Might Magic Online

Might Magic Online
Eps. 47: Genbu


__ADS_3

Rey sebenarnya memiliki cara untuk keluar dari es yang memerangkap mereka. Namun, ia tidak ingin melakukan hal tersebut jika nyawanya tak terancam. Rey takut jika ia melakukan hal tersebut, ia akan segera dibunuh ditempat tanpa sempat memberikan penjelasan. Karena itu Rey sengaja tidak segera melepaskan diri untuk menganalisa situasi yang sedang mereka hadapi serta identitas makhluk di hadapan mereka.


Namun, situasi memaksanya untuk keluar dari es itu secara paksa karena Rey telah salah bicara. Walaupun Rey berada di dalam es, ia masih bisa menggunakan Skill miliknya. Rey menggunakan Skill Chaos Heart pada armor yang ia pakai. Rey menyadari Chaos Heart bisa membuat es itu mencair. Tak butuh waktu lama, es yang memerangkap mereka segera menjadi air. Selena jatuh berlutut dan tak bergerak menatap ke arah makhluk di hadapannya.


Kura-kura itu meraung keras disertai pekikan oleh sang ular. Saat itulah air di sekitarnya bergerak cepat ke arah Rey dan Selena. Untunglah Rey bergerak cukup cepat dan melompat menjauh sambil menarik Selena. Selena segera tersadar karena gerakan tiba-tiba pada tubuhnya itu.


Rey memberikan sejumlah Potion pada Selena. Tanpa diberitahu pun, Rey yakin Selena akan mengerti. Rey juga meminum Potion miliknya untuk memulihkan HP miliknya. Kura-kura itu kembali menyerang. Kali ini gelombang air itu lebih kuat, tetapi tidak mengarah kepada Rey dan Selena. Rey mengumpat di dalam hatinya saat mengetahui serangan itu mengarah ke lorong tempat jalan keluar satu-satunya yang ia tahu. Lorong itu segera hancur dan tertimbun batu-batu dari langit gua.


"Berhentilah melawan. Biarkan aku memberikan kematian yang cepat," ucap kura-kura diiringi desis sang ular. Rey menggertakkan giginya. Ia harus mencari cara agar mereka tidak terbunuh, atau paling tidak agar Selena tidak terbunuh.


"Kenapa kau ingin membunuh kami?" Rey berteriak kesal. Walaupun Rey tahu perkataannya yang membuat kura-kura itu marah, tetapi ia tak merasa ucapannya itu salah. Jika ada yang salah pun, harusnya itu pendapat pribadi sang kura-kura.


"Kau naif. Membunuh tidak akan menyelesaikan masalah. Aku tahu Ras Demon memang sering berbuat ulah. Namun, tetap saja masalah yang akan kau timbulkan akan terus bermunculan jika kau tidak menyelesaikan dari akarnya," ucap kura-kura itu. Ia lalu mendengus pelan. Walaupun pelan, tapi hembusannya masih terasa oleh Rey. "Karena itu, sebelum kau masuk terlalu dalam, lebih baik kau mati dan tidak tahu apa-apa." Matanya kembali menatap Rey tajam.


"Kalau begitu biarkan aku menumpas habis mereka," ucap Rey lantang. Tak ada keraguan sedikit pun dalam perkataan.


"Kau sangat lemah. Kau tidak akan sanggup. Lagi pula kau tidak memiliki ambisi untuk melakukannya." Perkataan kura-kura itu tepat sasaran. Rey sejujurnya memang tidak terlalu berambisi untuk menumpas habis Ras Demon.

__ADS_1


"Kau tidak pernah merasakan penderitaan. Kau tidak akan bisa melakukannya. Lebih tepatnya, kau tidak akan sanggup." Rey kembali terdiam. Memang benar, ia belum pernah merasakan kehilangan.


"Kau tidak akan bisa membunuh makhluk yang tidak memiliki perasaan itu. Mereka akan menggunakan kelemahanmu." Kura-kura itu keluar dari telaga. Ia berjalan mendekat ke arah Rey. "Teman-temanmu. Itulah kelemahanmu."


Rey serasa seperti di sambar petir. Jika ia pikir lagi, ia memang seperti yang dikatakan makhluk itu. Bahkan saat ini ia akan melakukan apa saja agar Selena bisa keluar hidup-hidup, tidak terkecuali nyawanya di dunia ini sekalipun. Rey kembali merenungkan setiap ucapan kura-kura itu, kata demi kata, kalimat demi kalimat. Rey bukanlah orang yang mudah terpengaruh, tetapi perkataan kura-kura itu begitu tepat akan kondisinya saat ini hingga membuat dirinya menjadi bimbang.


Tiba-tiba Rey merasa tubuhnya ditarik ke samping. Saat ia sadar, ternyata sebuah bola angin hampir saja mengenai dirinya. Andai dirinya terlambat sedikit saja, ia pasti sudah terkena serangan itu. Rey menoleh ke samping. Ternyata Selena yang telah menyelamatkan dirinya.


