MENIKAH DENGAN KAKAK SAHABATKU

MENIKAH DENGAN KAKAK SAHABATKU
FAZEL TETAP ANAKKU!!


__ADS_3

Drtt.. drtt.. drtt.


Ponsel Fitto bergetar, terlihat dilayar ponsel nama Naya memanggil dari sebrang sana.


"Naya.." Gumam Fitto dalam hati.


Fitto mencoba menetralkan pikirannya agar tidak terlihat sedang menyembunyikan sesuatu. Semalam Fitto mengirim pesan pada Naya bahwa dirinya sudah tiba diJerman dengan selamat.


^^^"Iya Nay, lo udah nelponin gue aja, kangen ya." Ucap Fitto menggoda Naya.^^^


"Hiks.. hiks.. Fitt.. gue harus gimana?" terdengar suara Naya menangis.


Sejenak Fitto terdiam, dia juga tidak tega membohongi Naya, tapi semua ini Fitto lakukan agar Sasha bisa menata hati dan perasaanya dulu.


^^^"Nay lo kenapa? lo baik-baik aja kan? Bil, Billy gak nyakitin lo kan?" Tanya Fitto.^^^


"Bukan soal Billy Fitt, Tapi Sasha, dia Hilang." Terdengar suara Naya yang semakin kencang menangis.


^^^"Hilang gimana maksud Lo Nay, coba berenti dulu nangisnya ya Nay, cerita sama gue yang jelas." Bujuk Fitto.^^^


Ponsel Naya diambil alih oleh Billy.


"Fitt, ini gue Billy."


^^^"Iya Bill, Naya kenapa ya, dan Sasha kenapa?"^^^


Perlahan Billy menjelaskan permasalahan yang sedang dialami oleh Sasha dan Reyvan, tentu saja Fitto tidak merasa terkejut, dia hanya pura-pura menanggapi.


^^^"Gue balik aja ya Bill, gue mau cari Sasha."^^^


"Jangan Fitt, Jerman-Indo itu jauh, lo disana aja, nanti biar Naya kabarin lo terus ya."


***


Seminggu berlalu dari kepergian Sasha, Fitto dan Sasha sudah mulai beraktifitas dikampus barunya.


Begitupula dengan Naya, Naya sudah mulai kuliah seorang diri, dia merasa kehilangan Sasha, sahabat yang slalu bersamanya.


Reyvan mulai kembali kekantor, meski sangat berat tapi dirinya harus tetap melaksanakan tanggung jawab sebagai wakil direktur.


Tok.. tok.. tokk..


"Masuk" Ucap Reyvan sambil menatap layar laptopnya.


"Pak maaf saya membawakan makan siang bapak." Suara Vivi sekertaris Reyvan.


"Taro aja dulu, makasih." Jawab Reyvan dengan datar dan tanpa melihat kearah Vivi.


"Pak, ini Vitamin dari ibu Sasha, katanya bapak harus minum vitaminnya kalau sudah selesai makan siang." Ucapnya ragu-ragu.


Reyvan menatap Vivi, "Kapan kamu bertemu Sasha?"


"Sewaktu terakhir ibu Sasha kesini Pak, beliau kasih saya banyak stock vitamin untuk bapak."


Reyvan mengangguk dan meraih botol Vitamin berisikan tablet tersebut. Vivi pamit keluar dan beristirahat.

__ADS_1


"Little, kamu kemana, kamu perduli sama aku tapi kamu ninggalin aku." Lirih Reyvan sambil menggenggam botol vitamin.


Waktu yang ditunggu-tunggu tlah tiba, hasil tes DNA sudah ada ditangan Naya.


"Rey panggil Sherin dan anak itu kekantor, kita bicarakan dikantor. Jangan sampai Sherin tau soal tes DNA ulang ini." Titah Ayah.


Reyvan menjemput Sherin ke Apartemennya.


"Ayo ikut, Ayah mau ketemu kamu dan Fazel."


Sherin merasa dirinya telah memenangkan kelicikannya, "Akhirnya Ayahmu yang sombong itu mau bertemu denganku, Hah jelas saja aku telah melahirkan cucunya." Ucap Sasha dengan nada sombong.


Reyvan tidak menanggapi perkataan Sherin, dia langsung menghampiri Fazel dan membantunya mengganti pakaiannya.


"Hai anak Daddy." Sapa Reyvan.


Fazel hanya menatap mata Reyvan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Da.. ddy." Ucap Fazel dengan terbata-bata.


Reyvan yang mendengar kata pertama dari Fazel merasa tersentuh, "Iya nak, ini Daddy." Ucap Reyvan sambil memeluk Fazel.


Reyvan menggendong Fazel keluar dari apartemen dan menuju mobilnya, Reyvan mendudukan Fazel dikursi depan dan memasangkan seatbelt pada Fazel.


"Dia harusnya duduk dibelakang Rey, dan aku yang didepan." Ucap Sherin dengan kesal.


