
Selena selalu ingat dongeng-dongeng yang diceritakan oleh mendiang ayahnya. Tentang ras lain melawan bangsa Demon. Bangsa Demon sangatlah jahat dan suka menindas ras lain. Mereka juga sering menginvasi kawasan ras lain. Walaupun Selena belum pernah bertemu langsung dengan Demon, ia berjanji pada dirinya sendiri akan membunuh ras Demon yang terkenal akan kekejamannya itu. Ia bertekad akan menghapuskan ras Demon dari tanah Midgard.
Namun, tentu saja perbuatan tidak semudah perkataan. Pada hari ini, ia bertemu ras Demon pertama kali yang seketika membuat dirinya ketakutan setengah mati. Terlebih lagi ia mengenal siapa mahkluk itu. Saat ras Demon itu melewati dirinya, ia bisa merasakan aura gelap yang terpancar jelas dari tubuhnya. Ia baru pertama kali merasakan hal tersebut hingga membuatnya tak bisa merasakan sekujur tubuhnya. Perasaannya seolah kosong, jiwanya telah berpisah dari raganya, tubuhnya juga dingin dan mati rasa seakan-akan ia telah mati bertahun-tahun lamanya. Selena tahu jika ia tidak segera bangkit dari pikirannya itu, ia akan benar-benar mati dalam keputusasaan yang membuat dirinya dalam ilusi tak berujung. Untunglah Rey menyelamatkannya di saat-saat terakhir.
Ia segera terbatuk dan menghirup nafas panjang seolah ia baru saja hidup untuk kedua kalinya. Barulah ia sadar Rey telah melakukan berbagai cara untuk membuatnya sadar, tapi tidak berhasil. Selena masih merasakan tubuhnya bergetar hebat, ia juga masih sangat ketakutan. Nafasnya tak beraturan dan ia merasa sangat kedinginan. Tanpa sadar, air mata keluar dari pelupuk matanya. Saat itulah Rey memeluknya erat. Ia segera merasakan kehangatan tubuh Rey yang segera membuatnya menjadi tenang.
Rey sendiri tak tahu mengapa ia memeluk Selena. Saat melihat Selena begitu gelisah dan air matanya keluar perlahan, tubuhnya seakan bergerak sendiri dan memeluk wanita itu. Dan Selena terlihat tidak terganggu, malahan ia terlihat senang saat Rey melakukan hal tersebut. Rey menebak ia tak melawan dikarenakan Selena adalah seorang NPC.
Rey menyadari tubuh Selena telah berhenti bergetar. Ia berniat melepaskan pelukannya itu perlahan, tetapi Selena malah semakin memeluknya erat seakan Rey bisa hilang kapan saja. Rey tersenyum kecut dan membiarkan mereka dalam posisi itu beberapa saat hingga Selena sudah cukup tenang.
Selena melepaskan pelukannya setelah beberapa waktu. Ia mengusap air matanya pelan dengan jemarinya. Wanita itu lalu menatap Rey sejenak malu-malu sebelum menghirup nafas dan tersenyum tulus ke arah Rey.
__ADS_1
"Terima Kasih, Rey," ucap Selena sambil mengembangkan senyuman manisnya.
...***...
Dua belas Jendral ras Demon atau terkadang yang disebut juga dengan nama kelompok Misery, adalah 12 orang terkuat pengawal Raja dari ras Demon. Mereka adalah lawan yang tak pernah diharapkan oleh ras lain. 12 orang ini menjadi legenda yang selalu terkenang dalam masa. Walaupun banyak orang yang tidak tahu kemana mereka menghilang, tapi penduduk Midgard percaya mereka akan kembali dan membawa penderitaan lagi ke Midgard.
Dari 12 orang itu, ada 4 orang yang paling terkenal sebagai yang terkuat sekaligus yang terkejam, tetapi bukan berarti 8 lainnya tidak kuat. Mungkin 8 orang lainnya hanya setingkat di bawah 4 orang itu. Mereka adalah Green April, Blue August, White July, dan Gray December.
Selena dan Rey baru saja melihat salah satunya, yaitu Gray December atau dikenal juga dengan nama Derec. Rey begitu terkejut mendengar penjelasan Selena. Sekarang ia tahu kenapa Selena begitu ketakutan melihat mahkluk itu. Walaupun Selena tidak pernah melihat makhluk itu sebelumnya, tetapi ciri-ciri fisik serta aura yang dikeluarkan makhluk itu adalah buktinya. Rey tidak yakin mereka akan bisa menang jika mereka akan kembali lagi bertemu dengan Derec.
Selena menjadi salah tingkah saat Rey terus menatap dirinya. Ia tersipu malu karena Rey tetap tak mengalihkan pandangannya, padahal Selena telah batuk beberapa kali dengan sengaja untuk menyadarkan pria itu.
__ADS_1
"Kau sudah tenang?" tanya Rey pelan.
"Aku sudah lebih baik daripada sebelumnya," jawab Selena. Rey mengangguk dan memeriksa batu yang memiliki ukiran itu. Daripada disebut batu, Rey lebih enak menyebutnya prasasti karena benda tersebut memiliki sebuah pesan tersembunyi.
Rey mulai meraba pinggiran prasasti itu secara teliti. Ia yakin ada rahasia lain dari benda itu. Merasa tak menemukan hal yang begitu berarti, Rey menatap prasasti itu lekat-lekat sebelum menekan posisi yang paling aneh dari prasasti tersebut. Rey menekan batu bersinar yang berada tepat di tengah prasasti itu pelan, siapa sangka ternyata itu adalah sebuah tombol.
Prasasti itu bergeser ke belakang saat Rey menekan tombolnya. Di bawah prasasti itu sebelumnya, ternyata ada lorong lain yang mengarah ke bawah. Rey tak bisa melihat ujung dari lubang itu, tapi jika lubang itu disembunyikan, pasti aman jika turun di sana. Prasasti itu adalah sebuah pintu rahasia yang tak diketahui orang-orang.
"Pantas saja tidak ada yang menemukan harta benda di sini. Ternyata mereka tidak sempat masuk ke dalam lebih jauh," ucap Rey dalam hatinya. Rey lalu mengalihkan pandangannya ke Selena. Wanita itu mengangguk sejenak lalu mulai bangkit. Ia berjalan pelan dan menatap ke dalam lubang itu. Samar-samar, ia bisa melihat cahaya di dalam lubang itu. Ia lalu menatap Rey penuh keraguan.
"Tenang saja. Aku yakin kita akan baik-baik saja." Rey mengangguk yakin membuat keraguan di hati Selena jadi hilang. Rey lalu menatap ke dalam lubang itu lagi. Jika memang terjadi sesuatu pun, Rey yakin ia akan bisa mengatasinya. Namun kemungkinan terbesarnya, di bawah sana mereka akan mengetahui rahasia Death Realm serta tujuan dari misi mereka.
__ADS_1
Rey menghela nafasnya pelan dan menggenggam tangan kiri Selena dengan tangan kanannya. Selena terkejut, tapi ia tak memberontak.
"Ayo!" Dengan penuh tekad serta keyakinan, mereka berdua melompat masuk ke dalam lubang itu. Tepat saat mereka masuk ke dalam lubang itu, prasasti tadi kembali lagi bergerak dan menutup lubang itu rapat-rapat, menghilangkan jejak bahwa ada jalan tersembunyi di sana.