
"Kak ini bagus gak?" Tanya Rachel sambil memperlihatkan dekorasi pernikahan dilayar laptopnya.
Fazel melihat layar di laptop Rachel "Bagus." Jawabnya singkat.
"Semua Kakak bilang bagus, udah banyak yang aku tunjukin dibilang bagus semua. Kakak ga bisa bantu pilih apa kak? gak punya impian pernikahan apa Kak?" Tanya Rachel dengan kesal.
Fazel hanya tersenyum melihat calon istrinya itu, segala tingkah laku Rachel benar-benar menjadi mood booster Fazel setiap harinya.
"Hai, koq marah sih?" Tanya Fazel.
"Aku kayak cape sendiri, lihat dekorasi, lihat desain desain baju, kan aku nikah sama Kakak bukan nikah sendiri." Kesal Rachel.
Kekesalan Rachel membuat Fazel semakin menyukainya.
"Rachel Sayang, dengarkan Kakak ya. Impian pernikahan Kakak cuma satu, yaitu menikah sama kamu. Kakak ingin semua pernikahan kamu yang pilih karna Kakak ingin kamu tidak akan melupakan hari penting dan impian kamu. Tugas Kakak hanya mewujudkan apa yang kamu mau. Jadi jangan ngambek lagi ya." Jelas Fazel panjang lebar demi membuat Rachel tidak salah paham.
Perlahan Rachel mengangguk tanda mengerti. Fazel memang slalu bisa memberi pengertian pada Rachel, slalu mengalah dan slalu tau cara menghilangkan kekesalan Rachel, itulah mengapa Rachel slalu nyaman bersama Fazel.
"Setelah menikah kita tinggal dimana Kak?" tanya Rachel.
"Kita tetap tinggal sama Daddy dan Mommy ya Sayang. Aku gak tega ninggalin Daddy dan Mommy apa lagi sampai harus bawa kamu juga."
"Aku setuju Kak." Ucap Rachel dengan ceria.
"Harus setuju dong, kan nanti Kakak yang akan jadi kepala rumah tangga, jadi kamu harus mengikuti apa kata Kakak."
"Hemm siapa takut.. Asal jangan minta poligami aja."
Fazel tertawa, "Cari pengganti kamu aja gak bisa, bukan gak bisa tapi memang gak kepikiran. Apa lagi harus poligami. Cuma kamu dan Mommy wanita yang akan slalu Kakak jaga." Fazel merangkul pundak Rachel.
***
"Persiapan pernikahanmu sudah sampai mana Hel?" Tanya Sasha.
"Entahlah Mom, Rachel serahin aja ke WO, abis semua yang ditunjukin WO bagus-bagus. Rachel jadi pusing sendiri."
"Kan Mommy sudah bilang, serahkan semuanya sama WO, kamu tinggal bilang mau konsep seperti apa."
"Iya.. iya Mom.. Abisnya aku bosen gak ada kerjaan."
"Kenapa gak ikut kerja dikantor Daddy Hel." Sasha memberikan ide agar anak gadisnya punya kegiatan lain.
"Hmm.. Iya juga ya Mom. Biar aku bisa dekat terus Kak Fazel." Rachel tersenyum.
"Ah kamu ini Hel, gak cukup dirumah ketemu? Masih mau berlanjut dikantor."
"Mommy kaya gak pernah muda aja. memangnya dulu Mommy sama Daddy waktu pacaran gak pernah kangen apa?" Tanya Rachel.
Sasha teringat kejadian saat masa mudanya yang harus dijodohkan dengan Reyvan, dimana saat itu hatinya tidak siap untuk memulai dan bagaimana sakit hatinya saat Reyvan menyodorkan surat nikah kontrak dimalam pertamanya.
"Hel.." Panggil Sasha pelan.
__ADS_1
"Iya Mom.." Jawab Rachel.
"Harus bahagia dengan Kak Fazel ya.. Mommy sangat ingin kamu dan Fazel sama-sama bahagia. Rachel pun harus bisa memahami Fazel, kalian harus saling melengkapi." Ucap Sasha lembut dan dengan sorot mata sendunya.
Rachel menangkup wajah Sasha dengan kedua tangannya. "Apa Mommy sedih?" Tanyanya.
"Tidak sayang, Mommy tidak sedih, justru Mommy bahagia karna Rachel dan Kak Fazel saling mencintai, kalian menikah atas dasar cinta."
"Ahhh Mommy.. Terimakasih tlah mengerti aku dan Kak Fazel." Rachel memeluk Sasha.
***
"Cincin ini bagus ga Sayang?" Tanya Fazel saat disebuah toko perhiasan didalam Mall.
