
Lluminos tidak pernah menyangka bahwa Mira akan menjadi lawannya. Terlebih lagi Mira adalah satu-satunya pemain yang mendapat perhatian lebih dari Rey mengenai teknik berpedang. Jika bisa memilih, Lluminos lebih memilih melawan pemain terkuat saat ini daripada melawan Mira.
Setelah Lluminos dikalahkan, ia diikat ke sebuah pohon yang tak jauh dari sana. Mira memang ingin mengorek informasi sebanyak apa pun juga. Senyum licik terlukis di wajahnya, Lluminos menjadi cemas melihat senyum menakutkan itu.
"Jadi, siapa nama wanita itu?" tanya Mira pelan. Lluminos diam tak menjawab.
"Aku tanya sekali lagi, siapa nama wanita itu?"
Lluminos masih diam tak menggubris perayaan perempuan itu. Ia tidak ingin mengeluarkan sedikit pun informasi tentang Yun. Lluminos yakin dan percaya Mira tidak akan memiliki cara untuk mengancamnya.
"VR Gear memiliki sistem yang akan membuat seorang pemain keluar secara paksa jika mereka kurang minum, lapar, terkena penyakit membahayakan, dan lain sebagainya. Kau tahu itu, kan?" Mira mengalihkan pembicaraan. Lluminos tidak tahu maksud perkataannya, jadi ia hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Mira.
"Dan saat kembali masuk dalam permainan, kau akan kembali dalam posisi saat dirimu keluar. Bagaimana jika kau kami tinggalkan di hutan ini dengan terus terikat di pohon?" Mira bertanya dengan senyum licik.
Lluminos terdiam. Jika Mira melakukan hal tersebut, maka ia tidak akan bisa berpetualang seperti sebelumnya. Hal yang bisa membuatnya lepas dari kondisi itu adalah kematian.
"Bagaimana? Ingin hal itu terjadi?"
"Tidak."
"Bagus. Kalau begitu ...."
"Tidak akan kubiarkan kau tahu identitas wanita itu," ucap Lluminos lantang. Ia sudah bertekad tidak akan mengatakan informasi apa pun.
Senyum di wajah Mira segera luntur. Ia segera menjadi jengkel. Ia lupa bahwa pria yang ia ikat itu adalah seorang yang keras kepala.
"Kalau begitu, jangan salahkan aku jika aku menculik seseorang. Seseorang yang cukup kau kenal ...." Mira sengaja menggantungkan perkataannya, membiarkan Lluminos menebaknya.
"Siapa? Jangan ganggu teman-temanku!" teriak Lluminos meronta-ronta.
"Kau mengenalnya sebagai Black Kenshi. Aku ingat dia punya masalah dengan Claudia. Jika aku membawakan Kak Rey padanya, aku yakin mau Claudia membawakan wanita itu padaku."
__ADS_1
"Kau tidak punya perasaan. Dia orang yang mengajarimu teknik berpedang," teriak Lluminos. Ia sungguh emosi kali ini.
"Setelah aku mendapatkan wanita itu, maka aku akan menyelamatkan Kak Rey," ucapnya sambil membalikkan badan. "Jadi, kau tunggu saja di sini." Mira segera berlari memasuki hutan diikuti 5 bawahannya. Mereka segera hilang dari pandangan.
Lluminos menjadi cemas. Jika pemain bernama Fuu itu merekam pertarungannya dengan Psycho-B, maka Mira akan segera tahu jika pria bertopeng itu adalah Rey. Dan Mira pasti akan langsung bertanya pada Psycho-B dan mendatangi Guild Antariksa Aksara. Ada kemungkinan ia bertemu Yun di sana.
Lluminos menjadi cemas memikirkan hal itu. Ia segera berteriak meminta pertolongan. Tidak usah seseorang, bahkan Lluminos juga berharap monster buas datang dan membunuhnya. Dengan itu ia akan hidup sehari kemudian dan bisa memberi tahu Rey atau Psycho-B.
"Percuma, pasti bau darah dan bangkai itu berasal dari monster yang dibunuh di dekat sini." Lluminos menggeram.
Ia meronta sekuat tenaga berusaha melepaskan ikatan di tubuhnya. Namun sekuat apa pun ia mencoba, ikatan itu tidak lepas karena begitu kencang. Di tengah kebingungannya, seseorang tiba-tiba keluar dari balik semak. Ia tersenyum ramah pada Lluminos.
"Untung Psycho-B menyuruhku mengikutimu." Pria itu tersenyum sambil berjalan pelan ke arah Lluminos.
"De-deon?" Lluminos terkejut karena kemunculan temannya itu. "Bagaimana bisa kau di sini?"
"Psycho-B menyuruhku. Dia bilang kau pergi dengan tiba-tiba," sahut Deon.
Ia segera memutus tali yang mengikat Lluminos dengan pedangnya. Lluminos senang karena berhasil terlepas dari ikatan itu. Ia segera berlari untuk mengambil pedangnya yang sengaja dijauhkan oleh Mira.
