
Rey berusaha untuk tetap tenang dan menstabilkan pernafasannnya. Ia menatap wanita yang memukulnya itu. Ia memakai pakaian berwarna biru benhur dengan garis-garis putih pada bagian lengan. Di pelindung dada bagian kirinya, ada logo snowflakes. Selain itu ia menatap Rey begitu tajam sebelum menoleh ke arah Psycho-B, PeAce, dan Heilige.
Wanita itu mengangkat tangan kanannya ke depan. Perlahan, muncul sebuah pedang es yang kini ia genggam. Rey menjadi semakin gelisah. Jelas-jelas wanita itu adalah Yun. Ia tahu Yun memiliki Job Special-Tier yang bisa memanipulasi es, Ice Witch.
Yun melesat ke depan, kecepatannya lebih tinggi daripada PeAce hingga Rey harus serius untuk melawannya. Yun menebaskan pedangnya yang segera ditangkis oleh Rey. Saat itulah Yun membuat pedang lain di tangan kirinya. Rey terkejut saat Yun membuat pedang es itu sangat cepat.
Yun mengayunkan pedang di tangan kirinya. Rey dengan cepat melompat mundur. Namun pedang Yun berhasil menggores lengan Rey. Sebuah luka sayatan timbul di sana.
Yun kembali melesat ke depan dan mengayunkan pedangnya mengarah ke kaki Rey. Rey hendak melompat ke atas untuk menghindar, saat itulah pedang di tangan kiri Yun mengarah ke kepala Rey. Rey tak punya pilihan lain selain kembali melompat mundur.
Entah ia harus bersyukur atau tidak, tetapi perkembangan Yun bisa dinilai cukup tinggi. Serangannya sulit ditebak untuk orang awam. Jika tidak hati-hati, maka seseorang bisa terbunuh dengan mudah ti tangannya. Penguasaannya tentang elemen Es meningkat. Rey menebak Yun mengikuti sarannya untuk menaikkan Status Int.
Rey menghela nafasnya sebelum menghirup nafas panjang. Ia juga mengelus dadanya menggunakan tangan kiri, setelah itu barulah Rey menjadi sedikit lebih tenang. Kemunculan Yun begitu tidak terduga, karena itulah Rey menjadi bingung dan tidak bisa berpikir jernih.
Rey mengangkat pedangnya sambil memberikan kode agar Yun maju duluan. Yun diam sejenak sebelum berlari ke depan sambil menggenggam kedua pedangnya. Yun mengayun pedang di tangan kanannya cepat. Rey bisa melihat ia sengaja ingin mengadu kekuatannya dengan Rey, sedangkan pedang di tangan kirinya siap mengayun.
Rey menghindari serangan pedang itu dengan sedikit mengelak ke kanan. Rey lalu menahan tebasan pedang kiri Yun dengan pedangnya. Yun terlihat terkejut Rey dapan menebaknya. Dengan cepat, Rey meninju perut Yun hingga ia termundur ke belakang.
Tak berhenti di sana, Rey segera menutup jarak di antara mereka. Rey melompat dan memegang pedangnya dengan kedua tangan.
"Slash!" bisik Rey sambil mengayunkan pedangnya secara vertikal. Yun tidak bisa menghindar, jadi ia mencoba untuk menahan serangan Rey dengan menyilangkan kedua pedangnya.
__ADS_1
Namun, kekuatan Rey lebih unggul. Kedua pedang es miliknya Yun hancur dan ia terpental ke belakang. Rey sendiri memegang pedangnya erat, terlihat tangannya bergetar hebat. Pedang Yun cukup keras untuk di hancurkan.
Yun bangkit kembali dan membuat pedang es lain di tangan kiri dan sebuah tombak di tangan kanan. Yun mengambil ancang-ancang sebelum melemparkan tombak ini. Rey menghindarinya dengan memiringkan tubuhnya ke kiri.
Saat Rey menoleh, Yun telah berada 10 langkah di depannya. Ia melompat dan melemparkan pedangnya ke arah Rey. Sekali lagi Rey menghindarinya hanya dengan memiringkan tubuh. Pedang itu menancap di tanah belakang Rey. Rey segera menoleh dan menemukan Yun tersenyum lebar.
Rey menjadi bingung sesaat sebelum kedua kakinya merasakan dingin. Ia terkejut dan segera tersadar ia terperangkap dalam jebakan Yun. Pedang tadi aktif secara otomatis dan membekukan kaki Rey hingga lutut.