"Lihatlah dirimu. Sudah mendengar beberapa kalimat saja kau sudah bimbang," ucap kura-kura itu pelan.


"Jangan dengarkan ucapannya. Dia hanya akan membuatmu menjadi ragu melangkah," kata Selena sambil menepuk pundak Rey pelan. Rey mengangguk pelan sebelum menatap kembali kura-kura yang telah sepenuhnya keluar dari telaga itu.


"Omong kosong. Kau hanya akan menambah masalah."


"Aku harus memusnahkan Ras Demon. Tidak," Rey melarat ucapannya. "Aku pasti memusnahkan Ras Demon."


Kura-kura itu terdiam sejenak. Ia lalu hendak berkata sesuatu, tetapi suara tawa orang lain telah memotong ucapannya sebelum ia sempat berbicara. Semua pandangan segera terarah ke satu sisi. Dinding itu seketika hancur. Debu-debu bertebaran. Dari situ, keluar sesosok mahkluk bertubuh manusia berwarna abu-abu.

__ADS_1


"Memusnahkan Ras Demon? Kau sungguh membuat lelucon yang bagus." Makhluk itu tertawa lantang dengan nada merendahkan. Kini tubuhnya telah terlihat sempurna. Siapa lagi jika bukan Gray December, Derec.


Rey menggertakkan giginya, sedangkan tubuh Selena kembali bergetar hebat. Kura-kura itu menjadi sedikit lebih waspada. Ia bahkan memfokuskan semua perhatiannya pada mahkluk yang baru masuk itu.


"Lihat aku bertemu siapa. Sang penjaga gerbang Utara, Black Turtle, Genbu," ucapnya sambil mengangkat sebuah pedang ke pundaknya. Ia lalu menoleh ke arah Rey dan tersenyum tipis. Pandangannya kini terarah pada Selena. Derec menjilat bibirnya pelan. Lalu, tatapannya kembali ke arah kura-kura yang ia sebut Genbu itu.


"Berikan api suci itu padaku. Aku yakin Suzaku menyerahkannya padamu," ucapnya lantang.


"Bermimpilah," balas Genbu singkat, tetapi dipenuhi aura yang mengintimidasi. Sayangnya Derec terlihat tidak berpengaruh.


"Kalau begitu, maafkan aku jika memaksa." Derec bergerak cepat sambil mengangkat pedangnya. Rey sangat terkejut melihat kecepatan mahkluk itu. Ia mengayunkan pedangnya ke arah Genbu. Genbu dengan cepat masuk ke dalam cangkangnya. Suara keras terdengar saat pedang itu menyentuh cangkan milik Genbu. Rey yakin cangkang serta pedang itu begitu keras. Derec kembali mengayunkan pedangnya berkali-kali.


Rey merasa mereka akan terkena imbasnya jika terus berada di tempat ini. Ia juga tidak mungkin membantu Genbu, dengan sekali serang saja Rey yakin ia akan langsung tewas. Rey mengalihkan pandangannya menatap ke sekitar. Ia melihat Selena yang kembali terdiam. Rey mengumpat kesal di dalam hatinya. Pandangannya lalu terarah kembali pada Genbu yang masih bertahan dalam cangkangnya. Rey terkejut dan hampir berteriak. Ia menyadari sesuatu yang aneh.


Saat itu pula tanah yang ia pijak serasa bergetar. Sebuah lubang terbentuk karena ada sesuatu yang berusaha naik ke permukaan. Rey terkejut, ternyata sesuatu yang berusaha naik ke permukaan itu adalah ular dengan kulit hijau gelap.


"Dengarkan anak muda. Aku tidak punya banyak waktu. Sebenarnya tadi aku hanya ingin mengujimu, apakah Arthur memilih penerus yang tepat atau tidak. Dan kau lulus," ucap ular itu pelan. Suaranya terdengar sangat aneh. Namun, Rey tak begitu memperdulikan hal tersebut. "Benda yang kau cari ada di balik air terjun itu. Aku akan membuat Demon itu pergi. Sampai jumpa!" Rey sebenarnya ingin mengatakan sesuatu. Ia juga ingin mengajukan beberapa pertanyaan. Namun sayangnya, ular itu telah kembali masuk ke dalam tanah.

__ADS_1


Saat itu juga tubuh Genbu bersinar terang. Ular yang berada di tubuhnya melilit Derec dengan cepat. Walaupun Rey tidak begitu melihatnya, tetapi Rey bisa merasakan ular itu tersenyum tipis ke arahnya. Cahaya yang muncul dari tubuh Genbu itu semakin terang. Derec berkali-kali mencoba memberontak, tapi tidak berhasil. Cahaya itu semakin menyilaukan.


Tiba-tiba, cahaya itu redup diiringi suara berdebum. Saat itulah Derec maupun Genbu telah hilang seperti ditelan bumi.


__ADS_2