
"Hahaha." Raihan tertawa lantang berusaha untuk mencairkan suasana. Teman-temanya telah sampai ke markas Guild Aozora dan mereka dengan senang hati membantu Yun serta yang lain. Selama perjalanan, tak ada gangguan apa pun. Claudia juga tak mengejar mereka hingga perjalanan begitu mulus.
Dan kini, Raihan berada di sebuah kafe bersama teman-temannya. Rian melihat nama Rey tiba-tiba offline di daftar pertemanannya. Ia menduga Rey terbunuh, karena itu Rian berniat mengajak Raihan makan malam sekaligus meminta penjelasannya. Dan ternyata, tidak hanya Rian yang ingin meminta penjelasan Raihan. Yuni juga datang untuk mengetahui alasan Raihan bisa terbunuh.
Raihan sudah selesai menjelaskannya pada Rian dan Yuni. Ada raut tidak senang di wajah keduanya. Bagaimanapun juga, Raihan bertindak terlalu ceroboh. Namun, Rian terlihat bisa memakluminya. Konflik antara Claudia dan Rey sudah banyak diketahui orang-orang, jadi ia juga tidak patut ikut campur.
"Sudahlah. Lagi pula aku tidak bisa marah. Orang nekat dan keras kepala seperti dirimu mana bisa kuhentikan." Rian menggelengkan kepalanya pelan sebelum menyeruput teh di depannya.
"Yang penting aku bisa lepas dari Claudia. Ngomong-ngomong, aku menyarankan kalian jangan bertarung dulu untuk beberapa hari. Mungkin 10 hari cukup," ucap Rey. Ia lalu menjelaskan bahwa status Mark of Murder yang dimiliki mereka akan lama hilang jika terus bertarung. Namun jika mereka hanya melawan monster biasa dan tidak melawan manusia atau ras lain, maka hal itu tidak apa-apa.
"Aku tahu." Rian menjawab sambil menganggukkan kepalanya sekali.
"Karena misi kita telah selesai, maka kalian sudah bisa kembali ke markas Antariksa Aksara."
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Yun pelan.
"Aku masih memiliki urusan di Midgard Tengah. Jadi untuk sejenak kita tidak akan bertemu di MMO," sahut Raihan.
"Rai, kau melupakan suatu hal," celetuk Rian. "Alina yang ada bersamaku. Bagaimana nasibnya?"
Raihan terdiam. Ia sungguh tidak terpikirkan tentang wanita itu. Alina tidak mungkin kembali ke Midgard Barat. Ia juga tidak mungkin berpetualang sendiri. Harus ada seseorang yang melindungi dirinya. Dan Raihan tahu orang yang tepat. Raihan segera melebarkansenyumnya menatap orang itu.
Rian menyadari senyum licik yang terlukis di wajah temannya itu. Tanpa bicara pun, Rian tahu bahwa Raihan akan merepotkan dirinya. Ia sudah menebak apa yang akan dikatakan Raihan selanjutnya.
"Suruh saja dia masuk ke Guild Antariksa Aksara. Kau 'kan juga salah satu temannya." Raihan tersenyum penuh makna. Rian hanya bisa menggaruk bagian belakang kepalanya. Ia tidak bisa untuk mengatakan tidak. Lagi pula perkataan Rai merupakan kebenaran, Alina adalah salah satu temannya.
"Oh, iya. Bicara tentang Guild, bukankah sebelumnya kau mengatakan ingin datang ke markas kami untuk bertemu PeAce?" Rian bertanya sambil menyunggingkan senyumnya lebar.
"Setelah urusanku selesai, maka aku akan datang. Aku jamin tidak akan lama. Lagi pula aku sangat yakin urusanku tidak berhenti di Midgard Tengah. Tak lama lagi aku pasti ke Midgard Utara," sahut Raihan sambil meneguk habis kopinya
"Baiklah. Aku akan menunggu kedatanganmu itu."
"Kurasa hari sudah larut." Yuni melihat jam di tangannya. Memang hari sudah malam ketika mereka mulai berkumpul. "Aku ingin pulang dulu."
"Kalau begitu aku juga." Rian meneguk habis teh miliknya sebelum bangkit.
"Aku akan mengantarkan Yuni dulu," ucap Raihan sambil mengenakan jaket miliknya yang sebelumnya diletakkan di badan kursi.
"Ah, tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri."
"Sudahlah, tidak apa-apa."
