
Fazel masuk kekamarnya setelah mengantar teman-temannya pulang sampai keteras rumah. Ia bergegas masuk kedalam kamarnya untuk mandi sore. Dilihatnya Rachel yang tengah tertidur diatas tempat tidur milik Fazel.
"Huff." Fazel membuang nafasnya dengan kasar saat melihat Rachel dikamarnya.
Fazel perlahan mendekat keatas tempat tidur dan duduk ditepi tempat tidur. Ia merapihkan anak rambut Rachel yang menutupi sebagian wajahnya.
"Hell, bangun.. udah sore." Ucapnya dengan lembut.
Rachel menggeliat, perlahan mengerjapkan matanya.
"Kenapa Rachel tidur disini? kenapa gak dikamar Rachel?" Tanya Fazel.
"Rachel marah sama Kakak!!" Rachel mengambil bantal yang menganggur kemudian menutup wajahnya dengan bantal tersebut.
"Hel.." Panggil Fazel lagi namun Rachel masih tetap mendiami Fazel.
Fazel menarik nafasnya kembali dan membuangnya secara kasar.
"Okey, Kakak salah, Rachel mau hukum Kakak Apa?" Tanya Fazel. Dirinya sudah merasa lelah seharian ini sehingga enggan berdebat lebih dengan Rachel.
Dari balik bantal, Rachel tersenyum.
"Ice Cream!!" Jawabnya.
"Baiklah, mandilah dulu, nanti kita pergi ke minimarket dekat rumah membeli ice cream." Ucap Fazel.
Rachel bangun dari tempat tidur, kemudian mencium pipi Fazel, "Trimakasih Kak Fazel." Ucap Rachel kemudian kembali kedalam kamarnya sendiri.
***
"Koq Zio dan Nabil ikut juga Kak?" Tanya Rachel dengan heran saat melihat Zio dan Nabil sudah berada diteras rumah.
"Zio diajak Kak Fazel, katanya mau dibeliin Ice cream." Sahut Zio.
"Nabil juga diajak Kak Fazel." Sahut Fazel juga.
"Zi, Bil, dirumah aja. Nanti Kak Rachel bawain Ice creamnya." Ucap Rachel.
"Gak mau, nanti meleleh dijalan. Mau makan disana langsung sama Kak Fazel." Jawab Zio.
"Udah sih Hel, biarin Zio sama Nabil ikut. Kamu mau ikut apa engga? kalo engga Kakak tinggal." Ucap Fazel yang masuk kedalam mobil.
Mau tidak mau akhirnya Rachel mengikuti Fazel yang membawa Zio dan Nabil.
***
Setahun berlalu, kini Fazel naik kekelas tiga SMA, dan Rachel mulai mengenakan seragam SMP nya. Betapa senangnya Rachel ketika satu sekolah dengan Fazel meski berbeda tingkat.
"Fazel.." Sapa Vanessa.
"Hai Vanes." Sapa Fazel balik sambil membuka helm nya.
Vanessa melirik kearah Rachel, dan Fazel menyikapinya.
"Ini Rachel adikku, dia baru masuk SMP disini juga." Ucap Fazel menjelaskan.
"Adik kamu cantik." jawab Vanessa.
__ADS_1
"Hell, kamu langsung ke kelas kamu ya, Kakak gak bisa antar." Ucap Fazel.
Rachel merasa kesal dengan sikap Fazel didepan Vanessa.
"Anterin dulu Kak, aku masih takut." Jawab Rachel.
"Kan udah seminggu sekolah Hel, masa masih takut aja. Kakak harus kekelas."
Wajah Rachel berubah seketika.
"Yaudah ayo Kakak antar!!" Fazel mengalah lagi untuk adiknya.
"Zel, aku temenin ya." Sahut Vanessa.
Fazel menengok kearah Vanesa dan terseyum. "Makasih Van." Jawab Fazel.
Setelah tiba didepan kelas Rachel, Fazel meninggalkan Rachel, Ia kembali kekelasnya bersama Vanessa, sesekali Fazel tersenyum dan sedikit tertawa saat berjalan beriringan bersama Vanessa.
"Bengong lo Hel?" Sapa Tasya teman sekelas Rachel.
"Apa sih lo." Jawab Rachel.
Mata Tasya melihat kearah mata Rachel memandang.
"Abang lo sama Kak Vanessa ya, mereka digosipin pacaran, katanya sih best couple di SMA udah dari tahun lalu, bikin semua orang iri, soalnya abang lo dingin sama cewek, cuma sama Kak Vanessa dia terbuka." Ucap Tasya yang masih memandang Fazel dan Vanessa.
"Gosip dari mana?" tanya Rachel.
