
"Ice cream." Seorang pria memberikan Ice cream pada Rachel yang sedang asik melamun ditaman kampus.
"Makasih Arlan." Ucap Rachel dan menerima Ice cream dari tangan Arlan.
Kini Usia Rachel sudah menginjak dua puluh satu tahun, dan kini Rachel tengah menyelesaikan skripsinya. Arlan adalah seorang pria yang dekat dengan Rachel dari awal masuk kampus, tidak dipungkiri bahwa pesona Rachel mampu mengalihkan pandangan Arlan sehingga Arlan dengan setia menunggu Rachel selama empat tahun ini.
"Gimana bimbingannya?" Tanya Arlan dengan lembut.
"Revisi lagi nih Lan, aku kurang fokus sama skripsi aku." Jawabnya dengan tidak bersemangat.
"Semangat dong princess." Ucap Arlan memberikan Rachel semangat sambil mengacak-ngacak rambutnya Rachel.
Arlan sering memanggil Rachel dengan panggilan Princess, ia sering mendengar keluarga Rachel yang slalu memanggilnya begitu.
Arlan juga merupakan pria yang hangat dan humoris, membuat Rachel bisa dengan mudah dekat dengan Arlan.
"Aku mau pulang ya Lan, udah janji sama Mommy mau pulang cepet." Ucap Rachel.
"Bawa mobil?" Tanya Arlan.
"Bawa Lan, aku kira kamu gak kekampus hari ini, jadi aku bawa mobil sendiri."
"Aku pasti kekampus kalo kamu kekampus Hel."
Rachel tersenyum, "Makasih ice cream nya Arlan."
Arlan mengantar Rachel hingga keparkiran, "Hati-hati nyetirnya." Ucap Arlan sebelum Rachel melajukan mobilnya.
Sebenarnya Rachel hanya beralasan untuk pulang cepat pada Arlan, dirinya tengah tidak Mood dan lebih suka menyendiri.
Rachel berjalan menuju kamarnya, rumahnya selalu sepi. Sasha selalu berada dirumah sakit hingga sore hari, dan Reyvan juga slalu sibuk dikantor. Zio punya hobinya sendiri bermain Futsal bersama Nabil, dan Eksa.
Seperti biasa, Rachel selalu masuk kekamar Fazel yang slalu ia lewati sebelum akhirnya ia masuk kekamarnya sendiri.
Rachel duduk ditepi tempat tidur Fazel, memandang foto keluarga mereka delapan tahun yang lalu saat lulus SMA.
"Orang terjahat." Gumam Rachel sambil tersenyum dan mengusap figura foto itu.
"Delapan tahun sudah Kak, harusnya Rachel bisa lupain Kakak." Gumam Rachel lagi kemudian meletakkan kembali foto tersebut diatas nakas.
***
"Sayang, gimana skripsimu?" Tanya Reyvan pada Rachel saat selesai makan malam.
"Masih revisi di Bab yang sama Dad." Jawab Rachel sambil bersandar pada bahu Reyvan.
Dari kecil Rachel memang slalu manja pada Reyvan, dan Reyvan pun sangat memanjakan putri satu-satunya tersebut.
"Beres kuliah ini kamu mau terusin kemana Hel?" Tanya Sasha.
__ADS_1
"Kerja Mom, Rachel mau kerja dikantor Daddy aja."
"Gak mau nerusin S2 Hel?" Tanya Sasha mendalam.
"Engga Mom, Rachel mau langsung kerja aja."
"Arlan selesai kuliah lanjut kemana?" Tanya Sasha lagi pada Rachel.
"Gak tau Mom, katanya sih maunya ke Singapura sekalian kelola kantor cabang Papanya disana. Tapi Arlan masih labil."
"Kamu masih belum kasih jawaban sama Arlan? empat tahun loh Arlan nunggu kamu Hel." Goda Sasha.
"Ah Mommy.. jangan bahas Arlan dong Mom. Jodoh gak kemana, gak jodoh sama Arlan juga gapapa."
"Beres Rachel skripsi, kita ke Amrik yuk Hel, Uncle Radit kangen sama Rachel. Kak Fazel juga pasti seneng banget kalo kita kesana." Ajak Reyvan.
"Iya Dad, lihat nanti aja, skripsi Rachel juga belum selesai, masih revisi terus."
"Rachel gak kengan sama kak Fazel?" Tanya Sasha.
"Kangen lah Mom, mana ada adik yang gak kangen Kakaknya. Udah ah Mom Dad, Rachel tidur duluan." Rachel berdiri dan mencium pipi Reyvan, kemudian mencium pipi Sasha.
