MENIKAH DENGAN KAKAK SAHABATKU

MENIKAH DENGAN KAKAK SAHABATKU
FIRST KISS


__ADS_3

"Hel pulanglah kerumah, kamu juga butuh istirahat." Ajak Naya yang sedang menjenguk Fazel.


"Engga mau Auntie, Aku mau disini jaga Kak Fazel." Jawab Rachel.


"Kamu ini mirip sekali dengan Daddymu. Keras kepala."


"Ya kan aku anaknya, jadi miriplah sama Daddy." Jawab Rachel.


"Zel, lihat adikmu ini, begitu keras kepala." Ucap Naya pada Fazel.


Fazel hanya tersenyum, "Aku begitu mencintai adik keras kepala ini." Batin Fazel.


Sasha masuk kedalam ruangan perawatan Fazel setelah selesai praktik dipolinya.


"Beres Sha?" Sapa Naya.


"Bereslah Nay, Lo ada masih ada jadwal secar?" Tanya Sasha.


"Masih tiga jam lagi, ada passien mau Secar, gue mau balik tapi nanggung." Jawabnya.


Sasha mendekat pada brankar Fazel. "Gimana hari ini Zel?" Tanya Sasha dengan penuh kelembutan.


"Baik Mom, tapi Fazel ingin pulang Mom."


Sasha tersenyum sambil membelai kepala anak sulungnya itu. "Sabar Zel, lukamu masih basah, Uncle Fitt masih harus terus pantau kamu biar lukanya gak jadi infeksi."


"Tapi Fazel kangen masakan Mommy."


"Mau makan apa? nanti Mommy masakan untukmu."


"Dendeng balado Mom, Fazel kangen makan Dendeng balado buatan Mommy."


"Itu pedas Zel, nanti kalau sudah pulih baru Mommy buatkan."


Menjelang malam, Sasha dan Reyvan kembali kerumah. Rachel masih tetap menjaga Fazel dirumah sakit.


"Kamu gak lelah Hel?" Tanya Fazel sambil menggenggam tangan Rachel.


Rachel menggelengkan kepalanya. "Engga Kak. Yang penting slalu sama Kakak." Jawabnya dengan tersenyum, senyum yang begitu mirip dengan senyum Sasha sang Mommy.


"Kuliahmu bagaimana?"


"Tinggal sidang Kak, aku mau sidang kalau kakak sudah sembuh."


"Kakak bosen banget disini, kakak mau cepet pulang Hel."


"Tapi aku malah seneng Kakak disini." Ucap Rachel cuek.


Fazel mengernyitkan dahinya. "Kenapa?"


"Kalo udah dirumah, belum tentu bisa sedekat ini sama Kakak. Pasti Kakak jaga jarak sama aku." Jawabnya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa Kakak harus jaga jarak?" Tanya Fazel dengan iseng.


Rachel belum mengetahui bahwa Daddy dan Mommy nya sudah memberi restu untuk mereka, sehingga membuat Rachel sedikit takut jika ada yang mengetahui soal hubungan mereka.


"Daddy dan Mommy, ga ada yang tau hubungan kita Kak, aku takut Kakak nanti dalam masalah."


Fazel tersenyum iseng, "Kamu benar juga, kalau gitu nanti dirumah kamu harus biasa aja sama Kakak, jangan nyamperin Kakak mulu. Nanti mereka curiga." Sungguh Fazel saat ingin sekali tertawa karna sudah menjahili Rachel.

__ADS_1


Wajah Rachel berubah jadi tidak bersemangat. "Apa kita selamanya akan seperti ini Kak? sampai kapan menyembunyikan hubungan kita?" Tanyanya dengan wajah sendu.


"Jalani saja dulu Hel." Jawab Fazel singkat menahan tawanya.


***


Jam makan siang Kenzo datang bersama Rasya untuk menjenguk Fazel. Kenzo memberikan berkas-berkas yang harus Fazel tandatangani. Beruntungnya Fazel mempunyai asisten sepintar dan sejujur Kenzo yang slalu ia percayai menjadi orang kepercayaannya.


"Jadi lo sama Rachel?" Tanya Rasya.


"Gue gak bisa lepasin dia Ras." Jawab Fazel yang kini sudah mulai bisa duduk bersandar.


"Gila sih ini, cinta masa kecil." sahut Kenzo


"Keluarga lo gimana? nerima?" Tanya Rasya.


"Daddy dan Mommy ngasih gue restu, tapi gue belum tau sama keluarga Rivano yang lain."


"Nyokap dan Bokap lo emang orang baik Zel, gue salut sama mereka."


Tak lama pintu terbuka, terlihat Zidney datang bersama Leo, rencananya besok pagi mereka akan kembali ke Amrik.


Zidney duduk begitu saja disisi brankar Fazel. "Jagoan masih disini aja." ledek Zidney.


"Jagoan juga manusia Zid." Sahut Leo.


"Jadi kenapa kalian pulang?" Tanya Fazel.


"Kangen Ara." Ucap Leo santai.


"Cepet nikahin lah Kak. Jangan salahin kalo aku ngeduluin." Ucap Fazel.


"Belagu dia mentang-mentang udah bisa dapetin cinta pertama yang slama ini dilewatinnya." cibir Zidney yang tau segalanya dari Kenzo.


