
Rey segera menarik Psycho-B ke dekatnya. Saat itu pula Rey meletakkan pedangnya di leher Psycho-B. Tak lupa, Rey merebut senapan pria itu dan melemparkannya cukup jauh. Psycho-B awalnya terkejut, tapi dengan segera ia mengerti dan mengangkat kedua tangannya.
Saat itulah dua orang perempuan keluar dari balik pepohonan dengan tergesa-gesa sambil menggenggam erat pedangnya masing-masing. Mata mereka terbelalak melihat Psycho-B yang disandera. Rey bersyukur di dalam hatinya karena masih mengenakan topeng, karena itu PeAce tidak mengetahui identitasnya.
"Lepaskan dia!" PeAce berucap lantang. Ia menghunuskan pedangnya ke depan.
Rey melupakan suatu hal, suara. Jika ia berbicara, maka dengan jelas PeAce bisa mengenalinya. Dan Psycho-B mengerti hal tersebut.
"Jangan bergerak, dia berbahaya," teriak Psycho-B saat ia melihat Heilige mendekat secara perlahan. "Dia seorang pembunuh bayaran."
Mata Rey meneliti ke sekitarnya berusaha mencari celah untuk kabur. Namun Rey merasa usahanya akan sia-ia. Jika ia kabur, maka PeAce bisa mengejarnya. Bahkan ia akan meminta bantuan pada yang lainnya. Saat ia berusaha mencari celah, pandangan Rey jatuh ke senapan milih Psycho-B.
"Maaf," bisik Rey pelan. Ia segera melemparkan Psycho-B jauh, sangat jauh hingga tersantak di dinding tebing. PeAce dan Heilige terkejut melihat hal tersebut. Rey segera melesat cepat dan menendang senapan Psycho-B cukup jauh. Ia lalu memandang PeAce penuh intimidasi.
Rey berjalan pelan ke arah PeAce dan Heilige. Pedang di tangannya bergetar hebat. Di mimpi pun ia tidak pernah sekalipun bertemu dengan PeAce sebagai lawan. Namun kali ini ia harus melakukan hal tersebut.
"Siapa kau?" Heilige bertanya sembari mengangkat pedangnya. Rey diam tak menggubris. Namun, Rey menghentikan langkahnya. Ia segera mengangkat pedangnya dan mengarahkannya ke arah PeAce. Saat itulah Heilige dan PeAce berpikir bahwa pria di hadapannya adalah orang suruhan Orion.
Jika dipikir-pikir, aku bisa melihat kemampuan berpedang PeAce dengan pertarungan ini, batin Rey. Rey tersenyum kecut dari balik topengnya, setidaknya ia ingin melihat dampak positif dari pertarungan ini.
Rey maju ke depan terlebih dahulu dan memberikan sebuah tebasan pada PeAce. Dengan mudah, PeAce menahan serangan itu dengan pedangnya. Perasaan Rey bergejolak, seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang ingin keluar.
Namun ia tidak bisa terlalu merasakan perasaan itu lama-lama, sebuah serangan datang dari Heilige. Rey melompat mundur untuk menghindar. Namun PeAce tidak membiarkan hal itu terjadi, ia segera menusuk ke depan dengan cepat. Untung saja Rey lebih cepat dan menundukkan tubuhnya. Ia segera memberikan serangan balasan dan memukul PeAce.
__ADS_1
Walaupun tidak keras, tetapi cukup untuk membuatnya termundur.
"Dia kuat." Heilige maju ke depan PeAce untuk melindungi wanita itu. Namun Rey tidak tinggal diam, selama ini mereka selalu bersembunyi di balik bayang-bayang orang lain. Mereka harus melihat kekuatan yang lebih besar.
Rey melesat cepat ke depan dengan tangan siap menebas. Heilige segera bersiap untuk menyambut serangan itu. Namun di detik-detik terakhir, Rey menebas udara. Sebuah gelombang pedang keluar dari tebasan itu dan menghantam Heilige. Ia segera tersungkur ke tanah dan sedikit meringis kesakitan.
PeAce yang melihat hal itu menjadi waspada. Ia kembali mengangkat pedangnya dan menyerang Rey cepat. Namun semua serangannya dapat dihindari dengan mudah oleh Rey seolah alur serangan PeAce telah tertebak bahkan sebelum ia mengayunkan pedangnya.
