
Rey sangat tak mengerti situasi yang ia hadapi saat ini. Derec dan Genbu hilang entah ke mana meninggalkan berpuluh-puluh pertanyaan di dalam benaknya. Hal ini hampir sama saat ia diberikan misi oleh Rhodes. Ia tidak bisa menanyakan hal ini pada siapa pun. Rey menggertakkan giginya sebelum menoleh ke arah Selena. Tatapan wanita itu kosong seperti sebelumnya saat pertama kali bertemu Derec. Rey menepuk pundak wanita itu pelan. Kali ini ia segera tersadar. Ia tidak menangis, tetapi wajahnya terlihat sedikit pucat.
"Apakah kau mengenal siapa itu Genbu?" tanya Rey pada Selena setelah wanita itu tenang. Walaupun Rey hanya melihatnya sekilas, tetapi Rey tahu jika Selena begitu terkejut saat pertama kali melihat Genbu. Selena bukan takut, melainkan ekspresinya saat itu sangat terkejut. Jadi Rey beranggapan jika Selena mengetahui identitas makhluk itu
"Genbu adalah mahkluk kuno, penjaga gerbang utara," ucap Selena setelah menghirup nafas panjang. "Genbu termasuk dalam 5 makhluk suci pelindung Midgard." Selena menjelaskan bahwa Genbu termasuk hewan suci yang melindungi Midgard dari bahaya ras Demon. Ia adalah penghuni Midgard Utara, karena itulah Selena terkejut melihat Genbu berada di sini. Selena juga menambahkan bahwa Genbu tidak pernah melepaskan mangsanya. Selena beruntung karena mereka bisa lolos dari makhluk itu. "Namun, itu semua harusnya cuma legenda. Aku saja tahu dari dongeng-dongeng yang diceritakan ayahku. Aku sungguh sangat terkejut melihatnya secara langsung," ujar Selena mengutarakan perasaannya. Rey terlihat berpikir sejenak sebelum menatap Selena penuh penasaran.
"Jika ia mendiami Midgard Utara, kenapa dia ada di Midgard Barat? Semuanya jadi membingungkan," ucap Rey. Ia tahu Selena juga tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Merasa tak menemukan jawaban, Rey menatap air terjun yang dikelilingi telaga itu. Tidak ada cara menuju ke sana selain berenang. Rey mulai berjalan mengelilingi telaga itu, tapi ia tak menemukan apa pun. Di telaga itu juga tak terlihat sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai pijakan.
"Apa kita tidak istirahat lebih dahulu?" celetuk Selena dari belakang. Rey menepuk jidatnya pelan. Barulah ia tersadar bahwa hari sudah malam. Rey berbalik dan mengangguk ke arah Selena. Mereka pun mulai menyiapkan segala persiapan untuk bermalam di sana.
__ADS_1
...***...
Beberapa saat setelah Selena tertidur, Rey segera bangkit. Ia sebenarnya hanya pura-pura tidur. Ia tidak bisa tidur karena penasaran tentang kejadian sebelumnya. Rey segera berjalan mengendap ke arah telaga.
Rey memasuki telaga itu perlahan. Ia tak ingin membuat suara sedikit pun. Dengan tenang, ia berenang menuju air terjun itu. Rey mengumpat di dalam hatinya saat sadar tubuhnya menggigil hebat. Ia berenang di tengah malam, jadi wajar saja jika tubuhnya kedinginan.
Rey telah tiba di hadapan air terjun deras itu. Ia segera naik ke batu di dekat air terjun itu yang sebelumnya tak terlihat olehnya karena penerangan yang cukup gelap. Pria itu segera memaksa masuk ke dalam air terjun itu. Rey tak begitu terkejut saat mengetahui di balik air terjun ada lorong lain. Rey yakin lorong inilah yang akan membawanya ke tempat penyimpanan pusaka itu.
Beberapa saat Rey berjalan, ia tiba di sebuah ruangan. Rey begitu terkejut saat melihat ruangan tersebut. Ruangan itu begitu rapi dengan dinding berwarna putih.
Tidak ada benda apa pun selain peti di tengah ruangan itu. Rey sedikit menyesali nasibnya yang selalu bertemu peti aneh. Setiap kali ia menemukan peti itu, perasaannya selalu tidak enak. Ia pasti akan ditimpa masalah cepat atau lambat.
__ADS_1
Benar saja, saat Rey baru maju selangkah ke depan, tiba-tiba muncul api dari lantai mengelilingi peti itu dengan radius 2 meter. Api itu seakan menjaga peti di tengahnya agar tidak ada yang bisa mengambilnya. Rey menghela nafas panjang. Ia lupa jika misi yang ia emban tidak semudah kelihatannya.
Rey mulai berjalan mengelilingi api itu berharap menemukan sesuatu, tetapi hasilnya nihil. Lalu sedikit berlutut dan melihat asal dari api itu. Dan lagi-lagi ia tak menemukan sesuatu yang begitu berguna. Rey mencoba mencabut pedangnya beberapa kali dan mengayunkannya ke arah api itu. Rey terkejut saat mengetahui pedangnya seperti baru saja mengenai batu yang sangat keras. Bahkan tangan Rey bergetar karenanya. Rey bersyukur karena sebelumnya ia ingin menerobos paksa api itu.
"Tidak ada jalan," ucap Rey pelan pada dirinya sendiri. Ia memang tak menemukan celah sedikit pun. "Aku yakin api yang mengelilingi peti itu bukanlah api biasa. Namun, api apa yang bisa membuat pertahanan seperti itu?" Rey mulai berpikir. Ia rasanya pernah menemukan api ini. Rey juga merasakan api itu serasa tak asing, tapi dia lupa.
"Ah, iya. Chaos Heart?" Rey tersadar bahwa Skill Chaos Heart juga bisa digunakan untuk bertahan. Terlebih api di hadapannya itu memiliki sensasi yang sama dengan Chaos Heart. Bukan tak mungkin api yang menghalangi Rey ada Chaos Heart, karena Rhodes ikut andil dalam menyimpan pusaka itu.
Rey menghembuskan nafasnya pelan sebelum mengangkat pedangnya. Ia mengaktifkan Skill Chaos Heart, seketika pedangnya berubah menjadi berwarna sedikit gelap layaknya api di hadapannya itu. Rey menebaskan pedangnya cepat, saat itulah Rey merasa telah salah mengambil keputusan. Bukannya hilang, api itu malah semakin membesar. Dalam satu kedipan mata saja ruangan itu telah terbakar.
Rey merasakan tubuhnya sangat panas. Ia segera mengalirkan Chaos Heart ke seluruh perlengkapannya. Namun, HP miliknya terus menurun. Apa yang ia lakukan hanya memperlambat kematiannya saja, bukan menghentikannya. Rey mengumpat dalam hatinya dan berlari sekencang yang ia bisa untuk keluar dari ruangan itu. Namun, ia segera terpental saat hendak keluar seakan ada tembok yang menghalanginya.
__ADS_1
Rey terduduk pasrah. Ia menyaksikan bar HP miliknya turun dengan perlahan. Ia memandang ke arah peti tadi. Jika ia bisa mencapai dan membuka peti itu pun semuanya telah terlambat. Rey tertawa sejenak sambil menyaksikan bar HP miliknya telah menyentuh angka 10%, hitungan detik menuju kematiannya. Tepat saat HP yang ia miliki tersisa 1%, keajaiban terjadi.