Reyvan pun mengajak Sasha masuk kedalam kamar mereka. "Delapan tahun Sha, Fazel bilang bulan depan akan kembali kesini." Ucap Reyvan sambil mendekap Sasha diatas tempat tidur.
"Perasaan mereka gimana ya Mas sekarang? Rachel dekat dengan Arlan sudah empat tahun, tapi masih belum memberi jawaban pada Arlan. Dan di Amrik, Ara bilang Fazel dekat dengan dengan seorang wanita. Aku cuma takut ada yang tersakiti." Lirih Sasha.
"Mungkin ini yang dinamakan cinta terlarang Sha, ada aja rintangannya."
Reyvan menghela nafas, "Kamu siap kehilangan Fazel sebagai anak dan menjadikan Fazel menantu kamu?"
"Yang aku pikirin perasaan Fazel Mas, kenapa jadi begini ya Mas?" Sasha pun hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya.
***
"Ciyee yang mau pulang." Goda Ara pada Fazel yang mulai membereskan barang-barangnya.
Fazel menoleh kearah Ara, "Ah Kak Ara ini bikin aku kaget aja."
"Gak balik kesini lagi dong Zel, terus hubungan kamu sama Zidney gimana?"
"Gak gimana-gimana Kak, aku kan sama Zidney cuma temenan aja."
"Temen tapi mesra ya Zel." Ledek Ara lagi.
"Kak Ara stop Bully aku terus." Ucap Fazel.
Ara tertawa, "Kamu ini terlalu serius Zel, gak kebayang nanti yang jadi istri kamu gimana, harusnya kamu tuh jadian aja sama Zidney, cuma dia yang ngertiin kamu dan tau karakter kamu."
Fazel berdecak, "Apa sih Kak Ara, aku belum mikir nikah. Aku mau banggain dan jagain Daddy Rey dan Mommy Sha dulu. Juga Rachel dan Zio."
__ADS_1
"By the way, Rachel semakin cantik ya Zel, kemarin aku lihat postingan dia dimedsosnya. Percis banget sama Auntie Sha. Pasti banyak cowok yang ngejar-ngejar Rachel ya Zel."
Fazel diam enggan menanggapi omongan Ara.
"Koq diem sih Zel? tiap Aku ajak ngobrol soal Rachel kamu slalu gak respon."
"Ya terus aku harus jawab apa Kak? aku kan udah delapan tahun gak ketemu Rachel, gak tau kehidupan Rachel sekarang seperti apa?" Jawab Fazel.
***
"Kamu beneran pulang Zel?" Tanya Zidney.
Saat ini mereka sedang berada disebuah taman.
"Keluargaku disana Zid." Jawab Fazel dengan tetapan lurus kedepan.
"Lalu aku? apa kedekatan kita selama ini tidak kamu anggap?"
"Zid, aku tidak pernah memberikan harapan apapun padamu. kedepannya kita seperti apa hanya takdir yang tau."
"Keluargaku sudah tau kedekatan kita Zel." Lirih Zidney.
Fazel menghela nafas. "Zid, kamu yang membuat masalahmu jadi rumit sendiri. Aku tidak pernah menjanjikan apa-apa untuk kamu.
"Tapi Zel.."
"Zid, keluargaku menungguku pulang, ada kedua adikku yang harus aku jaga. Aku ini anak sulung mereka, mereka menaruh harapan besar padaku Zid."
Zidney menghela nafasnya, "Bolehkah aku menyusulmu ke Indo?."
Fazel mengangguk, "kita adalah teman Zid, kamu boleh mengunjungi aku. Beritahu aku jika kamu akan berkunjung ke Indo."
Zidney tersenyum. "Kamu tau kan Zel, aku begitu menyukaimu."
"Maafkan aku Zid." Gumam Fazel.
***
Bagi Fazel, cintanya hanya untuk Rachel. Selama delapan tahun hanya Rachel yang terus mengisi hati dan pikirannya. Hanya Rachel tujuan terakhirnya, satu-satunya orang yang harus ia jaga dan ia lindungi.
Fazel tidak perduli dengan statusnya sebagai Kakaknya Rachel. Ia mengetahui percis bahwa dirinya hanyalah anak adopsi dan tidak ada hubungan darah dengan Rachel.
"Semoga Mommy dan Daddy mengerti." gumam Fazel sesaat sebelum menaiki pesawat yang akan membawanya pulang ke negara yang sudah delapan tahun ia tinggalkan.
.
.
.
__ADS_1
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....