Rey tak bisa bergerak, iaa terpaku di sana. Yun mendarat sempurna dan segera menciptakan sebuah tombak es.
"Coba kau hindari ini seperti sebelumnya," ucap Yun sambil bersiap untuk melempar. Seakan Rey adalah hewan buruan, Yun melempar tombaknya sekuat tenaga.
Rey segera mencabut tombak yang berada di perutnya itu dan melemparkan balik ke arah Yun. Dengan mudah, Yun menghindarinya semudah membalikkan telapak tangan.
"Tidak ada cara lain," gumam Rey pelan. Rey menyentuh lututnya, tepatnya celananya. Ia segera mengalirkan Skill Chaos Heart. Perlahan, es itu menjadi.
Rey segera melompat sejauh yang ia bisa saat ia telah terbebas dari es itu.
Rey segera meminum sebotol Potion untuk memulihkan HP miliknya. Yun kembali menyerang, kini tangannya terlihat berwarna putih kebirua-biruan. Ia berusaha untuk memukul Rey. Namun Rey terus menghindar, ia yakin ada sesuatu yang buruk jika tubuhnya bersentuhan langsung dengan kepalan tangan Yun.
Sekali lagi, Rey melompat menjauh. Ia masih enggan untuk melawan Yun. Hanya saja kali ini situasi memaksanya. Jika ia kalah, maka PeAce akan menahan dirinya. Rey pernah kabur karena bantuan Lluminos, tetapi saat ini hal itu tidak mungkin terjadi lagi.
__ADS_1
Sekali lagi, Rey menghirup nafas dalam-dalam sebelum menatap Yun serius. Rey berjalan pelan ke arah Yun. Perlahan, langkahnya mulai cepat sebelum Rey berlari. Yun membentuk tombak es dan melemnya ke arah Rey.
Rey bergerak ke kiri, ke kanan, bahkan melompat untuk menghindari serangan Yun. Saat Rey telah berada cukup dekat dengan Yun, ia segera melompat. Rey menggenggam tangannya erat.
"Chaos Wave!" Rey mengarahkan Skill miliknya ke tanah di depan Yun. Tanah hancur dan debu-debu berterbangan.
Yun tersentak kaget saat mengetahui serangan pria itu tidak mengarah ke arah dirinya, melainkan hanya untuk mengalihkan perhatian. Yun berniat keluar dari kepulauan asap itu, tetapi sesuatu yang cukup tajam menyentuh punggungnya. Saat kepulan asap itu telah hilang, barulah Yun menyadari Rey telah berada di belakangnya sambil menodongkan pedang. Tangan Yun bergetar hebat, ia tidak bisa mengangkat pedang di tangan kanannya untuk melawan pria di belakangnya. Ia akan mati di tempat jika melakukan hal tersebut.
"Jatuhkan senjatamu lalu taruh tangan di belakang kepala."
Sayangnya kata-kata itu bukanlah berasal dari Rey, melainkan seseorang di belakang Rey. PeAce menodongkan pedangnya ke punggung Rey.
"Skatmat," gumam Rey. Ia tidak memperhitungkan PeAce akan mengikuti pertarungan ini. Terlebih lagi pertarungan ini cukup cepat. Jika ia sembarangan memasuki pertarungan yang sedang berlangsung, bukan tidak mungkin dirinya yang menjadi korban dan terkena salah satu serangan Yun.
"Kepercayaan 'kah?" gumam Rey lagi. Ia merasa ini adalah akhir dari dirinya. Tidak mungkin Psycho-B memabntu dirinya, hal itu malah akan menimbulkan kecurigaan.
Rey menghela nafas berat, ia pasrah. Rey berniat menjatuhkan pedangnya. Namun sebuah suara asing kembali terdengar.
"Bukankah seharusnya kau yang menjatuhkan senjatamu?"
Suara itu terdengar tak asing di ingatan Rey. Saat ia menoleh, Rey menemukan tiga bola api seukuran bola basket melayang di dekat PeAce. Terdengar suara tawa dari atas tebing. Rey kembali menoleh, tetapi tidak banyak yang bisa ia lihat. Hanya sesosok manusia dengan pakaian berwarna jingga saja yang dapat ditangkap oleh mata Rey.
__ADS_1