
"Ra.. Aku kekampus dulu ya jemput Sasha." Ucap Fitto saat melihat jam diponselnya.
"Oke, hati-hati ya." Jawab Indira sambil menggendong Baby Rachel.
"Uncle jemput Mommy dulu ya princess, baik-baik sama Auntie Dira." Ucap Fitto pada Baby Rachel yang sedang berada dalam gendongan Indira, kemudian mengecup kening Rachel dan tanpa ragu, Fitto pun mengecup kening Indira.
Suster yang bekerja part time diapartemen pun juga pulang karna waktu bekerjanya memang sudah habis, dan biasanya Baby Rachel selalu dijaga oleh Indira ataupun Fitto saat sore.
Ting tong..
Suara bel pintu berbunyi.
Indira yang sedang menggendong Baby Rachel pun segera membuka pintu.
"Lho kamu siapa?" Tanya Mami Dhea Maminya Fitto.
"Hmm, maaf saya Indira." Jawab Indira.
"Kamu teman Sasha dan Fitto?" Tanya Mami Dhea kembali.
Indira mengangguk. "Iya Tante. Fitto sedang kekampus menjemput Sasha, saya disini menjaga Baby Rachel." Jawab Indira.
Mami Dhea tersenyum. "Saya Maminya Fitto, dari Jakarta dan baru tiba diJerman."
"Oh maaf Tante, saya tidak tau, silahkan masuk tante." Ucap Indira.
Mami Dhea masuk kedalam apartemen Fitto, "Apa ini anaknya Sasha?"
"Iya tante, ini Baby Rachel."
"Biarkan saya menggendongnya ya." Setelah mencuci tangan Mami Dhea meraih Baby Rachel dari gendongan Indira.
"Ya ampun Nak, kamu cantik sekali." Ucap Mami Dhea sambil menatap Baby Rachel.
Indira menyiapkan minum untuk Mami Dhea.
"Diminum Tan." Ucap Indira dengan ramah.
"Terimakasih. Kamu kuliah disini juga?"
"Iya tante, saya ambil spesialis mata."
Mami Dhea tersenyum, "Hem bagus itu, di Indo dimananya?"
"Bandung tan, saya dapat bea siswa untuk meneruskan kuliah disini."
"Sudah lama kenal Sasha dan Fitto?"
"Belum lama Tan, belum sampai setahun."
Tidak lama Fitto dan Sasha pulang keapartemen.
"Mami..." Seru Fitto terkejut saat melihat Maminya berada diapartemen dan menggendong Baby Rachel.
"Kenapa kaget? Mami baru ada waktu kesini, pengen lihat cucu mami yang menggemaskan ini." Ucap Mami Dhea.
"Sehat Mi?..." Tanya Sasha sambil berhambur memeluk Mami Dhea.
__ADS_1
"Sehat dong, kamu gimana? Asi nya lancar?"
"Lancar Mi.."
Mereka ngobrol bersama, sampai akhirnya Indira berpamitan pulang.
"Lho koq pulang? disini aja." Ucap Mami Dhea.
Indira tampak grogi.
"Hmm Mi, ada yang mau Fitto bilang." Sahut Fitto ragu-ragu.
Sebelumnya Sasha sudah tau hubungan Fitto dan Indira, sewaktu menjemput Sasha dikampus, Fitto menceritakan bahwa dirinya sudah resmi berpacaran dengan Indira, dan Sasha mendukung penuh Fitto dan Indira.
"Mau bilang apa?" Tanya Mami Dhea datar sambil meminum teh madu dicangkirnya.
"Ini Indira, pacar Fitto Mi.."
"Kamu udah berani pacarin anak gadis orang Fitt?" Tanya Mami sambil tertawa.
"Mana cantik begini, koq mau sama Fitto, Fitto tuh jomblo abadi tau Ra." Ucap Mami masih dengan tertawa dan menengok kearah Indira.
"Haissh Mami, tega banget sama anaknya." gerutu Fitto.
"Mami kira kamu gak suka cewek Fitt, Mami sama Papi tuh udah was-was aja karna kamu gak pernah mau punya pacar, slalu ngekorin Sasha sama Naya mulu. Udah gitu kamu milih kuliah di Jerman, Negara ini kan bebas dan bahkan banyak pasangan sesama jenis yang terang-terangan."
"Jadi Mami mikirnya gitu?" Tanya Fitto. "Fitto masih normal Mi, buktinya Fitto suka sama Dira." Ucap Fitto dengan wajah cemberutnya.
Mami Dhea tertawa. "Sha gimana menurut kamu?" Tanya Mami ke Sasha.
