
Rey menjadi semakin waspada melihat lawannya itu. Jelas-jelas level dari Dark Elf pengguna tombak itu jauh lebih tinggi dari dirinya. Tidak mungkin Rey bisa mengalahkannya, bahkan dengan bantuan Lluminos maupun Psycho-B.
"Hati-hati, Dark Elf itu yang menangkapku waktu itu!" pekik Psycho-B memperingatkan Rey. Rey meneguk salivanya. Pantas saja Psycho-B bisa tertangkap. Jika berhadapan dengan Dark Elf ini, butuh level 150 ke atas baru bisa mengalahkannya.
Rey mengedarkan pandangannya cepat. Ternyata ia sudah dikelilingi Dark Elf yang lain. Mereka sengaja mengelilingi Rey dan Dark Elf Lancer itu agar tidak ada yang bisa mengganggu jalan pertarungan. Sesuai dugaan Rey, Dark Elf ini memanglah cerdik.
"To-tolong." Kata itu keluar dari mulutnya. Rey sedikit terkejut dan bingung. Telinganya tidak mungkin salah. Ia dengan jelas mendengar Dark Elf Lancer itu meminta tolong.
"Maaf, kami terlambat." Kembali terdengar suara teriakan dari belakang. Rey segera menoleh dan menemukan Deon dan Scream datang membantu Lluminos membuka jalan. Kedatangan mereka berdua memang menjadi angin segar bagi Rey.
Rey segera berbalik dan menggunakan Chaos Heart serta Slash untuk membuka jalan keluar. Rey menyelinap cepat keluar dari kepungan Dark Elf itu. Psycho-B kembali menembak untuk menjatuhkan Dark Elf yang mencoba mengejar Rey.
"Mundur. Mundur semuanya!" pekik Rey sambil terus mengayunkan pedangnya untuk membuka jalan. Psycho-B melihat Rey telah berhasil lepas dari kepungan lawan dan berlari cepat ke arah mereka. Melihat hal itu, Scream mengangkat tongkatnya tinggi. Para Dark Elf yang mencoba mengejar bercahaya kehitaman sejenak sebelum kecepatannya menurun setengah. Melihat hal itu, mereka berlima segera kabur dan memasuki hutan tanpa melihat ke belakang.
***
"Cih." Seseorang di puncak salah satu dinding desa mengentakkan kakinya keras sambil melihat manusia penyusup itu kabur. Ia mengumpat beberapa kali sambil terus mengentakkan kakinya. Ia lalu menarik sebuah pedang yang berada di pinggannya dan segera menebas leher salah satu Dark Elf di dekatnya. Laki-laki itu menjadi sedikit lebih tenang setelah melihat Dark Elf yang baru saja ia bunuh mati terkapar di lantai. Ia kembali menyarungkan pedangnya dan menghela nafas.
__ADS_1
Ia sudah memikirkan rencana untuk menangkap manusia secara matang-matang. Namun karena ada gangguan kecil, rencananya berantakan. Seharusnya ia bisa menggunakan nyawa pria kuat yang ia tangkap untuk digunakan sebagai pengorbanan.
Ia segera turun dan menemukan banyak mayat Dark Elf di sana-sini. Pria itu segera mengeluarkan sebuah belati kecil dari balik jubahnya. Belati itu berwarna keperakan dengan gagang hitam. Pada pangkal dari gagang belati itu, ada sebuah batu giok berwarna kehijauan.
Ia mengangkat belati itu tinggi-tinggi. Saat itu batu giok di belati itu bersinar terang. Para Dark Elf yang melihat hal itu seolah tersihir, mereka bergerak sesuai keinginan pria itu dan membersihkan mayat rekannya.
Salah satu Dark Elf yang paling mencolok di sana berjalan ke arahnya pelan. Ia menggenggam erat tombak di tangan kanannya. Matanya berwarna merah muda.
"Ma-mati," ucapnya terbata. Ia mengangkat tombaknya dan bersiap menyerang. Walaupun kaki Dark Elf itu bergetar hebat, tetapi tekad yang ia miliki tidak sedikit pun goyah.