"Lebih baik kamu naik taxi aja dan aku tunggu di lobby kantorku."


"Kantor? bukannya kerumah kamu Rey?" Tanya Sherin.


"Ayah ada dikantor." Ucapnya datar.


Tiba dikantor Rivano group, Reyvan membawa Sherin masuk kedalam ruangan Ayah sebagai Chairman.


Betapa terkejutnya Sherin saat melihat disana sudah ada dokter Gio, Naya dan temannya yang sepertinya seorang dokter senior. Diruangan itu juga tampak ada Radit, Billy, dan seseorang yang terlihat sebagai pengacara.


"Ada apa ini Rey? kamu jebak aku?" Tanya Sherin dengan panik.


Sherin hendak melarikan diri, namun dicegah dua body guard yang disewa oleh Billy.


"Bawa dia masuk." Titah Billy.


Pengacara keluarga Rivano yang bernama Theo mulai melakukan pembicaraan soal hasil test DNA yang dilakukan ulang dan kemudian mempersilahkan Dokter senior Naya untuk membuka hasil tes DNA yang masih tertutup rapat.


Dokter membacakan hasilnya dan memberitahu bahwa semua hasil sample menunjukan ketidak cocokan dan disimpulkan bahwa Fazel bukanlah putra dari Reyvan.


"Bohong!! ini pasti rekayasa kalian kan." Ucap Sherin dengan histeris.


"Kamu yang sudah memanipulasi ini semua bersama partner s*x mu." Ucap Billy sambil menunjuk Gio.


"Maaf tolong jangan perbesar masalah ini, saya mengaku salah karna saya disuruh oleh Sherin."


"Diam Gio!!" Teriak Sherin.


"Dokter Gio, anda sebagai tenaga kesehatan telah melanggar sumpah anda, dan kami akan melakukan gugatan terhadap anda." Sahut pengacara Theo.

__ADS_1


"Tolong Pak, jangan perbesar masalah ini, reputasi dan karir saya disini dipertaruhkan." Gio memelas.


"Harusnya anda pikirkan itu sebelum anda bertindak." Kali ini Radit yang membuka suara.


Polisi masuk dan membawa Gio juga Sherin.


"Harusnya kamu tidak melibatkan aku Sher, ini bukan anak kamu, kamu hanya menjadikan alat Fazel sebagai ambisimu." Ucap Gio sebelum pergi digiring oleh polisi.


"Katakan padaku, Fazel anak siapa Rin?" Tanya Reyvan dengan mencengkram lengan Sherin.


"Dia hanya anak temanku yang dititipkan padaku sebelum kecelakaan, aku mau merawatnya karna dia meninggalkan banyak uang, tapi uang itu sudah habis untuk menutupi tagihan kartu kredit dan hutang-hutangku."


"Shitt." Umpat Reyvan.


"Karna kamu, Sasha pergi meninggalkan aku."


Sherin tertawa puas, "Aku tidak perduli, bahkan aku juga tidak perduli dengan Fazel, lebih baik kamu bawa saja anak tidak berguna itu kepanti asuhan." Ucapnya dengan tidak berperasaan.


"Pak bawa dia segera." Titah Billy kepada petugas kepolisian.


Reyvan duduk dengan memegang kedua kepalanya.


"Harusnya dari awal kamu selidiki ini Rey, mengapa kamu terlalu bodoh untuk hal seperti ini." Ucap Radit.


"Tes DNA itu benar-benar direkayasa Mas, aku sungguh tidak tau." Jawab Rey mengelak.


"Bagaimana sekarang dengan Fazel Rey?" Tanya Radit.


"Biar saya yang mengurusnya jika memang mau diserahkan kepanti asuhan, Pak Radit." Ucap pengacara Theo.


"Jangan!!" Seru Billy.


"Kalau tidak keberatan biar Fazel jadi anak asuh saya Yah, saya merasa melihat diri saya sendiri di diri Fazel Yah." Ucap Billy.


"Bang!!." Panggil Naya.


"Maaf Nay, tapi ini hati nurani aku, aku gak tega kalau Fazel harus diserahkan kepanti asuhan." lirih Billy.


"Fazel tetap anakku." Suara Reyvan memecah ketegangan.


"Fazel hanya tau aku Daddy nya, dan slamanya aku tetap Daddynya."


Reyvan menatap Ayah. "Yah ijinkan Rey mengadopsi Fazel dan membawanya pulang kerumah sebagai anak Rey, Rey yakin saat Sasha pulang, Sasha pasti bisa menerima Fazel."


"Anak ini tidak bersalah, kedua orang tuanya juga sudah tidak ada, rawatlah dia Rey, Ayah mengijinkan." Jawab Ayah.


Reyvan menggendong Fazel yang sedang menyusun lego brick nya.


"Aku adalah Daddy mu. Welcome Fazel Rivano."


.


.


.

__ADS_1


.


...Bantu Vote, Tinggalkan Like dan Komentar ya Agar Author Semakin Bersemangat Up Ceritanya"...


__ADS_2