
Dua hari berlalu dengan cepat. Selama dua hari itu, Rey terus menaikkan levelnya dengan membunuh beberapa monster yang berada dekat dengan gua para Dwarfs. Selain itu, Rey juga mengkoordinasi Psycho-B, PeAce, dan Scream dalam membantu rencana mereka.
Rencana Rey saat ini adalah mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Rey memberikan tugas pada Psycho-B untuk membuat denah dari istana Starlight Empire. Yang pertama kali ingin Rey cari memanglah lokasi tempat para tawanan. Scream dan PeAce bertugas untuk mencari latar belakang dari sang raja. Rey yakin ia pasti bisa menemukan sesuatu dari sana. Tentu saja misi ini mereka lakukan tanpa sepengetahuan dari ShouThor.
Rey sendiri saat ini belum melakukan pergerakan apa pun dalam penyelidikannya pribadi. Ia adalah orang luar, berbeda dari Psycho-B dan lainnya. Jika ia ketahuan melakukan sesuatu yang aneh di dalam istana, ia pasti langsung ditangkap. Karena itu Rey terpaksa menunggu pedang kembar yang akan dibuat oleh Killi. Setidaknya ia bisa melawan jika seandainya ia tertangkap pihak kerajaan.
Rey segera menyusuri lorong gua yang temaram itu. Tak butuh waktu lama, ia segera tiba di tempat Killi dan lainnya. Killi dan Dwarf lain terlihat sudah menunggu kedatangan Rey.
"Akhirnya anda sampai," ucapnya pelan.
"Bagaimana dengan barang yang kupinta?" tanya Rey. Ia memang berniat langsung mengerjakan misinya.
"Oin! Dori!" panggilnya sambil menoleh ke belakang. Saat itulah dua dari empat puluh Dwarf yang berbaris di belakang Killi segera maju.
Dwarf yang di sebelah kiri Killi memiliki tubuh yang lebih gemuk. Ia juga memiliki kumis tipis. Dwarf itu tampak memegang White Fang Sword milik Rey. Sedangkan Dwarf yang berdiri di sebelah kanan Killi tampak lebih muda. Tubuhnya cukup berotot. Ia memegang dua pedang yang tersarung rapi.
Dwarf yang di sebelah kiri Killi maju dan menyodorkan pedang di tangannya. Rey tersenyum tipis sebelum mengambil kembali pedang itu.
"Pedang yang anda miliki memiliki kualitas yang cukup tinggi. Cukup sulit untuk membuat yang memiliki kualitas dari itu," ucap Killi pelan. Ia lalu menatap ke belakangnya. "Namun, karena ada begitu banyak bantuan, kami bisa membuat pedang yang sangat bagus. Tolong terimalah pedang ini."
Saat itulah Dwarf yang berada di kanan Killi maju selangkah ia lalu berlutut pelan sambil menyodorkan sepasang pedang itu dengan kedua tangannya.
Rey terbatuk pelan sebelum menyimpan pedangnya ke dalam Inventori. Ia lalu sedikit menunduk untuk mengambil pedang yang disodorkan Dwarf bertubuh rendah itu.
Rey menghela nafasnya pelan. Ia menatap dua pedang yang tersarung rapi di tangannya itu. Ia lalu segera memeriksa kualitas pedang tersebut.
[Scarlet Disaster (Mystic)
Req: 90
Attack: 1030
Sebuah pedang yang ditempa khusus oleh Blacksmith Killi dan sahabatnya. Memiliki efek magi karena dibuat menggunakan logam khusus.
Memberikan tambahan physical damage sebanyak 270 saat digunakan bersama Indigo Catastrophe.
Indigo Catastrophe (Mystic)
__ADS_1
Req: 90
Attack: 1030
Sebuah pedang yang ditempa khusus oleh Blacksmith Killi dan saudaranya. Memiliki efek magi karena dibuat menggunakan kristal khusus.
Memberikan tambahan magical damage sebanyak 230 saat digunakan bersama Indigo Catastrophe.]
Rey tersenyum hangat pada Killi dan laiinya. Dua pedang di tangannya itu adalah pedang terbaik yang selama ini pernah ia gunakan di MMO. Rey segera menaruh dua pedang itu di pinggangnya.
Ia lalu mundur beberapa langkah, cukup jauh dari para Dwarf. Rey menutup matanya, mencoba untuk merasakan setiap inci tubuhnya. Dengan tenang, ia menghela nafasnya sesaat. Rey diam membisu.
