
"Kak.. Jangan kerja." Rengek Rachel sembari memeluk Fazel dari belakang dan menyandarkan kepalanya dipunggung Fazel.
Fazel tersenyum lalu membalikan tubuhnya dan balik memeluk Rachel, "Hari ini Kakak ada Rapat akhir bulan dengan semua divisi, gak bisa di cancel." Ucapnya menjelaskan sambil mengelus kepala Rachel.
"Tapi masih pengen ditemenin." Lirih Rachel.
"Ada apa? hem?" Tanya Fazel lembut sambil mengendurkan sedikit pelukannya untuk menatap wajah istri tercintanya itu.
Rachel menggelengkan kepalanya. "Aku bosan dirumah."
Sudah Tiga bulan mereka menikah, namun belum ada tanda-tanda Rachel berbadan dua. Rachel juga tidak bekerja sehingga full dirumah dan itu membuatnya bosan dan jenuh.
"Bersiaplah, ikut Kakak kekantor ya." Ajak Fazel.
"Hah? mau ngapain Kak?" Tanya Rachel dengan terkejut.
Fazel memegang kedua bahu Rachel dan sedikit menunduk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Rachel. "Hel, hari ini Kakak ada rapat yang gak bisa kakak tinggalkan, dan Kakak juga gak mau ninggalin kamu sendiri dirumah, ayo ikut Kakak kekantor, setidaknya kamu bersama Kakak." Ucap Fazel lembut.
Seketika wajah Rachel berubah dengan senyum mengembangnya. "Aku sayang sekali sama Kakak." Rachel memeluk erat Fazel dan Fazel menyambutnya.
Tiba dikantor Rivano Group,
Semua orang memandang kearah Fazel dan Rachel, pasangan yang sangat serasi itu tak hentinya memamerkan kemesraan, Fazel tak pernah melepas tangan Rachel dan Rachel dengan penuh senyum berada disisi Fazel.
"Zel rapat dimulai lima belas menit lagi." Ucap Kenzo sang asisten kepercayaan.
"Siapkan kursi tambahan yang nyaman disebelah gue Ken, untuk Rachel." Jawab Fazel sambil melihat berkas-berkas.
"Rachel ikut rapat?" Tanya Kenzo heran.
"Iya.. kasian kalo harus nunggu disini ber jam-jam." Jawab Fazel datar.
Kenzo menganggukan wajahnya, "Baiklah."
Fazel menggandeng tangan Rachel memasuki ruangan rapat, disana sudah ada perwakilan semua divisi dan tentunya dihadiri pula oleh Reyvan dan Billy sekalian untuk memgevaluasi kinerja Fazel.
Semua mata tertuju pada Fazel yang tetap menggandeng erat tangan Rachel hingga duduk ditempat yang sudah disediakan oleh Kenzo.
"Duduk disini ya." Lalu Fazel mengeluarkan headset dari sakunya, "Biar gak bosen, sambil nonton atau dengar musik." Bisik Fazel dengan lembut sambil mengusap puncak kepala Rachel.
"Apa gak apa-apa Kak?" Tanya Rachel dengan pelan.
Fazel hanya tersenyum, "Gapapa." Kemudian Fazel mencium punggung tangan Rachel dengan lembut sebemum akhirnya dirinya mulai fokus kepada rapat.
Reyvan dan Billy yang melihat keromantisan Fazel pada Rachel hanya saling berbisik.
"Menantu gue tuh. Bucin banget sama Rachel." Bisik Reyvan.
Billy mengangguk, "Percis lo dulu, bucin sama Sasha, tapi Fazel lebih-lebih bucinnya sampe berani bawa Rachel keruang rapat. Gila sih ini."
"Haish.. Untung Rachel anak gue, kebayang kalo Fazel nikah sama orang lain, dia bawa istrinya kesini."
Billy tertawa, "Beruntung banget Rachel diperlakukan bak princess sama Fazel."
***
__ADS_1
Rachel merasakan tubuhnya ada yang berbeda, sudah berapa hari ini ia merasakan ada yang berbeda dengan tubuhnya.
Rachel berinisiatif untuk mencoba test kehamilan menggunakan testpack.
"Arghh." Teriaknya sambil membekap mulutnya sendiri saat melihat hasilnya, dua garis merah terlihat nyata dan begitu jelas.
"Gue hamil?" Tanyanya pada diri sendiri sambil tersenyum dan memgelus perutnya yang masih rata itu.
"Benarkah kamu ada disini sayang?" Tanya Rachel lagi sambil menunduk pada perutnya dan tetap mengusapnya.
Rachel bergegas keluar kamar mandi dan segera mengambil ponselnya. Dia menelpon Naya untuk bertemu dirumah sakit.
Rachel sengaja tidak memberitahu dulu kepada Fazel, ingin memberi kejutan pada Fazel.
Tiba dirumah sakit X milik keluarga Fitto, tempat dimana Sasha dan Naya berpraktik juga.
