
Rey memegang pedangnya erat-erat. Entah sejak kapan, tetapi kabut yang menyelimuti hutan ini semakin tebal. Jarak pandang pun semakin kecil, terlebih tidak ada kayu yang dapat dijadikan obor. Rey sejujurnya juga merasakan hawa yang tak enak saat memasuki hutan ini. Suhu di hutan ini terlalu dingin daripada hutan kebanyakan. Bahkan Selena terus saja menggosok-gosok kedua telapak tangannya untuk menghangatkan diri.
Suzaku terbang pelan di depan untuk menunjukkan jalan. Sejauh ini tidak ada monster yang menghadang mereka, jadi perjalanan mereka cukup tentram. Rey menduga hal itu dikarenakan adanya keberadaan Suzaku yang membuat monster lain menjadi takut.
Rey mengerutkan dahinya saat merasa melihat sesuatu di balik pohon-pohon. Ia berniat menarik pedangnya, tetapi Suzaku dengan cepat menatap ke arah Rey. Dengan berat hati, Rey berusaha mengabaikan apa yang lihat barusan. Namun penampakan itu terus saja muncul. Rey berusaha sekeras mungkin untuk tidak menarik pedangnya. Ia takut bayangan ia lihat di balik pohon itu adalah monster yang bisa menyerang mereka kapan saja.
"Itu ilusi. Aku tahu hutan ini. Kabut yang tebal itulah yang menampilkan ilusi seolah ada monster yang bergerak cepat di balik pohon," ucap Selena pelan yang berada di sisi kiri Rey. Selena juga menjelaskan selama ini tidak ada satu pun orang yang dapat keluar hidup-hidup dari hutan ini karena mereka akan tersesat dalam perjalanan tanpa batas. Rey menjadi terkejut karena penjelasan Selena.
"Kenapa kau tidak memberitahukannya sejak awal? Bisa saja kita tersesat di hu.."
"Sudah kubilang bukan." Selena memotong perkataan Rey cepat-cepat sebelum menunjuk ke arah burung yang menuntun jalan mereka. "Aku bilang tidak ada manusia yang keluar hidup-hidup. Namun yang sedang menuntun kita ini bukanlah manusia. Karena itu aku tidak memberitahumu," ucap Selena.
Rey mengangguk pelan mendengar penjelasan Selena. Ia lalu menatap ke arah Suzaku yang terbang pelan di depan mereka. Burung itu mengeluarkan cahaya merah, jadi Rey tidak akan khawatir jika kehilangan jejak burung itu. Terlebih lagi Rey yakin Suzaku tidak akan meninggalkan mereka-setidaknya untuk saat ini.
Setelah beberapa waktu, akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan Suzaku. Rey tersenyum kecut saat mengetahui tempat yang di tuntun oleh Suzaku adalah sebuah gua. Rey sejujurnya cukup bosan melihat dinding gua yang tidak berbentuk itu. Namun jika memang ini adalah misi penting, Rey terpaksa melakukannya.
Mereka segera masuk ke dalam gua itu. Hawa dingin segera menusuk melalui pori-pori kulit Rey dan Selena. Rey memeluk tubuhnya sendiri karena hawa dingin yang tak tertahankan. Ia saat ini ingin sekali memeluk Suzaku yang terlihat hangat itu.
ROARR
__ADS_1
Suara auman keras terdengar dari depan. Tanpa aba-aba Rey segera menarik pedang putihnya itu. Ia melangkah ke depan mendahului Selena. Suzaku terbang perlahan dan hinggap di bahu Selena.
Perlahan, terlihat wujud hewan berkaki empat mendekat ke arah mereka. Mata hewan itu begitu tajam seolah Rey adalah mangsa yang siap ia terkam. Setiap hewan itu melangkah, Suzaku menjadi lebih hangat. Bahkan Rey merasakan hal tersebut.
Sosok hewan itu terlihat. Seekor harimau putih dengan loreng-loreng hitam. Tubuh hewan itu lebih besar 3 kali lipat daripada biasanya. Selena termundur melihat keberadaan makhluk itu. Rey menggenggam pedangnya erat siap bertarung.