"Kan abang gue sekelas sama Kak Fazel juga Hel, jadi gue tau gosip-gosip di SMA."
***
"Mommy.." Panggil Rachel dengan pelan saat Sasha menyisir rambut panjang Rachel sebelum tidur.
"Iya, kenapa sayang?" Tanya Sasha.
"Hmm, apa Kak Fazel boleh punya pacar Mom?" Tanya Rachel dengan hati-hati.
"Pacar?" Sasha mengerutkan dahinya.
Rachel mengangguk. "Disekolah, Kak Fazel digosipin dekat sama Kak Vanessa, kata teman-teman Rachel, mereka itu best couple udah dari tahun lalu."
"Oh ya? Apa cantik Hel?" Tanya Sasha.
"Masih cantikan Rachel dong Mommy." Jawab Rachel dengan pede.
"Hmm.. Apa Kak Fazel begitu dekat dengan Vanessa?" Tanya Sasha lagi.
"Yang Rachel lihat iya Mom, bahkan Kak Fazel tertawa bersama Kak Vanessa, sering tersenyum ke Kak Vanessa." Jawab Rachel lagi.
Sasha tidak menjawab, dan masih terus merapihkan rambut Rachel.
"Apa Mommy mengijinkan Kak Fazel punya pacar Mom?" Rachel masih bertanya hal yang sama.
"Selama Kak Fazel masih tau kewajibannya dan tau batasannya, Mommy mengijinkan." Jawab Sasha.
"Kenapa Mommy ijinin Kak Fazel punya pacar? Kan Kak Fazel masih sekolah Mom." Ucap Rachel.
__ADS_1
Sasha melihat ada yang tak beres dengan Rachel yang begitu marah.
Setelah menemani Rachel hingga tertidur, Sasha melihat Zio kemudian mendatangi kamar Fazel.
"Belum tidur kah anak Mommy?" Tanya Sasha.
"Belum Mom, masih ngerjain PR." Jawab Fazel.
"Masih banyak PR nya?" tanya Sasha.
"Ini sudah selesai Mom." Fazel menutup bukunya dan merapihkannya kembali kedalam ranselnya.
"Boleh Mommy ngobrol sama Fazel sebentar?"
Fazel mengangguk. "Ada apa Mom?"
Sasha menghela nafas, tangannya terulur membelai rambut Fazel. "Apa Fazel mempunyai pacar?" Tanya Sasha.
"Pasti Rachel ngadu macam-macam ya sama Mommy."
Sasha tertawa, "Fazel gak mau cerita sama Mommy?"
"Mom, Vanessa bukan pacar Fazel. Fazel emang dekat dengan Vanessa, tapi bukan sebagai pacar, kami hanya teman dekat."
"Apa Fazel menyukainya?" Tanya Sasha.
"Suka dalam artian Vanessa sebagai teman Fazel Mom, gak lebih." Jawab Fazel.
"Fazel ingin membuat Mommy dan Daddy bangga dulu, Fazel gak mikirin pacaran Mom." jawab Fazel lagi.
Sasha tersenyum. "Mommy sudah bangga sekali dengan Fazel."
"Sekarang tidurlah, sudah malam ya." ucap Sasha kemudian mengecup kening Fazel putra sulungnya itu.
Sasha masuk kedalam kamarnya dan menghampiri Reyvan yang masih memangku laptopnya.
"Mas.. Aku setuju untuk menguliahkan Fazel diluar negri." Ucap Sasha.
Reyvan mematikan laptopnya dan menaruhnya dimeja, lalu naik kembali keatas tempat tidur dan merangkul Sasha. "Ada apa?" Tanya Reyvan.
"Kamu benar, Fazel akan lebih percaya diri jika mengenal dunia luar. Tapi aku ingin Fazel tinggal bersama Mas Radit dan Ara, biar bisa ada yang memantau." ucap Sasha.
Kini Radit dan Ara memilih pindah ke Amerika dan mengelola kantor cabang disana.
"Baiklah, berarti kita akan menguliahkan Fazel di NewYork, nanti aku coba bicarakan dengan Billy dan Ayah lagi." Jawab Reyvan.
Sasha terpaksa memindahkan Fazel keluar negri, ia begitu khawatir dengan sikap Rachel yang begitu possesif terhadap Fazel. Walaupun Fazel bukan Kakak kandung Rachel, tapi Sasha menyayangi Fazel layaknya anak yang ia lahirkan dari rahimnya sendiri. Sasha tidak mau jika sampai nanti Rachel mencintai Kakaknya sendiri. Karna bagaimanapum, perasaan Fazel juga harus dipikirkan, jangan sampai Fazel sampai merasa terpaksa jika memang harus mencintai Rachel.
.
.
.
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....
__ADS_1