Ia berjalan pelan meninggalkan lokasi itu menuju ke suatu dataran yang sedikit lebih rendah di dalam desa Dark Elf itu, tepatnya sebuah gubuk yang merupakan rumah kepala desa. Ia segera masuk ke sana dan menutup pintu rapat-rapat tanpa menghiraukan apa yang sedang terjadi di luar. Ia segera duduk di suatu kursi kayu dan mulai menyandarkan dirinya. Pria itu menutup matanya, mengingat jauh ke dalam ingatannya.
Sebuah ingatan dimana ia bertemu makhluk terkuat yang membuatnya bertekuk lutut. Bahkan dirinya yang kini mengambil alih desa Dark Elf merupakan bagian dari rencananya. Dia tak tahu apa tujuan dari makhluk itu, tetapi karena makhluk itulah dirinya sekarang cukup kuat. Ia bahkan juga diberikan sebuah pisau yang dapat menaklukkan Dark Elf. Setiap saat, ia akan selalu berterima kasih dengan makhluk bermata biru safir itu.
Ia tersentak saat mendengar suara langkah kaki. Pria itu segera bangkit dan mengedarkan pandangannya cepat. Ia juga menarik pedangnya cepat. Keringatnya mulai bercucuran. Ia dengan jelas mendengar suara langkah kaki itu, tetapi ia tak menemukan siapa pun di sana.
"Mencari seseorang?" Terdengar suara yang entah berasal dari mana. Dari suaranya yang terdengar berat, mungkin seorang laki-laki.
__ADS_1
Pria tadi kembali mengedarkan pandangannya. Kali ini ia memeriksa lebih teliti. Namun hasilnya nihil, ia tak menemukan siapapun selain pintu yang terbuka.
"Keluarlah, aku tahu kau ada di sekitar sini," ucap pria itu pelan. Namun karena tidak ada suara lain, perkataannya terdengar jelas. Tidak ada tanggapan sama sekali. Benar-benar sunyi.
"Siapa dirimu?" Terdengar suara lain. Suaranya sedikit berbeda dari tadi.
Pria itu terdiam. Ia sebenarnya tak berniat untuk menjawab. Namun keadaan memaksanya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dengan berat hati, ia akhirnya menjawab. "Aku Khell. Lalu siapa dirimu? Tunjukkan wujudmu kalau berani!" Kini pria yang bernama Khell itu sedikit meninggikan suaranya.
Terdengar suara lantang sebelum sesosok manusia masuk dari pintu yang terbuka. Ia menggunakan sebuah topeng putih dengan corak sederhana. Ia juga menggunakan sebuah jubah yang menutupinya keseluruhan tubuhnya. Walaupun begitu, terlihat sebuah pedang tergantung rapi di punggungnya.
"Aku seorang petualang," jawabnya. Ia segera mencabut pedangnya. "Kau bisa memanggil namaku Rey. Tapi, kurasa kau tidak akan bisa memanggil namaku. Aku akan membunuhmu sebelum kau sempat menyebutkannya." Ia tertawa lantang, tawa yang bervolume rendah tetapi dimaksudkan untuk meremehkan. Saat itulah ia mulai mengangkat pedangnya dan menodongkan senjata itu ke arah Khell.
Khell bukanlah penakut, tetapi ia selalu ragu jika bertemu dengan orang asing. Terlebih jika orang itu tidak bisa dinilai kekuatannya. Sebelumnya ia pernah terlalu angkuh hingga akhirnya dikalahkan dengan tragis. Karena itu setidaknya ia harus memeriksa situasi yang ia hadapi lebih jauh.
"Darimana asalmu?" tanya Khell. Ia segera mengangkat pedangnya, berniat menahan serangan lawannya jika hal itu terjadi.
"Dari neraka. Dan aku ingin menjemputmu." Pria itu maju dan menghunuskan pedangnya, adu pedang pun tak dapat dielakkan.
__ADS_1