
Pada hari ini, kota Pleiades yang merupakan ibu kota dari kerajaan Starlight Empire tampak sama seperti hari-hari biasanya. Cerah, matahari menyinari begitu terik, tapi tidak menghentikan orang-orang untuk berlalu lalang, baik yang berjalan kaki maupun yang memakai kereta kuda mereka.
Kota ini terkenal dengan sebutan kota bintang. Entah mengapa disebut begitu. Mungkin karena di seluruh Midgard, di tempat inilah orang-orang bisa melihat bintang paling banyak dan indah.
Dan Rey saat ini berada di tempat paling tinggi di kota itu. Sebuah menara yang hanya dikunjungi saat malam hari untuk melihat bintang. Bukan tanpa alasan ia berdiri di sana. Ia sedang menunggu.
"I'll miss you, i'll miss you."
Ia mulai menyanyikan lagu yang sama berkali-kali yang sempat populer dua dekade lalu. Menunggu adalah suatu hal yang membosankan menurutnya. Beberapa menit telah berlalu, dan Rey telah menyanyikan lagu yang sama 3 kali berturut-turut. Namun, sesuatu yang ia tunggu tetap tak terlihat. Rey menghirup nafas, berniat menyanyi untuk yang kesekian kalinya, tetapi tiba-tiba matanya menangkap sesuatu. Sesuatu di kejauhan yang bergerak cepat. Sebuah titik merah terlihat. Rey tersenyum lebar. Perlahan tapi pasti, sesuatu yang bergerak cepat itu mulai terlihat bentuknya. Seekor burung elang dengan bulu merah seolah sesuatu yang terbakar. Ya, itu memanglah Suzaku.
Sebenarnya beberapa hari yang lalu Rey sempat mengirim sebuah surat ke Midgard Tengah, tepatnya kepada Ivan. Ia lupa menanyakan tentang Suzaku pada Ivan pada saat pertemuan Rey dengannya, karena itu ia mengirim surat. Rey juga menjelaskan situasi para Dwarf dan berniat menyelidiki raja dari Starlight Empire. Siapa sangka Suzaku berniat datang sendiri walau Rey tidak tahu apa tujuannya. Namun, jika dugaannya benar, Suzaku adalah bantuan terbaik yang ia miliki saat ini. Suzaku tiba dan segera bertengger di pundak Rey seperti biasanya.
"Kukira kau akan lebih lama tiba," ucap Rey tanpa mengharapkan balasan. Ia hendak melangkah menuju tangga, tetapi batal karena sesuatu.
"Ya, beberapa kekuatanku sedikit pulih," balas Suzaku.
Rey tersentak kaget. Ia tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Bukannya ini baru pertama kali baginya, tapi Rey tidak menyangka burung api itu sudah bisa berkomunikasi menggunakan bahasa manusia.
Rey melihatnya lekat-lekat. Saat ia perhatikan lebih teliti, ukuran Suzaku menjadi lebih besar. Jika dulu ia hanya sebesar burung pipit, sekarang Suzaku sudah sebesar burung hantu dewasa. Rey juga merasa beratnya juga bertambah. Dan ternyata bukan hanya Suzaku yang berubah. Hal itu terjadi lagi. Bar HP milik Rey yang sebelumnya berwarna hijau, kini sepelimanya berubah menjadi merah.
" Apa maksudnya itu? Aku tidak pernah tahu kondisi seperti ini, baik di MMO maupun God Reason." Rey bertanya di dalam benaknya. Ia bingung dan tidak tahu harus bertanya pada siapa.
"Apa yang kau lakukan hingga bisa jadi seperti ini?" tanya Rey.
"Aku mencari serpihan roh milikku yang tersebar saat aku mati," jawabnya.
"Tunggu!" Rey teringat sesuatu. Jika dipikir-pikir, api yang dimiliki Suzaku hampir sama dengan Chaos Heart.
__ADS_1
"Apa kau tahu api kekacauan, api bernama Chaos?" tanya Rey lagi.
"Api Chaos adalah milikku. Aku tahu kau bisa mengendalikannya. Kau mungkin tidak tahu, tapi saat ukuranku sudah sebesar ini, orang-orang akan merasa kepanasan jika aku bertengger di pundaknya," ujarnya yang segera membuat Rey kembali terkejut.
Rey sedikit bergidik. Rey terpikir, bagaimana jika ukuran Suzaku menjadi lebih besar lagi. Sekarang hal itu menjelaskan tentang kejadian saat Rey mendapatkan Silver Disaster, di mana ia merasa terbakar.
