
PeAce terdiam saat menyadari tiga bola api yang melayang di dekatnya itu. Ia terlihat enggan untuk menjatuhkan senjatanya. Namun karena Yun masih ditodongkan senjata, ia tidak memiliki pilihan lain.
"Siapa kau?" teriak PeAce sambil melihat ke atas tebing. Ia menyipitkan matanya untuk melihatnya lebih jelas. Tidak banyak yang bisa PeAce lihat selain pakaian orang itu yang berwarna jingga.
"Identitasku tidak penting. Jika kau menjatuhkan senjatamu, maka pria itu akan berhenti menodongkan senjatanya," sahut orang misterius itu.
Pandangan PeAce beralih ke lelaki di hadapannya. Lelaki itu terlihat menggangguk pelan tanda ia setuju. PeAce menghela nafas berat melihat hal itu sebelum menjatuhkan senjatanya dan berjalan menjauh.
Rey tersenyum tips. Bukannya menjatuhkan senjatanya, ia malah lebih mendekat ke arah Yun dan mendekatkan pedangnya ke arah leher wanita itu. PeAce menjadi marah, sedangkan orang misterius itu tersenyum pahit.
"Hei! Ini tidak sesuai perjanjian. Lepaskan dia!" PeAce tidak bisa mengontrol emosinya saat ia tahu dirinya dibohongi.
"Aku bilang dia tidak akan menodongkan senjatanya 'kan? Lihat, ia berhenti menodongkan senjatanya."
PeAce semakin kesal mendengar perkataan orang misterius itu. Ia tidak pernah dipermainkan seperti ini sebelumnya. Tanpa mereka sadari, Rey berbisik pelan ke arah Yun.
"Ini semua salah paham Yun."
Yun tersentak kaget mendengar perkataan tersebut. Ia merasa suara itu tak asing dan hanya satu orang yang memiliki suara seperti itu. Yun hendak berucap, tetapi Rey dengan cepat segera melanjutkan perkataannya.
"Jangan berbicara dulu. Aku sebenarnya ingin menghindari PeAce. Karena itu, tolong kejar aku," bisik Rey pelan.
Yun sebenarnya masih ingin mengajukan beberapa pertanyaan. Ia sebelumnya memang sudah mendengar dari Psycho-B bahwa Rey ada di perkemahan. Hanya saja ia tidak pernah menyangka bahwa lawannya ini adalah Rey. Ia sebelumnya sedikit menyesal karena tidak cukup kuat melawan lelaki misterius di belakangnya itu. Namun setelah mengetahui bahwa yang menjadi lawannya itu adalah Rey, ia batal menyesal. Sampai kapan pun, Yun tidak akan pernah bisa mengalahkan Rey. Itulah yang dipikirkan Yun.
Karena Yun diam dan tak merespon, Rey menganggap itu sebagai sebuah persetujuan. Rey segera menarik pedangnya dan melompat sejauh yang ia bisa. Tak berhenti di sana, Rey menyarungkan pedangnya dan segera hilang dari pandangan semua orang. Orang misterius itu juga telah hilang dari tempatnya.
Rey sebenarnya tidak tahu ia berlari ke arah mana, yang jelas ia harus melarikan diri dari tempat tersebut. Ia harus menjauh sejauh mungkin untuk saat ini. Jika PeAce tetap bersikeras untuk mengejarnya, bukan tidak mungkin ia meminta bantuan Guild Antariksa Aksara yang lain.
__ADS_1
Rey teringat orang misterius yang membantunya tadi. Ia tidak ingat pernah bertemu seseorang dengan menggunakan pakaian berwarna jingga. Lagipula tidak banyak orang yang Rey temui di MMO, jadi Rey cukup ingat siapa saja teman barunya di MMO. Rey ingin sekali mencari tahu identitas orang itu dan berterima kasih. Namun orang itu telah hilang bahkan sebelum Rey kabur dari tempat sebelumnya. Cukup sulit untuk Rey melacak keberadaan orang itu jika tidak ia sendiri yang menampakkan dirinya.
Rey tiba di sebuah jalan yang cukup besar. Tanpa mengetahui arah yang ia tuju, Rey hendak berlari ke satu arah. Tepat saat Rey melangkah, ia mendengar suara orang lain. Rey segera menoleh cepat dan menarik pedangnya.
Saat Rey menoleh, ia menemukan seseorang memakai jubah berwarna jingga dan sebuah topi bundar yang serasi bersandar pada suatu pohon di pinggir jalan. Orang itu layaknya penyihir. Ia juga menggenggam tongkat kayu yang di ujungnya ada sebuah batu permata putih.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Rey tanpa menurunkan penjagaannya. Ia masih belum tahu apa maksud orang itu menolong Rey, bisa saja ia buruk.