"Kakak sudah pesan?" Rachel balik bertanya, pasalnya mereka hanya ambil pesanan dan bukan memilih lagi cincin yang akan mereka beli.
Fazel mengangguk, "Kamu suka? kalo kamu gak suka bisa pilih yang lain lagi."
Rachel menggelengkan kepalanya, "Suka sekali Kak, cincin ini simple sekali, gak terlalu mencolok."
Fazel mengusap puncak kepala Rachel dengan sayang.
Selesai dari toko perhiasan, mereka berjalan-jalan mengitari Mall, Tangan mereka saling bergandengan percis seperti ABG yang sedang berpacaran.
"Mau beli apa lagi?" Tanya Fazel.
"Ga ada, aku lapar. Mau makan steak Kak. Tapi sebelumnya aku mau makan Ice cream." Jawab Rachel dengan begitu manja.
"Mau rasa apa?" Tanya Fazel sambil memegang pinggang Rachel dengan begitu possesif.
"Coklat Mix Vanilla tanpa Toping."
Fazel tersenyum, Wanita yang kini ada disisinya begitu ceria, sedari kecil Rachel adalah anak yang slalu ceria, sehingga membuat Fazel slalu nyaman dan percaya diri didekat Rachel.
Selesai memilih cincin dan makan siang bersama, mereka berlanjut untuk fitting baju pengantin.
Betapa Fazel terpesona saat melihat Rachel dengan gaun pengantin berwarna broken white,
"Cantik.." Gumam Fazel sambil tersenyum.
Fazel pun mencoba tuxedo dengan warna yang senada, Fazel terlihat sangat gagah dan semakin tampan.
"Kak kita kemana lagi?" Tanya Rachel setelah mereka keluar dari butik.
"Hem.. maunya kemana?" Tanya Fazel.
"Aku mau kerumah Oma, boleh Kak?"
"Boleh lah, Mommy juga ada disana kan. Kita kesana ya."
Fazel melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang hingga tiba dirumah Utama keluarga Rivano.
__ADS_1
"Calon pengantin berduaan mulu." Ledek Naya.
"Ishh apa sih Auntie.." Rachel tersipu malu.
"Ponakan Uncle bentar lagi udah jadi istri orang aja." Sahut Billy yang kemudian menghampiri Fazel dan Rachel.
"Beres Hel?" Tanya Sasha yang baru saja duduk disebelah Sasha.
"Beres Mom." Jawab Rachel yang menyandarkan kepalanya dibahu sang Mommy.
Fazel duduk bersama Billy, Reyvan dan Ayah dihalaman belakang.
"Gimana Zel proyek yang sedang kamu jalankan, ada kendala?" Tanya Ayah.
"Tidak Opa, sampai detik ini berjalan lancar." Jawab Fazel.
"Good.. Opa percaya kamu akan bisa bekerja memajukan Rivano Grup. Dan bagaimana persiapan pernikahan mu?"
"Terimakasih Opa, semua ini karna bantuan Daddy dan Uncle Bill. Soal pernikahan semua WO yang urus."
"Semoga semua berjalan lancar ya Zel, Opa sempat terkejut dengan keberanian kamu menikahi adikmu sendiri." Ayah tertawa.
"Maaf kalau Fazel mengecewakan Opa." Lirih Fazel.
"Tidak Zel, malah dengan kamu menikahi Rachel, kamu resmi menjadi keluarga Rivano. Opa juga menyayangimu. Dan Opa juga percaya kamu bisa menjaga Rachel."
Fazel tersenyum, "Terimakasih Opa."
"Dan untuk Namamu. Apa kamu akan memakai nama Fazel Rivano atau nama terdahulumu?"
"Kalo Opa mengijinkan, Fazel ingin memakai nama Rivano, nama yang Daddy berikan.. Lagipula karna kecelakaan bersama orang tua kandung Fazel, sebagian Memory masa kecil Fazel hilang, dan Fazel lupa nama keluarga Fazel.
"Opa mengijinkan dan dengan begitu, cicit Opa nanti tetap memakai nama Rivano." Ayah tertawa.
"Ayah, Fazel dan Rachel baru aja mau menikah. Sudah berbicara soal Cicit. Rey belum siap jadi Kakek." Sahut Reyvan.
Billy tertawa, "Opa Rey." Ledeknya.
"Sial lo Bill. lo juga kan pasti dipanggil Opa, Opa Bill." Jawab Reyvan.
Ayah berdecak, "Ck, kalian ini, sungguh menolak tua."
Ucapan Ayah membuat mereka berempat tertawa. Kebahagian yang semakin nyata dikeluarga Rivano.
.
.
.
.
__ADS_1
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....