Rey tersenyum kecut. Ia yang memerintahkan Yun untuk mengajari PeAce tentang cara berpedang yang baik untuknya. Yun sendiri belajar dari Rey, karena itulah semua serangan PeAce dapat ia tebak dengan mudah.
PeAce menjadi kesal saat melihat serangan demi serangan yang ia lancarkan tidak mengenai Rey, bahkan menggores pun tidak. Rey bahkan terlihat tidak serius melawannya.
Rey melompat mundur untuk menutup jarak. Ia melirik sejenak sebelum mengambil sebuah belati kecil dan melemparkannya ke belakang. Tepatnya ke tanah di depan Psycho-B. Rey sengaja melakukan itu agar tidak menimbulkan kecurigaan seolah ia berkata pada Psycho-B, "berhenti disana" atau "aku akan mengurusmu nanti."
PeAce terkejut. Saat ia sadar, Rey telah berada di belakangnya. Rey dengan cepat menangkap tangan kanan wanita itu. Tak berhenti di sana, Rey segera merebut pedangnya dan melemparkannya cukup jauh. Rey lalu mendorong PeAce pelan. Namun walaupun pelan, dorongan itu cukup untuk membuatnya jatuh ke tanah.
Rey lalu menatap sekitar, ia melihat Heilige mulai bangkit. Rey bergerak cukup cepat ke hadapan Heilige. Tepat saat Heilige berhasil bangkit, Rey telah tiba di hadapannya dengan menodongkan pedangnya.
"Heilige!" PeAce berteriak memanggil nama wanita itu.
"Siapa kau? Kenapa kau menyerang kami?" Heilige berusaha untuk tetap tenang, walau sebenarnya ia sedang menahan getaran hebat di kakinya. Ia sebelumnya belum pernah sekalipun terbunuh di MMO. Saat melihat pedang Rey telah berada cukup dekat dari lehernya, ia berpikir ini adalah akhirnya. Karena itu ia ingin mengetahui siapa pembunuhnya.
Namun, pria di hadapannya terlihat tidak ingin menjawab hal tersebut. Heilige menjadi kesal dan berniat mengangkat pedangnya kembali. Namun, ia segera mengendalikan emosinya saat menyadari tatapan PeAce cukup jauh di belakang Rey.
__ADS_1
"Setidaknya aku ingin tahu siapa pembunuhku," ucap Heilige pelan.
Rey berpikir sejenak. Ia melirik ke belakang dan melihat PeAce tidak melakukan apa-apa. Tatapannya lalu kembali ke arah Heilige.
Ada yang mereka rencanakan, batin Rey. Ia tahu Heilige sempat memasang ekspresi berbeda. Namun Rey tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal tersebut lebih jauh.
"Ja-mes," ucap Rey pelan dengan suara yang sedikit berbeda dan terbata-bata. Heilige mengerutkan dahinya. Ia bingung dengan nama serta cara pria di hadapannya itu menyebutkan namanya sendiri, seolah ia gagap.
"Kami tidak ingat pernah menyinggungmu sebelumnya." Heilige membuat ekspresi penasaran. Ia ingin mengetahui motifnya lebih jauh.
Sekali lagi Rey melirik ke belakang. PeAce masih terdiam di tanah dan tak terlihat berpindah. Firasat Rey mulai tidak enak, jelas-jelas Heilige tidak menatap wajahnya, melainkan sesuatu di belakangnya.
Rey mengambil sebuah belati dengan tangan kirinya dan melemparkan belati itu ke depan PeAce. Namun, PeAce tidak merespon. Berusaha menghindar pun tidak.
Saat itulah Rey memang mengetahui kedua wanita ini sedang merencanakan sesuatu. Jika Rey terjebak, maka ia bisa dikalahkan.
Rey buru-buru menarik pedangnya dan hendak melompat menjauh. Namun semuanya terlambat, sebuah pukulan keras menghantam perutnya. Rey terpelanting cukup jauh. Ia terkejut dan terlambat merespon. Karena itulah pukulan itu cukup telak.
Rey merasakan suhu sedikit menurun. Ia berusaha bangkit dan mencari tahu siapa yang telah memukul dirinya. Saat Rey menoleh, matanya segera membelalak. Rey menahan dirinya untuk tidak mengumpat keras. Seorang wanita dengan logo Snowflakes muncul di hadapannya.
***
__ADS_1
Itu logo Snowflakes