Might Magic Online

Might Magic Online
Eps. 44: Cahaya dalam Kegelapan


__ADS_3

Selena merengut kesal, sedangkan Rey hanya bisa tersenyum kecut. Mereka kini sedang dalam perjalanan menuju persimpangan sebelumnya. Mereka kembali karena lorong yang mereka telusuri hanya ada jalan buntu dan beberapa ekor Wolf Bat yang sempat melarikan diri tadi. Selena yang melihat hal itu menjadi kesal karena langkah mereka sia-sia. Ia segera meluapkan kekesalannya dengan membunuh semua Wolf Bat, tak ada seekor pun yang dapat terlepas dari dirinya.


Saat ini mereka berdua telah sampai di persimpangan lorong sebelumnya. Tanpa menunggu parahan dari Rey, ia segera melangkah memasuki lorong lain. Rey menggaruk kepalanya pelan melihat sikap Selena. Ia mengetahui dengan jelas karena jalan yang mereka ambil sebelumnya dipilih oleh Rey. Selena juga masuk ke dalam lubang aneh dan bertarung melawan harimau hanya untuk menemukan jalan buntu. Karena itulah ia merasa kesal dan sedikit menjauhi Rey.


"Setidaknya ia tidak akan berisik dalam waktu dekat," ucap Rey berusaha melihat dampak baik dari hal ini. Rey berjalan pelan sedikit jauh di belakang Selena. Ia sebelumnya sudah menyamakan kecepatan berjalannya, tapi saat ia telah berada cukup dekat dengan Selena, wanita itu malah menjauh. Karena itulah Rey membiarkannya berjalan di depan menuntun jalan sambil memegangi obor. Ia percaya bahwa Selena akan bereaksi cukup cepat jika ada sesuatu di depan atau pun ia terkena jebakan. Lagi pula dari jaraknya sekarang, Rey juga masih sempat untuk menyelamatkan Selena jika memang benar-benar terjadi sesuatu.


Rey mengedarkan pandangannya. Dinding lorong yang mereka lalui, tidak ada yang terlihat mencurigakan. Ia juga tidak merasakan keberadaan mahkluk lain selain mereka berdua di sana. Selain jaring laba-laba pada celah-celah dinding, Rey tak melihat benda apa pun.


Setelah beberapa saat mereka berjalan, Selena terlihat menghentikan langkahnya. Rey mengerutkan dahinya sejenak dan mendekat ke arah Selena. Barulah ia tahu alasan Selena berhenti karena tidak ada jalan lain di sana, dengan kata lain mereka kembali menemukan jalan buntu. Selena tersenyum kecut sambil mengalihkan pandangannya saat Rey tepat berada di sisinya. Ia sedikit malu karena jalan pilihannya juga sama-sama menemui jalan buntu.


Rey tak menghiraukan ekspresi Selena dan lebih memperhatikan dinding di hadapannya. Walaupun lorong yang mereka lalui adalah sebuah jalan buntu, tapi Rey bisa melihat ada sebuah keanehan di dinding itu. Ia mengambil obor yang berada di tangan Selena, wanita itu terperanjat saat Rey mengambil obor di tangan kirinya dengan tiba-tiba. Rey menjulurkan obor itu ke depan. Saat itulah api dari obor itu membakar sesuatu yang cukup tipis di dinding. Rey menduga itu adalah jaring laba-laba yang telah lama.


Saat api itu telah menghanguskan semua jaring laba-laba di dinding itu, Selena berteriak girang. Di dinding itu tergambar sesuatu- walaupun ia tidak tahu apa itu. Ia lalu menatap Rey penuh kesombongan seakan berkata "Lihat, aku tidak salah, 'kan?"

__ADS_1


Rey tersenyum kecut melihat hal tersebut, padahal dirinyalah yang menemukan gambar di hadapan mereka ini. Rey mengangkat obor itu untuk mengetahui gambar apa yang ada di depan mereka.


"I-ini 'kan ...." Selena tersentak kaget dan termundur karena melihat gambar di hadapannya secara keseluruhan. Rey sendiri cukup terkejut saat mengetahui apa yang tergambar di dinding itu. Sebuah ilustrasi pemandangan desa yang dilalap api yang sangat besar.


"Rey, aku mendengar ...." Selena belum sempat menyelesaikan perkataannya, tapi Rey telah menutup mulutnya dan menariknya untuk bersembunyi di balik sebuah batu yang cukup untuk mereka menyembunyikan diri mereka. Tak berhenti di sana, Rey juga menginjak-injak api yang berada di obornya agar segera padam. Suasana menjadi sunyi sesaat. Namun, tak lama kemudian terdengar suara langkah pelan.


