
"Benarkah?" tanya Rey sekali lagi memastikan. Senyumannya masih saja tak luntur.
"Benar. Memangnya kenapa?" tanya balik pria itu bingung. Rey sendiri segera mengambil tempat duduk yang berada di sebelah orang itu.
"Bisakah kau ceritakan Saint lebih jauh? Sejarahnya serta apa yang kalian lakukan. Tidak banyak yang tahu tentang Saint di kota ini," ucap Rey sopan.
"Memang informasi terkait kelompok kami sangat minim. Hanya orang-orang penting yang tahu. Kau sendiri kenapa ingin tahu?" tanyanya sambil sedikit memiringkan kepalanya.
"Sebenarnya Paman Rhodes memberi ...."
"Rhodes kau kata?!" potong orang itu cepat. Suaranya sangat keras hingga membuat mereka menjadi pusat perhatian. "Dimana? Dimana pria itu?"
"Ah, bisakah kita mencari tempat lain," ucap Rey sambil memandang sekitarnya. Pria itu segera mengerti.
"Baiklah ikuti aku," katanya. Ia segera bangkit dan melangkah pergi.
"Aku akan menghubungi kalian lagi nanti," ucap Rey pada ketiga temannya itu. Ia segera melangkah terburu-buru karena orang tadi telah keluar dari restoran itu.
Rey segera keluar dari restoran. Ia melihat lelaki itu berjalan ke satu sisi dengan cepat.
Rey segera berlari menyusul pria itu. Ia bahkan belum sempat mengatakan namanya.
"Aku Rey," ucap Rey pelan saat posisinya tepat berada di sisi pria itu.
__ADS_1
"Kau bisa memanggilku Ivan," balasnya. Ia segera berbelok masuk ke sebuah gang kecil. Gang yang terlihat kumuh. Gang tempat Rey menemukan peta menuju ke tempat Saint.
Tak butuh waktu lama, mereka berdua segera tiba di ujung gang itu. Rey hanya bisa memikirkan tempat ini adalah jalan buntu. Namun, ternyata ia salah. Ivan berjalan ke sudut kiri dinding itu. Ia lalu mengangkat tangannya pelan tepat ke arah bagian istana. Tempat dimana titik merah itu berada. Ivan pun segera merapal mantra beberapa saat. Sebuah cahaya kehijauan muncul dari tangannya. Saat itu pula sebuah lorong dengan tinggi dua meter muncul di hadapan ivan.
Rey terkejut melihat hal tersebut. Ternyata titik merah serta gambar istana itu adalah sebuah tipuan. Rey bersyukur dirinya tidak jadi pergi ke istana.
"Mari masuk," ucap Ivan membuyarkan pikiran Rey. Ia melangkah pelan memasuki lorong itu diikuti Rey. Lorong itu cukup gelap, jadi Ivan menggunakan salah satu sihirnya. Kini, ada sebuah api yang menuntun jalan mereka di depan.
Rey mulai berpikir pria di depannya ini bukanlah orang biasa. Pria ini jelas hanya menggunakan sihir api dengan kualitas rendah. Namun, cahaya yang dikeluarkan api di hadapan mereka lebih terang dari biasanya. Instingnya juga mengatakan bahwa Ivan adalah seorang ahli sihir. Mengingat ia terkejut saat mengetahui Rhodes, pastilah ia kenal dengan orang itu. Rhodes adalah pria yang kuat dan memiliki Job Special-Tier, karena itu Rey beranggapan pria di hadapannya ini juga sama atau mungkin hanya setingkat di bawah Rhodes.
Perlahan tapi pasti, terlihat cahaya dari kejauhan. Saat mereka keluar dari lorong itu, Rey tertegun. Ia kini berada di sebuah ruangan yang cukup luas. Ada 4 pilar besar yang menjulang untuk menopang atap. Di tengah ruangan, tepatnya di tengah 4 pilar besar itu, ada sebuah pedang yang diletakkan dalam peti kaca. Lalu tak jauh dari sana ada lorong-lorong lain yang tak tahu menuju kemana. Rey terlambat menyadari bahwa mereka tidak berdua di sana.
