
Rey menyandarkan tubuhnya di salah satu batang pohon dengan tangan kanan memegang dada seolah hal itu bisa mengatur pernafasan. Sambil bernafas terengah-engah, ia menoleh ke arah datangnya mereka tadi. Tidak terlihat siapa pun yang mengejar mereka.
"Syukurlah. Aku takut tidak bisa menahan serangan yang ada karena terlalu letih berlari," gumam Rey sambil menghela nafas lega.
Walaupun bisa dibilang penyelidikan Rey belum menemui ujungnya, tapi ia sudah memiliki petunjuk. Ia juga memiliki beberapa dugaan tentang raja dari Starlight Empire sekarang. Hanya butuh beberapa langkah untuk menemukan titik terang dari semua ini.
Rey tampaknya harus menunda misi yang diberikan Ivan dulu. Misi itu bisa menunggu. Ia lebih takut para Dark Elf dan para Dwarf disiksa. Terlebih lagi ini merupakan masalah satu kerajaan. Rey tak bisa menunda masalah ini lebih lama lagi. Rey berpikir lebih baik ia mendiskusikan penemuannya pada yang lain.
"Semoga saja yang lainnya juga menemukan petunjuk. Aku akan beristirahat sejenak sambil menghubungi mereka." Rey hendak duduk dan mengisi stamina. Namun, sebuah suara nyaring terdengar terlebih dahulu.
"Mati!"
Suara Vynn terdengar tiba-tiba. Rey terkejut. Namun, tubuhnya merespon secepat mungkin dengan bergerak menjauh.
Dan benar saja, Vynn datang dengan cepat dan meninju pohon tempat Rey bersandar tadi. Rey lupa bahwa mereka sempat berseteru sebelumnya. Ia kembali melompat menjauh dan menarik pedang di pinggang kanannya dengan tangan kiri.
"Hei! Kau masih ingin melanjutkan pertarungan ini?" Rey tak habis pikir. Jelas-jelas Vynn juga terlihat masih bernafas tersengal-sengal. Sebisa mungkin ia ingin menghindari pertarungan ini. Terlebih lagi Vynn adalah seorang Fighter. Semakin tinggi level yang ia miliki, maka semakin keras pula kulit tubuhnya.
"Sampai aku bisa membunuhmu, aku tak akan tenang. Bersiaplah senior!" Vynn terlihat kembali mengambil kuda-kuda. Matanya mendelik tajam.
"Tolong jelaskan padaku satu hal! Kenapa kau begitu marah kepadaku?" Sejujurnya Rey sedari tadi mencari alasan kenapa Vynn sangat ingin membunuhnya. Ia tidak pernah ingat pernah menyinggung Vynn di masa lalu.
"Kau telah merebut Mira dariku. Saat kau memiliki masalah dengan PeAce, kau mendekati Mira," ucapnya diikuti nada sedih. Rey terkejut mendengar perkataannya. "Sejujurnya aku tidak masalah. Hanya saja, kau malah menyia-nyiakan perasaannya. Kau hanya menjadikan Mira tempat pelarianmu. Kau senior yang paling buruk." Vynn berteriak kesal.
Rey segera menoleh ke arah Mira. Ekspresinya terlihat sedih. Bahkan ia terlihat sedang menahan diri untuk tidak menangis. Sebuah ingatan segera terlintas di benak Rey.
***
"Kak Rey, apa hubunganmu dengan PeAce belum baik?" tanya Mira kepada Rey yang saat itu tengah duduk di bawah sebuah pohon. Rey menoleh dan menatap matanya. Ia tahu ada yang ingin disampaikan gadis itu, tapi apa ?
"Belum. Kurasa memang sejak awal hanya aku yang terlalu berharap lebih," jawab Rey pelan.
"Kalau begitu, bagaimana denganku?"
__ADS_1
"Eh?" Rey terkejut. Ia sungguh sungguh tidak mengerti akan perkataan Mira. "Apa maksudmu?"
"Aku akan mengatakannya sekali saja, jadi dengar baik-baik." Mira terlihat menghirup nafas dalam sambil memegangi dadanya dengan kedua tangan yang saling menumpuk.
"Aku menyukaimu, Kak. Kau selalu ada saat aku sendirian. Kau juga selalu membantuku, menyelamatkanku, dan menghiburku," ucapnya sambil tersenyum tulus.
Rey terkejut. Sangat-sangat terkejut. Ia tidak pernah menyangka Mira, seorang murid sekaligus perempuan yang ia anggap adik sendiri, memiliki perasaan khusus padaku.