"Karena aku memiliki api Chaos dalam diriku?" tebak Rey.
"Ya," jawabnya. Ia lalu mengepakkan sayapnya dan terbang cukup tinggi. Walaupun yang Rey lihat hanya terbang berputar-putar di langit, tetapi ia tahu ada alasan di balik itu semua. Tak lama, Suzaku segera terbang mendekat dan bertengger lagi di bahunya.
"Sejak tadi ada sesuatu yang aneh mengganggu pikiranku. Bahkan sebelum beberapa saat aku tiba di kota ini, aku sudah merasakannya," ucap burung itu terdengar sedikit dingin.
"Perasaan seperti apa?"
"Perasaan dingin, terancam, bercampur dengan kebencian. Perasaan yang membuat bulu-buluku menutup rapat. Kau pasti mengerti."
"Suzaku," ucapnya, "kau hidup cukup lama dan sering bertarung melawan ras iblis. Aku memiliki sebuah dugaan, tapi aku harus punya bukti. Karena itu kau mungkin tahu sesuatu."
"Katakanlah!"
Rey menghela nafas panjang. Saat itulah ia teringat wajah seseorang.
"Blue August, dia juga diberi julukan Mad Dog. Kau pernah melawannya?"
"Pertanyaanmu membuatku ingin tertawa. Dia adalah satu-satunya mahkluk yang selalu membuatku mati setiap kali bertemu. Namun, aku mati karena meledakkan diri bersamanya. Karena itu setiap kami berjumpa, ia selalu menderita karena mengalami luka fatal," jelasnya. Rey tersenyum lebar, sekarang ia tahu alasannya dan punya bukti terkait Raph.
"Namanya?" tanya Rey lagi sedikit antusias.
__ADS_1
Suzaku sedikit mendengus pelan sebelum menyebutkan namanya. Saat itulah Rey tersenyum lebar. Dugaannya benar.
***
Seperti biasa, Rey bersandar di pagar balkon sambil memainkan ponsel pintar kesayangannya. Sesekali, matanya melirik ke arah pagar dan jalan perumahan. Terlihat beberapa orang berlalu-lalang dengan sepeda motor modern milik mereka.
Sebenarnya ada alasan ia berdiri di sana sambil memperhatikan jalan. Ia sedang menunggu orang yang ingin bertemu dengannya. Walau Rey belum diberi tahu siapa yang ingin bertemu dengannya dan kapan ia akan datang lagi, tapi Reu tahu ia akan datang dalam waktu dekat.
Rey kembali memperhatikan jalan. Saat itulah ia melihatnya. Rey terkejut sesaat. Beberapa ingatan kembali muncul dalam benaknya.
"Sial! Tidak mungkin!"
Rey bergegas melangkahkan kakinya dan keluar dari rumah. Ia segera membuka pagar dan melihat ke arah orang itu pergi. Orang itu telah hilang, tak terlihat di mana pun.
"Sial!"
Rey kembali berlari. Matanya bergerak cepat ke segala arah, berusaha menemukan keberadaan orang itu. Nihil. Ia tak menemukannya di mana pun.
"Aku tahu tadi itu hanya ilusi." Rey menghentikan langkah kakinya. Ia sebenarnya sudah tahu yang ia lihat sebelumnya bukanlah kenyataaan. Rey menghela nafas berat.
"Semoga kita dipertemukan lagi," gumamnya, walau ia tahu harapannya tidak akan menjadi kenyataan. Rey kembali melangkahkan kakinya untuk berjalan pulang ke rumah, tetapi kini dalam tempo yang lebih santai.
Ia menghela nafas sekali lagi, berusaha menghilangkan pikiran tentang keberadaan orang tadi. Ada yang lebih penting daripada itu. Ia punya tugas penting di MMO. Rencana yang ia miliki belum matang. Masih ada kelemahan di sana-sini. Terlebih lagi, kemungkinan lain ada orang tak dikenal yang mengganggu.
"Ray?"
Rey menaikkan pandangannya ke depan karena merasa namanya dipanggil. Namun, ia tidak melihat siapa pun.
__ADS_1
Rey segera berbalik karena berpikir suara itu datang dari belakang. Saat itulah Rey melihatnya. Wanita cantik dengan rambut sepunggung. Kulit sawo matang yang bersih tanpa ada bekas apa pun. Tingginya sebahu Rey Dengan umur yang sudah setengah abad, dia masih tampak cantik. Namun, bukan itu yang membuat Rey terkejut. Tanpa pikir panjang, ia segera berteriak kencang dan berlari sekuat tenaga.