
Rey tiba secepat yang ia bisa. Awalnya ia tak tahu di mana lokasi pasti Cold berada. Karena itulah selama dua hari ia terus mencari di perbatasan Midgard Tengah. Dan ternyata saat menemukan Cold, PeAce telah ditangkap oleh Orion.
Amarahnya segera memuncak. Rey bergerak sangat cepat dan menarik PeAce. Ia lalu menendang Orion sekuat mungkin. Dengan cepat, Rey mengangkat PeAce dan melompat sejauh mungkin. Rey menoleh ke arah PeAce. Pandangan mereka bertemu satu sama lain.
Namun, tak ada kontak lebih jauh. Rey segera menurunkan PeAce. Terlihat Cold dan Scream datang mendekati mereka.
"Aku sungguh berdoa kau datang tadi. Syukurlah dewi Fortuna masih berada di pihak kita," ucap Cold. Ia sangat bersyukur Rey tiba dan menolong mereka.
"Aku sungguh berharap kalian tidak datang ke Midgard Tengah. Tampaknya dewi Fortuna sangat membenciku," balas Rey ketus. "Kalian tahu ada bahaya yang menunggu, lalu memaksa untuk pergi menemuiku. Seharusnya setelah urusanku selesai, aku yang akan mendatangi kalian," ucap Rey sambil menancapkan pedangnya. Ia lalu mengeluarkan sebuah kristal biru dari Inventori miliknya. Ia lalu berbalik dan menatap ke arah PeAce. Pandangan mereka kembali bertemu. Rey berjalan mendekat.
"Telan ini. Lindungi dirimu," ucap Rey sambil menyerahkan kristal itu. PeAce menatap kristal itu bingung sebelum sadar dan terkejut.
"Jangan tanya. Aku malas menjelaskannya. Aku mohon dengan sangat, tolong makan itu," ucap Rey pelan. Kali ini ia tak menunggu. Ia segera berbalik dan mencabut pedangnya sebelum berdiri berdampingan dengan Cold.
PeAce menatap kristal di tangannya. Air matanya keluar sebelum memakan kristal itu. Tepat saat kristal itu ditelannya, sebuah lonjakan energi terjadi dalam tubuhnya. Statusnya naik beberapa tingkat karena mengkonsumsi Blood of Horus.
Rey menatap ke arah Cold tajam. Ia tak suka akan keputusan Cold membiarkan mereka terancam bahaya. Saat itulah dua orang lelaki keluar dari semak dan berlari pelan ke samping Rey.
"Kalian cepat juga, Lluminos, Deon." Rey menoleh ke samping, tepatnya ke arah dua teman baiknya itu.
"Tentu saja. Aku ingin melihat 4 legenda berkumpul sekaligus," jawab Lluminos sambil tertawa pelan.
"Mana Heilige?" tanya Rey pelan sambil mengedarkan pandangannya. Ia tak melihat wanita itu di mana pun.
"Dia di ... ah, itu dia," jawab Deon sambil membalikkan badannya. Heilige terlihat baru saja keluar dari pepohonan. Rey sempat menoleh dan menemukan Heilige menatap heran ke arah PeAce.
"Kau berani juga menampakkan batang hidungmu." Orion maju. Ia kini berdiri berdampingan dengan keempat rekannya.
__ADS_1
"Tentu saja. Kau kira aku dirimu? Beraninya bawa rombongan. Sejak dulu kau memang pengecut!" ejek Rey dengan menekankan kata pengecut. Ia mengeluarkan pedang keduanya. Ia harus mengeluarkan seluruh kemampuannya sejak awal.
"Akan kubuat kau menyesal setelah mengatakan itu." Orion menggeram kesal. Ia menggenggam erat pedangnya.
"Majulah. Biar kutunjukkan kau arti dari kekuatan sejati."
Kedua kelompok itu sama-sama melesat cepat dan saling membenturkan senjata masing-masing.
"Slash!" Rey menebas kuat hingga Orion termundur ke belakang. Namun, Rey tak berniat membuat Orion mendapatkan keseimbangannya. Rey kembali menutup jarak di antara mereka dan mengayunkan kedua pedangnya dengan keras. Sekali lagi Orion termundur.
"Chaos Wave!" Sebuah gelombang tenaga pedang menghantam Orion. Ia terjatuh karenanya. Ia berusaha cepat-cepat bangkit. Namun, Rey lebih cepat dari dirinya. Ia mengumpat keras sebelum membuka salah satu rahasianya.
Rey mengayunkan kedua pedangnya secara menyilang, tapi anehnya kedua pedang itu melewati tubuh Orion tanpa menimbulkan luka. Terlihat sebuah percikan petir saat pedang Rey melewati tubuh Orion. Rey segera mundur dengan cepat. Ia menendang keras lawan yang dihadapi Lluminos hingga terjatuh. Dengan cepat Lluminos menusuk jantung orang itu. Ia pun tewas.
Rey kembali mundur. Cold, Deon, dan Lluminos yang melihat itu ikut mundur hingga tiba di hadapan kelompok wanita yang mereka lindungi itu.
