Might Magic Online

Might Magic Online
Eps. 42: Memasuki Death Realm


__ADS_3

Rey memandang jalan masuk di depannya dengan sedikit kagum. Ia berpikir awalnya Death Realm adalah sebuah gurun tandus bagian dari padang gersang yang sebelumnya mereka lalui, tetapi dugaannya ternyata salah besar. Death Realm adalah sebuah reruntuhan kuno layaknya Dungeon pada game RPG lainnya dengan pintu masuk berbentuk gua.


Rey melangkah masuk ke dalam goa di hadapannya dengan kedua pedangnya telah siap di tangan. Selena tak jauh berbeda melangkah dengan hati-hati sambil terus menajamkan keseluruh indranya. Bukan tak mungkin saat memasuki Death Realm sudah ada monster yang menunggu mereka.


Rey menatap sekitarnya saat memasuki gua itu. Sebuah lorong panjang dengan obor di sisi kanan dan kiri yang menantinya. Rey menyarungkan pedang di tangan kirinya dan mengambil sebuah obor untuk menerangi jalan. Ia berjalan pelan di depan sambil sesekali mengedarkan pandangan.


Rey berpikir ada celah pada dinding goa di depannya karena ia bisa merasakan ada angin yang datang dari depan. Tetapi ternyata dugaannya salah besar.


"Ada suara dari depan, seperti suara kepakan. Hati-hati, " ucap Selena mengingatkan Rey. Rey segera bersiap dan menatap lekat-lekat ke arah lorong di depannya. Bisa dilihat ada bayangan hitam yang bergerombol di depan bergerak-gerak melayang di udara.


"Wolf Bat," ucap Rey mengenali monster di depannya. Wolf Bat adalah monster berbentuk kelelawar dengan bentuk kepada seperti serigala. Wolf Bat juga bisa mencium keberadaan makhluk lain, karena itu mereka bersiap menyerang Rey dalam kegelapan.


Sayangnya, Wolf Bat itu telah salah memilih lawan. Selena dan Rey adalah orang yang peka akan kondisi sekitarnya dan memiliki insting bertahan hidup yang tinggi, jadi mereka dengan mudah menyadari ada monster yang menghadang mereka.


"Hati-hati, kudengar gigitan mereka beracun," ucap Rey saat melihat Selena maju terlebih dahulu. Rey berlari pelan mengikuti Selena.

__ADS_1


Selena melompat dan mengayunkan pedangnya. Beberapa ekor Wolf Bat jatuh dengan sayap yang telah terpisah dari tubuhnya. Tak berhenti di sana, Selena bergerak cepat lagi untuk menghabisi Wolf Bat lain yang mulai terbang tak beraturan.


Rey di sisi lain berusaha meminimalisir gerakannya agar api dari obor di tangannya tidak padam. Ia bergerak pelan sambil sesekali menebas pedangnya saat ada Wolf Bat yang berhasil menghindari serangan Selena.


Rey menatap kagum ke arah Selena. Wanita itu tak kesulitan menghadapi berpuluh-puluh Wolf Bat yang mencoba menyerangnya. Ia bahkan bisa menghindari serangan Wolf Bat itu dengan santai layaknya berjalan di taman penuh bunga. Gerakan pedangnya juga teratur dan fleksibel. Di saat ada kesempatan, ia juga melemparkan beberapa pisau kecil dari balik bajunya.


Beberapa saat berselang, Wolf Bat yang tersisa bisa dihitung dengan jari karena dihabisi oleh Rey dan Selena. Wolf Bat yang tersisa segera terbang menjauh memasuki lorong gelap itu lebih dalam. Rey dan Selena segera menyarungkan kembali pedang mereka melihat hal itu.


"Ternyata aku lebih kuat darimu. Aku menghabisi kelelawar itu lebih banyak," ucap Selena sambil menahan tawa dengan menutup mulutnya sebelah tangan. Rey tahu Selena ingin memancing emosinya, karena itu Rey lebih memilih untuk tidak menggubris perkataannya. Rey kembali melangkah memasuki Death Realm lebih dalam membuat Selena sedikit kesal karena perkataannya dianggap layaknya angin lalu.


