Might Magic Online

Might Magic Online
Eps. 93: Dwarf


__ADS_3

"Hujan?" Rey menatap ke arah langit yang mulai menjatuhkan ribuan tetes air. Ia buru-buru pergi ke sebuah pohon terdekat untuk berteduh.


Rey sebelumnya memang sudah mendengar bahwa salah satu fitur MMO adalah perubahan cuaca. Namun, ini kali pertama untuk Rey melihat hujan di MMo secara langsung.


Pakaian Rey segera basah kuyup, tubuhnya juga mulai kedinginan. Namun, Rey dapat menahan itu semua. Ia berniat untuk berteduh di bawah pohon itu lebih lama. Hanya saja sebuah notifikasi membuatnya harus angkat kaki dari sana.


[Anda terkena status Cold


All Stat. turun sebanyak 30% dan bisa berubah menjadi status Hypothermia]


"Rupanya MMO juga memiliki status seperti itu."


Rey tertawa pelan sebelum berlari di tengah hujan. Ia tahu di sekitar tempatnya berada ada beberapa gua yang mungkin bisa ia pakai untuk berteduh.


"Ketemu!" Sesuai dugaannya, memang ada gua di dekatnya. Rey segera berlari ke arah gua itu.


Gua itu begitu gelap dan juga sedikit dingin. Namun, setidaknya ia bisa menggunakan gua itu untuk berteduh.


Sebenarnya ada alasan tertentu Rey kembali memasuki hutan. Ia ingin menyelidiki kembali kemunculan Raph dan Khell serta tujuan mereka mengumpulkan begitu banyak ras. Salah satu alasan lainnya adalah untuk merebut pusaka yang ada pada Khell.


Namun, masalah utamanya adalah keberadaan Raph. Rey tidak akan mungkin menang dari pria itu dengan kekuatannya yang sekarang. Satu-satunya cara adalah meminta bantuan pihak kuat lain. Namun, Rey tak ingat punya rekan di MMO yang memiliki kekuatan seperti Raph.


Rey terduduk diam sambil bersandar pada dinding gua. Misi yang ia jalankan kali ini sungguh sangat sulit. Rey tak yakin misi ini akan terselesaikan dalam waktu dekat.


"Sudahlah, apa pun yang terjadi aku akan tetap menyelidiki hutan ini dulu. Jika berkemungkinan, aku akan mencuri pusaka itu tanpa harus bertarung," ucap Rey pada dirinya sendiri.


"Entah perasaanku saja atau sedari tadi ada suara dari dalam gua ini." Rey menatap ke dalam gua. Ia bisa melihat kegelapan yang seperti tiada batas. Hanya saja ada suara seperti suara benturan terus terdengar. Terkadang terdengar juga suara lirihan.


Rey menghela nafas sejenak sebelum bangkit. Ia lalu berjalan perlahan memasuki gua itu. Samar-samar, ia bisa merasakan ada hawa hangat dari dalam gua. Rey menarik pedangnya pelan, ia tahu ada sesuatu di dalam gua ini.


Perlahan tapi pasti, suara yang semula samar mulai terdengar lebih jelas. Rey mulai mengendap-endap saat melihat lorong gua itu sedikit berbelok. Ia segera mengintip saat menyadari suara itu telah berada tepat di depan.


Saat itulah Rey melihatnya. Lebih dari tiga lusin manusia kerdil sedang membuat pedang dan beberapa alat perang lain. Rey mengetahui makhluk itu adalah Dwarf yang terkenal sebagai kelompok pandai besi. Namun, Rey tak menyangka Dwarf tinggal di dalam gua. Dari yang ia tahu, seharusnya Dwarf tinggal di dekat kerajaan manusia atau pun bangsa lain untuk bekerja sama.

__ADS_1


Rey segera menyarungkan pedangnya. Ia lalu menguatkan hati sebelum keluar dari tempat persembunyiannya. Saat itulah semua perhatian teralihkan padanya.


Semua Dwarf itu terdiam di tempat, tak ada yang terlihat bergerak duluan. Beberapa saat kemudian, Dwarf itu mengambil senjata yang berada di dekat mereka dan segera menyerang Rey.


"Aku hanya kebetulan lewat!" teriak Rey keras sambil berusaha menghindari setiap serangan yang ada. Namun, semua Dwarf itu hanya menganggap teriakan Rey seperti angin lalu.


"Dengarkan aku! Aku bukan lawan kalian!"" Rey sekali lagi memekik keras. Namun, Dwarf itu masih tak mendengar.


