Might Magic Online

Might Magic Online
Eps. 37: Death Realm


__ADS_3

Raihan memakan sarapannya dengan malas sambil menonton televisi. Tak ada acara yang membuatnya terhibur pagi itu, jadi ia hanya menonton berita untuk menambah pengetahuannya.


"Polisi menemukan sebuah mayat yang ...."


"Kasus perampokan sebuah bank ...."


"Korupsi yang terjadi di negeri ...."


Raihan mematikan televisinya dengan kesal. Ia tak menemukan berita yang menarik perhatiannya. Ia segera menyelesaikan sarapannya itu walaupun dengan perasaan enggan. Setelah selesai, ia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Beberapa menit berselang, ia telah duduk di sofa ruang tamunya dengan kondisi yang sedikit lebih segar. Ia segera menatap layar ponselnya. Terlihat ada sebarisan pesan masuk, tetapi kebanyakan tak terlalu ia anggap penting. Banyak pesan dari Rian, Dion, Rama, dan Yuni saja yang menarik perhatiannya. Namun, walaupun ia sedikit tertarik, ia tak berniat membuka apalagi membalas pesan tersebut.


Raihan kini membuka MMO Market. Terlihat barang dagangannya telah habis tak bersisa. Sejumlah uang masuk ke dalam rekeningnya, tapi lagi-lagi ia hanya menatap datar hal tersebut.


Ia meletakkan ponsel itu di meja lalu menyandarkan punggungnya di sofa. Ia menutup matanya mengingat kejadian yang ia alami beberapa saat yang lalu.


Kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Raihan menoleh tapi tak berniat bangkit. Kemudian terdengar sudah ketukan itu sekali lagi. Kali ini diiringi suara seseorang.


"Rai, ini aku Rian." Suara itu begitu ia kenal. Raihan segera bangkit dan membuka pintu itu. Terlihat Rian berdiri di sana.


"Masuklah!" ucap Raihan. Sejujurnya ia tak mau menerima tamu, tapi karena orang itu adalah sahabatnya maka tidak masalah membiarkannya masuk.

__ADS_1


Raihan berjalan pelan masuk ke dalam dan membiarkan pintunya terus terbuka agar angin segar masuk ke dalam. Rian mengikutinya dan memperhatikan kondisi temannya itu. Ia duduk di sofa sementara sahabatnya itu terus berjalan menuju dapur. Tak lama kemudian, ia kembali dengan minuman serta beberapa makanan ringan.


"Jadi? Ada apa?" tanya Raihan membuka obrolan. Ia lalu menarik sebuah kursi dan duduk berhadapan dengan Rian


"Aku ingin berkunjung saja," jawabnya pelan.


"Omong kosong!" ucap Rey sambil tertawa pelan. "Pasti kau dimintai oleh Dion dan Rama untuk melihat keadaanku." Raihan tak bodoh. Ia tahu tujuan asli sahabatnya itu.


"Jika kau sudah tahu kenapa masih bertanya?" Rian menghela nafasnya pelan. "Kalau dirimu sudah bisa menebak jalan pikir mereka, berarti dirimu sudah seperti biasanya," ucap Rian sambil mengambil satu minuman kaleng dan membukanya.


"Ada satu hal lagi yang harus kukatakan. Aku tidak datang sendiri," celetuk Rian pelan. Raihan tersentak dan segera bangkit mendengar hal tersebut. Ia lalu menoleh ke arah pintu. Saat itulah Yuni dan Nabila masuk dengan pelan.


"A-aku rasa lebih baik kita makan di luar," ucap Raihan memberi saran. Ia sejujurnya tak nyaman menerima tamu perempuan. Terlebih lagi dua orang.


"Aku bahkan tak memikirkan sampai ke sana," jawabnya sambil tertawa pelan. Mereka pun segera mengangguk. Raihan mengambil satu jaket biru dengan garis putih melingkar di lengan kiri. Ia lalu memakai celana panjang hitam polos. Mereka pun segera berangkat setelah Raihan mengunci pintu baik-baik.


Beberapa saat berselang, dua orang wanita cantik datang ke apartemen itu hanya untuk melihat apartemen itu telah kosong.


...***...