Rachel memarkirkan mobilnya dan segera turun, seketika pandangannya tertuju pada tukang rujak disebrang rumah sakit.
"Hmm rujak, kayanya enak nih, lebih baik beli rujak dulu, nanti bisa dimakan diruangan auntie Nay." Gumamnya.
"Bang rujak satu ya, bumbu rujaknya dipisah." Ucap Rachel.
Setelah menerima rujak itu, Rachel kembali menyebrang menuju rumah sakit, namun langkahnya terhenti ketika seorang bapak tua menariknya dan berteriak "Awas!!"
Rachel terkesiap, dirinya hampir saja tertabrak pengendara motor.
"Kamu gapapa?" Tanya Bapak tua itu.
Rachel memijat pelipisnya, "Gapapa Pak, terimakasih." Ucapnya.
"Terimakasih Pak." Jawab Rachel sembari menerima dan meminumnya.
"Hati-hati kalo menyebrang, ini jam ramai, banyak kendaraan lewat."
"Iya Pak, tadi saya tidak lihat."
"Kamu mau kerumah sakit?"
"Iya Pak."
"Kalau begitu ayo bapak sebrangkan kamu." Bapak tua itu dengan hati-hati membantu Rachel menyebrang dan mengantarnya hingga pintu loby rumah sakit.
Sesekali Bapak tua itu melihat kedalam loby seperti mencari seseorang.
"Bapak cari siapa?" Tanya Rachel.
"Oh engga, saya hanya melihat barangkali ada yang saya kenal disini." Jawab Bapak itu.
"Apa bapak mengenal seseorang disini?" Tanya Rachel.
"Tidak, saya sopir taxi online, kadang mengantar penumpang kesini, barangkali ada penumpang saya, lumayan kalo ada yang mau off line." Jelas bapak tua itu.
"Bapak sering mangkal disebrang jalan sana?" Tanya Rachel penasaran.
"Hanya sesekali, kebetulan warteg disebrang jalan langganan saya."
__ADS_1
"Baiklah, saya permisi ya, sekali lagi kamu hati-hati ya jika menyebrang jalan." Pamit bapak tua itu.
"Ah iya Pak, terimakasih ya Pak." Jawab Rachel kemudian mereka berpisah didepan loby.
"Rachel..." Panggil Fitto yang kebetulan berada di loby utama rumah sakit.
Rachel menoleh dan langsung berhambur kepelukan Fitto. "Uncle Fitt."
Fitto memeluk dan mencium puncak kepala Rachel. "Anak Uncle Fitt sedang apa disini?"
"Mau ketemu Auntie Nay." Jawabnya sambil tersenyum.
"Auntie Nayy? hemm apakah ini tanda-tanda anak Uncle akan segera memberikan Uncle seorang cucu yang lucu?"
Rachel mengangguk sambil tersenyum.
"Ohh Rachel anak Uncle, kenapa secepat ini kelucuan kamu hilang, Uncle belum siap jika harus mempunyai cucu."
Rachel tertawa, "Ayolah Uncle, harusnya Uncle kan seneng."
"Rasanya baru kemarin Uncle menemani Mommy mu lahiran, sekarang anaknya sudah akan mempunyai anak lagi." Fitto memasang raut wajah cemberut.
Rachel mencubit kedua pipi Fitto, "Selamanya Rachel tetap jadi anak kesayangan Uncle Fitt."
Fitto tersenyum dan mengangguk sambil mengusap puncak kepala Rachel.
"Hel tadi Uncle lihat kamu dengan seseorang, siapa dia?" Tanya Fitto yang sepertinya sedikit mengenali siapa yang sedang bersama Rachel.
"Oh itu hanya bapak tua sopir taxi online, tadi dia membantu Rachel menyebrang jalan saat Rachel mau kembali kerumah sakit sehabis membeli rujak."
Rachel tidak menceritakan soal dirinya yang hampir tertabrak, takut membuat Uncle Fitto cemas dan melaporkannya pada sang Mommy.
"Sepertinya kamu benar-benar mengidam." Fitto merangkul Rachel sambil berjalan menuju ruangan Naya.
Dalam hati Fitto, terus bertanya. "Koq gue kaya yang kenal sama bapak tua itu, tapi dimana ya, siapa ya dia?" Gumam Fitto dalam hatinya.
Sungguh bapak tua itu mengingatkannya pada seseorang, namun Fitto lupa dimana ia mengenalnya. Andai saja Fitto melihat dari dekat dengan jelas, mungkin akam mudah mengenalinya.
.
.
Kira-kira siapa ya Bapak tua itu?
Masih ada Bonus Chapter beberapa Bab lagi ya, ditunggu terus ya Up nya.
.
.
Sambil nunggu Up Bonus Chapter, mampir yuk ke karya aku selanjutnya yang berjudul Takdir Cinta (Ghea&Tristan)
Jangan lupa bantu Vote Vote Vote dan Like Like Like ya.. Juga tinggalkan Jejak Comment.. Trimakasih Readers 😊🙏
__ADS_1