
"Anak ini adalah anakku bersama Reyvan, saat kalian menikah, saat itu juga aku sedang mengandung." Ucap Sherin.
Sasha menatap anak yang pendiam itu, anak itu tidak mengeluarkan suara sama sekali.
"Setahun yang lalu aku dan Reyvan bertemu kembali, dan kami melakukan tes DNA, hasilnya adalah, anak ini anak Reyvan." Sherin memberikan kertas hasil tes DNA kepada Sasha, dengan teliti Sasha membacanya.
"Tidak ada urusannya denganku." Ucap Sasha.
Sasha menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar. "Masa lalu mas Rey bukan urusanku, anak ini ada sebelum aku menikah dengan Mas Rey, jadi aku akan menerimanya." Ucap Sasha.
Sherin sangat geram mendengar jawaban Sasha, ini diluar rencananya yang ingin membuat Sasha marah dan meninggalkan Reyvan sehingga Reyvan akan kembali pada Sherin.
"Apa kamu tidak punya perasaan Sha? anak ini hanya korban, bahkan sampai sekarang tidak mempunyai akta kelahiran karna tidak adanya pernikahan antara aku dan Reyvan."
Hati Sasha mulai goyah, benar sekali apa kata Sherin, anak ini hanya korban dari keegoisan orang disekitarnya.
"Reyvan tidak mau menikahiku Sha, karna dia sudah menikah denganmu, tapi anak ini butuh keluarga Sha, Reyvan sangat menyayangi anak ini tapi tertahan karna dia menjaga perasaan kamu Sha."
"Lalu mau kamu apa?" Tanya Sasha.
"Tinggalkan Reyvan Sha, demi Fazel. Bahkan Fazel dia mengalami trauma karna itu dia berbeda, dia harus slalu dekat dengan Ayah dan Ibunya, harus ada yang slalu dekat dengannya, sementara Reyvan tidak setiap hari berada disamping Fazel."
"Diantara kalian tidak ada anak Sha, tidakkah kamu berfikir bahwa Reyvan sangat menginginkan anak, bahkan dia sangat menyayangi Fazel."
"Silahkan keluar, saya rasa tidak ada yang harus dibicarakan lagi." Ucap Sasha dengan tegas.
Sherin berdiri dari duduknya. "Pikirkanlah kembali Sha, anak ini butuh Reyvan."
Sherin keluar dari ruangan dengan senyum liciknya, Fitto bergegas masuk kedalam ruangan mereka, sebelumnya Fitto sudah meminta ijin karna Sasha tidak bisa mendampingi dokter firdaus dengan alasan kurang sehat.
"Sha..." Panggil Fitto.
Sasha yang sedang menunduk diatas mejapun langsung menatap Fitto. "Gue harus gimana Fitt." lirih Sasha yang kemudian disusul dengan buliran bening yang keluar dari matanya.
"Anak itu anak mas Rey Fitt, gue harus gimana." Sasha mulai terisak sambil menutup wajahnya.
Fitto berdiri disebelah Sasha yang sedang duduk dan merangkul kepala Sasha di perutnya. "Kita pikirkan jalan keluarnya ya Sha." Ucap Fitto sambil mengusap kepala Sasha.
"Naya jangan sampai tau ya Fitt."
"Iya Sha.."
"Fitt, bantu gue ajukan jadwal piket setiap hari di IGD."
"Gak mungkin tiap hari banget Sha, kondisi tubuh lo juga harus dipikirkan. Dan lo jangan menghindar terus Sha."
"Gue bukan menghindar Fitt, gue butuh waktu berfikir untuk seminggu ini tanpa bertemu dengan Mas Rey."
Fitto menghela nafa, "Baiklah Sha, dan gue akan temenin lo piket di IGD tiap malam, gue mau sebelum gue berangkat ke jerman masalah lo udah selesai."
Sasha mengangguk dan tersenyum, dia sangat beruntung memiliki sahabat yang sangat baik seperti Fitto, slalu ada disaat Sasha membutuhkannya.
Tiga hari berlalu, Naya curiga soal Sasha yang slalu piket setiap malam di IGD, dan Reyvanpun merasa ada keanehan pada diri Sasha, pasalnya Sasha susah dihubungi.
__ADS_1
Malam itu Reyvan menyusul Sasha ke rumah sakit. Mereka duduk bersama di cafetaria rumahsakit.
"Sayang, kenapa bisa piket tiap hari?" tanya Reyvan.
Sasha menyesap kopi latte nya, "Namanya juga tuntutan kerja mas, masih mending aku gak kepilih untuk diluar pulau." Jawabnya dengan senyum tipis.
"Aku kangen kamu Sha." lirih Reyvan.
Sasha kembali keruangan, dia dan Fitto berisitirahat diruangan sambil menunggu panggilan darurat dari IGD, waktu menunjukan pukul sebelas malam.
"Sha.." Panggil Fitto.