"Yang mulia." Seseorang muncul di hadapan mereka berdua dengan cepat. Ia lalu berlutut satu kaki ke arah Ivan. "Siapa orang asing ini?"
"Aku kurang mengerti," celetuk Rey tepat saat ia duduk di kursi.
"Tentang apa?" tanya Ivan.
"Kurasa kau belum menjelaskan dirimu secara mendetail. Gadis tadi menyebutmu 'yang mulia'. Apa maksudnya?" Rey bukannya tak mendengar panggilan tersebut. Hanya saja saat itu bukan waktu yang tepat untuk bertanya. Karena itu ia menunggu hingga saat ini.
"Ah, benar juga. Aku Ivan. Keturunan langsung Raja Calpheon."
"A-apa? Kenapa kau tidak menyebutkannya tadi?"
__ADS_1
"Karena banyak orang yang akan mendengar. Bahkan dinding pun bisa mendengar. Jangan lupa ungkapan itu," jawabnya. Rey tersenyum kecut mendengar hal tersebut.
"Sekarang aku ingin mendengar cerita tentang Rhodes." Ivan sedikit mendekatkan kursinya. Ia tak ingin ada informasi yang tak didengarnya.
Rey pun mengangguk. Ia menghirup nafas pelan sebelum menceritakannya pelan. Rey mulai bercerita saat ia pertama kali bertemu dengan Rhodes. Ceritanya berlanjut saat ia menemukan Rhodes penuh luka serta sekarat. Di detik-detik terakhirnya, Rhodes mempercayakan misi besar yang ia emban pada Rey. Ia juga memberikan beberapa peninggalan pada Rey. Salah satunya buku tentang kehidupannya.
Rey pun segera membuka buku itu. Ia lalu memberikannya pada Ivan. Ivan pun membuka buku itu pelan. Dengan hati-hati, ia membalik setiap halamannya. Air matanya jatuh saat tiba pada suatu halaman. Namun, Ivan terus melanjutkan bacaannya. Saat ia telah selesai membaca semua isi buku itu, ivan memeluknya erat. Ia menangis kembali. Tangisan yang penuh kesedihan.
Rey yang melihat hal itu sedikit kagum di dalam hatinya. Ultra Techno begitu hebat. Ekspresi yang dikeluarkan Ivan begitu asli, seakan-akan ia bukanlah NPC. Rey tak mengerti apa hubungan Ivan dan Rhodes, jadi ia memilih untuk diam tanpa mengganggu Ivan.
Ivan mengusap pelan air matanya hingga tak bersisa. Ia begitu ingin bertemu dengan sosok Rhodes. Ia lalu menatap Rey dengan penuh persahabatan.
"Terima kasih anak muda. Terima kasih karena telah memberikan kabar ini. Terima jasih juga karena telah bersedia menerima misi yang ia emban," ucap Ivan tulus sambil menundukkan kepalanya.
"Tidak usah dipikirkan. Aku membantunya karena ia juga membantuku. Ah, aku juga menemukan sesuatu di perjalananku." Rey segera meraba-raba sakunya. Ia teringat tentang kertas serta kalung yang ia temukan. Rey segera menyerahkan kedua benda itu. Ivan terlihat terkejut.
"Ini? Dimana kau menemukannya?"
"Pada sebuah goa di dekat perbatasan," jawab Rey pelan.
"Itu desa tempat pertama kali diriku pertama kali bertemu dengannya. Dan dirinyalah yang menaruh kalung itu disana," ucap Ivan pelan. Rey mengerutkan keningnya tanda ia bingung.
"Mungkin saatnya aku bercerita tentang para Saint dan hubungan kami dengan Rhodes. Mungkin cerita ini akan memakan banyak waktu, jadi aku berharap dirimu tidak akan bosan," ucapnya.
__ADS_1
Ivan menghirup nafasnya pelan. Ia lalu menatap Rey serius. Dengan pelan, ia pun menceritakan segalanya tentang Saint serta keterlibatan mereka dengan misi yang di emban oleh Rhodes. Bukan. Misi yang diturunkan Arthur pada Rhodes dan kini diwariskan kembali pada Rey.