
"Ahh capenyaaa." Ucap Rachel saat memasuki kamar mereka dihotel yang sama tempat mereka menggelar resepsi.
Fazel dengan setia mengekori Rachel dan menutup pintu kamar dengan perasaan campur aduk.
Rachel membersihkan riasannya didepan meja rias, sambil sesekali memperhatikan Fazel dari cermin yang tengah asik melihat ponselnya lalu meletakan ponselnya kembali dan perlahan membuka arloji kemudian tuxedonya juga kemejanya sehingga menyisakan celana panjang yang masih dikenakan dan kaos oblongnya.
Fazel melirik kearah Rachel yang kini tengah berdiri dan mencoba membuka kancing dibelakang gaun pengantinnya namun tidak terjangkau oleh tangannya.
"Mau Kakak bantu?" Tanya Fazel sambil berjalan mendekat kearah Rachel.
"Kancingnya susah dilepas Kak." Ucap Rachel pelan dan menggigit bibir bawahnya.
Fazel tersenyum dan mengusap pipi lembut Rachel lalu mengecup bibir Rachel sekilas agar Rachel melepaskan gigitannya.
Jangan ditanya bagaimana jantung Rachel, jantungnya berdegup dengan sangat kencang, dan wajahnya yang sudah bersih dari makeup terlihat memerah seperti kepiting rebus.
"Jangan digigit bibirnya, biar nanti Kakak yang gigit." Bisik Fazel saat memutari tubuh Rachel dan tangannya mulai membuka kancing kancing dibelakang gaun Rachel.
Fazel menelan salivanya, saat melihat punggung putih mulus Rachel, sementara Rachel menahan bagian depan gaunnya agar tidak melorot.
"Cukup Kak." Ucap Rachel.
"Cupp.." Fazel mencuri satu kecupan di bahu Rachel yang sedikit terbuka.
Rachel langsung berlari kedalam toilet dan menutup pintunya rapat-rapat. Sementara Fazel hanya tersenyum melihat tingkah laku istrinya itu.
"Kak Fazel genit juga. Gue baru tau Kak Fazel yang irit bicara dan terlihat dingin bisa seperti itu." Gumam Rachel didepan cermin wastafel.
Rachel berendam air hangat dengan aroma teraphy yang begitu menenangkan.
"Tok.. tok.. tok.."
"Sayang jangan lama-lama. Ini sudah malam nanti kamu masuk angin." Teriak Fazel dengan lembut dari balik pintu.
"I.. iya Kak.." Jawab Rachel grogi.
Rachel membersihkan tubuhnya dibawah guyuran air shower kemudian dia memakai bathrub dan menggulung rambutnya yang basah dengan menggunakan handuk lalu keluar dari toilet.
"Kak, mau mandi juga? mau aku siapkan air hangatnya?" Tanya Rachel sambil mendudukan dirinya didepan meja rias dan mulai mengeringkan rambutnya.
"Iya Kakak mau mandi, tapi gak usah siapin air hangat, Kakak mandi air shower aja langsung." jawab Fazel yang mengambil baju dari dalam kopernya.
Tak butuh lama Fazel mandi, hanya sekitar lima belas menit. Fazel sudah keluar dengan menggunakan kaos oblong putih dan celana boxernya. Satu tangannya mengeringkan rambut dengan handuk kecilnya dan itu membuat Fazel terlihat semakin tampan.
Rachel sudah memakai baju tidurnya, dress tidur berbahan sutra halus yang hanya bertalikan satu dan ditutupi oleh kimononya.
Kini posisi Rachel sudah berada diatas ranjang sambil memainkan media sosial diponselnya dan Fazel dengan segera menyusul Rachel setelah melempar handuknya kesembarang tempat.
"Lihat apa?" Tanya Fazel yang sejurus kemudian tangannya merangkul pundak Rachel dan membawa Rachel dalam dekapannya sehingga Rachel bersandar pada dada bidang Fazel.
"Em.. iseng aja Kak lihat medsos." Jawab Rachel ragu.
"Slalu main ponsel ya kalo mau tidur?" Tanya Fazel sambil membelai lembut kepala Rachel.
"Kadang iya, kadang juga engga Kak. Kalo Kakak sebelum bisa tidur ngapain?" Tanya Rachel balik.
