ajukan, proyeknya akan segera berjalan setelah tanda tangan kontrak. Good job Boy." Ucap Billy sambil menepuk pundak Fazel.


Fazel menunduk sambil mengusap pangkal hidungnya dan menghela nafas.


Billy tau apa yang sedang Fazel pikirkan.


"Uncle juga pernah berada diposisimu Zel." Ucap Billy.


Fazel menatapa Billy, "Maksud Uncle?"


Billy mengikuti posisi Fazel yang menatap gedung-gedung tinggi dari jendela besar. "Uncle Bill tidak punya keluarga, saat Opa mau mengadopsi Uncle, Uncle sangat senang sekali, Uncle berfikir akan mempunyai keluarga, mempunyai orang tua seperti Opa, Oma, mempunyai saudara seperti Daddymu dan mempunyai adik yaitu Auntie Nay. Namun sayang saat itu Auntie Nay mempunyai perasaan lebih terhadap Uncle. Uncle pun tidak percaya diri, takut mengecewakan Opa dan Oma, terlebih takut pada akhirnya kehilangan Auntie Naya."


"Uncle Bill.." Lirih Fazel.


"Kamu tau Zel, pada akhirnya Opa tau semuanya saat keputusan sidang adopsi Uncle akan turun. Lalu Opa membatalkan karna memikirkan perasaan Uncle dan juga Auntie Nay."


Billy meninggalkan Fazel yang masih mematung menatap gedung-gedung tinggi itu.


"Gue udah duga ini akan terjadi, karna itu gue gak pernah lengkapi berkas Fazel ke pengadilan." Batin Billy saat berjalan menuju ruangannya sendiri.


**Flashback On**


"Bill ini berkas yang dibutuhkan pengadilan, semua udah ada disini, gue harap keputusan surar adopsi resmi dari pengadilan segera diresmikan." Ucap Reyvan


Billy menerima berkas-berkas Fazel dan segera menuju pengadilan. Namun ditengah jalan Billy berfikir, Fazel bisa berinteraksi ketika bersama Rachel bahkan saat mereka pertama kali bertemu.


"Maaf Rey, Sha, gue gak bisa terusin ini. Gue takut hubungan Fazel dan Rachel menjadi hubungan terlarang yang rumit nantinya." Gumam Billy.


Pada akhirnya Billy tidak menyerahkan berkas terakhir Fazel pada pengadilan dan keputusan adopsi Fazel menggantung hingga Fazel dewasa.


**Flashback Off**


"Tuhan.. bantu aku memantapkan hati." Batin Fazel.


***


"Zel, Daddy dengar dari Uncle Bill proyekmu akan segera berjalan." Ucap Reyvan saat mereka makan malam bersama dirumah.


"Iya Dad, tinggal tanda tangan kontrak lusa besok." Jawab Fazel.

__ADS_1


"Daddy tau, strategi kamu itu bagus Zel, pertahankan ya."


Fazel hanya mengangguk sambil memakan makanannya.


Sasha melihat sikap Fazel yang berbeda semenjak pulang kantor.


"Mom, Dad, Aku sudah selesai makan, aku ijin keluar bertemu denga Kenzo dan Rasya." Ucap Fazel hati-hati yang kemudian Rachel menatap Fazel.


Setelah mencium pipi Sasha dan mencium punggung tangan Reyvan, Fazel bergegas pergi menyusul Kenzo dan Rasya yang sudah menunggu di club.


Meski Fazel sering ke Club, namun Fazel tidak pernah menyentuh minuman beralkohol, Ia hanya melepas penat dengan mengobrol bersama Kenzo dan Rasya sahabat dari SMA nya.


Rachel pun menyudahi makannya dan menuju kamarnya.


"Apa mereka bertengkar?" Gumam Sasha yang terdengar oleh Reyvan.


"Bukan bertengkar Sayang, tapi Rachel sudah menyatakan perasaannya pada Fazel dan Fazel masih tidak percaya diri karna menjaga perasaan kita." Ucap Reyvan.


"Maksudmu Mas?" Tanya Sasha.


"Billy mendengar semuanya dan menceritakannya sama aku. Aku rasa sekarang Fazel hanya tinggal mengumpulkan keberaniannya."


"Apa kita bilang saja Mas kalau kita merestui mereka." Ucap Sasha.


"Jangan Sha, biarkan Fazel memantapkan hatinya, dia lelaki, harus percaya diri."


"Apa Ayah dan Bunda akan merestui ini Mas?" Tanya Sasha.


"Sayang, ini bukan kejadian pertama, hal ini pernah terjadi dikeluarga Rivano saat Billy mau diadopsi dan Naya menyukai Billy. Aku rasa Ayah akan menyutujuinya. Ini seperti dejavu."


"Tapi kita semua tau Fazel istimewa Mas, sedari kecil ia istimewa." Lirih Sasha.


"Sayang, Fazel sudah lebih baik. Lihatlah dia bahkan bisa memenangkan beberapa tender diperusahaan besar. Fazel benar-benar sudah sembuh dari rasa trauma mendalamnya."


"Kamu benar Mas, dan hanya bersama Rachel tingkat percaya diri Fazel berkembang. Dari awal Fazel kecil bertemu Rachel, dia sudah bisa berinteraksi dengan Rachel."


"Jadi sekarang hilangkan kecemasanmu Sayang, kita tinggal menunggu Fazel untuk memberanikan dirinya."


"Kamu akan lepas anak gadismu untuk Fazel?" Tanya Sasha.


"Tentu saja, aku lebih tenang Rachel bersama Fazel dari pada harus bersama pria lain yang tidak aku kenal."


.


.


.


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....

__ADS_1


__ADS_2