
"Lo gak mau nerima Reza Hel?" Tanya Tasya yang mencoba menjodohkan Rachel dan Reza.
"Gue gak tertarik sama Reza." Jawab Rachel.
"Ya ampun, mata lo minus berapa sih Hel, cowok ganteng tajir kayak Reza lo gak suka? lihat tuh kakak kelas aja banyak yang naksir Reza." Sahut Rania.
Rachel berdecak, "Masih gantengan juga Kak Fazel, Reza mah lewat."
"Princess Rachel, seganteng-gantengnya Kak Fazel, emangnya dia bakal jadi pacar lo? Kak Fazel kan abang lo sendiri Hel? ya kali lo pacaran sama abang lo sendiri." Tasya mentoyor kepala Rachel.
Rachel hanya asik meminum juice alpukat kesukaannya tanpa menjawab omongan Tasya.
***
"Zel, bisa temani Mommy ke supermarket?" Tanya Sasha pada Fazel.
"Bisa Mom. Sebentar Fazel ganti baju dulu Mom." Jawab Fazel yang tidak pernah bisa menolak segala permintaan Sasha.
"Hel, kamu mau ikut?" Tanya Sasha berbasa basi pada Rachel, pasalnya Rachel sangat tidak suka berbelanja kebutuhan dapur, ia tidak suka berkeliling sambil mendorong trolly apa lagi jika harus mengantri dikasir.
"Duh Mommy, Rachel dirumah aja ya jaga Zio dan Nabil. Kasian juga Oma gak ada temennya." Jawab Rachel mencoba menghindar.
Sikap semua orang yang memanjakan Rachel membuat Rachel slalu berada di zona nyaman sehingga ia enggan melakukan hal-hal yang membuatnya merasa melelahkan.
Fazel mengendari mobil Sasha, sementara Sasha duduk disebelah pengemudi.
"Zel, kita gak ke supermarket, kita cari cafe aja ya." Ucap Sasha.
"Lho, bukannya mau belanja Mom?" Tanya Fazel.
"Engga Zel, Mommy sengaja bilang begitu didepan Rachel biar Rachel gak ikut. Mommy mau ngobrol sama Fazel."
Fazel hanya menganggukan kepalanya kemudian melajukan mobilnya kesebuah cafe.
Setelah mereka berdua tiba di cafe, mereka memesan makanan ringan dan minuman.
"Zel, Mommy mau bicara soal masa depan Fazel." Sasha membuka obrolannya dengan Fazel.
"Iya Mom, ada apa?" Tanya Fazel.
"Hmm begini, sebentar lagi kan Fazel lulus sekolah. Fazel mau meneruskan kuliah kemana?" Tanya Sasha.
Fazel diam sejenak, "Mom, Fazel juga masih belum tau. Daddy pernah minta Fazel untuk kuliah ambil bisnis, tapi Mommy tau kan Fazel gak mampu menguasai pelajaran, Fazel takut mengecewakan Daddy."
Sasha tersenyum. "Apa yang Fazel sukai dan buat Fazel nyaman?" Tanya Sasha dengan tatapan hangat khas seorang ibu.
"Fazel ingin masuk seni Mom, ingin mendalami melukis, tapi Fazel takut Daddy tidak mengijinkan dan kecewa pada pilihan Fazel." Lirih Fazel
__ADS_1
"Uncle Bill bilang, strategi Fazel bagus, terlihat dari Fazel yang menjuarai olimpiade catur, apa tidak ingin coba di bisnis, dunia bisnis juga banyak membutuhkan strategi bukan?" Tanya Sasha.
"Fazel gak percaya diri Mom, Fazel ingin coba tapi Fazel takut."
Sasha menggenggam tangan anak sulungnya itu, Fazel memang istimewa sedari kecil. "Zel, apa kamu tau apa yang Mommy takuti?" Tanya Sasha.
Fazel menatap mata Sasha. "Apa Mom?"
"Mommy takut kamu menjadi dewasa dan tetap tidak percaya diri, rasanya Mommy gagal slalu menerapkan agar kamu bisa percaya pada dirimu sendiri."
"Mom.. Bukan begitu." Ucap Fazel.
"Percayalah pada kemampuanmu Zel, berhenti memikirkan perasaan takut akan mengecewakan Mommy maupun Daddy, jika kamu merasa yakin, lakukanlah. Kamu anak Mommy, Mommy membesarkan kamu dengan penuh kasih sayang, Mommy yakin akan kemampuan kamu Zel." Sasha mencoba membuka pikiran Fazel.