"Mikirin kamu, gimana caranya bisa nikahin kamu tanpa mengecewakan Mommy dan Daddy." Lalu Fazel mencium puncak kepala Rachel.
"Sejak kapan Kak?" Tanya Rachel.
"Entahlah Hel, entah sejak kapan perasaan ini ada, yang jelas saat Kakak ke Amrik, Tidak pernah satu haripun Kakak tidak merindukanmu."
__ADS_1
Fazel menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan perlahan, "Kamu sejak kapan ada perasaan sama Kakak?" Tanya Fazel.
Tangan Rachel mulai bermain diatas dada bidang Fazel yang tertutup kaos oblongnya, kemudian Rachel mulai bercerita.
"Waktu aku masih kecil dan tinggal diJerman, Uncle Fitt slalu menceritakan kisah princess dari berbagai belah dunia, ada satu cerita yang berkesan untuk aku, princess itu berjodoh dengan seorang prince yang pintar melukis, tidak banyak bicara, dan hanya tersenyum pada princess nya saja. Prince yang akhirnya jadi ada dalam khayalanku setiap mau tidur, sampai akhirnya kita ketemu sewaktu nengok oma dirumah sakit, aku merasa nyaman sama Kakak saat itu, dan seiring berjalannya waktu, perasaan ini semakin tumbuh. Hati aku kecewa sewaktu lihat Kakak jalan bersama Kak Vanesa, dan hati aku sakit sewaktu ulet bulu datang ke rumah kita dan memeluk Kakak didepanku."
"Apa kamu sering merindukan Kakak sewaktu kakak di Amrik?" Tanya Fazel.
"Setiap waktu Kak, bahkan aku sering menangis dikamar Kakak sendirian."
"Sekarang kamar itu jadi kamar kita Hel." Fazel mengangkat dagu Rachel, kemudian mengecupnya.
Rachel tersenyum, dan Fazel mendekatkan kembali wajahnya lalu mulai mencium Rachel dengan lembut, Rachel membalas ciuman Fazel, kedua tangannya ia lingkarkan dileher Fazel dan Fazel menariknya keatas pangkuannya.
Fazel melepas sebentar pagutannya, tidak ingin Rachel kehabisan oksigen, lalu menempelkan keningnya dikening Rachel sambil merapihkan anak rambut Rachel kebelakang telinga Rachel.
"Kakak sangat mencintaimu, sangat..." Lirih Fazel kemudian mulai mencium bibir merah muda Rachel kembali.
Perlahan tangannya membuka jubah kimono yang menutupi dress tidur Rachel dan membuangnya kesembarang tempat.
"Kak... Akhh." Desah Rachel saat Fazel mulai turun dan menciumi bagian leher jenjangnya, sementara tangannya sudah lolos masuk kedalam dress tidur Rachel dan menggapai kudua gunung kembar Rachel.
Fazel membuka dress tidur Rachel, kemudian menidurkan Rachel diatas tempat tidur, Fazel kembali melancarkan aksinya dan tanpa disadari tubuh mereka kini tengah polos.
"Kak.. Akh..." desah Rachel lagi yang terdengar indah oleh Fazel.
Ciuman Fazel beralih keperut dan semakin turun kebagian sensitif Rachel. "Kak, jangan.. Akh...." Rachel merasa malu namun menikmati setiap sentuhan yang Fazel berikan.
Setelah pelepasan pertama Rachel, Fazel kembali menindih Rachel dan mensejajarkan wajahnya.
"Kak.." Lirih Rachel yang mukanya sudah merona.
"Aku malu Kak."
Fazel tersenyum dan mengusap lembut pipi Rachel, "Seluruh tubuhmu milikku sayang."
Rachel mengangguk dan tersenyum.
"Aku mulai ya, jika merasa sakit, gigit saja bahuku, atau kamu boleh mencengkram punggungku."
"Aku takut Kak."
"Aku akan melakukannya dengan pelan."
Fazel memulai kembali permainannya, saat melihat Rachel sudah agak rilex, Fazel memulai aksinya membenamkan juniornya di milik Rachel.
Rachel memejamkan matanya, "Sak...kitt Kak." Lirihnya disertai dengan cengkraman yang kuat.
Fazel kembali memberikan sentuhan kepada bagian-bagian sensitif Rachel, saat Rachel kembali menikmati sentuhan itu, Fazel memulai lagi aksinya.