"Gue putuskan bercerai dengan Mas Rey Fitt, tapi gue yakin Mas Rey gak akan mau bercerai sama gue."
"Sha lo pikirin mateng-mateng dulu." bujuk Fitto.
"Anak itu gak berdosa Fitt, Mas Rey gak akan nikahin Sherin kalau gue masih terus jadi istri mas Rey, diantara gue sama Mas Rey gak ada anak, tapi diantara Sherin dan Mas Rey sudah ada anak, gue gak boleh egois."
"Lo yakin Sha?"
"Gue akan urus perceraian gue dan untuk sementara gue pergi dari jakarta Fitt, gue nerusin spesialis gak disini, sampai semuanya bisa terkendali."
"Lo mau kemana Sha?" Tanya Fitto.
"Gue belum tau Fitt." lirih Sasha.
"Ikutlah dengan Fitto ke Jerman Sha." Sahut Mami Dhea yang merupakan Maminya Fitto dan seorang dokter unggulan specialis kandungan.
"Mami tadi ada panggilan operasi secar, dan setelah selesai mau lihat kamu disini, gak sengaja mami nguping pembicaraan kalian." Ucap Mami Dhea dengan santai.
"Bagaimana Sha, kamu mau ikut Fitto ke Jerman, Mami tidak bisa melepas Fitto sendirian disana."
"Maaf Mi,, tapi tabungan Sasha tidak cukup kalau harus kuliah diluar negri." Ucap Sasha.
"Kamu gak perlu khawatir Sha, Semua akan mami tanggung, kamu hanya perlu sekolah disana bersama Fitto, dan kembali untuk menjadi dokter unggulan dirumah sakit ini kembali."
"Tapi Mi, ini bukan biaya sedikit."
"Sha, anak Mami hanya Fitto, dia menganggap kamu sebagai adiknya, dan Mami menyayangi kamu."
"Tapi Mi, Sasha gak mau ada yang tau soal ini."
"Kamu tenang aja, Mami dan Papi akan atur semuanya. siapkan dokumen-dokumen kamu, kamu hanya tinggal berangkat."
Sasha menatap Fitto dan Fitto mengangguk.
Fitto menyetujui ini, buat dirinya lebih baik Sasha ikut dengannya ke Jerman daripada Sasha harus menghilang seorang diri.
Sasha mulai mengurus dokumen-dokumen yang diperlukan lalu menyerahkannya kepada Mami Dhea, Sasha juga mulai menyiapkan berkas perceraiannya dan bukti-bukti karna Reyvan sudah membohonginya selama satu tahun ini.
"Nay, gue mau kasih ini." Ucap Sasha saat dikamar Naya.
"Apa Sha."
__ADS_1
"Kado nikahan lo sama Billy."
"Ya ampun Sha, masih tiga bulan lagi."
"Gue mau kasih sekarang, lo buka tiga bulan lagi, takut gue lupa Nay." Alasan Sasha.
Tanpa curiga, Naya menerima kado dari Sasha dan menyimpannya di lemari nakas.
Sasha menghampiri Bunda,
"Bun, ini stock obat untuk Bunda, inget ya bunda jangan cape-cape dan jangan banyak pikiran." Ucap Sasha sambil memeluk Bunda.
"Banyak sekali Sha?"
"Iya Bun, untuk stock bunda, Sasha takut mulai sibuk kuliah spesialis dan kerja juga dirumah sakit, takut gak inget kalau obat bunda habis." Jawabnya.
Sasha datang keapartemen Darren.
"Mami.." Peluk Sasha dengan manja.
"Udah jarang kesini nih bu dokter." Sahut Farah.
"Sibuk Kak." Jawab Sasha sambil nyengir.
"Sok sibuk bu dokter." Sahut Darren.
"Kak Darren.." Panggil Sasha lalu berhambur memeluk Darren.
"Tumben manja." Ucap Darren sambil mengusap kepala Sasha yang berada dalam pelukannya.
"Lagi pengen dimanja sama Kak Darren, lagi pengen makan masakan Mami juga."
"Makanya jangan sibuk terus Sha, jadi stres kan, tuh mata panda kelihatan banget."
Sasha hanya tersenyum.
Sasha memutuskan menginap diapartemen Darren, dan tidur bersama Mami Martha.
"Mam.. Apa Mami masih mencintai Papi?" tanya Sasha demgan posisi tiduran dengan kepala dipangkuan Mami Martha, dan Mami Martha mengusap kepala Sasha.
"Slalu ada cinta untuk Papi Sha, tapi Mami mencoba menguburnya, Mami tidak mau egois mengekang Papi, jika dia lebih bahagia dengan wanitanya itu, Mami akan melepaskannya."
Jawaban dari Mami Martha membuat Sasha semakin mantap akan rencananya.
.
.
.
.
...Bantu Vote, Tinggalkan Like dan Komentar ya Agar Author Semakin Bersemangat Up Ceritanya"...
__ADS_1