Harimau itu mengaum keras sekali lagi. Tanah bergetar karena aumannya. Namun Rey tetap berdiri tegap seolah nyalinya tak akan ciut karena auman tersebut. Harimau itu kini berniat menyerang. Namun matanya menangkap sosok lain di bahu Selena.
"Kau Suzaku?" tanya Harimau itu. Rey dan Selena tak heran melihat harimau itu bisa berbicara dalam bahasa manusia, mereka sudah pernah melihat hal yang sama sekali sebelumnya. Burung yang bertengger di bahu Selena itu terbang memutari Rey sejenak sebelum hinggap di pundak pemuda itu.
"Apa yang kau inginkan anak muda?" harimau itu kembali bertanya. Namun kini pertanyaannya diajukan pada Rey. Rey hendak menjawab, tapi sebuah panel semitransparan muncul di hadapannya.
Kesulitan: A
Buatlah Byakko terkesan akan keahlian dirimu dalam menggunakan senjata serta mengoptimalkan semua kelebihan dirimu
Hadiah: Tidak Diketahui]
Rey mengangguk sejenak. Ia lalu menatap Byakko mantap penuh tekad.
__ADS_1
"Aku ingin menjadi kuat agar bisa menumpaskan Ras Demon dari tanah Midgard," ucap Rey lantang. Harimau putih itu tertawa sejenak sebelum menghentakkan kaki kanannya. Seketika kabut muncul dari dalam menyelimuti harimau itu. Saat kabut itu hilang, harimau itu juga lenyap dan digantikan oleh seorang wanita bergaun sutra dengan sebuah pedang putih di tangannya.
"Majulah,"ucap wanita itu sambil mengangkat pedang rampingnya. Rey mengangguk dan ikut menarik pedangnya. Namun sesuatu yang tak Rey duga terjadi. Ia terpelanting kebelakang bahkan sebelum ia sempat mengayunkan pedangnya. HP yang Rey miliki berkurang seperempat.
Rey terkejut, matanya tak bisa mengikuti serangan wanita itu.
"Hmph." Wanita itu menahan tawanya dengan tangan kiri. Rey kembali bangkit. Kali ini ia bergerak perlahan untuk mengamati setiap gerakan wanita itu.
Rey maju perlahan dan mengayunkan pedangnya. Namun sekali lagi Rey termundur ke belakang. Ia hanya bisa sekelebat bayangan sebelum ia terpukul mundur. Kekuatan wanita itu begitu dahsyat. Rey yakin jika wanita itu berduel, maka Rey akan kalah bahkan sebelum sempat melawan.
Rey kembali berniat maju, tetapi wanita itu tak menunggu Rey untuk menyerang duluan. Ia maju dengan cepat dan mengayunkan pedangnya. Rey tak sempat menghindar, jadi ia berusaha menahan serangan tersebut. Namun apalah daya, pedang di tangan Rey terpelanting ke samping. Rey jatuh berlutut. Baru kali ini ia melawan musuh yang begitu kuat.
"Hanya segini kekuatanmu? Masih banyak yang lebih kuat dari diriku. Kau akan mati mengenaskan jika bertemu Ras Demon," ucap wanita itu. Rey terdiam. Ucapan wanita itu memang fakta. Ia sudah melihat sendiri kekuatan Derec yang mungkin sebanding dengan wanita ini. Jika akhirnya Rey bertemu dengan Derec kembali dan kekuatannya tak meningkat, Rey hanya akan menjadi debu di matanya.
Namun Rey bukanlah orang yang mudah menyerah. Ia segera bangkit dan mengambil pedangnya yang tergeletak di tanah. Rey menghirup dalam sambil mengangkat pedangnya.
"Suzaku. Tolong temani Selena kembali ke Midgard Tengah. Mungkin ini akan sangat lama," ucap Rey dan kembali maju menyerang lawannya.
Selena sebenarnya berniat menolak permintaan Rey. Ia ingin tinggal di sini sedikit lebih lama. Namun melihat Rey begitu gigih untuk mengalahkan lawannya, ia tak bisa menolak keinginan Rey. Suzaku segera terbang keluar diikuti Selena.
__ADS_1
"Hati-hati. Jaga dirimu," ucap Selena sebelum benar-benar pergi.