"Kakkk..." Teriak Rachel saat bagian intinya terasa ada yang menerobosnya.
Fazel mendiamkan sejenak juniornya, terasa aliran hangat sedikit mengalir yang keluar dari bagian inti Rachel.
Mata Rachel mengeluarkan buliran bening saking menahan sakitnya.
"Maaf sayang.." bisik Fazel lembut sambil menatap wajah Rachel.
Fazel memulai kembali memaju mundurkan juniornya dengan perlahan, membuat Rachel sedikit melupakan sakitnya dan menikmati setiap hentakan yang Fazel berikan.
Mereka menikmati malam panjangnya hingga beberapa kali melakukan penyatuan. Hingga Fazel mengerang dan melepaskan benih-benih pertamanya dirahim Rachel.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Enghhh." Suara erangan Fazel mengakhiri aktivitas panas mereka.
Fazel sedikit bangkit dan menciumi bagian perut Rachel, "Cepat tumbuh disini, Papa menunggumu." Bisik Fazel diperut Rachel yang membuat Rachel merasa bahagia.
Fazel merebahkan dirinya disebelah Rachel, mengatur nafasnya sambil menatap langit-langit kamar hotel yang menjadi saksi bisu penyatuan cintanya bersama Rachel.
Setelah nafasnya teratur, Fazel membawa Rachel kedalam dekapannya, "Terimakasih Sayang, aku janji akan menjagamu seumur hidupku." Bisiknya lirih sambil mengusap bahu hingga punggungnya Rachel dan Rachel tertidur.
Sinar matahari pagi mulai menembus gordeyn jendela, Fazel lebih dulu mengerjapkan kedua matanya, sedari dulu Fazel memang slalu bangun lebih awal, dan Rachel tentu saja gadis itu slalu senang bangun siang.
Fazel memiringkan tubuhnya dan menyangga kepalanya dengan satu tangan, sementara satu tangannya lagi mengusap pipi lembut Rachel yang masih tertidur.
Tidak pernah menyangka dalam hidupnya, menikahi wanita yang slama ini menjadi adik angkatnya.
Rachel menggeliat, Fazel mencium kening Rachel, "Selamat pagi mood boosterku." Ucapnya sambil tersenyum.
Rachel yang menyadari dirinya masih polos dan hanya bertutupkan selimut langsung menutup wajahnya dengan menaikan selimutnya.
Fazel tersenyum melihat tingkah laku Rachel, lalu perlahan menurunkan selimut tebal yang menutupi wajah Rachel.
"Kenapa? hem?" Tanyanya lembut.
"Aku malu Kak." Jawabnya pelan.
"Hai, kenapa harus malu, aku sudah menelusuri seluruh tubuhmu tanpa terkecuali, aku ini suamimu sekarang." Fazel terus mengusap lembut pipi Rachel.
Sementara wajah Rachel sudah merona merah.
"Kak aku mau mandi." Rengek Rachel.
"Mandi bersama ya sayang." Fazel langsung menyingkap selimut yang menutupi tubuh mereka berdua, terlihat jejak merah dibagian bahu, dada, perut dan paha Rachel.
Fazel menggendong tubuh mungil sang istri ke dalam bathtub yang diisi dengan air hangat dan tetesan aroma teraphy.
"Kak, kau apakan tubuhku, merah semua seperti digigit drakula." Kesal Rachel.
"Maaf sayang, kamu terlalu menggemaskan." Jawab Fazel sambil memeluk Rachel dari belakang dan bagian tangannya melingkar sempurna diperut Rachel.
"Apa Kakak menyakitimu?" Tanya Fazel sambil mendaratkan dagunya dibahu Rachel.
Rachel menggelengkan kepalanya.
"Kamu menyukainya?" Tanya Fazel lagi.
Rachel hanya mengangguk.
Fazel mengusap perut rata Rachel, "Kakak ingin disini segera ada yang hidup."
"Iya Kak, aku juga berharap begitu. Auntie Naya sudah memberikan vitamin penyubur kandungan dua minggu sebelum kita menikah, kata Auntie Naya, biar aku cepat punya anak."
Fazel mengeratkan pelukannya. "Terimakasih sudah menyempurnakan hidupku." Ucapnya.
.
.
.
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....
__ADS_1