"Dia pengguna Blood of Horus berelemen petir," ucap Rey sambil menyesuaikan kembali nafasnya. Sontak yang lainnya segera terkejut. Mereka memandangi Orion yang berjalan pelan ke arah mereka. Bisa dilihat ada percikan-percikan petir yang keluar dari tubuhnya.
"Aku punya satu rencana. Lluminos dan Deon, kalian mundur dan lindungi kelompok perempuan. Jaga mereka dan jangan biarkan Orion mendekati mereka. Jelaskan juga situasinya pada mereka. Orion saat ini kebal akan serangan fisik, tetapi serangan sihir masih berpengaruh padanya," ujar Rey menjelaskan. Lluminos dan Deon mengangguk sejenak sebelum mundur dan bersiap.
"Rencana gila apa yang akan kita lakukan?" tanya Cold tertawa pelan. Rey menoleh kearahnya dan ikut tertawa pelan. Cold memang bisa menebak jalan pikirnya.
"Kau hadapi tiga orang yang lain. Aku akan menghadapi Orion sendirian," ucap Rey. Ia lalu mengeluarkan dirinya dalam party. Rey kini mendapatkan semua bonusnya serta dapat bertarung dengan bebas. "Kau tahu kapan saat yang tepat untuk melancarkan serangan balik?"
"Saat lawan lengah," sahut Cold.
Rey menggeleng pelan.
__ADS_1
"Saat lawan terdesak," jawab Cold lagi.
"Tidak, saat lawan berpikir ia sudah di atas angin,"
...***...
PeAce terkejut saat muncul percikan-percikan petir dari tubuh Orion. Dan PeAce cukup mengenal hal tersebut. Itu bukti bahwa Orion adalah pengguna Blood of Horus. Deon dan Lluminos lalu datang ke tempat mereka. PeAce tahu ini semua rencana Rey. Tanpa diberitahu pun, PeAce yakin Rey akan melawan Orion sendirian.
PeAce kembali menatap Rey sambil berharap-harap cemas. Rey menyilangkan pedang kanannya dengan pedang Cold beberapa saat. Lalu, mereka kembali masuk ke dalam pertarungan. PeAce melihat Rey menuju Orion. Rey menebas pedangnya beberapa kali, tetapi serangan itu tak berarti. Orion tertawa lalu mengangkat tangan kirinya. Saat itulah petir keluar dari tubuhnya dan menyambar Rey dengan cepat. Rey terpelanting. Ia segera bangkit dan menatap Orion kesal.
Di sisi lain, Cold melawan tiga lawannya dengan kekuatan penuh. Ia sekarang dalam posisi unggul, berbanding terbalik dengan Rey. Cold mengayunkan pedangnya cepat dan memberikan luka yang cukup besar di salah satu lawannya. Cold melompat mundur dan memperhatikan Rey dalam posisi terdesak. Ia hendak membantu, tapi ia segera ingat bahwa prioritasnya adalah tiga orang di hadapannya.
"Kuharap kau baik-baik saja. Tidak. Kau pasti baik-baik saja," gumam Cold dalam hati bahwa Rey tidak akan mungkin dikalahkan.
Orion kembali maju. Kilatan petir muncul dari tubuhnya. Ia lalu melempar pedangnya ke arah Rey. Rey dengan sigap menangkis pedang itu. Namun, saat ia melihat kembali, Orion telah berada di depannya. Ia lalu meninju Rey keras membuatnya terpental jauh dan terhenti di salah satu pohon. Rey bangun dengan cepat dan meminum beberapa Potion untuk mengembalikan poin nyawanya yang hilang.
Orion melompat tinggi dan menendang Rey saat jatuh. Sebuah serangan, berhasil didaratkannya lagi ke tubuh pria itu. Rey mengerang kesakitan saat dadanya di injak oleh Orion.
"Kau bukanlah legenda lagi. Kau hanya orang biasa," ucap Orion sinis. Orion mengambil pedangnya. Ia lalu menghunuskan pedang itu ke arah Rey. "Ada kata -kata terakhir?" tanya Orion sambil tertawa pelan. Tawa yang penuh dengan nada merendahkan.
"Ada," jawab Rey pelan.
"Berhenti!" PeAce berteriak keras menghentikan segala pertarungan. Ia lalu menatap Rey sedih. Air matanya keluar lagi pelan. Pandangannya beralih ke arah Orion.
"Aku akan mengikutimu. Jangan bunuh dia," ucap PeAce pelan. Orion tersenyum lebar mendengar hal tersebut, sedangkan Rey bingung setengah mati. Ia menarik tangan Orion ke samping hingga ia jatuh. Rey berdiri cepat dan mundur beberapa langkah. Ia lalu menatap ke arah PeAce.
"Jangan lakukan itu. Kau hanya menyiksa dirimu sendiri," kata Rey lembut.
__ADS_1
"Kau juga melakukan hal yang sama Rey."
"Tidak. Ini berbeda. Aku tahu batasanku. Karena itulah aku ingin melampauinya dan mengalahkannya."