__ADS_1
Dengan berat hati, akhirnya Yuni menerima permintaan Raihan. Setelah membayar semua tagihan, mereka segera keluar dari kafe itu. Tak lama, Rian dan kedua temannya berpisah di sebuah pertigaan.
Tersisalah Raihan dan Yuni yang diam membisu sejak tadi. Tidak ada percakapan di antara keduanya. Yuni terlihat hanya memandangi jalan di depannya, ia sebenarnya sedang memikirkan sesuatu. Sedangkan Raihan sendiri lebih memilih untuk melihat bintang yang bertaburan di langit. Selama beberapa menit, tidak ada percakapan di antara mereka. Perlahan tapi pasti, situasi di antara mereka menjadi canggung. Di saat itulah Raihan terbatuk pelan dan memulai obrolan.
"Aku tahu kau ingin mengatakan sesuatu," celetuk Raihan tanpa mengalihkan pandangannya. Yuni terdiam beberapa saat, ia masih terlihat memikirkan sesuatu.
"Katakan saja, tidak perlu segan," ucap Raihan lagi. Namun, Yun masih saja diam. Raihan ingin berucap sekali lagi, tapi Yuni telah lebih dahulu memotongnya.
"Aku ingin ikut berpetualang bersama dirimu," kata Yun pelan.
"Maaf, kalau itu tidak bisa. Perjalananku begitu berbahaya kali ini. Aku akan menceritakan garis besar petualanganku."
Raihan pun menjelaskan petualangannya baru-baru ini dan sesuatu yang ia cari. Ia juga menjelaskan tentang asal muasal Job yang ia dapat serta misi yang diberikan Rhodes. Tanpa ia sadari, Yuni sebenarnya tidak memperhatikan. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Maaf, aku tidak bisa mengatakannya sekarang, Rai," gumam Yuni di dalam hatinya.
***
Setelah kejadian hari itu, Rey hidup kembali di kota Trindamar. Rey segera meninggalkan kota itu karena takut Claudia masih mengincar dirinya.
Dan setelah beberapa hari perjalanan, Rey tiba di Midgard Tengah. Memang tujuannya kali ini untuk bertemu Ivan. Selain itu ada banyak hal yang ingin ia tanyakan terkait Byakkou pada pria itu.
Rey segera masuk ke dalam kota dan berjalan menuju tempat persembunyian Ivan. Tak butuh waktu lama, Rey segera tiba di ujung gang kumuh tempat jalan masuk menuju persembunyian Saint. Namun, Rey tersadar. Ada satu hal yang ia lupakan. Sebelumnya Ivan mengucap suatu mantra untuk membuka pintu rahasia di depannya. Dan Rey tidak tahu mantra apa yang diucapkan pria itu.
"Bisakah kau membuka pintu itu, Selena?" pinta Rey sambil tersenyum lebar.
"Mudah," ucap Selena sambil menjentikkan jarinya sekali. Ia lalu mulai melakukan apa yang dilakukan Ivan dulu. Mulai dari membaca mantra, menaruh tangan di depan logo istana, hingga timbul cahaya kehijauan. Saat itu juga lorong sebelumnya timbul di hadapan Selena.
"Ayo," ajak Selena lalu melangkah masuk.
Rey mengangguk pelan sambil mengikutinya dari belakang. Mereka masuk ke dalam lorong yang cukup gelap itu. Seperti sebelumnya, tidak ada sedikit pun penerangan di sana. Perlahan, terlihat cahaya yang berada di kejauhan pertanda jalan keluar semakin dekat. Mereka segera keluar dari lorong itu. Rey segera diantar Selena menuju ruangan lain tempat Ivan berada.
"Ah, senang rasanya ada orang pendiam dan tidak menyebalkan di sini," ejek Rey.
Selena sungguh berubah menjadi pribadi yang berbeda. Jika di luar ia adalah wanita yang begitu merepotkan, maka di tempat ini ia menjadi wanita pendiam yang dapat diandalkan. Rey tertawa melihat perubahan itu.
Rey segera tiba di ruangan Ivan. Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk, Rey segera membuka pintu untuk masuk ke dalam. Di sana, Ivan telah menunggu kedatangannya. Rey pun duduk di kursi yang telah disediakan.
"Kau terlihat semakin kuat. Bagaimana perjalananmu selama ini?" tanya Ivan sambil tersenyum senang melihat Rey baik-baik saja.
