
Sebenarnya Rey dan Celine sudah sampai di perbatasan Midgard Utara dan Midgard Tengah. Hanya saja karena ia harus segera menyelesaikan tantangan yang ia tawarkan pada Randi, maka Rey batal untuk ke Midgard Tengah. Dan kini ia sedang berada di sebuah kota yang tak jauh dari perbatasan. Dia sedang menunggu dua orang rekannya lagi. Sambil meminum segelas minuman yang ditemani Celine, Rey mulai memikirkan rencananya untuk menyerang Guild Light Crusader.
Sejujurnya ia belum memiliki ide apa pun sejauh ini. Keputusannya untuk menantang Randi murni dari emosinya. Walaupun begitu, Rey tidak berharap untuk menyerah. Karena banyak yang dipertaruhkan di sini, salah satunya Celine.
"Kenapa kau harus menyangkutpautkan aku sih?" Celine berkata dengan kesal. Walaupun wajahnya sedikit berbeda, tetapi Celine adalah Vivi. Ia menjadi muram sejak Rey membuatnya terlibat tantangan bodohnya itu.
"Lagipula 'kan banyak orang lain yang bisa membantumu. Aku menyesal telah mengikutimu," ucap Celine lagi, ekspresi wajahnya tidak jauh berbeda dengan tadi.
"Salahmu sendiri. Kau 'kan tahu bahwa aku selalu menimbulkan masalah. Aku ini pembawa masalah berjalan." Rey tak ingin menutupi hal tersebut. Ia memang kerap kali terlibat masalah besar, tetapi ia lebih sering mencari masalah daripada masalah yang datang pada dirinya. Contohnya saja tantangan yang ia ajukan pada Randi dua hari yang lalu.
"Yah, walaupun begitu kau juga pembawa keberuntungan berjalan. Jika aku bersamamu, selalu saja ada keberuntungan yang datang. Walau datangnya agak belakangan." Celine tersenyum. Ia mulai merasa bosan. Mereka sudah cukup lama menunggu di kota ini. Jika saja ada sesuatu yang bisa dilihat oleh Celine selain bangunan-bangunan tua kota ini, maka ia tidak akan sebosan seperti sekarang.
"Ngomong-ngomong, kau mengambil Job apa?" Rey menyadari kebosanan Celine. Walaupun ia tidak tahu apakah bahan pembicaraannya akan menyenangkan atau tidak, setidaknya ia sudah mencoba.
"Sekarang sih masih Wizard. Aku bingung mau mengambil Job lanjutan. Menurutmu aku harus mengambil Job Sorcerer atau Cursemancer?" tanya Celine meminta saran. 2 Job yang disebutkan olehnya adalah Job Second-tier setelah Job Wizard. Job Sorcerer adalah Job yang berfokus pada sohir-sihir elemen, sedangkan Cursemancer adalah Job yang berfokus pada sihir kutukan. Namun ada kemungkinan lain Cursemancer bisa mempelajari sihir elemen.
"Kalau menurutku, kau lebih cocok menjadi Sorcerer. Selain memiliki sihir area, cooldown-nya juga cukup sebentar. Selama aku bermain MMO, aku belum pernah bertemu pemain dengan Job Sorcerer. Kau bisa menjadi yang pertama," ucap Rey sambil tersenyum menggoda wanita itu.
Celine mengangguk dan menceritakan masalahnya. Sejujurnya dalam mengambil Job Sorcerer, ia harus pergi ke salah satu kerajaan dan menerima ajaran langsung dari penyihir kerajaan. Selain itu ia harus memiliki Skill bernama Sacrifice Fire. Dan Celine saat ini belum menemukan Skill itu.
__ADS_1
"Sejujurnya aku tidak tahu dimana bisa menemukan Skillbook seperti itu, tapi kurasa aku bisa membantumu mencarinya." Rey sebelumnya belum pernah menemukan Skillbook yang jatuh sebagai Drop Item.
"Baiklah jikalau begitu. Jika sudah saatnya tiba, temani aku untuk menaikkan Job milikku," ucap Celine.
"Tentu. Aku akan menemanimu. Namun aku harus melakukan sesuatu terlebih dahulu," sahut Rey. Saat itulah sebuah pesan baru saja masuk ke kotak pesannya. Rey membuka pesan itu sejenak sebelum beranjak.