"Mommy tau hobi mu melukis itu hanya pelarian dari rasa tidak percaya dirimu. Benar kata Uncle Bill, kamu punya strategi yang matang dan itu terbukti dengan prestasimu disetiap olimpiade catur."
"Menurut Mommy, Fazel harus gimana?" Tanya Fazel.
"Percayalah pada dirimu sendiri. Jika kamu sudah percaya pada dirimu sendiri, segera beri tahu Mommy, apa kamu akan mengambil kuliah bisnis atau mendalami seni lukis."
Fazel mengangguk.
"Zel, kalau kamu kuliah diluar negri, apa kamu mau?" Tanya Sasha lagi.
"Luar negri Mom?" Tanya Fazel.
"Siapa yang akan menjaga Rachel, Zio, dan Nabil Mom?" Tanya Fazel.
"Zel, berhenti memikirkan orang lain, cobalah untuk memikirkan dirimu sendiri, menyayangi dirimu sendiri."
"Iya Mom, Fazel mau Mom, Fazel juga ingin mengenal dunia luar, mungkin dengan cara itu Fazel bisa jadi percaya diri."
"Tapi Mommy berat Zel, Mommy belum siap jauh dari Fazel." Ucap Sasha.
"Mom, Fazel ini anak yang paling beruntung, meski tidak lahir dari rahim Mommy, tapi Mommy begitu menyayangi Fazel. Fazel janji akan terus menyayangi Mommy, dan tidak akan pernah mengecewakan Mommy."
***
"Rachel gak setuju kalau kak Fazel kuliah di Amrik!!" Seru Rachel.
"Rachel sayang, Kak Fazel disana cuma sementara sampai kuliahnya selesai." Bujuk Reyvan.
"Kalau gitu Rachel juga ikut, Rachel mau sekolah diluar Negri juga."
Sasha menghela nafas, "Hel, Mommy mohon mengertilah. Kak Fazel punya hidupnya sendiri, dia disana kuliah bukan main-main."
"Kenapa gak kuliah di Indo aja Mom, kenapa harus ke Amrik. Rachel gak mau pisah sama Kak Fazel."
__ADS_1
Rachel meninggalkan Reyvan, Sasha dan Fazel yang sedang berada didalam kamar.
"Zel, kamu harus maklumin Rachel ya, dia sudah terbiasa denganmu." Ucap Reyvan.
Sementara Sasha sudah menduga apa yang Rachel tengah rasakan.
Reyvan menyusul Rachel mencoba memberinya pengertian.
Tinggalah Sasha bersama Fazel didalam kamar.
"Zel, beri tahu Mommy, apa yang membuatmu berat jika harus kuliah diluar Negri?" Tanya Sasha.
Fazel hanya diam dan tidak menjawab.
"Fazel sayang Rachel?" Tanya Sasha yang sudah mulai mengkhawatirkan keadaan.
Fazel mengangguk.
Sasha menghela nafas kemudian bertanya lagi. "Apa rasa sayang Fazel ke Sasha sama seperti ke Zio?"
Fazel mengangguk kemudian menggelengkan kepalanya. Sasha mengusap punggung Fazel.
"Bisa beri tahu Mommy, perasaan Fazel ke Mommy?" Tanya Sasha lagi.
"Mom, Fazel cuma takut mengecewakan Mommy dan Daddy, Fazel jaga perasaan Fazel untuk tidak ada perasaan lebih terhadap Rachel, karna itu Fazel mau berangkat keluar Negri." Jawabnya dengan jujur.
"Zel, apa kamu tau Mommy menyayangimu. Mommy gak bisa bayangin kalau Fazel harus bukan jadi anak Mommy. Mommy ingin Fazel slamanya jadi anak Mommy."
Fazel mengangguk, "Ini hanya perasana Fazel yang salah Mom, Fazel terlalu nyaman dengan Rachel. Fazel harap perasaan Fazel ini salah. Apa Mommy marah?" Tanya Fazel.
Sasha menggelengkan kepalanya. "Mommy tidak marah karna Fazel mau terbuka sama Mommy dan mengakui perasaan Fazel. Mommy hanya takut Fazel berhenti jadi anak Mommy."
"Mom, apa Rachel akan baik-baik saja?" Tanya Fazel.
"Rachel akan dewasa seiring berjalannya waktu Zel." Jawab Sasha yang begitu menenangkan.
Fazel tersenyum, "Terimakasih Mom." Ucap Fazel.
.
.
.
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....
__ADS_1