"Aku akan menjelaskannya nanti. Yang jelas, sekarang Rey mau pun Yun dalam bahaya," ucap Lluminos menjelaskan.
"Apa? Kenapa mereka dalam bahaya?"
"Ada seorang teman kami dari masa lalu yang mengincar mereka berdua. Aku percaya dengan Rey, setidaknya ia punya cara untuk melarikan diri," kata Lluminos sambil membuka panel pesannya. Ia ingin menghubungi Psycho-B dan menjelaskan situasinya.
"Lalu? Bagaimana dengan Yun? Apakah Psycho-B mengatakan sesuatu?"
"Mereka sudah kembali ke Starlight Empire," jawab Lluminos. "Ayo!"
Lluminos segera berlari kencang menuju tempat ia mengikat kudanya. Namun saat ia sampai, kudanya telah hilang. Terlihat ada tali yang terputus di bawah pohon tempat ia mengikat kuda tersebut.
__ADS_1
"Kita naik kudamu saja. Kau bawa kuda, 'kan?" tanya Lluminos.
"Tidak," jawab Deon singkat.
Lluminos menggertakkan giginya sebelum berlari kencang diikuti Deon. Ia sebenarnya ingin kembali ke markas Guild Antariksa Aksara secepat mungkin. Lluminos terus berlari hingga ia sampai di sebuah padang rumput tak jauh dari sana. Saat itulah Lluminos menghentikan langkah dan menarik pedangnya.
"Ada apa?" tanya Deon ikut waspada.
"Aku baru menyadari ini." Lluminos membalikkan badannya dan menatap Deon penuh rasa kesal. "Deon adalah seorang Knight yang memiliki pedang dan perisai. Namun, aku tidak melihat perisaimu di mana pun." Deon terdiam mendengar hal tersebut.
"Rencananya aku ingin menggali informasi lebih banyak." Ia tertawa angkuh. Suaranya berubah menjadi seorang wanita. Beberapa saat berselang, tubuh Deon diselimuti kabut hitam. Saat itulah tubuh Deon berubah. Ia bukanlah Deon, tetapi Mira yang menyamar menjadi Deon.
"Jadi namanya Yun. Aku akan segera mencarinya," ucap Mira sambil tertawa pelan.
Lluminos menjadi geram. Ia segera maju ke depan untuk menyerang Mira. Namun, Mira dapat dengan mudah menghindari serangan Lluminos. Lluminos segera melompat ke belakang.
"Spectral Gaze!" Lluminos meninju tanah cukup keras. Tiga duri tajam segera muncul dari bawah kaki Mira. Namun, Mira dengan cepat menghindari serangan itu dengan melompat sejauh yang ia bisa.
"Jangan ganggu Yun. Dia berada di bawah perlindungan kami," teriak Lluminos kesal.
"Aku tidak peduli. Assasin sepertiku dapat dengan mudah masuk ke dalam Guild kalian dan menculik Yun. Jangan lupa, aku juga pernah menyusup bersama dengan Kak Rey," ujarnya membalas perkataan Lluminos.
Lluminos menjadi kesal. Jika Mira sungguh berani sesombong itu di hadapannya, maka pasti Mira memiliki rencana licik seperti Rey. Lluminos berpikir Rey sudah salah memilih murid.
"Ah, aku lupa mengatakan satu hal." Lluminos teringat sesuatu. "Selain dalam perlindungan kami, Yun juga dilindungi oleh Rey. Dan Rey menyukai Yun," ucap Lluminos sambil melebarkan senyumnya.
"Apa!? Itu tidak mungkin!" Mira begitu terkejut dengan perkataan Lluminos. Ia tidak ingin mempercayai hal tersebut. "Kak Rey tidak mungkin menyukai orang yang baru saja ia kenal. Bahkan aku yang lebih lama mengenalnya ia tolak. Itu tidak mungkin."
"Terserah saja. Yang jelas, aku sudah mengatakanya." Lluminos tertawa pelan. Matanya tidak memancarkan sedikit pun aura kebohongan.
"Maafkan aku telah berbohong, Rey." Lluminos berucap di dalam hatinya. Kebohongannya kali ini sungguh akan membawa masalah yang begitu besar.
__ADS_1
Mira terdiam. Pedangnya terlihat bergetar. Matanya begitu tajam seolah Lluminos mengatakan hal yang paling ia benci. Saat itulah 5 orang perempuan yang merupakan bawahannya keluar dari semak.
Mira segera maju dengan kelima bawahannya. Mereka menyerang Lluminos dari segala penjuru. Lluminos berusaha menahan semua serangan itu. Namun, kekuatan Lluminos masih jauh di bawah jika dibandingkan 6 orang itu. Akhirnya, Lluminos terbunuh tanpa bisa mendaratkan satu serangan pun. Mira tidak membiarkannya hidup kali ini.