Orang itu tertawa sejenak. Dari suaranya ia seperti seorang wanita. Orang misterius itu lalu berjalan pelan sambil melompat-lompat kecil. Wajahnya masih tertutupi topi lebarnya itu, jadi Rey masih belum mengetahui identitas wanita itu sebenarnya.
"Apa kau sudah lupa dengan gadis cantik ini?" tanya wanita itu. Ia berhenti melangkahkan kakinya saat jarak antara dirinya dan Rey hanya sekitar 5 meter.
"Sejujurnya sih aku merasa tidak pernah mengenal dirimu. Lagipula apakah kau tahu identitasku?" Tentu saja Rey menanyakan hal tersebut. Ia mengenakan sebuah topeng yang menutupi keseluruhan wajahnya.
"Dari cara bertarung serta postur tubuhmu aku bisa mengenalmu dengan mudah. Benar bukan Black Kenshi Rey?"
"The Cerise Lady, atau dikenal juga dengan nama Si Dara Jingga. Bagaimana bisa kau ...," ucapan Rey terhenti karena melihat wanita itu menurunkan topinya.
Rey sejujurnya sudah terkejut mengetahui salah satu Ranker terkenal mengenali Rey. Rey sejujurnya pernah membaca di forum tentang Ranker bernama The Cerise Lady yang terkenal memiliki Job Sorcerer. Ia juga terkenal karena berpetualang sendiri dan selalu memainkan hati laki-laki yang menyukainya.
Namun keterkejutan Rey tidak bertahan lama saat wajah wanita itu telah tampak jelas oleh Rey. Rey bahkan menjatuhkan pedangnya secara tidak sadar. Ia segera mematung kebingungan menatap wanita yang tersenyum manis ke arahnya.
"Apakah kau sudah mengenal diriku?" Wanita itu terus saja tersenyum seolah menikmati ekspresi terkejut Rey.
Wajah wanita lain segera terbayang di ingatan Rey. Ia teringat wanita merepotkan lain seperti wanita di hadapannya itu. Siapa lagi jika bukan Selena?
"Ya, aku tidak mungkin melupakan dirimu," jawab Rey jujur. Wanita di hadapannya makin tersenyum seolah ia baru saja memenangkan suatu perlombaan. Namun senyumnya segera luntur setelah Rey melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
"Siapa yang tidak bisa melupakan wanita yang terus merepotkan seperti dirimu. Celine si pembawa masalah." Rey merutuki nasibnya. Jika ia bisa memilih, maka ia lebih memilih bertemu Selena. Setidaknya Selena tidak semenyebalkan wanita di depannya.
"Hey, kau berani berkata kasar kepada penyelamatmu? Aku pastikan kau akan menyesal." Celine menatap Rey penuh arti.
"Bagaimana caramu melakukannya?"
Celine kembali tersenyum. Ia tak ingin menyahut ucapan Rey. Celine diam tak bersua membuat Rey kebingungan. Karena Rey merasa wanita itu tak akan memberikan respon apa pun, Rey lebih memilih untuk menjauh. Ia ingin segera kembali ke Midgard Tengah.
Namun, di situlah penderitaan Rey dimulai. Celine berjalan di sampingnya dan mengikuti kemana Rey pergi.
"Hey, kakiku lelah. Bisa kita singgah dahulu?"
"Hey, dengarkan aku saat bicara." Celine memukul Rey pelan dengan tongkatnya.
"Ada apa? Dan jangan ikuti aku. Pergi sana!"
"Tidak bukan apa-apa. Aku hanya ingin menjahilimu," ucap Celine sambil tersenyum membuat Rey menjadi kesal.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Namun tak berselang lama, Celine berjalan di depan Rey dan menghentikan langkah pria itu. Celine mengangkat tongkatnya, saat itulah muncul tiga bola api disekitarnya. Tatapan wanita itu menjadi serius seolah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Celine mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Melihat Celine seperti itu, Rey ikut mencabut pedangnya dan ikut memperhatikan sekitar.
"Ada apa?" tanya Rey pelan.
Saat itulah Celine tertawa keras. Bahkan air matanya keluar karena terus tertawa.
"Seperti biasa, kau selalu mudah kubohongi." Celine tertawa keras membuat emosi Rey menjadi naik. Jika saja Celine seorang laki-laki, pasti Rey sudah menjitak kepalanya.
Perjalanan Rey pun menjadi lebih 'menyenangkan' karena keberadaan Celine.
__ADS_1