"Bagus sih Mi, selangkah lebih maju nih Fitto." Jawab Sasha.
"Gak usah pake pacaran Fitt, langsung nikahin aja Indira, mami gak sabar mau gendong cucu dari kamu."
"Ishh enak banget ngomongnya Mi, dikira Indira gak punya orang tua apa, kan minimal harus dilamar dulu Mi."
"Terus kalian mau nikah kapan?" Tanya Mami.
"Setelah lulus Mi, baru Fitto lamar Indira."
"Gimana Indira? mau nunggu Fitto?" Tanya Mami Dhea ke Indira.
"Dijalani aja Tan, kalau jodoh gak kemana." Jawab Indira.
Mami Dhea tersenyum.
***
Farah merasakan dirinya tidak enak badan. berapa hari ini dia merasa tubuhnya sangat lemas dan perutnya keram.
"Udah telat." Gumamnya dalam hati.
Farah tidak berani mengeluh kepada Darren dan mertuanya, mereka sudah cukup banyak beban mencari Sasha yang hilang sudah satu tahun ini.
Farah mampir keapotik dan membeli beberapa buah tespek berbeda. Setelah tiba diapartemen, Farah mencoba tespek tersebut dan hasilnya dua garis merah yang menandakan dirinya tengah positif hamil.
"Apa Darren akan bahagia?" Gumamnya dalam hati sambil melihat tespek tersebut.
__ADS_1
Farah menyimpan tespek tersebut didalam laci nakas sebelah tempat tidurnya.
"Tepat gak ya waktunya kalau ngomong sama Darren?" Gumam Farah, sedari tadi Farah terus berbicara dengan dirinya sendiri.
Jam sepuluh malam Darren baru tiba diapartemen, Mami Martha sudah tidur dikamarnya.
Dareen slalu pulang larut karna terus mancari info soal keberadaan Sasha.
"Mau makan Ren?" Tanya Farah dengan lembut.
"Aku tadi udah makan Far, aku mandi aja." ucapnya datar dengan nada lelah.
Darren bukan hanya lelah pikiran, dia juga lelah tenaga karna bisnisnya semakin berkembang, belum masalah merebut kekuasaan dari Papinya, membuat Darren benar-benar lelah.
Selesai mandi, Darren menyusul Farah yang sudah terbaring ditempat tidur dengan posisi membelakangi Darren.
Darren memeluk Farah dari belakang, Farah mengarahkan telapak tangan Darren agar berada percis diperutnya.
"Ada yang mau kamu bicarakan Far?" Tanya Darren.
Farah hanya menggelengkan kepalanya dengan posisi masih membelakangi Darren.
Darren memutar tubuh Farah agar mau menghadap dirinya kemudian menangkup wajah Farah dengan kedua telapak tangannya. "Ada apa? hem..?" Tanyanya dengan lembut.
Farah menggigit bibir bawahnya. "Aku gak tau ini tepat atau tidak, aku gak mau nambah beban pikiran kamu." Ucap Farah hati-hati.
Darren menaikan satu halisnya, "Ada apa?"
Farah mengambil posisi duduk dan membuka laci nakasnya, dia mengambil dua buah alat tespek yang sudah memperlihatkan hasilnya lalu memberikannya pada Darren.
Darren menerimanya kemudian terdiam, matanya mulai berkaca kaca. "Kita akan punya anak?" Tanya Darren dengan lembut.
Farah mengangguk. "Aku belum periksa, rencananya lusa baru mau periksa ke dokter kandungan."
Darren memeluk tubuh Farah. "Besok kita periksa ya, maafkan aku yang terlalu sibuk, dan terimakasih sudah memberiku kebahagian ini Far, aku sangat mencintaimu." Ucap Darren kemudian mencium kening Farah, lalu mencium perut Farah yang masih datar.
"Hai anak Papa, maafkan Papa ya Nak, sehat-sehat didalam rahim Mama, Papa janji akan menjaga kalian." Bisik Darren.
Farah tersenyum, dirinya sangat merasa bahagia memiliki Darren yang begitu menyayanginya.
"Memangnya kamu besok gak sibuk Ren?"
"Sesibuk apapun aku, aku harus sempatkan waktu untuk kamu dan anak kita."
"Papa siaga." Ucap Farah.
"Tentu dong, harus jadi Papa siaga dan Papa idaman untuk anak-anak kita nanti."
"Berarti lebih dari satu?" Tanya Farah.
"Biar rumahnya rame Far" Jawab Darren yang masih dengan posisi mengusap perut Farah.
.
.
.
__ADS_1
.
...Bantu Vote, Tinggalkan Like dan Komentar ya Agar Author Semakin Bersemangat Up Ceritanya"...