Langkah Rey baru terhenti saat jalan di depannya terbagi menjadi dua lorong. Di tengah-tengah persimpangan itu, ada sebuah batu yang cukup besar. Rey bisa melihat ada ukiran di sana.


"Kau tidak akan menemukan kegelapan dalam cahaya, namun kau bisa menemukan setitik cahaya dalam kegelapan." Begitulah tulisan yang terukir di batu itu. "Ini sebuah pesan. Kau tahu sesuatu terkait hal ini?" tanya Rey pada Selena.


Selena terdiam beberapa saat sambil berusaha mengingat sesuatu sebelum menggelengkan kepalanya pelan. Rey menghela nafas sebelum memeriksa setiap sisi batu tersebut, tetapi hasilnya nihil. Tidak ada petunjuk apa pun selain tulisan yang diukir di batu itu.

__ADS_1


"Aku juga tidak mengerti. Lebih baik kita memeriksa kedua lorong ini. Mungkin kita bisa mendapatkan petunjuk lainnya," ucap Rey sambil menunjuk dua lorong di depannya. Rey mempersilahkan Selena untuk memilih salah satu dari dua lorong tersebut, dan akhirnya Selena memilih lorong kanan. Rey mengangguk pelan sebelum melangkahkan kakinya ke arah lorong kiri membuat Selena melayangkan pukulannya sambil bersungut kesal. Rey tertawa lantang melihat hal tersebut. Ia cukup senang bisa membalas untuk menjahili Selena.


Rey jadi sedikit waspada. Ia bisa merasakan kehadiran makhluk lain di sekitar mereka. Selena di belakangnya juga merasakan hal yang sama. Rey menghentikan langkahnya saat menyadari ada jejak lain di tanah. Rey berlutut memeriksa jejak tersebut.


"Itu seperti jejak .... "Selena ikut memeriksa jejak tersebut.


"Harimau." Rey bersuara pelan melanjutkan ucapan Selena. Ia tak ingin suaranya malah memanggil monster.


Rey kembali berdiri. Ia segera menarik pedangnya diikuti oleh Selena. Selena juga mengeluarkan dua pisau kecil yang ia genggam di tangan kirinya. Mereka melangkah pelan penuh kehati-hatian.


Rey memandangi dinding lorong di sekelilingnya semakin lama menjadi lebih kecil. Ia juga mencium bau-bau aneh yang membuat pikirannya terganggu. Rey mengumpat pelan saat mengetahui ia telah salah menginjak sesuatu. Ia menarik Selena ke tepi dinding dengan cepat membuatnya terkejut dan hampir berteriak. Saat itulah sebuah panah melintas dalam kegelapan melewati tempat di mana mereka berpijak tadi. Rey menghela nafas lega saat reflek tubuhnya cukup cepat. Ia lalu menatap Selena dengan serius.


"Bisakah kau menjelaskan tentang asal-usul Death Realm?" tanya Rey. Ia yakin tak mungkin Death Realm terbentuk karena alam mengingat ada jebakan di sini.


"Aku tidak tahu pastinya, tetapi katanya Death Realm adalah makam dari seorang raja yang terkenal pada masanya. Untuk melindungi semua hartanya, ia membangun tempat ini." Selena sejujurnya juga tidak terlalu tahu dengan asal usul Death Realm, ia hanya tahu mitos yang sering dibicarakan orang-orang.

__ADS_1


Rey mengangguk pelan dan berniat melangkah kembali. Namun, tepat saat Selena mengangkat kaki kirinya, sebuah lobang tercipta di bawahnya. Rey buru-buru menjatuhkan pedang di tangan kanannya dan menyambut tangan wanita itu. Ia hendak menariknya keluar dari sana, tapi sebuah suara mengganggu konsentrasinya. Suara yang membuatnya berkeringat dingin. Sebuah auman keras yang menggema. Saat Rey menoleh, seekor harimau dengan taring putih yang lebih panjang daripada biasanya sedang menatapnya penuh amarah.


__ADS_2