"Kenapa kau diam kak?"
Ia bertanya kenapa Rey diam. Tentu saja karena Rey bingung. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Apa ia harus menolaknya ? Atau aku akan menerimanya untuk membuatnya senang? Rey sungguh kebingungan.
Rey mengalihkan pandangannya. Saat itulah angin segera berhembus pelan membawa aroma bunga. Rumput-rumput juga bergoyang karena tertiup angin. Ia segera menghirup nafas dalam. Rey harus mengikuti apa kata hatinya. Ia kembali menoleh ke arah Mira yang masih menunggu jawaban darinya. Rey berucap maaf di dalam benaknya.
"Maaf, aku tidak bisa," ucap Rey pelan sambil menundukkan kepala. Ia sudah yakin akan keputusannya.
Rey tidak melihat wajah Mira, tapi ia tahu sekarang gadis itu yang terkejut. Rey sungguh minta maaf, ia tidak bisa mengorbankan perasaannya. Ia tidak ingin membohongi hati kecilnya lagi.
"Be-begitu yah. Tidak apa-apa kok, aku yakin aku akan baik-baik saja."
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Ada yang harus kukerjakan."
Rey tahu gadis itu kecewa. Ia tahu akan begini jadinya. Namun, apa yang bisa ia perbuat?
Rey berpikir, seorang perempuan bersedih karena dirinya. Jika ia tahu begini, lebih baik ia tidak akan menceritakan masalahnya Mira. Tidak, pada siapa pun. Itulah tekad Rey.
***
Rey mengutuk dirinya sendiri dalam hatinya. Entah kenapa ia malah mengingat kejadian itu. Ia harus fokus dengan apa yang ada dihadapannya. Namun, bagaimana caranya agar Rey bisa meredekan amarah Vynn?
Rey diam beberapa saat. Sebuah ide terlintas di benaknya. Ide yang bisa mengakhiri amarah Vynn. Benar. Membiarkan Vynn membunuh Rey. Lagi pula sejak awal ini memanglah salahnya.
Rey kembali menyarungkan pedang di tangan kirinya. Jika Vynn akan tenang kalau berhasil membunuh Rey, maka ia tidak masalah.
__ADS_1
"Silahkan!" ucap Rey. Tak ada keraguan sedikit pun dalam perkataannya.
Vynn terdiam. Ia terlihat terkejut sesaat. Namun, ekspresinya segera berubah kembali. Ia terlihat bersiap-siap untuk melancarkan tinjuannya pada Rey.
Ia lalu berjalan pelan ke depan. Tak ada keraguan di matanya.
"Terima kasih kau mau mengerti. Kau tidak seburuk yang kukira," ucapnya pelan. Ia telah tiba di hadapan Rey.
Ia mengangkat tangannya. Saat itulah terlihat aura kebiruan mengelilingi kepalan tangannya. Rey menghela nafas. Setidaknya ia bisa keluar dari permainan tanpa harus menekan tombol log out.
Namun, saat Vynn terlihat hendak melayangkan pukulannya, sebuah teriakan terdengar keras.
"Berhenti!"
Rey segera menoleh dan menemukan Mira menundukkan kepalanya. Tubuhnya bergetar. Rey tahu itu, dia menangis. Vynn segera membalikkan tubuhnya dan menatap Mira.
"Kau tidak perlu melakukan itu Vynn," ucap Mira pelan.
"Kenapa?" tanya Vynn dengan nada tinggi.
"Karena itu sudah keputusannya," ucap Mira lantang. Ia lalu menaikkan pandangannya. Perlahan, tetes demi tetes air mata turun dari pelupuk matanya.
"Aku mengakhiri hubungan kita, karena aku memang sudah tidak mencintaimu. Begitu pula Kak Rey. Dia menolakku karena memang tidak ada aku di hatinya." Mira diam sesaat. Ia lalu mengusap air matanya pelan.
"Mira ...," lirih Vynn.
Rey terdiam. Ia hendak berjalan mendekat.
"Pergi!" pekik Vynn.
Rey batal melangkah. Karena teriakan itu. Ia sebenarnya tidak ingin melihat Mira menangis lagi. Namun, apa yang bisa ia perbuat?
"Senior, pergi dari sini!" Suara Vynn meninggi.
__ADS_1
Rey segera berbalik. Perlahan ia melangkahkan kakinya pelan sebelum mulai berlali. Rey tahu memang tidak ada yang bisa ia lakukan terhadap Mira. Ia mengutuk dirinya sekali lagi di dalam hatinya.