Selama beberapa detik tidak ada pergerakan darinya sedikit pun. Tiba-tiba, Rey menarik pedangnya cepat. Suara berdesing terdengar keras. Rey menyilangkan kedua pedang itu di depan.
(Biru: Indigo Catastrophe
Merah: Scarlet Disaster)
Killi tersenyum lebar melihat permainan pedang Rey yang tidak biasa. Ia bisa tahu Rey merupakan master pedang hanya dengan melihat aksi pedangnya. Killi yakin dirinya tidak salah meminta pertolongan pada seorang manusia.
Rey menghentikan akrobat pedangnya setelah beberapa menit. Ia menatap dua pedang itu sebelum kembali menyarungkannya.
"Pedang ini ... terlalu bagus. Aku akan membayarnya nanti," ucap Rey.
"Tidak perlu. Dengan melihat semua saudara kami selamat, maka itu sudah cukup," jawab Rey. "Lagipula saya percaya anda pasti bisa menyelamatkan saudara-saudara kami."
"Baiklah kalau begitu. Aku akan melakukan yang terbaik. Doakan aku," kata Rey sambil membalikkan badannya. Ia lalu segera berlari keluar gua itu.
"Semoga dewi hutan selalu melindungi anda!" teriak Killi sebelum Rey benar-benar hilang dari pandangannya.
***
Sementara itu, di suatu ruangan yang dipenuhi rak-rak buku, seorang pria masuk dengan tergesa-gesa. Ia segera mengunci pintu itu rapat-rapat. Ia menghela nafas sejenak. Saat itulah tubuhnya tubuhnya diselimuti kabut hitam. Seluruh tubuhnya berubah. Kini tampak wajah seorang perempuan cantik. Dia adalah Mira yang menyamar menggunakan salah satu Skill miliknya.
Job Mira adalah Raven, Job kedua setelah Assasin. Salah satu Job ini adalah Skill khusus yang dimilikinya. Bahkan diantara para Raven, mungkin hanya ada 10 orang yang memilikinya di Midgard. Skill ini memang langka. Nama Skill itu adalah Mimicry. Skill yang berguna untuk meniru rupa seseorang.
__ADS_1
Mira segera melangkah. Ia segera memeriksa buku-buku yang berada di dalam rak itu. Setelah buku yang kesepuluh, barulah ia menemukan yang ia cari. Ia buru-buru berjalan ke meja.
"Yun Yun Yun." Ia berusaha mencari nama itu. Namun, tak ada nama Yun di mana pun. Mira terus mencari dan membolak-balik setiap lembaran.
"Pasti buku ini sudah lama. Tidak ada nama Yun di dalam buku ini," ucapnya pelan. "Aku sudah mencari tahu Yun memang berada di Guild Antariksa Aksara, tapi aku tak tahu orangnya yang mana."
Ia kembali bangkit dan berniat mencari informasi tentang Yun lagi. Saat itulah suara seseorang terdengar.
"Kau tidak akan menemukannya di mana pun."
Suara itu sebenarnya cukup pelan, tetapi karena ruangan itu sunyi Mira mendengarnya sangat jelas. Mira dengan cepat melompat mundur dan menarik pedangnya.
"Informasi tentang Yun sudah kuhapus." Suara itu kembali terdengar. "Sebenarnya aku sudah menduga kau akan datang ke sini. Hanya saja aku tidak percaya tebakanku benar."
"Siapa kau?" tanya Mira setengah berteriak.
"Jauhkan pedangmu. Maka kita akan bicara baik-baik."
"Tidak, kau pasti akan menyerang secara tiba-tiba!" Mira mengedarkan pandangannya, berusaha menebak-nebak asal suara itu.
"Terserah," sahut orang misterius itu.
Mira terdiam dan terus melihat sekitar. Namun, ia tak tahu posisi orang itu secara pasti. Ia menghela nafas sebelum menyarungkan pedangnya.
Saat itulah terdengar suara tawa pelan. Orang misterius itu turun dari lantai dua. Orang misterius itu menatap Mira tenang.
Mira diam sejenak, memperhatikan orang itu lekat-lekat.
"Tidak memiliki senjata? Ia seorang
Fighter?" Mira mulai menebak-nebak Job yang dimiliki orang itu.
"Siapa kau?"
"Aku?" Orang itu tertawa pelan. "Coba tebak aku dengan lihat cara bertarungku."
Pria itu segera maju melesat ke depan.
__ADS_1