"Serius kau baik-baik saja?" tanya Nabila sambil menyentuh kening Raihan menggunakan punggung tangannya. Mungkin Rian tak tahu, tapi ia dan Yun sadar bahwa wajah Raihan terlihat sedikit pucat daripada beberapa minggu yang lalu.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja," jawab Raihan sambil menyingkirkan tangan Nabila lembut. Ia sedikit terganggu saat Nabila melakukan hal tersebut di tengah keramaian seperti ini. Mereka sekarang tengah berada di sebuah kafe siber yang terletak di dekat apartemen Raihan-tentunya bukan Caya Cafe.


"Ngomong-ngomong, gimana ceritanya empat legenda bisa berkumpul sekaligus? Terlebih lagi, kata Dion, kau tiba-tiba mengajak mereka ke suatu tempat." Rian bingung. Tak mungkin Raihan tahu secara pasti bahwa Cold, PeAce dan Scream mencari dirinya. Mereka memandang Raihan penuh tanda tanya.


"Kalau tentang itu, memang ada seorang teman yang memberitahuku. Dia juga yang memberi informasi bahwa Orion mengincar mereka. Untuk sekarang, aku tak bisa memberitahu identitas orang itu," ujar Raihan menjelaskan. "Kau sudah mendengar garis besar ceritanya dari Dion ataupun Lluminos, 'kan?" tanya Raihan sambil menoleh ke arah Rian. Rian mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan Raihan.


"Lebih baik kau mencari PeAce dan mengundangnya ke dalam Guild Antariksa Aksara. Dia sudah menjadi pengguna Archaic Sagacity. Katakan saja diriku yang menyarankannya," ucap Raihan. Rian, Nabila, serta Yuni terkejut mendengar hal tersebut. Jika saja orang lain yang mengatakan hal tersebut, maka mereka tidak akan mempercayai langsung ucapannya. Namun, yang berbicara di hadapan mereka adalah Black Kenshi Rey, orang yang mengguncang ranah Midgard dengan popularitasnya. "Dengan begitu aku jadi bisa sedikit mengontrol pergerakannya," sambung Raihan.


"Kalau begitu, aku akan merekrut dirinya," jawab Rian sambil mengangguk pelan. Ia sebenarnya antusias mendengar PeAce adalah seorang pengguna Archaic Sagacity, tapi ia tak berniat menujukkan rasa antusiasnya karena nada bicara Raihan sedikit lebih rendah daripada biasanya.


"Yuni," panggil Raihan. Ia kini menatap perempuan yang penuh keanggunan itu dengan penuh harap. "PeAce di MMO tidak mengambil Job Cleric lagi. Ia mengambil Job Swordman, jadi pemahamannya tentang pedang sedikit rendah. Tolong ajari dia yah," ucap Raihan sambil menyatukan kedua telapak tangan miliknya. Yuni mengangguk tulus. Raihan adalah orang yang mengajarkan dirinya tentang pedang, jadi jika dirinya meminta Yuni untuk mengajarkannya pada orang lain, Yuni akan melakukannya dengan senang hati.


"Kau tidak ingin meminta bantuanku?" celetuk Nabila pelan sambil menunjuk dirinya sendiri. Tentu saja ia menanyakan hal tersebut. Raihan terlihat tak ingin meminta bantuan apa pun darinya yang membuat dirinya sedikit cemburu.


"Ada saatnya aku meminta bantuanmu, tapi tidak sekarang," jawab Raihan membuat Nabila sedikit kecewa.


"Setelah ini, kemana tujuanmu? Ingat, Orion masih mengincar dirimu." Rian mengingatkan bahwa Orion pasti tidak akan tinggal diam dan pasti akan memburunya. Orion sekarang tahu Raihan ada di sekitar Midgard Tengah, jadi orang itu pasti akan mengirim orang-orangnya ke sana.


"Aku tahu. Jika dia ingin menangkapku, maka dia boleh mencobanya. Aku akan membuat dirinya kembali merasakan pahitnya masa lalu," ucap Raihan sambil memasang senyum tipis yang membuat orang lain bergidik pelan.


"Lalu, kemana tujuanmu sekarang?" tanya Rian lagi seolah tak terpengaruh dengan senyuman dingin sahabatnya itu.

__ADS_1


"Midgard Barat. Sebuah reruntuhan kuno bernama Death Realm."


__ADS_2