Sebuah pukulan palu keras datang dari belakang dan menghantam punggung Rey keras hingga ia tersentak ke dinding. Ia dapat melihat serangan itu berasal dari salah satu Dwarf yang menyerangnya.


Rey segera bangkit. Ia mencabut pedangnya segera.


"Chaos Wave!"


Sebuah gelombang pedang keluar dari tebasan pedang Rey menghantam langit-langit gua. Batu-batu berjatuhan. Serangan Rey cukup untuk membuat lebih dari 3 lusin Dwarf itu mematung ketakutan.


"Siapa kau?" Seorang Dwarf yang terlihat lebih tua bertanya pelan. Rey dapat melihat Dwarf itu mungkin ketua kelompok ini.


"Sudah kubilang, aku hanya kebetulan lewat dan merasakan ada yang aneh dengan gua ini. Aku tidak berniat menyerang siapa pun," jawab Rey sambil menyarungkan pedangnya.


"Kalian manusia pasti sama saja!" Seorang Dwarf menyahut lagi.


"Aku tidak mengerti. Apa maksud kalian?" Rey kebingungan.


"Jangan berlagak tidak tahu! Jangan lupa kalian yang memaksa kami membuat peralatan dan senjata-senjata ini secara paksa. Jadi, sebelum yang lain datang kami bisa membunuhmu dulu!" Dwarf tua itu kembali berteriak. Ia segera mengangkat palunya lagi.


"Aku bukan dari Midgard Utara. Aku dari barat!" Rey memekik keras sambil mengambil kuda-kuda.


Para Dwarf itu terdiam. Mereka saling memandang satu sama lain. Mereka terlihat ragu sesaat.


"Bohong!" teriak salah seorang Dwarf.


"Benar. Dia berbohong agar kita tidak membunuhnya!"

__ADS_1


"Itu benar! Dia sendiri. Jika dia datang dengan kelompok kerajaan, maka kita yang kalah!"


"Kita bisa mengatakan tidak pernah bertemu orang ini jika kelompok kerajaan datang!"


Rey terdiam menatap kelompok Dwarf itu. Mata mereka sungguh memancarkan aura kebencian. Dia yakin Dwarf itu tidak akan mendengarkan kata-katanya.


"Kalian yakin ingin menjadikanku sebagai lawan?" tanya Rey dingin. Tangannya mulai mengepal.


"Jangan takut! Serang dia!" Salah seorang Dwarf berteriak keras. Ia segera maju dengan gada di tangan kanannya.


Rey mendengus pelan sebelum melesat ke depan.


"Chaos Heart!"


Sebuah pukulan telak tepat mengenai Dwarf itu hingga ia terpelanting ke salah satu dinding gua. Rey sempat mengaktifkan Skill Chaos Heart ke sarung tangannya untuk memperkuat tinjunya.


Dwarf lainnya terdiam. Pandangannya ke arah Rey kini berubah menjadi sebuah ketakutan. Rekan mereka dikalahkan hanya dalam satu pukulan.


Rey tersenyum lebar menatap Dwarf lain di hadapannya. Ia lalu menarik pedangnya keluar. Dwarf lain segera berteriak ketakutan.


"Tolong ampuni kami!"


"Maafkan kami!"


"Aku tidak mau mati!"


Namun, Rey menganggap teriakan itu seakan angin lalu. Rey berjalan pelan ke depan. Seorang Dwarf tua tadi segera maju ke depan untuk mencoba menghadang Rey membunuh kelompoknya.


"Aku, kelompok Dwarf ini, atas nama dewi hutan memohon pengampunan darimu!" teriak Dwarf itu. Ia segera berlutut.


Dwarf lain yang melihat hal itu segera menjatuhkan senjata mereka. Lebih dari tiga lusin Dwarf itu buru-buru bersujud di hadapan Rey.


Rey semakin tersenyum lebar menatap Dwarf lain di hadapannya. Ia segera mengangkat pedangnya di hadapan ketua Dwarf itu tinggi-tinggi.

__ADS_1


Dwarf tua itu pasrah. Terlihat ada rasa penyesalan di matanya. Ia tidak tahu orang yang ia serang memiliki kekuatan jauh di atas kelompoknya.


Rey mengayunkan tangannya cepat. Sebuah tawa melengking mengikuti gerakan pedang tersebut. Rey tertawa penuh rasa senang.


__ADS_2