"Lumayan. Dalam misi yang kau berikan, aku mendapatkan beberapa benda. Aku ingin kau memeriksanya, apakah benda ini yang kau cari atau bukan." Rey mengeluarkan sebuah cincin perak dan menaruhnya ke atas meja tang ada di hadapannya. Selain itu, Rey juga mencabut White Fang Sword dan memberikannya pada Ivan. Ivan segera memeriksa kedua benda itu dengan sangat teliti. Mulai dari bentuk, corak, hingga bahan dari dua benda itu.
__ADS_1
"Pedang ini untukmu. Akan lebih berguna jika senjata ini jatuh ke tanganmu," kata Ivan sambil mengembalikan pedang putih itu ke tangan Rey. Rey mengangguk pelan lalu kembali menyarungkan pedang itu.
"Lalu, untuk cincin ini ... cincin ini bernama Silver Disaster. Cincin ini digunakan ras Demon untuk menambah kekuatan mereka secara keseluruhan. Namun jika kita bisa merubah mantra yang terpasang di cincin ini, kita bisa menggunakannya untuk ras manusia. Dengan membawa kembali cincin ini, kau telah menambah potensi umat manusia untuk menang. Terima kasih Rey."
[Quest Selesai
Reward:
Hubungan baik dengan Ivan +10
Fame +200
Peningkatan level +2]
Rey tersenyum lebar menatap layar semitransparan di hadapannya. Hadiah dari misi yang ia dapat kali ini sunggu menguntungkan. Selain mendapatkan kenaikan level, Fame yang ia miliki juga bertambah.
"Oh, iya. Aku teringat sesuatu." Rey teringat sesuatu tentang misinya. Rey lalu menceritakan tentang pertemuannya dengan Penjaga Midgard Barat, Byakkou. Mulai dari pembuktian kekuatan Rey, hingga benda yang ia dapatkan dari sana. Rey lalu mengeluarkan sebuah sarung belati berwarna putih dengan corak sulur tanaman.
Ivan ingin berucap dan memberikan penjelasan, tetapi Rey lebih dahulu memotong untuk melanjutkan ceritanya. Rey lalu menceritakan tentang petualangan dalam menghadapi Dark Elf dan Khell. Ia juga menjelaskan bahwa saat itu Dark Elf sempat dikendalikan Khell menggunakan belati aneh.
"Jika ceritamu sungguh benar, kita harus memburu orang bernama Khell ini. Aku sangat yakin dia bawahan dari salah satu jenderal ras Demon. Jika kita sungguh berhasil merebut pusaka itu, maka kita akan bisa membentuk kembali tubuh Byakkou," ujar Ivan menjelaskan.
"Jadi, apakah aku harus kembali ke Midgard Utara untuk memburunya?" tanya Rey. Ia memang sudah menduga misi selanjutnya akan berada di Midgard Utara.
"Midgard terbagi menjadi 5. Namun, kenapa dia memilih Midgard Utara?"
Rey terdiam mendengar pertanyaan Ivan. Ia tidak memiliki dugaan sedikit pun. Yang bisa Rey pikirkan mungkin hanya kebetulan saja, tapi ia yakin Ivan tidak menerima jawaban seperti itu. Rey terus diam beberapa saat hingga ia mendapatkan jawaban.
"Ras Demon sejak awal sudah mengetahui bahwa Penjaga Midgard Utara tidak ada di tempatnya. Selain itu Midgard Utara memiliki banyak sekali wilayah yang belum terjamah. Dengan kata lain, mereka ingin membangun kekuatan secara diam-diam," tebak Rey.
"Tepat sekali. Sungguh menyenangkan membicarakan hal ini dengan orang yang langsung mengerti. Jadi, aku harap kau bisa mencari pusaka itu untuk membangkitkan kembali Byakkou sekaligus menghentikan mereka melakukan sesuatu."
[Quest: Pemburuan
Kesulitan: A
Ivan ingin dirimu mencari pusaka yang dicuri oleh Khell dan menghentikan Ras Demon yang kembali membangun kekuatannya.
Hadiah: Tidak Diketahui ]
"Baiklah, aku akan segera pergi. Tapi sebelum itu, aku punya saran terhadap tempat persembunyian kalian," ucap Rey.
__ADS_1
"Apa? Katakan saja, tidak perlu segan," kata Ivan sambil menumpuk masing-masing jarinya satu sama lain di atas meja.
Rey tersenyum lebar. Ia lalu segera berdiri dan menaruh sebuah kantong kulit di atas meja. Setelah itu Rey berjalan mendekati Ivan dan membisikkan sesuatu di telinganya. Saat itu juga Ivan ikut tersenyum lebar.