"Mereka sudah dekat," ucap Rey pada Celine.
"Baiklah. Ayo berangkat."
Mereka pun segera keluar dan pergi ke menuju Midgard Barat untuk mengakhiri apa yang baru saja terjadi.
Tiga orang perempuan berjubah gelap baru saja meninggalkan sebuah hutan. Sebenarnya mereka tidak ingin di tengah cuaca yang tidak bagus ini, tetapi ada kewajiban yang harus ia laksanakan. Terlebih lagi, ini adalah perintah yang harus mereka tuntaskan.
Tak jauh dari sana, ada dua orang perempuan lain yang baru saja mengantar kepergian tiga temannya itu. Salah satunya berambuk perak, sebuah rapier tersarung rapi di pinggangnya. Ia bernama Lily. Walaupun wajahnya terlihat cantik, tetapi tidak ada yang bisa menebak kepribadiannya. Ia juga terkenal suka membentak di Guild, tidak ada anggota Guild yang tidak mengetahui sifatnya yang satu ini. Namun walaupun ia memiliki emosi yang tidak dapat dikontrol, ia selalu bersikap sopan dan tenang jika bersama wanita di sampingnya itu.
"Apa misi yang mereka jalankan?" tanya Lily sambil menurunkan kerudung jubahnya. Hujan mulai turun hingga membuat rambutnya basah. Namun Lily terlihat tidak peduli dengan hal tersebut.
"Aku memiliki janji dengan seseorang. Dan orang itu kini menagih janjinya." Wanita itu menjawab pelan. Ia sebenarnya tidak terlalu suka bebicara.
__ADS_1
"Janji? Kau melakukan perjanjian dengan seseorang? Seseorang atau sekelompok orang?"
"Sejujurnya dengan seseorang. Tapi ia ingin aku melindungi Guild miliknya. Katanya ada beberapa bahaya yang mendekati Guild-nya. Bukan tidak mungkin Guild-nya hancur. Setidaknya itulah yang kudengar darinya," sahut wanita itu. Ia mulai membalikkan badan dan memasuki hutan. Lily segera mengikutinya dari belakang.
"Lalu, kenapa kau tidak mengirim diriku? Aku sedikit bosan terus-menerus berada di hutan ini. Setidaknya biarkan aku melawan beberapa orang lelaki." Lily membunyikan persendian jari-jarinya seolah memberitahu ia siap untuk bertarung. Namun wanita itu hanya diam.
"Bagaimana? Apakah kau setuju untuk mengirimku keluar? Aku akan menjamin misiku berhasil." Lily melebarkan senyumnya sambil menepuk dada kanan menggunakan tangan. Ia sangat yakin pada kemampuan dirinya.
Melihat hal itu, wanita yang sedari tadi mengenakan tudung jubah segera menurunkannya. Ia memiliki wajah putih berseri, mata bewarna kebiruan, serta rambut hitam yang dibiarkan basah karena hujan.
"Baiklah, tapi misi yang kuberikan berbeda dan akan sangat sulit. Jadi, kumohon kau berhati-hati." Sebenarnya wanita itu enggan memberikan Lily misi. Namun setelah ia ingat lagi, dirinya memiliki sebuah misi dengan tingkat kesulitan sangat tinggi. Ia tidak memiliki orang yang bisa ia percaya selain Lily.
"Lalu misi apakah itu? Dan kemana aku harus pergi?"
"Kau akan ke Midgard Utara. Cari seseorang bernama Psycho-B. Perkembangan Guild Antariksa Aksara meningkat pesat akhir-akhir ini. Aku menduga ada kekuatan lain yang menyokong mereka." Wanita itu selalu memperhatikan Guild-Guild yang berpotensi menjadi sangat terkenal, karena itu ia tahu Guild Antariksa Aksara. Terlebih lagi Psycho-B merupakan pemain yang cukup dekat dengan Black Kenshi Rey di God Reason, bukan tak mungkin sang Black Kenshi membantunya dari balik layar.
"Apa yang harus kulakukan? Membunuhnya? Atau ...." Lily sengaja menggantungkan perkataannya. Wanita di sampingnya itu berhenti melangkah. Ia segera menatap Lily serius.
"Tangkap dan bawa dia ke sini. Dan usahakan agar tidak ada yang tahu bahwa kau yang menculiknya," ucap wanita itu sambil tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah ... Claudia."