"Kalo cinta butuh perjuangan Zel, nyusul ke Amrik." Jawab Zidney santai.


"Serius demi apa lo sama temennya Fazel?" Tanya Rasya pada Kenzo.


Kenzo hanya menggaruk keningnya yang tidak gatal itu.


Rachel masuk setelah selesai membeli beberapa cemilan di minimarket sebelah rumah sakit. Matanya tertuju pada Zidney yang asik duduk disebelah Fazel tepat di sisi brankarnya.


"Haishh ulet bulu lagi. Gatel banget emang!!" Batin Rachel sambil mengerucutkan bibirnya.


Setelah asik mengobrol, akhirnya mereka semua pulang. Terlihat Zidney sempat memeluk Fazel dan mencium pipinya sebagai tanda perpisahan yang tentunya membuat Rachel cemburu.


"Inget Zel, kalo cinta itu butuh perjuangan, susul aku ke Amrik kalo emamg bener serius." Ucap Zidney pada Fazel yang sebenarnya ditunjukan pada Kenzo namun sayang membuat Rachel jadi salah paham.


Setelah Rasya, Kenzo, Zidney dan Leo pulang tinggalah Rachel bersama Fazel diruangan ini.


Fazel melihat Rachel yang sedikit aneh, dia tidak mendekat pada Fazel dan hanya duduk diisofa sambil memainkan ponselnya.


"Hel.." Panggil Fazel.


Rachel tidak menjawab, matanya terus tertuju pada ponsel dalam genggamannya.


Fazel memutuskan untuk turun dari brankar, padahal dirinya belum boleh banyak bergerak.


"Aarghhhh." Teriak Fazel yang membuat Rachel mendongakan wajahnya dan tengah melihat Fazel beridiri dari sabil memegang sisi brankarnya.

__ADS_1


"Kakak." Seru Rachel yang menaruh ponselnya lalu berlari kedekat Fazel.


"Kenapa turun?" Tanya Rachel dengan cemas.


"Kamu dipanggil tapi gak nyahutin, jadi Kakak mau nyusul kamu duduk di sofa."


"Ya ampun Kak. Maaf." Lirih Rachel kemudian membantu Fazel untuk duduk kembali ke brankarnya.


Rachel duduk disisi brankar sambil menghadap Fazel dan Fazel menggenggam tangan Rachel lalu menciumnya.


"Kenapa?" Tanya Fazel lembut.


"Gapapa Kak." jawab Rachel.


"Jangan bohong. Kakak ada salah? Hem?" Tanyanya.


Rachel diam dan menunduk. Fazel menarik dagu Rachel agar wajahnya terlihat.


"Aku gak suka Ulet bulu deket-deket Kakak."


Fazel tersenyum kemudian tangannya mengusap pipi Rachel.


"Zidney gak berarti apa-apa untuk Kakak. Kamu sangat berarti untuk Kakak."


Wajah Rachel bersemu merah menahan malunya.


"Hai, lihat Kakak. Memacari kamu adalah perbuatan ternekat Kakak Hel, Kakak tidak ingin kehilangan kamu." Fazel berkata dengan sangat lembut.


"Tapi tadi aku dengar, ulet bulu bilang kalo cinta butuh perjuangan dan nyuruh Kakak nyusul ke Amrik. Apa Kakak mencintai Ulet bulu?" Tanyanya dengan nada tidak percaya diri.


Fazel mendekatkan wajahnya pada wajah Rachel. Fazel memberanikan untuk mengecup sekilas bibir Rachel, setelah tidak ada penolakan, Fazel mencoba mencium Rachel lebih dalam, menahan tengkuk leher Rachel agar Rachel membalas ciumannya dan tentunya Rachel merespon ciuman dari Fazel.


Setelah agak lama mereka berciuman, Fazel melepaskan pagutannya dan mengelap bibir Rachel yang basah karna ulahnya.


"Kamu ciuman pertama Kakak Hel, cinta pertama Kakak, dan satu-satunya orang yang akan Kakak perjuangkan." Fazel tersenyum.


"Apa yang Zidney bilang ke Kakak, itu bukan untuk Kakak, melainkan ditunjukan untuk Kenzo yang sedang pendekatan dengan Zidney."


Rachel menggigit bibir bawahnya.


"Percayalah pada Kakak Hel, luka ini saksinya. Kakal rela terluka untuk Kamu."


Rachel langsung memeluk Fazel dan Fazel membalas pelukan Rachel, menenggelamkan wajahnya diceruk leher Rachel dan menghirup aroma tubuh Rachel dalam-dalam.


"Maafin aku Kak." lirih Rachel.


"Cemburumu tanda kamu begitu takut kehilangan Kakak, dan Kakak janji selamanya Fazel hanya milik Rachel." Jawab Fazel sambil mengusap punggung Rachel.


Rachel melepaskan pelukannya lalu menatap Fazel. "Kak Fazel juga ciuman pertama aku, cinta pertama aku juga." Ucap Rachel.


"Kita berjuang sama-sama ya Hel, apapun yang terjadi, Kakak tidak akan melepaskan Rachel."


Rachel mengangguk dan tersenyum, sungguh hari ini ia sangat bahagia, terlebih setelah mendapatkan ciuman pertama dari Fazel.


.


.


.

__ADS_1


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2