Sejujurnya Selena sudah mendengar suara itu cukup lama. Ia terlahir dengan indra pendengaran yang sangat bagus, karena itulah ia mendengar suara seperti ketukan dari tadi. Awalnya ia mengira itu adalah sebuah suara hewan atau batu-batu yang terjatuh. Namun, suara itu semakin lama semakin mendekat. Saat itulah ia sadar bahwa suara yang ia dengar adalah suara langkah kaki. Saat ia ingin memberitahunya ke Rey, pria itu telah menariknya terlebih dahulu. Selena percaya pada insting Rey, jadi ia tidak marah karena Rey menariknya tiba-tiba.


Bentuk makhluk itu seperti manusia pada umumnya. Hanya saja, ia memiliki dua tanduk kecil yang mencuat ke depan di bagian depan kepalanya. Lalu tubuhnya berwarna keabu-abuan dengan mata berwarna hitam sepenuhnya. Ia bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek hitam. Makhluk itu juga tak terlihat memakai alas kaki.


"Hnm? Ada bau asap di sini," ucap makhluk itu saat ia hampir tiba di dekat dinding. Selena menjadi takut, sedangkan Rey segera menggenggam salah satu pedangnya. Mahkluk yang mereka lihat terus berjalan hingga tepat berada di hadapan jalan buntu itu. Saat itulah Rey menyadari ada sebuah pedang yang tersarung rapi di pinggangnya. Makhluk itu menarik pedang di pinggangnya dan segera menebas dinding di hadapannya. Dinding itu segera hancur dan terlihat ada lorong lain di hadapannya. Ia segera melangkah masuk.


Saat mahkluk itu tak terlihat lagi, barulah Rey bisa bernafas lega. Ia lalu menatap Selena yang berkeringat dingin. Tubuhnya gemetaran dan pandangannya kosong. Ia baru saja menyaksikan sesuatu yang tak seharusnya ia lihat.

__ADS_1


"Selena." Rey menepuk bahu wanita itu pelan. Namun, tak ada jawaban. Bahkan matanya pun masih menatap kosong. Rey mengumpat pelan sambil mengangkat tubuh wanita itu. Ia lalu segera berlari menjauhi lokasi itu, takut jika sewaktu-waktu makhluk tadi kembali. Rey tak yakin sanggup melawan makhluk itu.


Kini mereka tak lagi memiliki penerangan, jadi Rey berlari dalam kegelapan. Namun, Rey cukup ingat jalan di lorong ini, sehingga ia tidak akan menabrak dinding atau pun batu besar. Rey begitu terkejut saat menyadari ada cahaya lain di depan. Namun, cahaya itu bukanlah berwarna merah yang berarti bukan sebuah api. Cahaya itu berwarna biru keputih-putihan. Walaupun Rey tak bisa melihatnya jelas, tapi Rey tahu mereka akan sampai di persimpangan sebelumnya.


Rey terkejut saat tahu bahwa cahaya biru itu dikeluarkan oleh batu-batu yang berada di samping batu besar tempat tulisan aneh itu terukir. Dan di tengah batu itu, tepatnya setelah pesan singkat yang tertulis di batu itu, ada batu cahaya lain, tapi bentuknya menyerupai bintang 4 penjuru. Barulah Rey sadar maksud dari pesan yang terukir di batu itu. Mereka tidak akan menemukan jalannya jika menggunakan api dari obor, karena api bukanlah cahaya sebenarnya. Mereka harus mematikan obor itu agar mereka mendapatkan cahaya yang akan menuntun mereka.


Namun, Rey tak punya banyak waktu untuk memikirkan itu lebih jauh. Ia segera menurunkan Selena dan berusaha membangunkannya. Rey terus memanggil nama wanita itu berkali-kali, tapi tak ada respon apapun. Seakan-akan Selena mati dengan mata terbuka.


"Selena!"


"Hoi! Selena!"


Rey berusaha memanggil lagi, menepuk pundaknya, mencubitnya, bahkan menggores ujung jarinya agar mengeluarkan sedikit darah. Namun, tetap tak ada respon apa pun. Rey menjadi sangat panik. Ia lalu menutup mulut dan hidung wanita itu, dengan harap-harap ia segera sadar. Beberapa saat berlalu, barulah Rey tersenyum lebar saat Selena baru saja memberontak dan terbatuk-batuk.

__ADS_1


__ADS_2